Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 579
  • Item
    Keragaan Beberapa Varietas Unggul Padi di Lahan Rawa Lebak Tengahan Kalimantan Selatan
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Pramudyani, Lelya; Amali, Noor; R Rohaeni. Wage
    Abstrak Masalah utama di dalam pengembangan lahan rawa lebak untuk produksi pangan adalah pengendalian air dan kesuburan tanahnya. Dari hasil-hasil penelitian terdahulu telah dilaporkan bahwa pemberian bahan ameliorant dan pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman pangan dan holtikultura. Bahan ameliorant yang umum digunakan petani dilahan rawa Adalah kapur, pupuk kandang, dan abu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dolomit dan arang sekam terhadap pertumbuhan beberapa varietas padi di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan. Penelitian pada bulan Juni 2013 – Nopember 2013 di Desa Marampiau Hilir Kecamatan Candi Laras Selatan Kabupaten Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan dengan tipe lahan rawa lebak tengahan. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan ulangan sebanyak 3 kali. Total luas lahan yang digunakan adalah 1 ha. Varietas yang digunakan Adalah Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 5 dan Margasari, masing-masing sebanyak 7 kg. Perlakuannya adalah pemberian dolomit sebanyak 2 ton/ha, dolomit 2 ton/ha + abu sekam 300 kg/ha. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah malai/tanaman, jumlah gabah/malai, persentase gabah hampa, dan produksi/ha Hasil menunjukkan bahwa pemberian dolomit dengan abu sekam memberikan jumlah gabah isi dan produktivitas padi rawa lebih tinggi dari pada pemberian dolomit tanpa abu sekam. Tetapi tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah anakan produktif,panjang malai dan bobot seribu butir. Sedangkan varietas yang mempunyai jumlah gabah isi (165,76) dan produktivitas tertinggi (5,28 t/h) adalah Inpara 2. Abstract The main problem in the development of swampy land for food production is the control of water and soil fertility. From the results of previous studies, it has been reported that ameliorant and fertilizer feeding can increase the growth and yield of food crops and horticulture. Ameliorant materials commonly used by farmers in swampy lands are lime, manure, and ash. The aims of this study is to determine the effect of dolomite and charcoal husk on the growth of several varieties of rice in the swampy land of South Kalimantan. Research conduct on June 2013 November 2013 in Marampiau Hilir Village, Candi Laras Utara Subdistrict, Tapin Regency of South Kalimantan Province, with type of swampy land is middle swampy. The study was designed using Split Plot Design with 3 replications. The total area used is 1 ha. The varieties used were Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 5 and Margasari, each of 7 kg. The treatment is dolomite = 2 ton/ha, dolomite 2 ton / ha + ash husk 300 kg /ha. Parameters observed included plant height, number of panicles/plants, number of grains/panicles, percentage of empty grain, and production/ha. The results show that dolomite with ash husk gives higher grain content and productivity than dolomite without chaff ash. But no significant effect on plant height, number of productive tillers, long panicles and weights of a thousand grains. While the varieties that have the number of grain content (165.76) and the highest productivity (5.28 t /h) are Inpara 2.
  • Item
    Inovasi Teknologi Mendukung Produktivitas Padi di Luar Musim Tanam (Off Season) Lahan Rawa Pasang Surut Provinsi Jambi
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Jumakir; Takdir M; Bobihoe, Julistia
    Abstrak Lahan pasang surut mempunyai potensi cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian berbasis tanaman pangan dalam menunjang ketahanan pangan nasional. Provinsi Jambi diperkirakan memiliki lahan rawa seluas 684.000 ha atau sekitar 12 persen dari luas wilayahnya. Umumnya petani dilahan pasang surut tanam padi hanya satu kali dalam setahun yaitu pada musim hujan sedangkan musim kemarau (off season) tidak tanam padi dengan pola tanam padi – bera. Tujuan tulisan ini adalah adalah menginformasikan terjadi peningkatan produktivitas padi off season melalui inovasi teknologi dengan pendekatan PTT dan teknologi Hazton di lahan rawa pasang surut. Inovasi teknologi dengan pendekatan PTT dan teknologi Hazton memberikan hasil cukup tinggi. Inovasi teknologi dengan pendekatan PTT mampu meningkatkan hasil padi sebesar 41,86 persen sedangkan teknologi Hazton sebesar 25,58 persen dibandingkan cara petani. Peluang peningkatan produksi padi di lahan pasang surut memiliki potensi dan prospek yang baik karena didukung oleh ketersediaan teknologi, sumber daya manusia dan lahan serta agroekosistem yang cocok. Inovasi teknologi Hazton mempunyai prospek pada lahan rawa pasang surut dengan tipe luapan air A/B dengan tipologi lahan potensial/sulfat masam. Abstract Tidal swamp land has considerable potential to be developed into crop-based agricultural land in support of national food security. Jambi Province is estimated to have a swamp area of 684,000 ha or about 12 percent of the total area. Generally, farmers in tidal rice planting area only once a year in the rainy season while the dry season (off season) not planting rice with rice-fallow pattern. The purpose of this paper is to inform increasing rice off season productivity through technological innovation with ICM and Hazton technology in tidal swamp land. Technological innovation with ICM approach and Hazton technology gives a high yield. Technological innovation with ICM approach can increase rice yield by 41.86 percent while Hazton technology is 25.58 percent compared to farmer’s way. Opportunities to increase rice production in tidal areas have good potential and prospects as they are supported by the availability of technology, human and land resources and suitable agroecosystems. Hazton’s technological innovations have prospects for tidal swamps land with the A/B waterflow type with sulphate potential/sulphate land typology.
