Perkebunan
Permanent URI for this community
Browse
Browsing Perkebunan by Title
Now showing 1 - 20 of 512
Results Per Page
Sort Options
- ItemAgribisnis Tanaman Lada(Balittro, 2002-02-12) Balittro; Balittro
- ItemAKLIMATISASI LIDAH BUAYA (Aloe vera Linn) HASIL IN VITRO PADA BERBAGAI MEDIA DI RUMAH KАСА(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Amalia; NursalamTanaman lidah buaya (Aloe vera linn) mempunyai potensi cukup besar sebagai bahan baku kosmetik maupun farmasi, serta banyak dimanfaatkan dalam industri makanan maupun minuman untuk kesehatan. Meningkatnya permintaan akan bahan baku sampai saat ini belum diimbangi pasokan yang mencukupi. Untuk pembudidayaan lidah buaya dalam skala basar dibutuhkan bibit yang seragam dalam jumlah banyak. Salah satu upaya mendapatkan bibit yang banyak secara singkat dan seragam adalah melalui kultur in vitro. Sebelum ditanam di lapang, planlet yang dihasilkan perlu diaklimatisasi. Aklimatisasi merupakan salah satu tahap penting yang menetukan keberhasilan perbanyakan melalui in vitro. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi proses aklimatisasi adalan media tumbuh. Planlet yang digunakan berasal dari induksi tunas dari media terbaik yaitu MS + BAP 0,8 mg/l.Aklimatisasi dilakukan di rumah kaca Balittro dengan 6 perlakuaan yaitu: A). Tanah + Sekam + Kompos (1 : 1 : 1); B) Tanah + Sekam (1 : 1); C) Tanah + Kompos (1: 1); D) Sekam + Kompos (1: 1); E) Tanah dan F Pasir. Rancangan yang digunakan adalah Acak Lengkap, disusun secara faktorial dengan 10 ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlah tunas, tinggi tunas dan jumlah daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit membentuk tunas, panjang dan jumlah daun terbaik pada media E yaitu media tanah dengan persentase tumbuh 100%, jumlah tur as 4.00 dan tinggi tunas 24,06 cm serta jumlah daun 19.00 pada umur 8 minggu.
- ItemAksesi Potensial Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007) Sudarmo, Hadi; Bambang Heliyanto; Suwarso; Sudarmadji; Pusat Penelitian dan Pengembangan PerkebunanPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aksesi potensial jarak pagar untuk medukung pengembangan jarak pagar. Sebanyak 421 aksesi hasil eksplorasi jarak pagar dievaluasi di KP. Asembagus. Tiap aksesi diwakili 10 tanaman dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah tandan, jumlah buah per-tandan, berat 100 biji, kadar rninyak dan produksi biji. Hasil evaluasi sampai dengan umur 9 bulan teridentifikasi 7 aksesi memiliki harapan produktivitas tinggi, yaitu HS-49 (1097.50 kg/ha), SP-16 (977.50 kg/ha), SP-38 (912.50 kg/ha), SP-8 (656.07 kg/ha), SM-33 (622.50 kg/ha), SP-34 (578.33 kg/ha), dan SM-35 (500 kg/ha). Terdapat korelasi positif dan nyata antara jumlah tandan per tanaman dan jumlah buah per tandan dengan produksi, dengan koefisien korelasi masing-masing 0.733 dan 0.829.
- ItemAnalisa Perluasan dan Penyiasatan Pasar Ekspor Tanaman Pangan(Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian/PPHP, 2005) Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian/PPHP; Perpustakaan Sekretariat Jenderal Kementerian PertanianBuku Analisa Perluasan dan Penyiasatan Pasar Ekspor Tanaman Pangan menjelaskan tentang peraturan ekspor tanaman pangan di negara Jepang dan China.
