Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 634
- ItemUpaya Percepatan Adopsi Varietas Unggul Baru Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Widiarta, I NyomanAbstrak Pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi padi, untuk mempertahankan swasembada beras secara berkelanjutan dari produksi dalam negeri, tanpa impor. Target produksi padi ditingkatkan pada tahun 2015-2019 rata-rata 3% per tahun dari 73.4 juta ton menjadi 82.0 juta ton gabah kering giling. Produksi ditentukan luas areal panen dan produktivitas. Peningkatan produktivitas ditentukan oleh ketersediaan benih bermutu varietas unggul adaptif spesifik lingkungan dan manajemen budidaya tanaman. Peningkatan produktivitas dimungkinkan karena masih adanya senjang antara potensi hasil dan hasil aktual, di samping masih banyak varietas unggul baru yang belum diadopsi petani. Adopsi varietas unggul padi 54,05% didominasi oleh Ciherang, Mekongga, Ciliwung, Cigeulis, IR64 dan Situbagendit yang telah dikenal pasar memiliki rasa nasi yang baik dan tahan terhadap hama/penyakit tertentu, dari total areal tanam padi setahun, yang mencapai 13-14 juta ha. Balitbangtan berupaya mempercepat adopsi varietas unggul baru dengan beberapa cara: (1) memperluas skala uji adaptasi mencapai skala denfarm, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat produksi benih; (2) revisi alur produksi dan distribusi benih melalui penugasan Menteri Pertanian: (3) pembangunan jaringan unit pengelola benih sumber dan (4) pengembangan perbenihan berbasis masyarakat dalam bentuk Model Desa Mandiri Benih, melalui pemanfaatan jaringan perbenihan antara Unit Pengelola Benih Sumber Balai Besar Padi/Balit dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Abstract Acceleration on adoption of New Superior Rice Variety. Government of Indonesia has continuously made effort to attain sustainable rice self-sufficiency based on domestic production without import. Rice production was planned to be increased 3% annually in the period of 2015-2019 from 73.4 billion ton to 82.0 billion ton un-polished rice. Production is function of harvested area and yield. Rice yield is depend on availability of good quality seed of specific site adapted variety, good management rice practice and suitable environments. Yield gap between yield potential and actual yield coupled with only a few new superior rice variety has been adopted made rice yield increased is still possible. Ciherang, Mekongga, Ciliwung, Cigeulis, IR64 and Situbagendit varieties dominated 54.05% of 13 to 14 billion hectare transplanted paddy field annually due to good eating quality coupled with resistance to pest. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development accelerate new superior varieties adoption by mean of (1) enlarge site specific location adaptation test size into demonstration farm’s size area and also utilized as seed production areas; (2) revised seed production and distribution scheme by implementing assignment of Ministry of Agriculture; (3) develop a network between breeder seed management unit in Indonesian Center for Rice Research (ICRR) and Indonesian Assessment Institute for Agricultural Technology (IAIAT) throughout Indonesia and (4) develop community seed production system in the form a model of independent seed production village by utilizing the network of breeder seed management unit in ICRR and IAIAT.
- ItemPeningkatan Produksi Padi dan Analisis Kelayakan Usaha Tani Melalui Penerapan Teknologi Jajar Legowo (Jarwo) Super di Lahan Pasang Surut(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) PratiwiAbstrak Pengkajian dilaksanakan di Dusun Gelamak, Desa Pangkalan Kongsi, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas pada lahan sawah pasang surut tipe C Musim Kemarau 2016. Pengkajian ini melibatkan kelompok tani Tanjung Harapan I. Pengkajian diawali dengan melakukan PRA untuk menggali potensi dan permasalahan usahatani di desa tersebut. Komponen teknologi adalah aplikasi VUB Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB dan Inpari 33, dengan luasan total 10 ha. Teknologi jarwo super yang diterapkan adalah penggunaan Biodekomposer, perlakuan benih, pestisida nabati dan alsin berupa transplanter dan combine harvester. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui keragaan dan peningkatan produksi VUB padi melalui penerapan teknologi Jarwo Super dan analisis kelayakan usahatani di lahan pasang surut. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa bahwa keragaan dari masing-masing VUB beragam sesuai dengan sifat genetisnya. Produksi GKG padi tertinggi diperoleh pada varietas Inpari 32 HDB yaitu 6,66 ton/ha, dilanjutkan dengan Inpari 30 yaitu 5,88 ton/ha dan Inpari 33 yaitu 4,72 ton/ha. Provitas eksisting di daerah tersebut 3,75 ton/ha. Terjadi peningkatan provitas pada Inpari 32 HDB sebesar 77,6%, Inpari 30 Ciherang Sub-1 sebesar 56,8% dan Inpari 33 sebesar 25,87%. Teknologi jarwo super memberikan keuntungan dan tingkat kelayakan lebih tinggi dibandingkan jarwo cara petani, dengan nilai R/C 3,18. Varietas yang paling diminati petani adalah Inpari 32 HDB karena memberikan provitas tertinggi, nasi pulen dan tahan terhadap penyakit blas. Abstract The assessment was conducted in Gelamak, Pangkalan Kongsi Village, Tebas Subdistrict, Sambas Regency on tidal wetland type C on Dry season 2016. This assessment involves the Tanjung Harapan Farmers Group. The assessment begins with PRA to explore the potential and problems of farming in the village. Technological components are new variety Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB and Inpari 33 applications, with a total area of 10 ha. “Jajar Legowo Super” technology is the use Biodekomposer, seed treatment, bio pesticides and mechanization in the form of transplanter and combine harvester. The purpose of this study is to determine the performance and increase of rice new variety production through the application of Jarwo Super technology and feasibility analysis of farming in tidal land. The results of the assessment show that the performances of each new variety vary according to their genetic properties. The highest rice production was obtained from Inpari 32 HDB varieties, 6.66 tons / ha, followed by Inpari 30 Ciherang Sub-1 5.88 tons / ha and Inpari 33 4.72 tons / ha. Existing area in the area is 3.75 tons / ha. There was an increase of provitas in Inpari 32 HDB by 77.6%, Inpari 30 Ciherang Sub-1 56.8% and Inpari 33 25.87%. The jarwo super technology provides advantages and feasibility higher than the farmers’ way, with R / C 3.18. The most popular varieties of farmers are Inpari 32 HDB because it provides the highest provitas, soft rice and resistant to blast disease.
