Beberapa Faktor Yang Berpengaruh terhadap Kadar Minyak Atsiri Rimpang Jahe 164-167
No Thumbnail Available
Date
2012-07-01
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Abstract
Rimpang jahe banyak dimanfaatkan sebagal makanan, bumbu, obat, ſlavor dan lainnya. Sifat khas jahe disebabkan adanyа
minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum Jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan
rasa pedas. Simplisia rimpang jahe mempunyal kandungan minyak atsiri lebih kurang 1,8-4% dan sekitar 20%-nya dapat
hilang pada proses pengeringan. Kandungan minyak atsiri jahe dapat dipengaruhi oleh faktor genotype/varletas, umur
panen, naungan, pemupukan dan lingkungan tumbuh. Jahe merah mengandung minyak atsiri lebih tinggi yaitu lebih kurang
3,90-4,24%, jahe emprit atau jahe putih kecil (3,05-3,90%) dan Jahe putih besar lebih kurang (1,62–2,29%). Kandungan
minyak atsiri jahe putih besar mencapal maksimum pada tanaman lebih kurang umur 9 bulan setelah tanam, namun
kandungan minyak atsirl akan menurun apabila umur panennya lebih dari 9 bulan. Perlakuan pemupukan N dan P lebih
nyata berpengaruh untuk meningkatkan kandungan minyak atsiri dibandingkan dengan pupuk K.
Kata kunci: Z. officinale, jahe, minyak atsri, faktor lingkungan.