Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 723
- ItemKeong Mas, dari Hewan Peliharaan Menjadi Hama Utama Padi Sawah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Suharto, Hendarsih; Kurniawati, NiaAbstrak Keong mas (Pomacea canaliculata) awalnya diintroduksi sebagai hewan peliharaan akuarium dan komoditas pembudidayaan. Namun, pesatnya perkembangbiakan dan tidak terbentuknya pasar ekonomi yang berkelanjutan menyebabkan organisme ini terlepas ke lingkungan ekosistem persawahan dan bertransformasi menjadi salah satu hama utama tanaman padi sawah. Keong mas menyerang tanaman padi terutamanya pada fase vegetatif awal (1–3 minggu setelah tanam) dengan memotong pangkal batang dan memakan daun muda yang lunak. Serangan ini berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian hingga 10%–60% serta memaksa petani melakukan proses penyulaman atau penanaman ulang. Artikel ini mengulas sejarah peralihan status keong mas dari hewan peliharaan menjadi hama invasif, karakteristik bioekologi, dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan, serta strategi pengendalian terpadu (PHT) yang efisien dan ramah lingkungan. Pengendalian yang dinilai paling efektif meliputi manajemen tata kelola air, pengutipan kelompok telur secara mekanis, pemanfaatan predator alami (seperti itik), penggunaan perangkap/atraktan hayati, serta konversi limbah keong mas menjadi pupuk organik cair maupun pakan ternak. Abstract The golden apple snail (Pomacea canaliculata) was initially introduced as an aquarium pet and a potential aquaculture commodity. However, rapid reproduction rates and the lack of a sustainable market led to its release into wetland ecosystems, causing it to transform into a major pest of lowland rice crops. The Golden apple snail primarily attacks rice plants during the early vegetative state (1–3 weeks post-transplanting) by cutting the base of young tillers and consuming tender shoots. Severe infestations can reduce crop yields by 10% to 60%, forcing farmers to replant affected areas. This article reviews the historical status shift of the golden apple snail from a pet to an invasive agricultural pest, its bio-ecological characteristics, the economic damage caused, and integrated pest management (IPM) strategies. The most effective control strategies include proper water management, manual collection of egg masses, biological control using natural predators (such as ducks), botanical traps/attractants, and converting snail biomass into liquid organic fertilizer or animal feed.
- ItemEkologi Tikus Sawah dan Teknologi Pengendaliannya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Suharto, Hendarsih; N. UsyatiAbstrak Penggerek batang padi (Yellow Stem Borer) merupakan salah satu hama utama yang secara signifikan dapat menurunkan produktivitas tanaman padi melalui kerusakan fase vegetatif (sundep) dan fase generatif (beluk). Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis berbagai strategi pengendalian hama penggerek batang padi yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan panduan teknis pertanian. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa penerapan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menggabungkan teknik kultur teknis (seperti pengaturan pola tanam dan pergiliran varietas), pengendalian fisik-mekanis, pemanfaatan agen hayati (seperti Trichogramma spp. dan parasitoid parasit telur), serta penggunaan insektisida kimia secara bijaksana dan terukur, mampu menekan populasi hama di bawah ambang ekonomi secara signifikan. Kesimpulannya, koordinasi antarpetani dalam penerapannya secara serentak di tingkat hamparan menjadi kunci keberhasilan pengendalian penggerek batang padi secara berkelanjutan. Abstract The rice stem borer is one of the primary pests that significantly reduces rice crop productivity through damage in the vegetative phase (deadheart) and the generative phase (whitehead). This paper aims to analyze various effective, efficient, and environmentally friendly rice stem borer control strategies. The method utilized is a literature review, synthesizing data from scientific journals, research reports, and agricultural technical guides. The results indicate that implementing Integrated Pest Management (IPM) strategies—combining cultural practices (such as synchronized planting schedules and crop rotation), physical-mechanical controls, biological agents (such as Trichogramma spp. and egg parasitoids), and the judicious use of chemical insecticides—significantly suppresses pest populations below the economic threshold. In conclusion, coordinated and synchronized implementation among farmers at the landscape level is the key to achieving sustainable rice stem borer control.
- ItemEkologi Tikus Sawah dan Teknologi Pengendaliannya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Sudarmaji; N.A. HerawatiAbstrak Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan salah satu hama utama yang menimbulkan kerusakan signifikan serta penurunan hasil produksi tanaman padi secara masif. Penanganan yang tidak optimal sering kali disebabkan oleh pemahaman yang minim mengenai bioekologi tikus serta tindakan pengendalian yang terlambat. Artikel ini mengulas tentang ekologi tikus sawah—meliputi perilaku reproduksi, pola aktivitas, dan dinamika populasi—serta implementasi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Strategi PHTT menekankan pada tindakan pencegahan dini yang berkelanjutan dan terkoordinasi dalam skala hamparan. Berbagai teknologi pengendalian dievaluasi, antara lain sanitasi habitat, tanam serempak, gropyokan massal, fumigasi sarang, hingga penerapan teknologi ramah lingkungan seperti Trap Barrier System (TBS), Linear Trap Barrier System (LTBS), dan pemanfaatan musuh alami (misalnya burung hantu Tyto alba). Pengintegrasian pemahaman ekologi dengan teknologi pengendalian berbasis PHTT terbukti efektif menekan populasi tikus sawah di bawah ambang kerugian ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan sistem pertanian. Abstract The rice field rat (Rattus argentiventer) is a major pest causing significant crop damage and substantial yield losses in rice production. Ineffective pest management often stems from a limited understanding of the rat's bio-ecology and delayed control interventions. This article reviews the ecology of the rice field rat—including its reproductive behavior, activity patterns, and population dynamics—alongside the implementation of Integrated Rodent Management (IRM). The IRM strategy emphasizes early, continuous, and community-based preventative actions across large-scale areas. Various control technologies are evaluated, including habitat sanitation, synchronized planting, mass hunting, burrow fumigation, and eco-friendly technologies such as the Trap Barrier System (TBS), Linear Trap Barrier System (LTBS), and the use of natural predators like the barn owl (Tyto alba). Integrating ecological insights with IRM-based control technologies effectively maintains rat populations below economic threshold levels while promoting sustainable agricultural practices.
