Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 690
- ItemPertumbuhan Tanaman Padi Varietas Dendang Dengan Kombinasi Media Tanam Lumpur Sidoarjo Sebagai Alternatif Sumber Hara(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Ayu Adriany, Terry; Setyanto, PrihastoAbstrak Kombinasi media tanam lumpur Sidoarjo, tanah lahan tadah hujan dan kompos diharapakan dapat menjadi media tanam tanaman padi varietas Dendang. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi pertumbuhan tanaman padi varietas Dendang dengan kombinasi media tanam lumpur Sidoarjo sebagai alternatif sumber hara. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian pada bulan Desember 2015 – April 2016. Varietas yang digunakan adalah varietas Dendang dengan 9 perlakuan kombinasi media tanam dan 3 ulangan. Variabel yang diukur adalah tinggi tanaman, jumlah anakan, hasil gabah dan kemasaman tanah serta hasil analisa tanah. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi media tanam lumpur Sidoarjo L1, L2, L3, L4, L5 dan L6 belum menunjukkan respon positif untuk pertumbuhan tanaman padi varietas Dendang. Kombinasi media tanam tanah lahan tadah hujan dan kompos L7 dan L8 menghasilkan pertumbuhan tanaman padi Dendang yang baik dengan jumlah anakan yang banyak dan peningkatan produksi hasil gabah, meskipun umur tanaman menjadi lebih panjang dibandingkan dengan media L9 (100% tanah). Abstract Combination of plant media Sidoarjo mud, soil and compost are expected to be a good cultivation media for Dendang variety. The research aimed to obtain the information growth of Dendang variety with the combination of plant media cultivation Sidoarjo mud as an alternative source of nutrients. Research carried out in Research Station at Indonesian Agricultural Environment Research Institute, Pati, Central Java in December 2015 - April 2016. The variety is used Dendang with 9 treatments combination of plant media and 3 replications. The variables measured were plant height, number of tillers, grain yield and soil acidity and soil analysis results. The results showed the combination of plant media of Sidoarjo mud L1, L2, L3, L4, L5, and L6 has not shown a positive response to the growth of Dendang variety. The combination of plant media with soil from rainfed rice field and compost L7 and L8 were a good of cultivation media for growth of Dendang and could increase the number of tillers and the production of grain yield, although the age of the plant becomes longer than the media L9 (100% soil).
- ItemEvaluasi Cara Tanam Jajar Legowo 2:1 Menggunakan Indojarwo Transplanter(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Firdaus, Jonni; Muchtar; SyafruddinAbstrak Teknologi jajar legowo diyakini dapat meningkatkan produksi namun Tingkat adopsinya masih rendah karena dianggap sulit dilakukan akibat bertambahnya populasi sehingga menambah waktu, tenaga kerja dan biaya tanam. Dilain pihak dampak perubahan iklim dan ketersediaan tenaga kerja menjadi faktor pembatas. Untuk mengatasi hal itu, Badan Litbang pertanian telah membuat Indo jarwo rice transplanter. Penerapan teknologi harus didukung oleh kesiapan sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan indo jarwo transplanter oleh operator dengan tingkat keahlian yang berbeda. Penelitian dilakukan di lokasi Taman Teknologi Pertanian Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah pada bulan Juli 2016. Pengamatan dibedakan dalam dua kategori operator yaitu operator terlatih (Teknisi BPTP Sulawesi Tengah) dan operator yang belum terlatih (Petani). Pengamatan untuk masing – masing kategori dilakukan pada tiga petakan sebagai ulangan. Parameter yang diamati berupa jumlah batang tertanam per rumpun, jumlah anakan dan jumlah total batang per rumpun, jarak dalam barisan, jarak antar barisan, jarak legowo serta missing hill. Data hasil pengamatan dianalisa menggunakan stastistik deskriptif sederhana berupa rata-rata, nilai maksimum dan nilai minimum serta nilai error. