Agroklimat dan Hidrologi

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 51
  • Item
    Optimasi Irigasi Untuk Menekan Kehilangan Hasil Tanaman Tebu
    (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2004-10-01) Apriyana, Yayan; Surmaini, Elza; Jayanto, Ganjar; Irianto, Gatot
    Penanaman yang dilakukan pada periode April sampai September di sub DAS Way Pengubuan PT Gunung Madu Plantations menyebabkan defisit air pada fase kritis tanaman tebu tidak dapat dihindari. Defisit air tersebut menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 50% yang dicirikan oleh nisbah Evapotranspirasi Real/Evapotranspirasi Maksimum (ETR/ETM) yang merosot tajam pada periode tertentu. Untuk melakukan evaluasi indeks kecukupan air dan untuk menghitung potensi kehilangan hasil tanaman, maka terlebih dahulu dihitung neraca air di zona perakaran berdasarkan nisbah ETR/ETM menurut FAO. Sedangkan untuk menyusun rekomendasi volume dan interval pemberian irigasi suplementer digunakan perangkat lunak program Crop Water Balance (CWB). Berdasarkan data volume dan interval pemberiaan air irigasi tersebut, maka kebutuhan air irigasi suplementer tiap-tiap lebung bisa dihitung. Untuk optimasi kebutuhan air irigasi suplementer dalam kondisi air terbatas dilakukan berdasarkan kehilangan hasil terendah. Hasil optimasi pemberian air irigasi suplementer untuk berbagai masa tanam pada kondisi ketersediaan air yang terbatas menunjukkan bahwa persentase air irigasi suplementer yang dapat diberikan dibandingkan dengan kebutuhannya (rekomendasi) bervariasi dari 26-47% (terendah terjadi di lebung IX) sampai 90-100% (tertinggi terjadi di lebung II). Dengan jumlah irigasi yang diberikan tersebut kehilangan hasil minimum yang dapat dicapai sekitar 11-25%. Jumlah irigasi yang optimal berkisar 10-25 mm dengan interval 10 hari. Kata Kunci : tebu, kehilangan hasil, optimasi irigasi
  • Item
    Pompanisasi Solusi Cepat Atasi Krisis Pangan
    (Pertanian Press, 2025) Rizky Purwantoro Sukiatno; Andi Amran Sulaiman; Muhammad Fauzan Ridha; Reynold Pandapotan; Syahyuti; Rima Purnamayani; Rahmanto; Hendri Sosiawan; Setyono Hari Adi; Trip Alihamsyah; Budi Kartiwa; Asmarhansyah; Dani Gartina; Seta Rukmalasari; Husnain; Yenny Nucahya
    Beberapa tahun belakangan, dunia sedang menghadapi krisis pangan global yang dipicu oleh tiga faktor utama, yaitu perubahan iklim ekstrem, pandemi COVID-19, dan konflik antarnegara. Ketiga fenomena ini sangat memengaruhi stabilitas pangan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Menanggapi tantangan ini, Kementerian Pertanian melalui kebijakan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meluncurkan program pompanisasi. Program ini muncul sebagai solusi krusial untuk membantu petani mengatasi kesulitan air akibat perubahan iklim ekstrem, memastikan pasokan air yang cukup untuk budidaya pertanian, sekaligus mendorong peningkatan Indeks Penanaman (IP) dan produktivitas pertanian. Pompanisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga mengurangi tekanan gulma dan penyakit, meminimalkan kehilangan pupuk, dan menghemat tenaga kerja melalui sistem yang dapat diotomatisasi. Buku “Pompanisasi, Solusi Cepat Atasi Krisis Pangan” ini akan memberikan pemahaman mengenai urgensi program pompanisasi, tantangan ketersediaan air, implementasi dan dampaknya terhadap peningkatan produksi, hingga inovasi masa depan dan upaya keberlanjutan program ini.
  • Item
    Agriculture Conservation for Extreme Agricultural Practices to Minimize Runoff Harvesting at Gumuk Micro Catchment, Boyolali Regency, Central Java
    (Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2013-06-01) Sosiawan, Hendri
    Most of the farmer in Gumuk Village, Boyolali Regency famous for the cultivation of high value crops such as vegetables, tobacco, rose and fennel. The cultivated land situated at an altitute about 15400 m above see level which the dominant step slopes to reach more than 45 % of Merapi Mountain as well as the upper part of upstream of Kali Pusur watershed. The common agricultural practicesof local farmer is traditional as well as parallel to the slope planting, low dosage of dung, compost and cemical fertilizer, and only a few farmers who grow roses and the fennel as a vegetative terrace. The consequences are high risk of erosion, land slide, sediment yield and runoff harvesting. The phenomenon will indirectly affect the hydrologic variability such as flash floods in the rainy season, sedimentation of the reservoirs and irrigation networks and declining on the recharge rate of aquifers that constitute the main water resource during dry season in the downstream area which is largely a food crop production center of Klaten regency
  • Item
    FOOD SMART VILAGE "Managing Land And Water Resources For Better Livelihoods Through Agriculture Development"
    (Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2013-09-01) Sosiawan, Hendri
    Driest climate upland area in Indonesia such as part of South Sulawesi, East and West Nusa Tenggara where low yields, may become even less-suited for agriculture as a result of water scarcity and land degradation. These conditions become more severe during the climate change that occurring more rapidly than anticipated and the increase in extreme weather events threatens more disruptive effects to agriculture.
  • Item
    Pemanfaatan Teknologi Radar untuk Pemetaan Sumber Daya Lahan Pertanian
    (Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2013-10-01) Wahyu Trinugroho, Muhammad
    Kebutuhan peta lahan pertanian yang clear dan clean untuk mendukung perencanaan dalam bidang pertanian yang sangat mendesak. Sistem Teristris yang selama ini dilakukan, membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang relatif mahal. Dengan perkembangannya teknologi penginderaan jauh kendala yang ada dapat di minimalisir. Teknologi penginderaan jauh sangat pesat sekarang ini, ada 2 sistem penginderaan jauh yang berkembang, yaitu penginderaan jauh optis dan penginderaan jauh radar. Sistem optis, tergantung pada energi matahari dalam proses perekaman data, sedangkan sistem radar menggunakan energi gelombang radio untuk merekam data. Pemanfaatan tekonologi radar banyak dimanfaatkan untuk keperluan militer. Di sisi lain kondisi geografis dan iklim di Indonesia yang heterogen menjadi kendala selama ini dalam akuisisi data melalui penginderaan jauh optis. Kondisi awan yang menutup wilayah Indonesia menjadikan citra optis tidak dapat memotret lahan secara baik. Teknologi radar melalui gelombang radio dapat menembus awan dan dapat merekam data baik pada siang hari maupun malam hari.