- ItemANALISIS DAMPAK PENCABUTAN SUBSIDI EKSPOR KAPAS NEGARA MAJU TERHADAP EKONOMI KAPAS INDONESIA(Balittas, 2007) Sudaryanto, Tahlim; Prajogo U. Hadi; Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor
- ItemAnalisis Dan Penilaian Pasar Produk Unggulan Perkebunan, Identifikasi Negara Utama Tujuan Ekspor, Serta Hambatan Perdagangannya(Direktorat Jenderal Perkebunan, 2021) Dikin, Antarjo; Rulianti, Ebi; Silalahi, Agnes Verawaty; Saputra, Boy Arif; Mulyasari, Melly; Ambarwati, Rita; Mangunsong, Raden Carlos; Kurniawan, Kukuh KurniawanKajian ini dilakukan sebagai salah satu tahapan penting dari Gerakan Peningkatan Produksi, Nilai Tambah, dan Daya Saing (Grasida) di subsektor perkebunan. Gerakan ini merupakan strategi unggulan untuk mengoptimalkan hasil-hasil perkebunan di pasar ekspor sehingga diharapkan dapat memberikan dampak lebih signifikan lagi ke sektor pertanian dan perekonomian secara umum.
- ItemANALISIS EKONOMI INCOME OVER FEED COST (IOFC PRODUKSI TELUR AYAM KAMPUNG DAN RAS YANG DIBERI SUPLEMENTASI SERBUK DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia) KEDALAM RANSUM(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Supriadi, Herman; Zainuddin, DesmayatiDaun Mengkudu (Morinda citrifolia) merupakan tanaman obat yang sangat potensial di Indonesia, tetapi belum optimal dimanfaatkan sebagai suplementasi dalam pakan ternak unggas. Pengkajian bertujuan untuk mengetahui pengaruh serbuk daun mengkudu (Morinda citrifolia) dalam ransum ayam kampung dan ayam ras terhadap nilai ekonomis Income Over Feed Cost (IOFC) dari produksi telur. Ternak ayam kampung petelur diberi perlakuan daun men zkudu dengan level :R0 (tanpa daun mengkudu); R0 + 1% serbuk daun mengkudu; R0 + 1,5% serbuk daun mengkudu, dan RO + 2% serbuk daun mengkudu. Pada ayam ras petelur diberi tiga perlukuan ransum mengandung 3%; 6% dan 9% serbuk daun mengkudu Pengamatan dilakukan selama 12 minggu produksi telur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IOFC per kg telur pada ayam kampung yang diberi suplementasi serbuk daun mengkudu, lebih tinggi daripada ayam ras. Ayam kampung yang diberi 1,5% serbuk daun mengkudu diperoleh nilai IOFC yang tertinggi yaitu Rp 9 729,60 dibandingkan perlakuan lainnya ( RO Rp 8900; R0+1% DM = Rp 8423; dan R0 +2% DM Rp 7847). Selanjutnya nilai 1OFC per kg telur ayam ras yang diberi suplementasi 3% DM (Rp2659) lebih tinggi daripada 6% DM (Rp 2450 ) dan 9% DM (Rp 2501). Pemanfatan daun mengkudu perlu dioptimalkan untuk menekan biaya pakan dan obat-obatan sehingga dapat meningkatkan pendapatan peternak ayam buras maupun ras. Studi kelayakan sosial-ekonomi untuk pemanfaatan daun mengkudu dalam suplemen pakan ayam perlu dilakukan dalam skala lebih luas dan partisipatif bersama peternak.
