Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 589
  • Item
    Kajian Interaksi Antara Sistem Tanam Jajar Legowo Dengan Varietas Unggul Baru Padi di Nusa Tenggara Barat
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Mardian, Irma; Hipi, Awaludin; Widiastuti, Eka; Herawati, Nani; L.M. Zarwazi
    Abstrak Peningkatan produksi padi menjadi prioritas pembangunan pertanian. Dengan adanya variasi sistem tanam dan banyaknya VUB padi yang telah dihasilkan BB Padi maka dirasa perlu kajian tentang sistem tanam jajar legowo dan VUB padi yang memberikan interaksi terbaik untuk meningkatkan produksi padi di NTB. Pengkajian interaksi sistem tanam jajar legowo dengan VUB dilakukan pada Musim Kemarau (MK) I bulan Mei-Agustus 2016 pada kelompok tani Lawoto Kelurahan Rabangodu Selatan Kecamatan Raba, Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengkajian ini bersifat action research di lahan petani yakni dengan melakukan demfarm seluas 3 ha. Pelaksanaan demfarm menerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) menggunakan rancangan acak kelompok petak terpisah dengan 4 ulangan yaitu sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 4:1 sebagai petak utama dan VUB padi (Inpari 10, Inpari 22, Inpari 30) sebagai anak petak. Pengamatan dilakukan pada keragaan agronomi, hasil, analisa usaha tani dan persepsi petani. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa sifat genetis VUB lebih dominan mempengaruhi pertumbuhan agronomi padi dibandingkan jarak tanam jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo 2:1 memberikan keragaan hasil serta keuntungan usaha tani yang tidak berbeda nyata dengan jajar legowo 4:1. Persepsi petani pada sistem tanam jajar legowo sebesar 77,08 % dalam kategori setuju bahwa sistem jajar legowo mampu meningkatkan produktivitas, memudahkan pengelolaan serta layak secara ekonomi. Abstract Increasing rice production is a priority for agricultural development in Indonesia. Due to variation of planting systems and many new superior rice varieties that have been released by Indonesian Center for Rice Research (ICRR), it is necessary to study the legowo planting system and new superior rice varieties which gives the best interaction to increase rice production in West Nusa Tenggara. Study of the interaction between legowo planting system and new superior rice varieties was conducted in the dry season in May-August 2016 at the Lawoto farmer group in South Rabangodu, Raba, Bima City, West Nusa Tenggara Province. This study was action research in farmers’ field with demfarm area of 3 ha. Demfarm was applied Integrated Crop Management (ICM) with Randomized Completely Block Design (RCBD) with split plot design with 4 replications where legowo 2:1 and 4:1 planting systems as main plot and new superior rice varieties (Inpari 10, Inpari 22, Inpari 30) as subplots. Observations were on agronomic performance, yield, farming system analysis and farmer adoption. The results show that the genetic characteristics of new superior rice varieties are more dominant in influencing the growth of rice agronomy compared to the legowo planting system. Legowo 2:1 planting system provides a result of yield and profit of farming which is not significantly different from legowo 4:1. Around 77.08% farmers agreed that legowo planting system could improve productivity, simple in management and economically feasible.
