SKRINING EKSTRAK TANAMAN SEBAGAI ANTI FUNGI PADA KAPANG DERMATOFIT Trichophytone mentagrophytes SECARA IN VITRO
No Thumbnail Available
Date
2007-09-06
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Abstract
Ekstrak tanaman dengan pelarut etanol terdiri dari daun sambiloto (Andrographis paniculata), daun ketepeng (Cassia alata), daun sirih (Peper betle), rimpang lengkuas merah dan putih (Alpinia galanga) dan Jahe (Zingiber officinale) telah diuji efek daya hambatnya terhadap pertumbuhan kapang dermatofit, Trichophyton mentagrophytes. Uji ini dilakukan dengan me tode dilusi (pengenceran) dari ekstrak dengan konsentrasi pengeneeran berbeda yang dicampur dengan larutan spora kapang dengan perbandingan volume sama (1:1) di dalam cawan petri, lalu dituangkan media SDA ke dalam cawan petri tersebut. Kemudian semua media uji diinkubasi pada suhu 37° C selama 5 hari. Perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Efek daya hambat dapat dilihat dengan
tumbuh,
menghitung jumlah koloni kapang yang tumbuh, semakin sedikit populasi koloni yang berarti makin tinggi efek daya hambat ekstrak. Jika pada suatu pengenceran menunjukkan tidak ada pertumbuhan koloni, maka ini sebagai konsentrasi hambat minimal (KHM) dari suatu ekstrak tanaman. Hasil penelitian dianalisa dengan menentukan Indek KHM dari ekstrak herbal yang diuji. Semakin kecil nilai Indek tersebut, berarti semakin tinggi efek daya hambatnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Indek KHM dari ekstrak yang diuji berturut-turut, dari yang terkecil sampai yang terbesar adalah 0,1056; 0,4267; 1,3333; 1,7647; 3,8095; 4,7619 masing- masing untuk ekstrak Jahe, Lengkuas merah, Daun sirih, Lengkuas putih, Daun ketepeng dan Daun sambiloto. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol rimpang jahe dan lengkuas merah mempunyai daya hambat paling tinggi, dan daun sambiloto efek daya hambatnya rendah.