- ItemAnalisis fitokimia dan penampilan polapita protein tanaman pegagan (Centella asiatia) hasil konservasi in vittro(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2009-05) Kristina,Natalini Nova; Kusumah, Edy Djauhari; Lailani, Putri KarinaPegagan (Centella asiatica) merupakan salah satu tanaman obat yang digunakan untuk mentasi pikun dan juga sebagai bahan industri farmasi, kosmetika, suplemen makanan dan minuma. Tanaman ini telah dikonservasi secar in vitro dan telah memasuki usia kultur lima tahun. Selama masa periode tersebut terlihat ada perubahan pada penampilan kultur. Untuk itu tanaman hasil konservasi in vitro tersebut dikeluarkan dari botol kultur dan di aklimatisasi di rumah kaca. Penelitian bertujuan untuk melihat kandungan fitokimia dan pola pita protein tanaman tersebut dibandingkan dengan tanaman induknya yang berasal dari kebun percobaan Cimanggi. Sampel daun pegagan in vitro dan yang tumbuh di lapang diekstrak untuk analisis fitokimia alkaloid, flavonoid, saponin dan triterpenoid berdasarkan metode Harbone (1987). Kadar protein ditentukan dengan menggunakan metode lowry dan pola pita protein ditentukan berdasarkan elektrophoresis dengan gel poliakrilamida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan metabolit sekunder pegagan in vitro berbeda dengan tanaman induk yang tumbuh di lapang. Pegagan asal in vitro menghasilkan tannin dan alkaloid positif (2+) saponin positif kuat (3+) serta ditemukan steroid dengan kandungan positif kuat sekali (4+). Sementara pada tanaman pegagan lapang, kandungan metabolit sekunder tannin, alkaloid dan flavonoid positif kuat (3+), saponin, tanin dan triterpenoid kuat sekali (4+), tetapi tidak ditemukan steroid. Konsentrasi protein total pada pegagan asal in vitro 17.092 µg/mL lebih tinggi dibandingkan dengan di lapang 8.559 µg/mL. Pola pita protein asal in vitro lebih tebal daripada yang di lapangan dan menunjukkan adanya 2 pita protein yang dominan dengan masing-masing bobot molekul 53,7 Kda dan 31 Kda.
- ItemANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHATANI VARIETAS UNGGUL KUNYIT (Turino 1, Turino 2 dan Turino 3)(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09) Ermiati; Syukur, Cheppyelah dilepas tiga varietas unggul kunyit, yaitu Turina 1, 2 dan 3 pada tahun 2005 yang merupakan hasil uji multilokasi di tiga lokasi yang berbeda agro ekologinya, yaitu di daerah Garut, Sumedang dan Subang, mulai dari tahun 2001 sampai tahun 2004. Keunggulan dari ke tiga varietas tesebut, yaitu dari segi produksi dan kadar kurkuminnya tinggi. Potensi produksi Turina 1 (Cudo 21) sebesar 23,87 ton/ha dengan kadar kurkumin tinggi (8,36%). Turina 2 (Cudo 30), sebesar 24,07 ton/ha dengan kadar kurkumin tertiggi (9,95 dan Turina (Cudo 38) dengan produksi tertingi 25,05 ton/ha dan kadar kurkumin 8,55%. Produksi rmasing-masing varietas adaptif dan stabil di dua lokasi (Sumedang dan Subang). Sedangkan kadar kurkuminnya stabil di tiga lokasi. (Garut, Subang dan Sumedang). Namun kelayakar pengembangan usahatani ke tiga varietas tersebut belum diketahui. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah pengembangan ke tiga varietas unggul kunyit tersebut layak diusahakan secara teknis dan ekonomis menguntungkan. Data yang dikumpulkan meliputi faktor-faktor produksi, biaya faktor produksi, harga jual, penerimaan dan pendapatan. Pendapatan dari usahatani varietas unggul kunyit ini dianalisis dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usahataninya dianalisis melalui pendekatan analisis Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dan Internal Rate Of Return (IRR). Hasil analisis finansial menunjukkan, bahwa usahatani ketiga varietas unggul kunyit baik Turina 1, 2 maupun 3 layak dilakukan secara teknis dan menguntungkan secara ekonomis, ini ditunjukkan oleh NPV, B/C Ratio dan IRR masing-masing varietas tersebut positif (+), >1 dan di atas tingkat suku bunga bank yang berlaku (18%/tahun). NPV untuk Turina 1 sebesar Rp 5385 887,-., untuk Turina 2 sebesar Rp 5 449 166,- dan untuk Turina 3 tertinggi, yaitu Rp 5 758 548,-/1000 m². Sedangkan B/C Ratio dan IRR untuk masing-masing varietas sama, yaitu 4 dan 17%/1000 m². Hasil dari analisis sensitivitas (harga benih Rp 5000,-/kg., harga konsumsi Rp 500,-/kg) dan produksi masig-masing varietas tetap, maka titik impas (Break Event Point) untuk Turina 1 terjadi jika harga benih turun sebesar 74,8% (Rp 3 740,-)/kg atau menjadi Rp 1260/kg., untuk Turina 2, terjadı jika harga benih turun sebesar 75% (Rp 3 750,-)/kg atau menjadi Rp 1 250,-/kg dan untuk Turina 3, baru terjadi jika harga benih turun sebesar 76,2% (Rp 3 810,-/kg) atau menjadi Rp 1 190,-/kg.