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bibit per rumpun berkisar antara 2-4 batang. Jarak antar barisan dan jarak legowo dalam satu set lebar kerja alat telah sesuai dengan jarak tanam legowo 2:1, namun untuk jarak legowo antar set lebar kerja alat dan jarak tanam dalam barisan belum sesuai dengan kriteria jarak tanam jarwo. Besarnya error tergantung pada desain alat dan tingkat keahlian operator. Besarnya nilai missing hill tergantung pada tingkat keahlian operator dalam persiapan pembibitan dan pengoperasian alat tanam Abstract The technology of Legowo “double row spacing” was believed can increase production but the adoption was still low because it was difficult in application due to the increasing of population thereby increasing the time, labour and cost of planting. On the other hand, the impact of climate change and the availability of labour become the limiting factor. To overcome this, the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development had made Indo Jarwo rice transplanter. Application of technology must be supported by the readiness of human resources. This study aimed to evaluate the use of Indo Jarwo transplanter by different skill levels of operators. The study was conducted at the site of Agricultural Technology Park Batui, Banggai Regancy, Central Sulawesi in July 2016. Observations are divided into two categories operator, i.e. trained operators (Technician of BPTP Central Sulawesi) and untrained operator (Farmers). Observations for each category performed on three plots as replication. The parameters were the number of planted stems per hill, the distance in rows, the distance between rows, legowo spacing and missing hill. The data were analysed using descriptive statistical such as average, maximum and minimum and an error. The results showed that the number of seedlings per hill ranges between 2-4 stems. The distance between rows and space of legowo in a working width had been in accordance with the spacing of legowo 2:1, but for the the space of legowo between sets of working width was not in accordance with the spacing of legowo 2:1. The value of error depends on the design of equipment and the skill of the operator. The value of the missing hills dependent on operator skill seeding and the operation of the rice transplanter
- ItemRespon Pupuk Organik dan Pupuk Hayati Agrimeth Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Gogo di Indramayu(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Rustiati, Tita; WidyantoroAbstrak Pupuk hayati merupakan pupuk yang tersusun dari bahan-bahan yang mengandung mikroorganisme bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman, melalui aktivitas biologi akhirnya dapat berinteraksi dengan sifat-sifat fisik dan kimia tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan dan produksi tanaman padi gogo di lahan kering dengan pemberian pupuk hayati dan pupuk organik berbasis bakteri pemacu pertumbuhan.Perlakuan pupuk organik dan pupuk hayati yang diperkaya mikroba-mikroba baik dapat memacu pertumbuhan dan produksi padi sawah dan gogo di tanah masam. Perlakuan dosis 50% PUTK ditambah dengan pupuk hayati dan pupuk organik memberikan hasil tertinggi baik pertumbuhan tanaman maupun produksi. Pada penelitian ini penggunaan pupuk hayati dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik sebanyak 25%. Penggunaan Agrimeth mikrob dapat meningkatkan kualitas kesuburan di tanah masam. Abstract Biofertilizer is a substance which contains microorganism to improve yield, through biological activity can interact with the physical and chemical soil. This study aimed to analyse the growth and yield of upland rice in dry soil with bio fertilizer and organic- based biological pacemaker bacteria. The treatments of organic fertilizers and bio-fertilizers enriched microbes can both stimulate the growth and production of wetland and upland in acid soils, PUTK 50% dose treatment coupled with bio-fertilizer and organic fertilizer produced the highest yield better plant growth and production. In this study, the use of biological fertilizers can reduce the use of inorganic fertilizers as much as 25%. The use of microbial Agrimeth can improve the quality of fertility of acid soils.