  • Item
    Pengaruh Sistem Tanam dan Jumlah Bibit Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza Sativa L.) Inpari 10 dengan Pola Tanam “Nyawit Nyawah”
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Alridiwirsah; Anugrah, Farid; Masru Harahap, Erwin; Hanum, Hamidah; Nyak Akoeb2, Erwin
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem tanam dan jumlah bibit terhadap pertumbuhan dan produksi padi (Oryza sativa L.) Inpari 10 dengan pola tanam “NYAWIT NYAWAH”. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2015 s/d bulan Maret 2016 di Dusun Wonorejo 33, Desa Sei Sentang, Kec Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Utara dengan ketinggian tempat ± 3 m dpl. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan 2 faktor yang diteliti, yaitu : Faktor Sistem Tanam terbagi 4 taraf perlakuan yaitu S : Legowo 2:1, S : Legowo 4:1, S : Tegel 20 cm x 20 cm, S : Tegel 25 cm x 25 cm dan faktor jumlah bibit terbagi dalam 3 taraf yaitu B : 1 bibit/lubang tanam, 1B : 2 bibit/lubang tanam, B : 3 bibit/lubang tanam. Parameter yang diukur Adalah 23 tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, luas daun, jumlah anakan produktif, Panjang malai, berat gabah 1000 biji, berat gabah per tanaman sampel, dan berat gabah per plot. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh sistem tanam berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan 4 MST dan 6 MST dan anakan produktif, berat gabah per tanaman sampel, dan berat gabah per plot. Penggunaan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 4 MST dan 6 MST, jumlah anakan 6 MST. Interaksi antara sistem tanam dan jumlah bibit berpengaruh nyata pada anakan produktif, berat gabah per tanaman sampel, dan berat gabah per plot. Abstract This research to evaluated the effect of cropping system and number of seed forward of growth and production rice (Oryza sativa L.) inpari 10 of planting model”nyawit nyawah”. This research was conducted on November 2015 until March 2016, in Wonorejo 33 Sei Sentang, subs district of Kualuh Hilir, regency of Labuhanbatu Utara with a height of 3 meters above sea level (ASL). The designations employed is Randomized Block Design factorial with two factor: Factor of cropping system divided into 4 levels, namely S : Legowo 2:1, S : Legowo 4:1, S : Tegel 20 cm x 20 cm, S : Tegel 25 cm x 25 cm. Number of seed factor divided into 3 levels, 4 namely B : 1 seed/planting hole, B : 2 seed/planting hole, B : 3 seed/planting hole. The measured parameter is height of plant, number of tillers, leaf area, number of productive tillers, panicle length, weight of 1000 seed, weight seed per plant samples, and weight seed per plots. The results showed an effect of cropping system significantly affect to number of tillers in 4 weeks after planting (WAP), 6 WAP and number of productive tillers, weight seed per plant samples, and weight seed per plots. Number of seed significantly affect to height of plant in 4 WAP, 6 WAP, number of tillers in 6 WAP. The interaction between cropping system and number of seed significantly affect in number of productive tillers, weight seed per plant samples, and weight seed per plots.