  • Item
    Pengujian Cara Tanam dan Varietas Pada Budidaya Salibu
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Sujinah; Nurwulan Agustiani; Jamil, Ali
    Abstrak Peningkatan produksi tanaman dapat dilakukan dengan penyesuaian sistem tanam, diantaranya dengan menggunakan cara tanam yang tepat. Selain itu, peningkatan produksi dapat dilakukan dengan peningkatan indeks panen yaitu dengan budidaya salibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh cara tanam dan varietas pada budidaya salibu. Percobaan dilaksanakan di KP Sukamandi dimulai tahun 2015 sampai 2016 selama 3 musim tanam. Rancangan menggunakan split plot 3 ulangan. Petak utama adalah cara tanam yaitu tapin, atabela, dan tabela manual sedangkan anak petak yaitu varietas yang terdiri dari Inpari 32 HDB, Inpari 42 Aritan GSR, dan Hipa 5 Ceva. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Cara tanam tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada tanaman induk, salibu 1, dan salibu 2, (2) Cara tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah malai per rumpun, jumlah gabah per malai, dan hasil pada tanaman induk serta berpengaruh nyata terhadap persentase gabah isi pada salibu, Interaksi nyata berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada tanaman induk dan salibu 1, serta jumlah anakan pada fase primordia, (4) Tinggi tanaman, jumlah anakan, komponen hasil, dan hasil mengalami penurunan pada salibu 1 dan salibu 2 dari tanaman induk, (4) Hasil gabah tertinggi dihasilkan oleh Inpari 42 pada tanaman induk sedangkan pada salibu 1 dan salibu 2 pada Inpari 32, (5) Hasil pada salibu 1 mengalami penurunan 37,93% dari tanaman induk dan hasil salibu 2 mengalami penurunan 58,33% dari salibu 1. Abstract Increased crop production can be done by adjusting the cropping system, including by using the appropriate planting system. In addition, the increase in production can be done by increasing harvest index i.e. salibu cropping. The research purpose was to know response of planting system and varieties on salibu cropping. The experiments were conducted at Sukamandi Experimental Station on 2015 to 2016 during three cropping seasons. The experiments design using split plot with 3 replications. Main plot is planting i.e. transplanting, direct seeding, and manual direct seeding while sub plot is varieties consisting of Inpari 32 HDB, Inpari 42 Agritan GSR, and Hipa 5 Ceva. The result showed that (1) Planting system does not significant on plant height on the parent plant, salibu 1, and salibu 2, (2) Planting system significantly affect the number of panicles per hill, the number of grains per panicle, and yield on parent plant and significant effect on the percentage of fill grain on salibu, (3) Interaction significantly to plant height on parent plant and salibu 1, and also number of tillering at panicle initiation, (4) Plant height, number of tillering, yield component, and yield decreases on salibu 1 and salibu 2 from parent plant, (4) The highest yield was produced by Inpari 42 on parent plant while in salibu 1 and salibu 2 on Inpari 32, (5) Yield on salibu 1 decreased 37,93% from parent plant and salibu 2 decreased 58,33% from salibu 1.
  • Item
    Pengaruh Cara Tanam dan Pengendalian Gulma Padi di Lahan Rawa Pasang Surut
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) M. Zarwazi, Lalu; Anwar, Khairil; Hasmi, Idrus
    Abstrak Semakin menyempitnya lahan sawah yang subur terutama di pulau Jawa, karena terjadinya konversi lahan sawah menjadi prasarana umum dan industry dapat mengancam produksi padi nasional. Sebagai alternatif, pengembangan padi dapat diarahkan pada lahan sawah pasang surut. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan sistem tanam dan sistem pengendalian gulma terbaik di lahan pasang surut. Penelitian telah dilakukan di lahan petani di Desa Karang Buah, Kecamatan Belawang, Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada MT-2 2016. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan split plot, dengan teknik tanam sebagai main plot dan teknik pengendalian gulma sebagai sub plot, dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik tanam yang menghasilkan produksi padi rawa yang tinggi adalah menggunakan sistem tanam pindah dan atabela jajar legowo. Sedangkan teknik pengendalian gulma paling efisien dalam penelitian ini adalah pengendalian gulma mekanis dua kali yang diikuti penggunaan herbisida. Abstract The decreasing of fertile areas in Java Island, caused by land conversion to Industries and common use, affected the decreasing of national rice production. The alternative areas were swampy and tidal swampy areas, such as South Kalimantan area. This area conducted research by split plot design at wet season (Planting season II). The main plot was planting techniques, and the sub plot was weed management techniques, with tree replications. The results show that the highest yield of planting techniques were double planting system and Atabela legowo. The best managements of weed were mechanical system management and herbicide application.
