Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 568
- ItemKeragaan Pertumbuhan dan Produksi Varietas Unggul Baru Tanaman Padi di Lahan Rawa Lebak Sumatera Selatan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Suparwoto; Waluyo; Sasmita, PriatnaAbstrak Pengkajian dilaksanakan di Desa Serijabo, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, dimulai pada musim kemarau tahun 2017. Varietas yang diperagakan 4 VUB dan 2 varietas pembanding yaitu Mekongga dan IR 42. Tujuan pengkajian untuk mendapatkan informasi pertumbuhan dan produksi beberapa varietas Inpari yang adaptif dan memiliki produksi tinggi di lahan rawa lebak. Pengkajian dirancangan dengan metoda observasi, dengan luasan satu ha, jarak tanam legowo 2:1 (50x25x12,5 cm), umur bibit 35 hari setelah semai, 2-3 bibit/lubang. Dosis Pupuk yang digunakan adalah 150 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl/ha. Peubah yang diamati adalah: tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah hampa per malai dan hasil gabah per ha. Data yang diperoleh disusun secara tabulasi dan dianalisis dengan uji statistik yaitu uji kesamaan nilai tengah (uji–t). Hasil menunjukkan bahwa tinggi tanaman dari varietas yang diperagakan tergolong rendah dengan jumlah anakan produktif tergolong sedang. Inpari 9, Inpari 30, Inpari 33 dan Inpara 4 dapat beradaptasi baik di rawa lebak tengahan dengan produksi 6,3-8,0 ton GKP/ha lebih tinggi dari IR 42 sebagai varietas pembanding. Abstract The research was conducted at the Experiment farm Kayuagung, Serijabo Village, Ogan Komering Ilir district, South Sumatra, starting in the dry season of 2017. The experiments were examined 4 superior varieties and 2 existing varieties as checks, namely Mekongga and IR 42. The research was arranged in observation method, follow of legowo 2:1 (50x25x 12,5 cm, 35 days old seedling after sowing, planted 2/-3 seeds /hole. Fertilizer dosage was 150 kg Urea, 100 kg SP-36 and 100 kg KCl ha. The measured variables were plant height, number of productive tillers, the number of grains per panicle, the number of filled grains and empty grains per panicle and grain yield per ha. The data obtained were analyzed by statistical test namely middle equality test (t-test). The results showed that the plant height of the varieties was relatively low with moderate number of productive tillers. Inpari 9, Inpari 30, Inpari 33 and Inpara 4 were well adapted in middle lebak lands, significantly and could produce range from 6,3-8,0 t/ha of fresh rice higher than IR42 as comparison varieties.
- ItemKeragaan Padi Varietas Inpari 43 Agritan GSR (Green Super Rice) pada sistem budidaya padi organik di Kalimantan Barat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Subekti, AgusAbstrak Beras merupakan makanan popok yang kebutuhannya terus meningkat. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi beras yang aman bagi kesehatan, maka permintaan beras organik semakin meninkat. Masalah utama dalam budidaya padi organik adalah masih sendahnya produktivitas yaitu sekitar 2,0 - 2,5 ton / ha, hal ini karena varietas yang dikembangkan petani saat ini rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan mengintroduksi varietas unggul baru (VUB) dengan produktivitas tinggi dan tahan hama dan penyakit. Badan Litbang Pertanian telah melepas VUB padi rendah input dan cocok untuk dikembangkan pada budidaya padi organik yaitu Inpari 43Agritan GSR dengan potensi hasil 9,02 ton/ha. Tujuan penelitian adalah mengetahui keragaan VUB padi Inpari 43 Agritan GSR pada sistem budidaya organik di Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan dengan metode percobaan lapang. Perlakuan berupa varietas padi Inpari 43 Agritan GSR dan Inapri 24 sebagai pembanding. Penelitian dilaksanakan pada areal 1 ha yang terdiri dari 0,5 ha menggunakan vareiats padi Inpari 43 Agritan GSR dan 0,5 ha menggunakan varites padi inpari 24. Variabel yang diamati adalah : tinggi tanaman, umur berbunga, jumlah anakan produktif, panjang malai, % gabah isi, bobot 1000 butir, dan produktivitas GKP. Analisis data menggunakan analisis statistik uji-t. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan nyata dari varietas yang di uji untuk variabel pengamatan tinggi tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot 1.000 butir, dan produktivitas. Hasil uji-t menunjukkan varietas padi Inpari 43 Agritan GSR dengan produktivitas 6,24 t/ha baik untuk dikembangkan dengan sistem budidaya padi organik di Kalimantan Barat. Abstract Performance of Inpari 43 Agritan GSR Rice Variety on Organic Cultivation System In West Kalimantan”. Rice is a staple food which needs continues efforts to increase the yield. With the increasing public awareness of the importance of consuming rice that is safe for health, the demand for organic rice is increasing. The main problem in organic paddy cultivation is still the low productivity (2,0- 2,5 t/ ha), this is because the varieties developed by farmers are now susceptible to pests and diseases. Efforts that can be made to overcome this problem are by introducing new superior varieties with high productivity and pest and disease resistant. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development has released low-input rice and suitable for development on organic paddy cultivation of Inpari 43 Agritan GSR with potential yield of 9.02 t / ha. The purpose of this research is to know the Inpari 43 Agritan GSR in organic cultivation system in West Kalimantan. The research was conducted by field experiment method. Treatment consisted ofvarieties Inpari 43 Agritan GSR and Inapri 24 as comparison. The experiment was conducted on 1 ha area consisting of 0.5 ha using Inpari 43 Agritan GSR and 0.5 ha using inpari 24. The variables observed were plant height, flowering age, number of productive tillers, panicle length, content, 1000 grain weight, and productivity. Data analysis using statistical analysis with t-test. The results showed that there were significant differences from the varieties tested for the observed variables of plant height, the length of panicle, the number of grains per panicle, the weight of 1,000 grains, and productivity. The result of t-test shows that paddy varieties inpari 43 Agritan GSR with productivity 6,24 t / ha are good to be developed with organic paddy cultivation system in West Kalimantan.
- ItemKajian Strategi Peningkatan Hasil Padi Melalui Penerapan Tanam Varietas Unggul di Kawasan Lahan Tadah Hujan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Jauhari, SodiqAbstrak Strategi penerapan konsep pendekatan konsep PTT menggunakan padi VUB. Adalah salah satu upaya dalam meningkatkan produksi dan produktifitas tanaman padi. Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan padi varietas unggul baru yang berpotensi hasil tinggi spesifik lokasi. Pengkajian dilaksanakan di tiga wilayah Kabupaten Jepara yaitu kecamatan Mayong tepatnya Desa Pelang sebagai pelaksana kelompok tani Lestari dan Desa Mayong Kidul pelaksana kelompok tani Rukun tani, serta Desa Ragu Klampitan pelaksana kelompok tani Sri Rejeki Kecamatan Batealit MT- 2013, luas lahan masing-masing 2000 m² dengan melibatkan 5 petani kooperator. Metode pengkajian menggunakan onfarm research participation, di area Demplot Pendekatan yang digunakan adalah OFCOR (On Farm Client Orientid Research dengan menguji beberapa varietas tanaman padi unggul baru spesifik lokasi diantaranya padi varietas Inpari-30, Inpari-31, Inpari-10, Conde dan mekongga serta varietas Ciherang sebagai pembanding. Inovasi yang diintroduksikan mengacu pada konsep pendekatan PTT. Parameter yang diamati adalahkeragaanpertumbuhantanaman danproduksi,sertatanggapan petani. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif (prosentase, dan kisaran/rata-rata. uji BNT dengan taraf 5 % untuk membandingkan antara rataan pengamatan setiap variabel yang diuji. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa keragaan varietas dengan menerapkan konsep Pengelolaan tanaman terpadu yang dilaksanakan di tiga lokasi menunjukkan perbedaan hasil dibandingkan dengan varietas Ciherang yang biasa ditanam petani dengan peningkatan 21,2%. Masing-masing produktivitas padi memberikan hasil: varietas Mekongga 6,9 t/ha GKG, Inpari-30 7,1 ton/ha GKG dan varietas Conde menghasilkan 5,4 ton/ha GKG. Sedangkan varietas unggul lain tidak menunjukkan perbedaan atau lebih rendah yaitu, Inpari-31 5,2 ton/ha GKG dan Inpari-10 menghasilkan 5,1 ton/ha GKG. Sedangkan varietas pembanding Ciherang 5,2 ton/ha GKG. Dua varietas VUB (Mekongga dan Inpari-30) mempunyai peluang yang sama untuk diadopsi lebih cepat oleh petani, dan direspon positip oleh petani karena dapat memberikan peningkatan hasil dan berpotensi cukup baik untuk dikembangkan pada lahan spesifik lokasi. Abstract Strategic approach to the application of the concept of using rice new varieties (ICM) integrated