- ItemDampak Program Gerakan Penanaman Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) Terhadap Produksi dan Keuntungan Usahatani Padi Sawah di Kabupaten Sleman, DIY(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Widodo, Sugeng; Mulyani, NovitaAbstrak Sejak tahun 2015 pemerintah mendukung peningkatan pangan melalui program “Gerakan Penanaman Pengelolaan Tanaman Terpadu” (GPPTT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari program GP-PTT padi terhadap produksi dan keuntungan usahatani padi lahan sawah di Kabupaten Sleman, DIY. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode survei di lokasi Kabupaten Sleman, dengan alasan bahwa kabupaten ini merupakan sentra produksi padi di DIY. Sampel diambil secara random pada kelompok tani di Kecamatan Berbah dengan cara stratified simple random sampling. Analisis data untuk menentukan dampak dari program GP-PTT dari sisi produksi dan keuntungan menggunakan uji t. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata sisi produksi dan keuntungan dengan dan tanpa program GPPTT padi. Abstract The government programs to support improved food is “Gerakan Penanaman Pengelolaan Tanaman Terpadu” (GPPTT) since 2015th. The purpose of this study was determining the impact of the GPPTT on production and profit of farmers in Sleman district, DIY. The data collected by the survey method with in Sleman district because the district is the center of rice production in the province. Sample were taken by random sampling on 1 farmer group in Berbah sub district with stratified simple random sampling. The data to analysis determine the impact of GP-PTT on production dan profit farmer group using the t test. The analysis showed that difference in paddy production and profits with and without GPPTT.
- ItemIdentifikasi Padi Lokal di Provinsi Jawa Barat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Yulyatin, Atin; Ishaq, Iskandar; Supriyadi, HendiAbstrak Setiap daerah di Indonesia memiliki beberapa sumber daya genetik yang khas, yang sering berbeda dengan yang ada di daerah lain. Besarnya kebutuhan akan padi sementara produksinya yang cenderung naik namun tidak signifikan dengan kebutuhannya maka perlu adanya perbaikan produksi diantaranya dengan persilangan. Persilangan antara padi unggul baru dan padi lokal dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi. Untuk itu diperlukan plasma nutfah dengan keragaman genetik yang luas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi padi lokal yang ada di Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2013. Lokasi penelitian dilakukan di 6 (enam) Kabupaten yaitu Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Indramayu, Bandung, dan Garut. Bahan dan alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah tanaman padi lokal. Metode penelitian adalah koordinasi, eksplorasi langsung ke lokasi berdasarkan sumber data yang diperoleh, wawancara dengan petani (sebagai data penunjang), dan koleksi gabah padi lokal. Hasil penelitian ini adalah telah berhasil diidentifikasi sebanyak 98 aksesi padi lokal yang terdiri atas padi jenis beras putih, beras merah, dan beras hitam, serta jenis ketan putih, ketan hitam dan aromatik, yaitu sebanyak 24 aksesi dari Kabupaten Tasikmalaya, 22 aksesi dari Kabupaten Subang, 12 aksesi dari Kabupaten Cianjur, 10 aksesi dari Kabupaten Indramayu, 5 aksesi dari Kabupaten Bandung, dan 25 aksesi dari Kabupaten Garut. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Garut memiliki identifkasi padi local yang lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Indramayu dan Bandung. Kabupaten Subang dan Cianjur memiliki karakter fungsional padi yang lebih beragam dibandingkan Kabupaten Tasikmalaya, Subang, Indramayu dan Bandung. Abstract Identification of Local Rice in The Province of West Java. Every region in Indonesia has several distinctive genetic resources, which are often different from those in other areas. While the great need for rice production is likely to rise but not significant to its needs, the need for improvement of production such as by crossing. A cross between rice and local rice cultivation can be done to increase production. It required germplasm with wide genetic diversity. The purpose of this study was to determine identified of local rice in West Java. The study was conducted in April-May 2013. The location of research conducted in 6 districts, Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Indramayu, Bandung and Garut. Materials and equipment used in this activity is local rice crops. The research method is coordination, exploration directly to the site based on source data obtained, an interview with a farmer (as the supporting data), and a collection of local rice grain. Germplasm collection is done by collecting every rice cultivars were planted by the locals. The results of this study are already identified as many as 98 accessions of local rice which consists of rice types of white rice, brown rice, and black rice, as well as the kind of glutinous white, black rice and aromatic, as many as 24 accessions from Tasikmalaya District, 22 accessions of Subang Regency, 12 accessions of Cianjur, 10 accessions of Indramayu district, 5 accessions of Bandung regency, and 25 accessions of Garut. Garut has a diversity of local rice is higher than Tasikmalaya regency, Subang, Cianjur, Indramayu and Bandung. Subang Regency and Cianjur rice have a functional character is more diverse than Tasikmalaya regency, Subang, Indramayu and Bandung.