Warta Balittro
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 86
- ItemKEGIATAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) PERPUSTAKAAN BALAI PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT : Warta balittro Vol. 34 No. 68 Tahun 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Rushendi; WinitasariPerpustakaan dalam era perkembangan sekarang memerlukan tenaga-tenaga handal yang mampu beradaptasi terhadap kebutuhan baik secara teknis maupun pemikiran pengembangan ke depan. Perpustakaan Balittro merupakan salah satu perpustakaan khusus berfungsi sebagai penunjang kegiatan penelitian yang koleksinya ditekankan pada komoditas tanaman obat, rempah, minyak atsiri, industri lainnya, serta tanaman pestisida nabati. Selain itu dituntut pula untuk memberikan layanan informasi kepada masyarakat luas. Sumber daya manusia (SDM) dalam sebuah organisasi menempati posisi yang strategis dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi itu sendiri. Pelaksanaan kegiatan pengembangan SDM di perpustakaan Balittro berdasarkan Teori Kline bahwa rasa keingintahuan (curiosity) pustakawan/pengelola perpustakaan Balittro dalam hal mengembangkan sumber daya manusia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian ataupun instansi di luar Kementerian Pertanian selama tahun 2017 adalah (1) Temu Teknis Pengelolaan Perpustakaan lingkup Kementerian Pertanian; 2) Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Penulisan Karya Ilmiah Pustakawan; 3) Sosialisasi Regulasi Jabatan Fungsional Pustakawan; 4) Uji kompetensi Pustakawan; 5) Temu Teknis Jabatan Fungsional Non Peneliti Balitbangtan; dan 6) Lokakarya Nasional Dokumentasi dan Informasi PDII-LIPI. Jika rasa curiosity sudah tertanam pada diri pustakawan/pengelola perpustakaan, maka akan terus belajar terhadap sesuatu yang baru.
- ItemDETEKSI VIRUS YANG BERASOSIASI DENGAN BEBERAPA JENIS TANAMAN OBAT MENGGUNAKAN METODE ELISA : Warta balittro Vol. 34 No. 68 Tahun 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Nuryanih, Siti; Noveriza, RitaBeberapa jenis tanaman obat yang dikoleksi dari Kebun Percobaan Manoko-Lembang Kabupaten Bandung dan Cimanggu Bogor, seperti melati (Jasminum sambac), kumis kucing (Orthosiphon aristatus), komprey (Simphytum officinale), dan echinase (Echinea purpurea) menunjukkan gejala belang-belang kekuningan dan keputihan. Hasil deteksi dengan metode enzyme-linked immuno sorbent assays (ELISA) menunjukkan bahwa seluruh sampel tanaman tersebut positif terinfeksi oleh Potyvirus dan Cucumber mosaic virus (CMV).
- ItemKONSERVASI DAN REGENERASI STEVIA (Stevia rebaudiana Bertoni) SECARA IN VITRO : Warta balittro Vol.34 No. 68 Tahun 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Syahid, Sitti FatimahStevia (Stevia rebaudiana Berton) digunakan sebagai pemanis alami yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Perbanyakan stevia secara konvensional dapat dilakukan menggunakan biji dan setek. Namun penggunaan biji kurang efektif karena rendahnya keberhasilan perkecambahan. Metode perbanyakan stevia melalui kultur jaringan telah diperoleh baik untuk multiplikasi tunas maupun induksi perakaran. Untuk memelihara plasma nutfah stevia secara ek-situ dapat dilakukan melalui konservasi di laboratorium dalam keadaan tumbuh. Upaya konservasi stevia telah dilakukan dengan menumbuhkan tunas dalam media Murashige dan Skoog (MS) dengan penambahan Benzil Amino Purin (BAP) konsentrasi 0,1 mg/1 dan tanpa penambahan BAP. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penyimpanan tunas stevia dalam keadaan tumbuh baik tanpa diberi BAP ataupun dengan aplikasi BAP dengan konsentrasi rendah mampu mengurangi instensitas sub kultur selama delapan bulan. Teknik ini membantu pemeliharaan karena dapat mengurangi biaya sub kultur. Regenerasi biakan setelah disimpan tidak menurun dan dapat kembali tumbuh dengan normal.
- ItemEFEKTIVITAS FORMULA NANO PESTISIDA BEBERAРА MINYAK ATSIRI TERHADAP VIRUS MOSAIK NILAM : Warta balittro Vol. 34 No. 68 Tahun 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Noveriza, Rita; Mariana, Maya; Nuryanih, SitiMinyak atsiri semakin diminati untuk digunakan sebagai obat baru yang berfungsi sebagai agen antimikroba dan antiviral (virusida). Antimikroba minyak atsiri mempunyai kekurangan di antaranya tidak stabil dan mudah menguap. Pendekatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan minyak atsiri sebagai antimikroba adalah dengan teknologi nano emulsi. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan hasil pengujian efektivitas formula nano emulsi 3 jenis minyak atsiri (cengkeh, mimba, dan serai wangi) terhadap virus mosaik nilam di rumah kaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula nano pestisida (nano emulsi) minyak cengkeh, mimba dan serai wangi berpotensi sebagai virusida, khususnya terhadap virus mosaik nilam. Persentase penghambatan virus mosaik tertinggi pada tanaman uji Chenopodium amaranticolor ditunjukkan oleh formula nano pestisida minyak serai wangi dosis 1% (74,87%) dan cengkeh dosis 0,5% (43,55%). Sedangkan formula nano pestisida minyak mimba perlu optimasi formulasi agar diperoleh ukuran droplet minyak yang lebih kecil, walaupun ada potensinya untuk menekan perkembangan Potyvirus pada dosis 0,5% sampai 46%.
- ItemAKTIVITAS ANTIBAKTERI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPА SAWIT DAN POTENSINYA SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU PADA JAHE DAN NILAM : Warta balittro Vol. 34 No. 68 Tahun 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Hartati, Sri Yuni; Karyani, NuriLayubakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman jahe dan nilam. Penelitian dalam rangka mengembangkan pestisida organik untuk mengendalikan penyakit tersebut telah dilaksanakan di Laboratorium Proteksi, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor. Tujuan penelitian adalah menguji secara invitro aktivitas antibakteri asap cair tempurung kelapa sawit terhadap R. solanacearum dan dua jenis bakteri tanah yang bermanfaat bagi tanaman (Bacillus sp. dan Pseudomonas Auorescens). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair tempurung kelapa sawit mempunyai aktivitas antibakteri yang bervariasi terhadap R. solanacearum, Bacillus sp., dan P. fuorescens. Konsentrasi terendah yang dapat membunuh R. solanacearum adalah 0.1%, sedang yang dapat membunuh Bacillus sp. dan P. fuorescens adalah 0.25%. Aktivitas antibakteri asap cair tempurung kelapa sawit lebih tinggi terhadap R. solanacearum dibandingkan terhadap Bacillus sp. dan P. fuorescens. Asap cair tempurung kelapa sawit berpotensi dikembangkan sebagai pestisida organik untuk mengendalikan penyakit layu pada tanaman jahe dan nilam