crop management technology. Is an effort to increase production and productivity of rice plants. The assessment aims to obtain new varieties of rice that specific high yielding potential. The assessment was conducted in three districts namely Jepara regency precisely Mayong village Cuss as farmer groups implementing Sustainable and Mayong Kidul village farmer groups implementing Pillars farmer, and village farmer groups implementing Ragu Klampitan Sri fortune Batealit MT-2 District 2013, land area respectively in 2000 5 m² involving farmer cooperators. On farm research methods of assessment using participation, in the pilot project area approach used is OFCOR (On Farm Research Client Oriented by testing some new high yielding varieties of rice such as rice specific Inpari-30, Inpari-31, Inpari-10, Conde and Mekongga and Ciherang as a comparison. Innovations are introduced referring to the concept of ICM approach. study showed that variability varieties by applying the concept of integrated crop management are carried out in three locations show differences in outcomes compared with usual Ciherang planted by farmers with an increase of 21.2%. Included their rice productivity results: varieties Mekongga 6.9 t / ha milled rice, Inpari-30 7.1 ton/ha paddy and Conde varieties produce 5.4 tons/ha paddy. while other varieties showed no difference or lower at, Inpari-31 5.2 tons/ha milled rice and Inpari -10 produces 5.1 tons/ha paddy milled rice. Meanwhile check varieties Ciherang 5.2 tons/ha paddy.
- ItemBudidaya Varietas Padi Fungsional di Lahan Sawah Irigasi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Nugraha, Dedi; IkhwaniAbstrak Kebutuhan beras fungsional sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Peningkatan produksi beras dalam negeri sangat penting untuk menghindari tingginya risiko ketidakstabilan harga dan menekan jumlah beras impor. Badan Litbang Pertanian telah melepas beberapa varietas padi fungsional yang mempunyai kandungan gizi dan karakter tertentu serta berpeluang sebagai subtitusi impor beras fungsional. Kegiatan penelitian varietas padi fungsional dilahan petani bertujuan untuk mengetahui produktivitas dan keragaan agronomis tanaman di lahan sawah irigasi. Penelitian dilaksanakan di lahan petani, Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur pada musim kering (MK-1) Tahun 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan perlakuan 7 (tujuh) varietas unggul baru fungsional yaitu Cisokan, Inpari 17, Inpari 21, Inpara 4, ketan Lusi, varietas lokal Grendel dan varietas beras impor (Taiken). Data agronomis tanaman dan ubinan di ambil sebanyak 3 (tiga) ulangan pada masing-masing varietas. Komponen hasil dan hasil varietas tersebut dianalisis menggunakan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukan bahwa varietas adalah faktor yang nyata berpengaruh terhadap bobot hasil panen ubinan, GKP dan GKG. Hasil penelitian menunjukan bahwa varietas Inpara 4 memperoleh hasil tertinggi sebesar 10,1 t/ha GKG, diikuti oleh Varietas Cisokan (8,7 t/ha GKG) dan Inpari 17 (8,6 t/ha GKG). Hasil terendah diperoleh varietas golongan Japonica Taiken sebesar 6,8 t/ha GKG. Abstract Integrated Crop of Functional plant type Rice Variety at low land field the demand functional rice mostly provided by import. Increased production of rice is very important to avoid the high risks instability prices and reduce rice imports. The Indonesian Agency for Agriculture Research and Development (IAARD) has released several rice varieties with specific character to substitutes rice import. The research was conducted by land farmers at lowland fields, in the village of Karang Wangi, Ciranjang subdistrict, Cianjur, West Java 2016 during dry season. The experiment was designed at random complete design using 7 (seven) functional plant type rice variety as Cisokan, Inpari 17, Inpari 21, Inpara 4, ketan Lusi, varietas lokal Grendel and Japonica Taiken with three replications. Agronomic data, yield and Yield component parameters were analyzed using anova. The result showed that varieties is a significant factor influence crop yield. The results of analysis and observation showed that Inpara 4, Inpari 17, Lusi and Tayken had beter performance than its description. Inpara 4 had the highest yield at 10,1 ton/ha GKG followed by Cisokan variety (8,7 t/ha GKG) and Inpari 1 7 (8,6 t/ha GKG). The lowest yield was Japonica rice (Taiken) at 6,8 t/ha GKG.