- ItemHama Wereng dan Cara Pengendaliannya Pada Tanaman Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Baehaki S.E.; Widiarta, I NyomanAbstrak Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia yang keberlanjutan produksinya kerap terancam oleh serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya hama wereng. Hama wereng, seperti Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens), Wereng Hijau (Nephotettix virescens), dan Wereng Punggung Putih (Sogatella furcifera), merusak tanaman dengan cara menghisap cairan sel batang serta berperan sebagai vektor penularan penyakit virus kerdil dan tungro. Serangan berat hama ini dapat menyebabkan fenomena hopperburn hingga kegagalan panen (puso) secara total. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik serangan hama wereng dan merumuskan strategi pengendalian yang efektif serta ramah lingkungan. Metode kajian dilakukan melalui tinjauan pustaka terhadap berbagai literatur penelitian terkait biologi wereng dan teknik penanggulangannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan strategi paling efektif dalam meminimalkan populasi wereng. Strategi ini meliputi: (1) teknik kultur teknis seperti penanaman serentak, penggunaan varietas tahan, dan pengaturan jarak tanam jajar legowo; (2) pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami (predator dan parasitoid) serta agens hayati; (3) pemantauan populasi menggunakan light trap; serta (4) penggunaan insektisida kimia secara bijaksana sebagai langkah terakhir. Penerapan strategi PHT secara konsisten diharapkan dapat menjaga kestabilan produksi padi dan mendukung ketahanan pangan nasional. Abstract Rice (Oryza sativa L.) is the primary food commodity in Indonesia, whose production sustainability is frequently threatened by Plant Disruptive Organisms (PDO), particularly planthopper pests. Planthoppers, such as the Brown Planthopper (Nilaparvata lugens), Green Leafhopper (Nephotettix virescens), and White-backed Planthopper (Sogatella furcifera), damage plants by sucking cell sap from stems and serving as vectors for viral stunt diseases and tungro. Severe infestations can lead to hopperburn phenomena and complete crop failure (puso). This article aims to review the characteristics of planthopper attacks and formulate effective, environmentally friendly control strategies. The study method was conducted through a literature review of research regarding planthopper biology and management techniques. The results indicate that the Integrated Pest Management (IPM) approach is the most effective strategy for minimizing planthopper populations. This strategy encompasses: (1) cultural practices such as simultaneous planting, the use of resistant varieties, and proper plant spacing using the jajar legowo system; (2) biological control utilizing natural enemies (predators and parasitoids) and biological agents; (3) population monitoring using light traps; and (4) judicious application of chemical insecticides as a last resort. Consistent implementation of IPM strategies is expected to maintain rice production stability and support national food security.
- ItemPengendalian Gulma Pada Tanaman Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Pane, Hamdan; Jatmiko, Sigit YuliAbstrak Pengendalian gulma merupakan salah satu aspek krusial dalam budidaya tanaman padi (Oryza sativa L.) untuk mencegah penurunan hasil panen akibat kompetisi nutrisi, air, dan cahaya matahari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas berbagai metode pengendalian gulma, meliputi metode mekanis, hayati, kimiawi, serta penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada pertanaman padi. Data dikumpulkan melalui studi literatur dan observasi lapangan untuk mengevaluasi efisiensi biaya serta dampaknya terhadap lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi metode mekanis dan penggunaan herbisida selektif secara terukur memberikan tingkat efikasi tertinggi dalam menekan pertumbuhan gulma tanpa merusak ekosistem tanah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan terpadu merupakan strategi terbaik untuk menjaga produktivitas padi secara berkelanjutan. Abstract Weed control is a crucial aspect of rice (Oryza sativa L.) cultivation to prevent yield loss caused by competition for nutrients, water, and sunlight. This study aims to analyze the effectiveness of various weed management methods, including mechanical, biological, chemical, and Integrated Pest Management (IPM) approaches in rice fields. Data were collected through literature reviews and field observations to evaluate cost efficiency and environmental impacts. The results indicate that combining mechanical methods with targeted selective herbicides provides the highest efficacy in suppressing weed growth without damaging the soil ecosystem. This study concludes that an integrated approach is the most effective strategy for sustaining long-term rice productivity.