- ItemAnalisis Kinerja Perdagangan Karet Semester II 2023(Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2023-12) Penyunting: Mas’ud; Sri WahyuningsihPublikasi Analisis Kinerja Perdagangan Karet Tahun 2023 merupakan bagian dari publikasi Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian tahun 2023. Publikasi ini menyajikan keragaan data series komoditas karet secara nasional dan internasional selama 5 tahun terakhir serta dilengkapi dengan hasil analisis indeks spesialisasi perdagangan, analisis daya saing, indeks keunggulan komparatif serta analisis deskriptif lainnya.
- ItemAnalisis Potensi Pengembangan Komoditas Unggulan Perkebunan Indonesia(Pertanian Press, 2024) Agnes Verawaty Silalahi, dkkKajian ini berusaha mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting tentang arah masa depan subsektor perkebunan di Indonesia: komoditas mana yang akan menjadi unggulan, wilayah mana yang memiliki potensi besar, serta bagaimana menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing di pasar global. Dengan demikian, Indonesia dapat memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki demi kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.
- ItemANALISIS PROSPEK EKONOMI TEMBAKAU DI PASAR DUNIA DAN REFLEKSINYA DI INDONESIA TAHUN 2010(Balai Penelitian Tembakau dan Serat, 2008) SUDARYANTO, Tahlim; Prajogo U. Hadi; Supena Friyatno; Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Departemen Pertanian; Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Departemen PertanianSelama dasawarsa terakhir, meluasnya kampanye antitembakau karena pertimbangan kesehatan yang diperkuat dengan telah diratifikasinya Konvensi Kerangka Pengendalian Tembakau, berkurangnya dukungan pemerintah untuk pengembangan ekonomi tembakau, serta meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan, maka ancaman terha-dap ekonomi tembakau dunia dan Indonesia mulai terasa. Dikhawatirkan ekonomi tembakau dunia akan terus mengala-mi penurunan dan berdampak pada Indonesia. Sehubungan dengan itu, makalah ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis prospek produksi, konsumsi, ekspor, dan impor tembakau di pasar dunia dan Indonesia tahun 2010; (2) Menganalisis peranan agribisnis tembakau dan industri rokok dalam perekonomian nasional; dan (3) Mengidentifikasi prospek peng-gunaan tembakau untuk produk selain rokok. Beberapa temuan penting adalah sebagai berikut. Pertama, secara global, prospek ekonomi tembakau sampai tahun 2010 masih cukup baik. Produksi, konsumsi, ekspor, dan impor diproyeksi-kan masih akan meningkat sampai tahun 2010. Produksi dan konsumsi lebih cepat meningkat di negara berkembang di-banding di negara maju; konsumsi di negara berkembang cepat meningkat sedangkan di negara maju menurun; ekspor dari negara maju dan negara berkembang sama-sama meningkat dengan laju peningkatan yang lambat; dan impor ke negara maju cepat meningkat, sedangkan ke negara berkembang sedikit meningkat. Kedua, di Indonesia, produksi dan konsumsi pada tahun 2010 diproyeksikan akan sedikit lebih tinggi dibanding tahun 2005, tetapi jauh lebih rendah diban-ding tahun 1997–1999. Dalam perdagangan internasional, komoditas tembakau dan rokok lebih banyak menguras dari-pada menghasilkan devisa negara. Dalam perekonomian nasional, peranan agribisnis tembakau dan industri rokok da-lam penciptaan nilai output, nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja kurang signifikan, namun kedua sektor tersebut mempunyai angka pengganda (multiplier effect) output yang cukup besar, terutama tembakau. Angka