Beberapa Faktor Yang Berpengaruh terhadap Kadar Minyak Atsiri Rimpang Jahe 164-167
| dc.contributor.author | Mono Rahardjo | |
| dc.date.accessioned | 2026-09-15T01:45:23Z | |
| dc.date.available | 2026-09-15T01:45:23Z | |
| dc.date.issued | 2012-07-01 | |
| dc.description.abstract | Rimpang jahe banyak dimanfaatkan sebagal makanan, bumbu, obat, ſlavor dan lainnya. Sifat khas jahe disebabkan adanyа minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum Jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Simplisia rimpang jahe mempunyal kandungan minyak atsiri lebih kurang 1,8-4% dan sekitar 20%-nya dapat hilang pada proses pengeringan. Kandungan minyak atsiri jahe dapat dipengaruhi oleh faktor genotype/varletas, umur panen, naungan, pemupukan dan lingkungan tumbuh. Jahe merah mengandung minyak atsiri lebih tinggi yaitu lebih kurang 3,90-4,24%, jahe emprit atau jahe putih kecil (3,05-3,90%) dan Jahe putih besar lebih kurang (1,62–2,29%). Kandungan minyak atsiri jahe putih besar mencapal maksimum pada tanaman lebih kurang umur 9 bulan setelah tanam, namun kandungan minyak atsirl akan menurun apabila umur panennya lebih dari 9 bulan. Perlakuan pemupukan N dan P lebih nyata berpengaruh untuk meningkatkan kandungan minyak atsiri dibandingkan dengan pupuk K. Kata kunci: Z. officinale, jahe, minyak atsri, faktor lingkungan. | |
| dc.identifier.isbn | 978-602-9462-14-2 | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/32336 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian | |
| dc.title | Beberapa Faktor Yang Berpengaruh terhadap Kadar Minyak Atsiri Rimpang Jahe 164-167 | |
| dc.type | Article |