- ItemProduktivitas dan Nilai Ekonomis Varietas Unggul Baru Padi Sawah di Kabupaten Bogor(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Kurnia; Sunandar, Bambang; Sinaga, AnnaAbstrak Varietas unggul baru (VUB) padi sawah yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian masih belum dikenal secara luas di kalangan petani. Oleh itu, untuk menderaskan diseminasi varietas tersebut di tingkat petani, perlu dilakukan kajian di lahan kelompok tani dan untuk memberikan gambaran mengenai performa pertumbuhan, produktivitas serta nilai ekonomis berbagai varietas unggul baru padi tersebut. Pengkajian VUB dilakukan pada lahan milik petani di Kelompok Tani Medal Sari, Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Waktu pelaksanaan yaitu pada MKI mulai bulan Juni sampai dengan Oktober 2016. Lahan yang digunakan seluas 1 ha atau masing-masing 0,25 ha per varietas. Varietas unggul baru padi sawah yang digunakan dalam pengkajian adalah Inpari 30, Inpari 31, dan Inpari 32. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan dan diulang sebanyak tujuh kali. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa produktivitas paling tinggi adalah Inpari 30 sebesar 7,2 ton/ha, selanjutnya Inpari 32 sebesar 6,2 t/ha, dan Ciherang sebesar 6,1 t/ha dan Inpari 31 sebesar 6,0 t/ha. Untuk analisis usahatani varietas Inpari 30 mempunyai nilai R/C paling tinggi yaitu 2,11. Abstract The new improved varieties (VUB) of rice paddy produced by IAARD are still not widely known among farmers. Therefore, to strengthen the dissemination of these varieties at the farm level, it is necessary to conduct a study on farmer group land and to provide an overview of the growth performance, productivity and economic value of the new improved varieties of rice. The VUB assessment was conducted on farmer’s land in Medal Sari Farmer Group, Cibeber Village, Leuwiliang District, Bogor Regency. The execution time is at MKI from June to October 2016. The land used is 1 ha or each 0.25 ha per varieties. New varieties of paddy rice used in the study were Inpari 30, Inpari 31, and Inpari 32. The research method used was a randomized block design with four treatments and repeated seven times. The results showed that the highest productivity was Inpari 30 of 7.2 tons/ha, then Inpari 32 was 6.2 t/ha and Ciherang was 6.1 t/ha and Inpari 31 was 6.0 t/ha. For analysis of Inpari 30 varieties, the highest R/C value is 2.11.
- ItemProduktivitas dan Nilai Ekonomis Varietas Unggul Baru Padi Sawah di Kabupaten Bogor(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Kurnia; Sunandar, Bambang; Sinaga, AnnaAbstrak Varietas unggul baru (VUB) padi sawah yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian masih belum dikenal secara luas di kalangan petani. Oleh itu, untuk menderaskan diseminasi varietas tersebut di tingkat petani, perlu dilakukan kajian di lahan kelompok tani dan untuk memberikan gambaran mengenai performa pertumbuhan, produktivitas serta nilai ekonomis berbagai varietas unggul baru padi tersebut. Pengkajian VUB dilakukan pada lahan milik petani di Kelompok Tani Medal Sari, Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Waktu pelaksanaan yaitu pada MKI mulai bulan Juni sampai dengan Oktober 2016. Lahan yang digunakan seluas 1 ha atau masing-masing 0,25 ha per varietas. Varietas unggul baru padi sawah yang digunakan dalam pengkajian adalah Inpari 30, Inpari 31, dan Inpari 32. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan dan diulang sebanyak tujuh kali. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa produktivitas paling tinggi adalah Inpari 30 sebesar 7,2 ton/ha, selanjutnya Inpari 32 sebesar 6,2 t/ha, dan Ciherang sebesar 6,1 t/ha dan Inpari 31 sebesar 6,0 t/ha. Untuk analisis usahatani varietas Inpari 30 mempunyai nilai R/C paling tinggi yaitu 2,11. Abstract The new improved varieties (VUB) of rice paddy produced by IAARD are still not widely known among farmers. Therefore, to strengthen the dissemination of these varieties at the farm level, it is necessary to conduct a study on farmer group land and to provide an overview of the growth performance, productivity and economic value of the new improved varieties of rice. The VUB assessment was conducted on farmer’s land in Medal Sari Farmer Group, Cibeber Village, Leuwiliang District, Bogor Regency. The execution time is at MKI from June to October 2016. The land used is 1 ha or each 0.25 ha per varieties. New varieties of paddy rice used in the study were Inpari 30, Inpari 31, and Inpari 32. The research method used was a randomized block design with four treatments and repeated seven times. The results showed that the highest productivity was Inpari 30 of 7.2 tons/ha, then Inpari 32 was 6.2 t/ha and Ciherang was 6.1 t/ha and Inpari 31 was 6.0 t/ha. For analysis of Inpari 30 varieties, the highest R/C value is 2.11.