pengganda untuk tenaga kerja agribisnis tembakau lebih besar daripada industri rokok. Agribisnis tembakau mampu menarik sektor hulu dan mendorong sektor hilir untuk berkembang, sedangkan industri rokok hanya mampu mendorong sektor hilir saja. Kedua sektor (terutama industri rokok) memberikan sumbangan sekitar 7% terhadap penerimaan negara dari dalam ne-geri. Ketiga, dalam daun dan batang tembakau ada unsur-unsur yang dapat dikonsumsi manusia yaitu protein, gula, mi-nyak eter, nitrogen, fosfat, dan kalium. Kandungan protein dalam tembakau lebih banyak dibanding dalam kedelai dan mempunyai kualitas yang sama dengan protein dalam air susu mamalia. Produk sisa (waste) dari proses pengolah-an/ekstraksi protein/gula dapat digunakan untuk pakan ternak dan pupuk organik tanaman. Disarankan agar ada keseim-bangan antara aspek ekonomi dan aspek kesehatan dalam pengembangan tembakau/industri rokok. Salah satu prioritas penelitian tembakau ke depan adalah mengurangi kandungan nikotin dan tar dalam tembakau.
- ItemAplikasi Beberapa Strain Beauveria bassiana terhadap Helopeltis antonii Sign pada Bibit Jambu Mete(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2010) Atmaja, Warsi Rahmat; Wahyono, Tri Eko; Dhalimi, AzmiPenelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), mulai Mei sampai Agustus 2005. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh strain dan konsentrasi B. bassiana yang efektif terhadap H. antonii pada bibit jambu mete. Sebagai perlakuan, B. Bassiana terdiri dari strain Leptocorisa, Lophobaris, dan Hipothenemous, dan konsentrasi masing-masing strain adalah 104 , 106 , dan 108 serta kontrol. Aplikasi dilakukan dengan cara menyemprotkan larutan B. bassiana sesuai dengan konsentrasi masing-masing perlakuan yang diuji. Infestasi masing-masing 10 ekor serangga dewasa H. antonii pada setiap perlakuan dilakukan sesaat setelah aplikasi. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan menghitung tingkat kematian H. antonii. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. bassiana strain Lophobaris konsentrasi 106 dan 108 , strain Leptocorisa 104 , 106 , dan 108 , strain Hipothenemous 106 dan 108 efektif terhadap H. antonii. Tingkat kematian tertinggi H. antonii pada masingmasing strain B. bassiana berturut-turut 100; 96,66; dan 100%.
- ItemAPLIKASI GELOMBANG ULTRASONIK UNTUK PENGOLAHAN BIODIESEL DARI JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.)(Bayumedia Publishing, 2008) SUSILO, Bambang; Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Univ. Brawijaya, Malang Bambang; Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Univ. Brawijaya, MalangUmumnya pengolahan minyak jarak menjadi biodiesel dengan perlakuan panas pada temperatur antara 50oC s.d. 60oC. Pengolahan biodiesel dari minyak jarak pagar menggunakan gelombang ultrasonik dimaksudkan untuk mencari alternatif lain proses transesterifikasi tanpa menggunakan panas langsung dan diharapkan dapat mengurangi input ener-gi proses. Percobaan transesterifikasi minyak jarak dengan katalis KOH menggunakan pembangkit gelombang ultraso-nik dengan frekuensi 19,3 kHz dan frekuensi 29,53 kHz. Sebelum dilakukan transesterifikasi, minyak jarak dinetralisir hingga kandungan FFA berkisar 1%. Percobaan dilakukan dengan waktu proses 5 menit, 10 menit, dan 15 menit dan volume minyak jarak yang telah dinetralisir masing-masing 200 ml, 300 ml, dan 400 ml. Penggunaan gelombang ultra-sonik meningkatkan suhu reaksi tanpa input panas langsung dan kebutuhan energi spesifik pengolahan minyak jarak menjadi biodiesel relatif rendah.
