Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 731
  • Item
    Pemanfaatan Limbah Padi Untuk Pakan Pada Sistem Integrasi Tanaman-Ternak
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Haryanto, Budi; I.G.M. Budiarsana
    Abstrak Pemanfaatan limbah tanaman padi seperti jerami dan dedak merupakan salah satu strategi kunci dalam mendukung keberlanjutan Sistem Integrasi Tanaman-Ternak (SITT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi, tingkat efektivitas, serta dampak ekonomi dan lingkungan dari pemanfaatan limbah padi sebagai pakan utama ternak ruminansia. Metode pengkajian dilakukan melalui pendekatan deskriptif analitis dengan penerapan teknologi pengolahan pakan (seperti fermentasi dan amoniasi jerami) untuk meningkatkan nilai nutrisi dan daya cerna. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pengolahan jerami padi mampu meningkatkan kandungan nutrisi dan kecernaan pakan, sekaligus menekan biaya operasional pembelian pakan secara signifikan. Integrasi ini membentuk siklus hara tertutup (closed-loop system), di mana limbah padi dikonversi menjadi sumber pakan ternak, sementara limbah kotoran ternak dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik bagi tanaman padi. Secara keseluruhan, pemanfaatan limbah padi dalam SITT terbukti mampu meningkatkan produktivitas ternak, kemandirian pakan, serta efisiensi dan pendapatan petani-peternak secara berkelanjutan. Abstract Utilizing rice crop residues, such as straw and bran, is a key strategy for supporting the sustainability of Crop-Livestock Integration Systems (CLIS). This study aims to analyze the potential, effectiveness, and economic and environmental impacts of using rice residues as the primary feed for ruminant livestock. A descriptive-analytical approach was employed, incorporating feed processing technologies—such as fermentation and straw ammonization—to enhance nutritional value and digestibility. The findings indicate that processing rice straw improves both nutritional content and feed digestibility while significantly reducing operational costs associated with feed procurement. This integration establishes a closed-loop nutrient cycle in which rice residues are converted into livestock feed, while livestock manure is repurposed as organic fertilizer for the rice crops. Overall, the utilization of rice residues within CLIS has proven capable of sustainably enhancing livestock productivity, feed self-sufficiency, and the efficiency and income of farmer-livestock keepers.
  • Item
    Menggali Peluang Pengembangan Agroindustri Melalui Diversifikasi Pemanfaatan Limbah Padi
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Rachmat, Ridwan; Suismono; FagI, Achmad M.
    Abstrak Indonesia sebagai negara agraris menghasilkan limbah padi yang sangat melimpah, seperti sekam, jerami, dan bekatul. Namun, pemanfaatannya di tingkat unit penggilingan dan petani masih didominasi oleh penggunaan bernilai ekonomi rendah atau bahkan dibakar secara terbuka yang memicu pencemaran lingkungan. Artikel ini mengkaji peluang strategis pengembangan agroindustri berbasis diversifikasi pemanfaatan limbah padi untuk menciptakan nilai tambah ekonomi serta mendukung implementasi prinsip ekonomi sirkular. Melalui pendekatan studi literatur sistematis dan analisis deskriptif, dikaji berbagai potensi konversi teknologi limbah padi, meliputi pemanfaatan sekam menjadi arang sekam, briket energi terbarukan, silika, dan karbon aktif; transformasi jerami menjadi media tanam jamur, pupuk organik (bokashi), serta papan serat; serta pengolahan bekatul dan dedak menjadi minyak bekatul (rice bran oil) dan pakan bernutrisi tinggi. Hasil kajian menunjukkan bahwa diversifikasi pemanfaatan limbah padi berpotensi secara signifikan meningkatkan margin pendapatan pelaku agroindustri hingga 30–50%, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, serta menekan emisi gas rumah kaca. Kendala utama yang dihadapi mencakup sifat bahan baku yang kamba (bulky), sebaran lokasi penggilingan yang terfragmentasi, serta keterbatasan investasi awal pada teknologi pengolahan berskala industri. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha melalui kebijakan insentif, introduksi teknologi tepat guna, serta penguatan kelembagaan rantai pasok guna mempercepat transformasi rantai nilai agroindustri padi menuju keberlanjutan. Abstract As an agricultural nation, Indonesia generates abundant rice waste, such as rice husks, straw, and bran; however, its utilization at the mill and farmer levels remains predominantly low-value or subject to open burning, triggering environmental pollution. This article explores strategic opportunities for agroindustrial development through the diversification of rice waste utilization to create economic added value and support the implementation of circular economy principles. Through a systematic literature review and descriptive analysis, various technological conversion potentials of rice waste are examined, including the conversion of husks into husk charcoal, renewable energy briquettes, silica, and activated carbon; the transformation of straw into mushroom growing media, organic fertilizer (bokashi), and fiberboard; as well as the processing of bran into rice bran oil and high-nutrition animal feed. The findings indicate that diversifying rice waste utilization significantly increases the profit margins of agroindustrial actors by 30–50%, reduces dependence on fossil fuels, and decreases greenhouse gas emissions. Main challenges identified include the bulky nature of the raw material, fragmented milling locations, and limited initial capital investment for industrial-scale processing technologies. Consequently, synergy among academia, government, and industry is required through incentive policies, appropriate technology introduction, and supply chain institutional strengthening to accelerate the transformation of the rice agroindustrial value chain toward sustainability.