- ItemStudi Kelayakan Usaha Tani Varietas Padi Khusus di Kabupaten Cianjur(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Priatmojo, Bhakti; Ikhwani; Wardhana, I PutuAbstrak Studi Kelayakan Usaha tani Varietas Padi Khusus di Kabupaten Cianjur Peningkatan produksi pada usaha tani beras khusus merupakan hal yang diharapkan dapat mengurangi jumlah impor beras khusus yang berasal dari luar negeri. Permasalahan saat ini rendahnya produksi beras khusus salah satunya karena banyak petani yang belum menanam beras khusus pada usaha taninya, oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas dan kelayakan ekonomi usaha tani padi khusus. Percobaan dilaksanakan di lahan petani, dilaksanakan pada Mei – Agustus 2016, pada areal seluas 3 ha dan di lahan berpengairan teknis, di Desa Karang Wangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Lahan dibagi menjadi tujuh hamparan luasan 0,5 ha, dengan varietas khusus dan varietas existing sebagai pembanding ditanam di lahan petani. Tujuh varietas khusus yang digunakan yaitu: Inpari 17, Inpara 4, Inpari 21, Cisokan, Tayken, lusi, dan beras ketan lokal grendel. Hasil gabah varietas khusus terbaik varietas Inpara 4 (8.74 t GKG /ha) diikuti varietas Cisokan (8,21 t GKG /ha), penerimaan paling besar terdapat pada varietas Inpara 4, yaitu sebesar Rp. 34.984.000,- dan yang terendah pada varietas inpari 21 sebesar Rp. 20.003.000,-. Beras khusus dengan R/C ratio yang lebih tinggi dari varietas kontrol terdapat pada varietas Inpara 4, Lusi, Tayken dan Cisokan, dengan R/C ratio masing-masing sebesar 3.39, 3.32, 3.21 Dan 3.18. Analisis TIP dan TIH tertinggi terhadap 7 (tujuh) varietas khusus yang diuji (Cisokan, Inpari 17, Inpari 21, Inpara 4, Tayken, Grendel, dan Lusi masih lebih tinggi daripada TIH dan TIP yang ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengembangan varietas-varietas khusus petani tidak akan mengalami kerugian meskipun terjadi penurunan produktivitas ataupun harga apabila tidak kurang dari nilai TIH dan TIP. Abstract. Feasibility of the Special Rice Varieties Farming System in Cianjur District. Increased production on special rice farming is expected by the government since it could reduce the number of imports of some special rice that comes from abroad, the problem today is the low production of special rice from local farmerstherefore the purpose of this research is to study the economic feasibility of a special rice farming in enhancing the productivity and income of farmers. The experiment was conducted in farmers’ fields, conducted in May-August 2016 on the +3 ha area with technical irrigation land, in the village of Karang Wangi, Ciranjang subdistrict, Cianjur, West Java. The location for this research was purposively selected, with consideration Karangwangi Village is a village that has been applying technology in an effort to increase rice production. The land is divided into seven plots in the same area (0.2 to 0.5 ha), The treatment are combination of special varieties and double row spacing 4: 1 planting. Seven special varieties are: Inpari 17; Inpara 4 (29%); Inpari 21 (18%); Cisokan; Tayken; Lusi (6%); and the local glutinous rice Grendel. Results of the research showed the best special varieties of rice are “varieties Inpara 4” (8.74 t /ha) followed by Cisokan (8.21 t grain / ha). The greatest revenue contained in Inpara 4 varieties, with Rp. 34,984,000, - and the lowest is Inpari 21 Rp. 20,003,000, -. Special rice that feasible are Inpara 4, Lusi, Tayken and Cisokan, with a value of R/C ratio respectively of 3.39, 3.32, 3.21 and 3.18. The result of Breakeven Product and Breakeven Price Analysis to seven special varieties shows that the development of special varieties will not suffer losses despite a decrease in productivity or the price is not reached Breakeven Product and Breakeven Price value. Therefore the value of tested variety farming remain profitable.