- ItemAPLIKASI TEKNOLOGI SECARA MIKROBIOLOGI(Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, 2007) WINARTO, B.W.; Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan SeratPada umumnya proses degumming pada serat rami kasar hasil proses dekortikasi(=china grass) ialah dengan cara kimia. Cara ini menggunakan bahan kimia utamanya NaOH di samping bahan kimia lain seperti Na-karbonat, Na-tripo-lifosfat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula asam asetat untuk menetralkan sisa alkali pada serat setelah proses de-gumming selesai. Kegunaan NaOH ialah untuk melarutkan jaringan pengikat antar helaian serat. Hasilnya ialah helaian serat yang dapat dipakai untuk bahan sandang; baik berupa serat rami murni maupun blending dengan serat alam/sintetis lainnya. Penggunaan bahan kimia berupa alkali untuk proses degumming ini menimbulkan masalah berupa limbah bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan bila tidak diproses lebih lanjut. Penelitian ditujukan untuk mencari kemung-kinan penggunaan metode biologis di samping metode kimia untuk proses serat rami kasar (china grass). Penelitian di-laksanakan bulan Januari sampai dengan Desember 2003. Bahan yang dipakai untuk proses degumming ialah enzim K2-157 dan K-64 serta inokulum bakteri. Analisis kualitatif terhadap serat setelah proses berjalan selama 9 hari. Sebagai pembanding ialah serat rami hasil dari proses degumming secara kimiawi dan mikrobiologis yang dihasilkan oleh salah seorang pengusaha di Wonosobo. RAL dengan tiga ulangan dipakai untuk melaksanakan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan enzim K2-157 dan K-64 dapat berperan dengan baik pada proses cara bio-logis. Ini ditandai dengan warna serat putih, tidak ada/sedikit sekali kotoran yang berasal dari sisa kulit atau jaringan antarserat yang belum terdegradasi menjadi senyawa karbohidrat sederhana. Pegangan serat lemas menunjukkan sedikit sekali kulit yang belum jadi serat. Penetapan kekuatan serat perlu dilakukan untuk menetapkan lama proses ini tepat waktu atau lewat waktu yang berakibat serat rapuh.
- ItemAren: Untuk Pangan, Bioenergi, dan Konservasi(IAARD Press, 2017) Lay, A.; Syakir, Muhammad; Alamsyah, Andi NurTanaman aren telah lama di kenal masyarakat Indonesia, yang manfaatnya sebagai sumber pangan, bahan baku industri dan bahan kerajinan. Aren merupakan tanaman yang unik, sebagai tanaman hutan, perkebunan dan pangan. Pengembangannya terbatas dan hampir dilupakan, walaupun tanpa budi daya yang intensif dapat tumbuh baik dan menghasilkan. Buku ini disusun berdasarkan rujukan dari hasil penelitian dan observasi tanaman aren pada berbagai sentra produksi aren, informasi lapang dan literatur, yang menguraikan tentang aspek produksi, ekspor, iklim, tanah, jenis aren, budi daya, panen dan penyadapan, pengolahan, sosial ekonomi dan pengembangannya. Pada buku ini, juga diuraikan pengolahan aneka produk aren skala kelompok tani, serta sosial ekonomi aren pada berbagai daerah sentra produk aren di Indonesia. Informasi yang disajikan ini, diharapkan dapat memberi pemahaman dan wawasan untuk menunjang pengembangan aren di masa mendatang.