  • Item
    Peningkatan Nilai Tambah Beras Melalui Mutu Fisik, Cita Rasa, Dan Gizi
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Indrasari, S. Dewi; E.Y. Purwani; S. Widowati; Damardjati, Djoko S.
    Abstrak Beras tidak hanya berperan sebagai sumber pemenuhan kalori utama bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga memiliki potensi ekonomi tinggi yang dapat ditingkatkan melalui perbaikan mutu pascapanen dan pengolahan. Karya tulis ini membahas strategi komprehensif dalam meningkatkan nilai tambah beras yang difokuskan pada tiga pilar utama kualitas, yaitu mutu fisik, mutu cita rasa (organoleptik/sensori), dan mutu gizi. Pada aspek mutu fisik, nilai tambah ditentukan oleh keutuhan bulir (persentase beras kepala), derajat sosoh, warna/kerataan bulir, serta kebebasan dari benda asing dan butir patah/menir. Penanganan pascapanen dan teknologi penggilingan yang presisi terbukti meminimalkan kehilangan hasil (losses) serta meningkatkan daya saing pasar. Pada aspek mutu cita rasa, kepuasan konsumen sangat dipengaruhi oleh sifat fisikokimia pati, khususnya kadar amilosa, suhu gelatinisasi, dan konsistensi gel. Komposisi ini menentukan tingkat kepulenan, kelembutan, aroma, dan tekstur nasi pascapemasakan. Sementara itu, pada aspek mutu gizi, komoditas beras dikembangkan melalui optimalisasi derajat sosoh untuk mempertahankan vitamin B dan serat kasar, pengembangan beras khusus (specialty rice) seperti beras merah, beras hitam, dan beras organik, serta penerapan teknologi fortifikasi mikronutrien (seperti zat besi, asam folat, dan seng). Hasil kajian menunjukkan bahwa pengintegrasian perbaikan teknologi penggilingan, pemilihan varietas unggul berbasis preferensi konsumen, dan pengayaan nilai gizi mampu mentransformasi beras dari komoditas curah (bulk commodity) menjadi produk bernilai tambah tinggi (high-value product). Pendekatan ini mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan daya saing industri perberasan nasional. Abstract Rice serves not only as a primary caloric staple for the Indonesian population but also holds significant economic potential that can be enhanced through post-harvest improvements and quality processing. This study elaborates a comprehensive strategy to increase the added value of rice, focusing on three core quality pillars: physical quality, eating quality (sensory attributes), and nutritional quality. In terms of physical quality, value addition is determined by grain head rice percentage, degree of milling, grain color uniformity, and freedom from impurities or broken grains. Precision milling and optimal post-harvest handling minimize yield losses and enhance market competitiveness. Regarding eating quality, consumer preference is strongly influenced by starch physicochemical properties, particularly amylose content, gelatinization temperature, and gel consistency, which govern cooked rice fluffiness, softness, aroma, and texture. For nutritional quality, rice value is improved by optimizing milling degrees to retain essential B-vitamins and dietary fiber, promoting specialty rice (such as red, black, and organic rice), and implementing micronutrient fortification technologies (e.g., iron, folic acid, zinc). The study indicates that integrating improved milling technologies, selecting varieties tailored to consumer preferences, and enhancing nutritional profiles successfully transforms rice from a low-margin bulk commodity into a high-value consumer product. This approach contributes to national food security, boosts farmers' income, and advances the competitiveness of the national rice industry.
  • Item
    Pengendalian Penyakit Blas dan Penyakit Cendawan Lainnya
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Santoso; Nasution, Anggiani
    Abstrak Penyakit blas (Pyricularia oryzae) dan berbagai infeksi cendawan lainnya merupakan salah satu kendala utama dalam usaha peningkatan produktivitas tanaman padi. Penelitian/kajian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengendalian penyakit blas dan penyakit cendawan lainnya secara efektif dan berkelanjutan. Penulisan ini menggunakan metode [studi pustaka/ deskriptif kualitatif/eksperimental dengan menguji. terkait efektivitas berbagai teknik pengendalian. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT)—yang memadukan penggunaan varietas tahan, pengelolaan pola tanam, pemupukan berimbang (khususnya pengaturan dosis nitrogen dan silika), penggunaan agen antagonis/hayati, serta aplikasi fungisida secara bijaksana—mampu menurunkan tingkat serangan penyakit blas dan infeksi cendawan secara signifikan. Penerapan strategi terpadu ini tidak hanya efektif menekan kehilangan hasil panen, tetapi juga menjaga kelestarian ekosistem dan mendukung ketahanan pangan secara berkelanjutan. Abstract Blast disease (*Pyricularia oryzae*) and various other fungal infections pose major challenges to increasing rice productivity. This study aims to analyze effective and sustainable strategies for controlling blast disease and other fungal diseases. The analysis employs a [literature review/qualitative descriptive/experimental] method to evaluate the effectiveness of various control techniques. The findings indicate that an Integrated Pest Management (IPM) approach—combining the use of resistant varieties, cropping pattern management, balanced fertilization (specifically regulating nitrogen and silica dosages), the use of antagonistic or biological agents, and the judicious application of fungicides—can significantly reduce the incidence of blast disease and fungal infections. Implementing this integrated strategy is effective not only in minimizing yield losses but also in preserving the ecosystem and supporting sustainable food security.
  • Item
    Penyakit Bakteri Padi dan Cara Pengendaliannya
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Kadir, Triny S.; V. Suryadi; Sudir; M. Machmud
    Abstrak Penyakit yang disebabkan oleh bakteri merupakan salah satu kendala utama dalam usaha budidaya tanaman padi (Oryza sativa L.) yang berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis penyakit bakteri utama yang menyerang tanaman padi, memahami mekanisme infeksinya, serta merumuskan strategi pengendalian yang efektif dan berkelanjutan. Berdasarkan kajian literatur dan pengamatan di lapangan, penyakit bakteri utama yang sering ditemukan meliputi Hawa Daun Bakteri (HDB) atau bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae), garis daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzicola), serta busuk pelepah atau akar yang disebabkan oleh Pseudomonas spp. dan Burkholderia glumae. Pengendalian penyakit bakteri membutuhkan pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menggabungkan penggunaan varietas unggul tahan penyakit, praktik agronomis yang tepat (seperti pengaturan jarak tanam dan pemupukan nitrogen terukur), pemanfaatan agen hayati (seperti Trichoderma spp. atau Bacillus spp.), serta aplikasi bakterisida berbahan aktif tembaga sebagai langkah terakhir. Penerapan PHT secara konsisten terbukti efisien dalam menekan laju infeksi dan menjaga produktivitas tanaman padi. Abstract Rice (Oryza sativa L.) is a vital staple crop essential for global food security, yet its production is significantly threatened by various bacterial diseases. Among the most destructive are Bacterial Leaf Blight caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae and Bacterial Grain Rot caused by Burkholderia glumae, which can lead to severe yield losses if left unmanaged. This paper synthesizes current knowledge on key rice bacterial pathogens, their symptomatology, epidemiological factors, and potential management strategies. Effective control relies on an Integrated Pest Management (IPM) approach, combining the use of disease-resistant varieties, proper cultural practices (such as balanced fertilization and optimal water management), biological control agents, and targeted chemical applications. Enhancing sustainable control measures and promoting early disease detection are essential to mitigate the impact of bacterial outbreaks and ensure sustainable rice production.