  • Item
    Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Sistem Tanam Jajar Legowo dan Aplikasi Pupuk Hayati Mendukung Pengembangan Kawasan Padi di Kabupaten Subang
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Irma Noviana dan Oswald Marbun; Irma Noviana dan Oswald Marbun
    Abstrak Perbaikan usahatani padi dapat ditempuh melalui perbaikan teknologi budidaya, yaitu melalui pemupukan dan pengaturan jarak tanam. Tujuan pengkajian Adalah mengetahui pengaruh aplikasi pupuk hayati dengan kesesuaian jarak tanam legowo di wilayah sentra padi di Jawa Barat terhadap peningkatan produksi padi. Pengkajian dilaksanakan di desa Jatiragas Hilir Kecamatan Patokbeusi Kabupaten Subang pada Bulan Juni hingga September 2016 di lahan sawah irigasi. Varietas padi yang digunakan adalah Inpari 30. Perlakuan terdiri atas dua taraf jarak tanam legowo 2:1, yaitu jarak tanam 27 x 17,5 x 40 cm dan 30 x 20 x 60 cm, serta dua taraf aplikasi pupuk hayati yaitu pemberian pupuk hayati dan tanpa aplikasi pupuk hayati. Teknologi yang diterapkan adalah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi. Peubah yang diamati: Karakteristik agronomis tanaman (tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, produktivitas, jumlah malai per rumpun) dan komponen hasil (jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1.000 butir). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa 1) jarak tanam legowo (30 x 20 x 60 cm) memberikan jumlah anakan padi, jumlah malai per rumpun, dan produksi lebih tinggi dibandingkan legowo 25 x 17,5 x 40 cm di Kabupaten Subang, 2) pemberian pupuk hayati pada padi mampu menambah jumlah anakan per rumpun, menurunkan gabah hampa per malai dan meningkatkan hasil, 3) interaksi pupuk hayati dan jarak tanam berpengaruh terhadap peningkatan jumlah anakan padi, hasil, dan penurunan jumlah gabah hampa per malai. 11 Abstract Improving rice farming can be done through improvement of cultivation technology, through fertilization and plant spacing. The aim of the study was to examine the effect of application of biological fertilizer and the suitability of plant spacing in West Java to increase rice production. The experiment was conducted in Subang district on June to September 2016 in irrigated rice fields. The variety grown was Inpari 30. The applied technology was Integrated Crop Management (PTT) of rice with two different plat spacing i.e. 27 x 17,5 x 40 cm and 30 x 20 x 60 cm, with and without biological fertilizer application. Variables observed: agronomic characteristics of the crop (plant height, productive hiller, productivity, number of panicles per hill), and yield components (number of filled grain and unfilled per panicle, weight of 1000 grains). The resulted: 1) plant spacing of 30 x 20 x 60 cm resulted in the most productive hiller, number of panicles per hill and yield higher than 25 x 17,5 x 40 cm in Subang district, 2) biological fertilizer applied to rice can increasing number of productive seedlings, reducing grain hollow per panicle, and increasing production, 3) interaction between biological fertilizer and plant spacing have an effect on increasing productive seedlings, production, and reducing number of hollow grains per panicle.
  • Item
    Potensi Produksi dan Pengembangan VUB Inpari 30 dan Inpari 32 di Jawa Barat
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Noviana, Irma; Nurbaeti, Bebet; Haryati, Yati
    Abstrak Penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) padi berperan penting dalam peningkatan produktivitas dan produksi. Tujuan penelitian adalah mengetahui Potensi Produksi dan Pengembangan Varietas Padi Inpari 30 dan 32 padi di Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan di dua kabupaten yaitu Ciamis dan Majalengka pada Bulan Juni hingga September 2016 di lahan sawah irigasi. Tiga varietas padi yang digunakan adalah Inpari 30, Inpari 32 dan Ciherang (kontrol) yang diulang sebanyak 6 kali. Teknologi yang diterapkan adalah Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi. Peubah yang diamati: Karakteristik agronomis tanaman (tinggi tanaman, jml anakan produktif, produktivitas, jumlah malai per rumpun), komponen hasil (jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1.000 butir), sebaran varietas Inpari 30, Inpari 32 dan Ciherang di Jawa Barat, distribusi/sebaran varietas hasil produksi BPTP. Hasil penelitian adalah 1) Potensi produksi Varietas Inpari 30 lebih tinggi dari Ciherang di Kabupaten Ciamis dan Majalengka, 2) Inpari 32 memiliki rendemen benih lebih tinggi dari Ciherang, 3) Distribusi benih sumber hasil produksi BPTP Jawa Barat didominasi oleh varietas Inpari 30 dan Inpari 32, 4) Varietas Inpari 30 dan Inpari 32 berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif VUB menggantikan varietas Ciherang di Jawa Barat. Abstract The new superior variety (NSV) of rice plays an important role in improving productivity and production. The aim of study is to know the potencial production and development of Inpari 30 and Inpari 32 in West Java. The experiment was conducted in two districts of Ciamis and Majalengka in June to September 2016 in irrigated rice fields. Three varieties used were Inpari 30, Inpari 32, and Ciherang (control) with six replications. The applied technology was Integrated Crop Management (PTT) of rice. Observed variables: agronomic characteristics of the crop (plant height, productive seedlings, productivity, number of panicles per hill), yield components (number of grain content and hollow per panicle, weight of 1000 grains), spreading of Inpari 30, Inpari 32 and Ciherang varieties in Java West, distribution of varieties produced by BPTP. The results of the research are 1) The potential production of Inpari 30 in Ciamis and Majalengka district higher than Ciherang, 2) Inpari 32 has seed rendemen higher than Ciherang, 3) Distribution of seed produced by West Java AIAT is dominated by Inpari 30 and Inpari 32, 4) Inpari 30 and Inpari 32 have potential to be developed as an alternative NSV to replace Ciherang in West Java.