- ItemAyo Berkebun Vanili(Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2019) Ramadhan, Muhamad Fajar; Setyorini, Endang; Rachmawati, Nia; Andriati, Etty; Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi PertanianIndonesia memiliki tanah dan iklim yang cocok bagi pertumbuhan vanili. Tanaman penghasil polong nan harum itu banyak dibudidayakan pekebun di beberapa daerah lantaran harga jualnya tinggi. Indonesia termasuk salah satu pemasok vanili di pasar dunia yang pangsanya masih terbuka lebar. Karena itu, berkebun vanili dapat menjadi sumber pundipundi rupiah, asalkan pekebun menerapkan teknik budi daya dan pascapanen yang baik dan benar. Buku ini dapat menjadi acuan dalam menghasilkan vanili berkualitas prima. Bukan hanya menyajikan penyiapan benih, penanaman, perawatan tanaman serta panen dan pascapanen, tetapi juga strategi mendongkrak produksi dan berniaga vanili. Dengan demikian, salah satu tanaman perkebunan ini dapat menjadi “emas hijau” bagi pekebun vanili di Indonesia
- ItemAyo Mengenal Tanaman Obat(Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2020) Kementerian Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian; Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi PertanianTanaman obat adalah tanaman yang bagiannya dapat dimanfaatkan sebagai obat, baik itu berupa daun, umbi, akar, buah, maupun bagian lainnya. Banyak tanaman di sekitar kita yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit, seperti seledri untuk mengobati penyakit darah tinggi, kunyit untuk melancarkan darah, dan tapak dara untuk mengobati kencing manis. Tidak hanya tanaman yang dibudidayakan secara khusus yang memiliki khasiat sebagai obat, tanaman yang tumbuh liar di pinggir hutan pun memiliki khasiat sebagai obat, misalnya salam, bayam duri, atau kumis kucing. Buku ini akan mengenalkan ragam tanaman obat lengkap dengan nama daerah, sifat, khasiatnya, cara pemakainnya, serta contohnya. Ayo, kenali tanaman obat di sekitarmu.
- ItemBahan Tanaman Unggul Mendukung Bioindustri Kakao(IIARD Press, 2014) Setiyono, Rudi T.; Badan Penelitian dan Pengembangan PertanianTanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas yang cukup penting di Indonesia. Sampai saat ini, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Lebih dari 90% dari keseluruhan luas areal tanaman kakao yang ada di Indonesia merupakan perkebunan rakyat. Meskipun demikian, produktivitas kakao masih tergolong rendah, yaitu hanya mencapai rata-rata 900 kg/ha/thn. Penyebab rendahnya produktivitas tanaman kakao adalah masih beragamnya adopsi petani terhadap teknologi budidaya, keterbatasan tersedianya bahan tanam unggul, serta serangan hama dan penyakit utama. Penemuan bahan tanaman kakao unggul seperti ICCRI 07 dan Sulawesi 03 yang tahan terhadap hama penggerek buah kakao (PBK) serta klon hibrida ICCRI 06H yang tahan terhadap penyakit vascular streak dieback (VSD) merupakan salah satu solusi dalam mengatasi masalah hama dan penyakit utama yang menjadi permasalahan serius pada tanaman kakao saat ini. Bahan tanaman kakao unggul tersebut dapat digunakan pada pengembangan tanaman kakao dalam rangka penerapan inovasi teknologi bioindustri kakao, serta dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam kegiatan perakitan bahan tanam kakao tahan PBK dan VSD di Indonesia. Keberhasilan penanganan masalah VSD dan PBK tersebut tentu tidak hanya mengandalkan pada bahan tanamnya saja, akan tetapi juga tergantung pada penerapan cara budidaya yang baik. Pemuliaan ketahanan terhadap PBK dan VSD selanjutnya akan tergantung pada seberapa besar tingkat keragaman genetik yang dapat terbentuk melalui persilangan dengan memanfaatkan klon-klon tahan tersebut, serta manajemen proses seleksinya.
- ItemBaku Operasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Kutu Hijau (Coccus viridis) Green Pada Tanaman Kopi(Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan, 1994) Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan; Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan