Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 676
- ItemMonitoring Hama dan Penyakit Padi(Asian Food and Agriculture Corporation Initiative dan Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), 2026-05-14) Asian Food and Agriculture Corporation Initiative (AFACI); Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi)Pendahuluan Gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) seringkali menyebabkan kehilangan hasil bahkan gagal panen. Dalam pengendalian OPT, jenis teknik pengendalian yang dipilih tentunya harus sesuai dengan kondisi di lapangan dan dilakukan secara terpadu agar pengendalian yang diterapkan dapat efektif dan efisien. Salah satu unsur dasar penerapan sistem hama terpadu (PHT) adalah pengendalian pengendalian dilakukan berdasarkan ambang ekonomi, artinya pengendalian dilakukan ketika populasi hama dan serangan penyakit berada pada tingkat yang dapat merugikan secara ekonomis. Berdasarkan atas pengertian ini, maka monitoring menjadi hal yang sangat penting. Introduction Plant pests and diseases often cause yield losses or even total crop failure. When managing these threats, the chosen control techniques must be suited to field conditions and implemented in an integrated manner to ensure effectiveness and efficiency. A fundamental element of Integrated Pest Management (IPM) is that control measures are implemented based on economic thresholds; this means action is taken only when pest populations or disease outbreaks reach levels that cause economic damage. Given this principle, monitoring is of critical importance.
- ItemPertanian Modern - Advanced Agricultural System (PM-AAS)(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2026-06-11) Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman PadiPerkembangan teknologi pertanian mendorong hadirnya berbagai inovasi untuk mendukung budidaya padi yang lebih efisien dan produktif. Salah satunya adalah PM-AAS (Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System), sistem budidaya padi yang mengadopsi praktik pertanian modern dari Arkansas, Amerika Serikat. PM-AAS mempunyai 6 prinsip antara lain: tanam rapat dalam baris, efisiensi sumber daya, mekanisasi, skala luas terintegrasi, intensifikasi produksi, teknologi adaptif. PM-AAS mempunyai keunggulan, lebih cepat dan efisien, hemat biaya dan tenaga, lahan lebih optimal, produktivitas lebih tinggi, berbasis teknologi. Advancements in agricultural technology have driven the emergence of various innovations designed to support more efficient and productive rice cultivation. One such innovation is PM-AAS (Modern Agriculture – Advanced Agricultural System), a rice cultivation method that adopts modern farming practices from Arkansas, United States. PM-AAS is guided by six principles: close-row planting, resource efficiency, mechanization, integrated large-scale operations, production intensification, and adaptive technology. The system offers several advantages, including speed and efficiency, cost and labor savings, optimized land use, higher productivity, and a technology-driven approach.
- ItemUpaya Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pada Lahan Tadah Hujan Melalui Budidaya Padi Rendah Emisi Metana(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Kartikawati, Rina; Yulianingrum, Hesty; A. Wihardjaka,; Setyanto, PrihastoAbstrak Adaptasi merupakan upaya yang sangat penting dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. Salah satu strategi adaptasi adalah melalui budidaya padi rendah emisi CH4. Badan Litbang Pertanian telah melepaskan banyak varietas padi unggul berdaya hasil tinggi, namun belum banyak informasi berapa besarnya emisi yang dilepaskan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi emisi CH4 dari berbagai varietas padi dan informasi peluang varietas tersebut dalam upaya adaptasi. Penelitian dilaksanakan di KP Balingtan pada musim gora tahun 2015/2016. Delapan varietas unggul padi (Ciherang, Mekongga, Inpari 18, IPB 3S, Inpari 13, Inpari 31, Inpari 32 dan Inpari 33) ditanam dalam boks berukuran 1 m2 yang berada pada plot berukuran 5 x 6 m2. Percobaan