  • Item
    Analisis Pengaruh Jumlah Hari Hujan Terhadap Luas Tanam Padi di Kabupaten Mandailing Natal Musim Tanam 2013/2014 Sampai 2016/2017
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) EL Ramija, Khadijah; Chairuman, Novia; Rizki Chairiyah, Riri
    Abstrak Kabupaten Mandailing Natal merupakan salah satu sentra produksi padi di Provinsi Sumatera Utara dengan luas baku sawah terluas ketujuh. Ketersediaan air merupakan faktor penting dalam budidaya padi sawah yang dapat mempengaruhi luas tanam padi dalam mendukung pencapaian swasembada padi khususnya di Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah hari hujan terhadap peningkatan luas tanam padi di Kabupaten Mandailing Natal pada periode tanam 2013/2014 sampai 2016/2017 (empat tahun) dan analisis kinerja luas tanam padi dan jumlah hari hujan. Data luas tanam padi diperoleh dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara dan data jumlah hari hujan diperoleh dari pusat database BMKG Stasiun Meteorologi Aek Godang mulai bulan Oktober 2013 sampai September 2017. Selanjutnya hubungan luas tanam padi terhadap jumlah hari hujan menggunakan metode regresi linear dengan software SPSS serta dilihat kinerja luas tanam padi dan jumlah hari hujan serta. Luas tanam padi di Kabupaten Mandailing Natal meningkat sebesar 31,37% pada periode tanam 2013/2014 sampai 2016/2017. Sementara jumlah hari hujan di Kabupaten Mandailing Halal menurun sebesar 2,32%. Jumlah hari hujan meningkat nyata terhadap luas tanam padi pada taraf nyata 5% di Kabupaten Mandailing Natal pada periode tanam 2013/2014 sampai 2016/2017. Abstract Mandailing Natal Regency is one of the rice production centers in North Sumatera Province with the widest rice field area of seventh. Water availability is an important factor in the cultivation of paddy rice that can affect the area of rice planting in support of achieving rice self-sufficiency, especially in Mandailing Natal Regency. This study aims to determine the effect of rainy days on increasing the area of rice planting in Mandailing Natal Regency during the planting period of 2013/2014 to 2016/2017 (four years) and analysis of the performance of rice planting area and the number of rainy days. The data of planting area of rice obtained from Food Crops and Horticulture Agency of North Sumatera Province and data of number of rain days obtained from database center BMKG Aek Godang Meteorology Station from October 2013 until September 2017. Furthermore relation of planting area of paddy to number of rainy days using linear regression method with SPSS software and viewed performance of planting area of paddy and number of rainy days and also. The area of rice planting in Mandailing Natal Regency increased by 31,37% in the planting period of 2013/2014 until 2016/2017. While the number of rainy days in Halal Mandailing Regency decreased by -2,32%. The number of rainy days increased significantly to the area of rice planting at 5% real level in Mandailing Natal Regency during the planting period 2013/2014 until 2016/2017.
  • Item
    Padi Apung Sebagai Inovasi Petani Terhadap Dampak Perubahan Iklim di Pangandaran
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Prayoga, M. Khais; Adinata, Kustiwa; Neni Rostini, Neni; Rochimi Setiawati, Mieke
    Abstrak Perubahan iklim menyebabkan pola curah hujan tidak menentu dan berisiko menimbulkan bencana banjir pada lahan sawah. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu wilayah yang berisiko terkena banjir di lahan sawah. Luas lahan sawah yang rawan banjir di Kabupaten Pangandaran mencapai 2.114,90 ha. Sebagai upaya adaptasi terhadap risiko perubahan iklim diperlukan suatu inovasi salah satunya adalah padi apung. Budidaya padi apung merupakan teknik budidaya padi yang menggunakan rakit sebagai media tanam. Metode tanam padi yang dipergunakan pada budidaya padi apung adalah metode SRI (System Rice Intensification). Hasil analisis nilai R/C rasio total budidaya padi apung mencapai 2,03. Oleh karena itu, padi apung cukup menguntungkan dan berprospek bagus untuk dikembangkan di lahan banjir tahunan. Selain itu, menunjukkan pendapatan dan hasil produktivitas yang lebih tinggi daripada usaha tani padi konvensional. Apabila padi apung dikembangkan di lokasi lahan rawan banjir, maka akan terjadi peningkatan hasil produksi dan pendapatan bagi para petani. Agar budidaya padi apung dapat dikembangkan lebih luas diperlukan peran serta pemerintah dalam upaya pengembangannya dan perlu penelitian lebih lanjut tentang model rakit yang lebih murah dan tahan lama, media tanam yang baik, serta perawatan dan pemeliharaan guna meningkatkan produktivitas padi apung. Abstract Climate change leads to erratic rainfall patterns and flood in paddy fields. Pangandaran Regency is one of the areas that risk of flooding in paddy fields. The areas which are prone to flood reach 2.114,90 ha. Floating rice is an effort to adapt the risk of climate change. Floating rice is a technique that uses a raft as a planting medium. The method of rice planting which is used in floating rice is SRI (System Rice Intensification). The result of R/C ratio analysis in floating rice reach 2.03. Consequently, floating rice has advantageous and a great prospect to be developed on the land that has annual floods. Moreover, floating rice shows the higher income and productivity better than conventional rice farming. When floating rice is developed in the flood-prone land, there will be increased production and income for farmers. In order to develop floating rice, the role of government and further researches about the raft model that cheaper, durable and good media planting are needed to increase the productivity of floating rice.