- ItemSistem Tanam Jarwo dan Penggunaan Varietas Unggul Baru Untuk Peningkatan Produktivitas Padi Pada Agroekosistem Lahan Sawah Pasang Surut(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Fahri, AnisAbstrak Sistem tanam jajar legowo dan penggunaan varietas unggul baru untuk peningkatan produkstivitas padi pada agrekosistem lahan sawah pasang surut dilaksanakan di Desa Kuala Cenaku, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, pada MK, April - September 2016. Penelitian ini bertujuan mendapatkan sistem tanam padi dan varietas unggul baru yang sesuai untuk peningkatan produksivitas padi agroekosisitem lahan pasang surut Provinsi Riau. Penelitian dilakukan di lahan petani Desa Kuala Cenaku, Kecamatan Kuala Cenaku Kabupaten Inderagiri Hulu Provinsi Riau pada agroekosistem lahan sawah pasang surut. Rancangan disusun menggunakan Rancangan Petak Terpisah, dengan 2 Faktor dan 4 ulangan. Faktor I adalah perlakuan sistem tanam (J1 = Jajar Legowo 2:1; J2 = tegel). Faktor II adalah perlakuan varietas (V1 = Inpara-1, V2 = Inpara-3, V3 = Inpara-9, V4 = Ciherang). Perlakuan sistem tanam jajar legowo 2:1 ditanam dengan jarak tanam 25 cm x 12,5 cm dalam barisan dan tegel dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan sistem tanam berbeda nyata pada peubah jumlah anakan produktif, jumlah gabah permalai, bobot 1000 butir, hasil padi dan tidak berbeda nyata pada peubah tinggi tanaman dan panjang malai. Sedangkan perlakuan varietas menunjukkan berbeda nyata pada peubah tinggi tanaman, panjang malai, jumlah gabah permalai, bobot 1500 butir dan hasil gabah kering panen. Sistem tanam jajar legowo menghasil,73 ton/ha GKP dan tegel 5,25 ton/ha GKP. Varietas Inpara-9 dan Inpara-1 memberikan hasil GKP tertinggi (5,91 ton/ha) dan 5,67 ton/ha berbeda nyata dibandingkan dengan varietas Inpara-3 (5,24 ton/ha) dan Ciherang (5,12 ton/ha). Abstract Jarwo cropping systems and the use of new varieties to increase the productivity of rice in the tidal land agrekosistem held in the village of Kuala Cenaku, District of Kuala Cenaku, Indragiri Hulu, Riau Province, on dry season from April to September 2016. The aim of this study was to get rice and new superior varieties to increase rice productivity in tidal agroecosisitem Riau Province. The study was conducted in farmers’ fields Kuala Cenaku Village, District Kuala Cenaku Inderagiri Hulu district in Riau Province agroekosistem tidal wetland. The research was arranged by using Split Plot Design, with 2 factors and 4 replications. Factor I was planting system (J1 = Jajar Legowo 2: 1; J2 = row tile). Factor II was varieties (V1 = Inpara-1, V2 = Inpara-3, V3 = Inpara-9, V4 = Ciherang). Treatment of 2: 1 legowo legowo planting system was planted with spacing of 25 cm x 12.5 cm in rows and rows of tiles with spacing of 25 cm x 25 cm. The results showed that the legowo was significantly different in the number of productive tillers, the number of grains per panicle, the weight of 1000 grains, yield and did not significantly different on the plant height variables and panicle length. The varieties treatment showed significant difference in plant height variables, panicle length, number of grains of proboscis, weight of 100 grains and dry grain yield harvest. Legowo planting system produces 5.73-ton GKP/ha and 5.25-ton GKP /ha square planting system. Inpara-9 and Inpara-1 gave the highest yield (5,91 ton /ha GKP and 5.67-ton GKP/ ha) significantly different compared to Inpara-3 (5.24ton GKP / ha) and Ciherang (5,12-ton GKP /ha).