dirancang secara acak kelompok dengan tiga ulangan. Pengambilan sampel CH4 dilakukan dengan menggunakan alat pengukur GRK otomatis yang dioperasikan selama pertumbuhan tanaman di musim gora. Sebanyak 24 boks berukuran 50 cm x 50 cm x 100 cm digunakan untuk menangkap gas CH4. Gas di analisa menggunakan Gas Chromatography (GC) tipe 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CH4 yang dilepaskan dari delapan varietas berbeda nyata pada taraf P<0.05. Besarnya emisi CH pada varietas Ciherang, Mekongga, Inpari 18, IPB 3S, Inpari 13, Inpari 31, Inpari4 32 dan Inpari 33 adalah 229; 202; 249; 240; 168; 277; 285 dan 235 kg/ ha/musim, secara berturut-turut. Mekongga mempunyai peluang sebagai varietas rendah emisi CH4 berdaya hasil cukup tinggi yang dapat digunakan dalam upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim dari lahan sawah. Abstract Adaptation is an important effort to deal with climate change. One of adaptation strategy is cultivation using low-methane emission variety. Indonesian Agency for Agriculture Research and Development (IAARD) have released high yield rice varieties, however how much methane emission from those varieties were unknown well. The objective of this study were to obtain the information of ethane emission from rice varieties and information on prospected varieties for adaptation to climate change. The study was conducted in Research Station of Indonesian Agricultural Environment Research Institute (IAERI) on dry season 2015/2016. Eight of high yield rice varieties (Ciherang, Mekongga, Inpari 18, IPB 3S, Inpari 13, Inpari 31, Inpari 32 and Inpari 33) were cultivated in 1 m2 subplot of 30 m2 plot, designed by randomize block design with three replicates.Sampling of CH4 was carried out using automatically system of greenhouse gases instrument operated during plant growth in wet season. Twenty four of permanent close chambers, 1 m x 1 m x 1.2 m dimension of each chamber, were set up to capture CH4 and gas was analyzed using Gas Chromatography (GC) type 2014. The study showed that CH4 emission released from eight of rice varieties was significant different (P<0.05). CH4 emission from Ciherang, Mekongga, Inpari 18, IPB 3S, Inpari 13, Inpari 31, Inpari 32 and Inpari 33 were 229; 202; 249; 240; 168; 277; 285 and 235 kg/ha/season, respectively. Mekongga prospected as low-methane emission variety for adaptation and mitigation strategy to climate change
- ItemPengaruh Sistem Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Inpari 20 dan Inpari 24 di Subak Gantalan II, Karangasem Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Suratmini, Putu; I.B.G. SuryawanAbstrak Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produksi padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya tahan terhadap cekaman abiotik dan biotic. Varietas unggul sebagai salah satu komponen produksi telah memberikan sumbangan sebesar 56% di dalam peningkatan produksi. Pengkajian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sistem tanam terhadap pertumbuhan dan produksi varietas unggul baru padi sawah yaitu Inpari 20 dan Inpari 24 sudah dilaksanakan di Subak Gantalan II. Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali tahun 2014. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dan 8 petani kooperator sebagai ulangan. Faktor I adalah Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu: Inpari Inpari 20, Inpari 24 Gabusan,serta Varietas Cigeulis sebagai pembanding. Sedangkan faktor II adalah sistem tanam yaitu : 1)sistem tanam legowo 2:1 (20 x 12,5 x 40) dan 2) sistem tanam tegel (20 x 20)(cara petani). Penanaman dilakukan dengan inovasi teknologi PTT seperti : tanam bibit muda (umur 13-15 hss), tanam 1-3 bibit/lubang, pemupukan dengan urea dan ponska masing – masing 200 kg/ ha, pengairan berselang dan pengelolaan hama penyakit secara terpadu. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan Varietas Cigeulis, hasil gabah kering giling (GKG t/ha) Varietas Inpari 24 lebih tinggi 18.03%, sedangkan Inpari 20 lebih rendah 19.92%. Sistem tanam legowo 2:1 memberikan hasil gabah kering panen lebih tinggi 19.7% dibandingkan system tanam tegel Abstract High yielding varieties is one reliable innovative technology to improve rice production, either through increased yield potential or resistance to abiotic and biotic stresses. High yielding varieties as one of the components production has contributed 56% to increase production. Assessment in order to determine the effect of planting systems on the growth and production of new high yielding varieties of paddy rice : Inpari 20 and 24 have been implemented at Subak Gantalan II, Bebandem Village, Bebandem District, Karangasem Regency, Bali Province in 2014. Assessment using Randomized Block Design (RBD) with factorial pattern and eight farmer cooperators as replication. For the first factor is New High Yielding Varieties : Inpari 20 and Inpari 24, and Cigeulis variety for controled. For second factor is cropping systems : 1) 2:1 pair-row planting sistem (legowo 2: 1 (20 x 12.5 x 40) and 2) square planting system (20 cm x 20 cm ) (farmer’s way). Planting is done by IPM(Integrated Plant Management) technological innovations such as: planting young seedlings (age 13-15 HSS), planting 1-3 seeds / hole, fertilizing with urea and ponska each 200 kg / ha, intermittent irrigation and integrated pest management. The result showed that compared to Cigeulis variety, dry grain yield of Inpari 24, 18.03% higher, while the Inpari 20 lower 19.92% than Cigeulis. Dry grain yield of 2:1 pair-row planting system (legowo2:1) was 19.7% higher compared to square planting system (the farmer’s way).
- ItemPeningkatan Produksi Padi Gogo di Lahan Kering Kabupaten Garut Jawa Barat Dengan Menggunakan Pupuk Organik(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Sujitno, Endjang; Dianawati, MeksyAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis pupuk organik pada tanaman padi gogo di lahan kering Kabupaten Garut, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di lahan kering Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut dengan ketinggian tempat 100-120 mdpl. Penelitian dilaksanakan pada MH 2012/2013, dari bulan November 2012 hingga Februari 2013. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Perlakuan yang diuji adalah aplikasi dosis pupuk organik, yaitu 2,5; 10; 15, 20 ton/ha. Perlakuan kontrol dosis 2,5 ton/ha merupakan kebiasaan petani setempat. Varietas padi gogo yang digunakan adalah situ patenggang. Pupuk anorganik yang digunakan adalah 250 kg/ha urea, 100 kg/ha SP 36, dan 100 kg/ha KCl. Peubah yang diamati adalah hasil GKP, bobot 1000 butir, jumlah gabah per malai, dan persentase gabah isi. Data dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan uji Duncan, uji polinomial ortogonal, dan uji korelasi pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis pupuk organik yang digunakan, semakin tinggi hasil GKP-nya. Hasil GKP dipengaruhi oleh persentase gabah isi sebesar 61%. Abstract The goal of this research was to get the effect of many dossages of organic fertilizer on upland rice in dry land of Garut, West Java. The experiment was conducted on dry land of the Cigadog village, Cikelet district, Garut with altitude of 100-120 meters above sea level. Research was conducted in 2012/2013 MH, from November 2012 to February 2013. The experiment used a randomized block design with 4 treatment was repeated six times. The treatments tested were dose applications of organic fertilizer, which is 2.5; 10; 15, 20 ton/ha. Control treatment dose of 2.5 tons / ha was a habit of the local farmers. Upland rice varieties used was Situ Patenggang. Inorganic fertilizers used were 250 kg/ha of urea, 100 kg/ ha of SP 36, and 100 kg/ha of KCl. The parameters observed were the result of harvest dry grain, 1000 grain weight, number of grain, and percentage of filled grain. Datas were analyzed by F test and continued with Duncan test, orthogonal polynomials test, and correlation test at 95% confidence level. The results showed that the higher the dose of organic fertilizer was used, the higher the yield of harvest dry grain. Results of GKP was affected by the percentage of filled grain by 61%