Tanaman Pangan
Permanent URI for this community
Browse
Browsing Tanaman Pangan by Title
Now showing 1 - 20 of 620
Results Per Page
Sort Options
- ItemAgrisoy(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2018) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
- ItemAgroindustri Tepung Ubi Kayu di Pedesaan Sumatra Barat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Darsono Sastrodipuro; Marzempi; Yulmar JastraUbi kayu mempunyai adaptasi yang sangat luas dan mudah dibudidayakan. Komoditas ini dapat digunakan sebagai pangan, pakan, dan bahan baku industri. Namun demikian, harga ubi kayu berfluktuasi karena mudah rusak dan tidak dapat disimpan lama. Untuk meningkatkan nilai tambahnya, ubi kayu dapat diproses jadi tepung. Di Sumatra Barat telah berkembang agroindustri tepung ubi kayu. Hal ini tercermin dari berkembangnya penggunaan alat dan mesin pengolah ubi kayu di tingkat pengusaha kecil. Tepung yang dihasilkan umumnyа bermutu relatif rendah karena diproses dari gaplek gelondong. Hasil penelitian menunjukkan, mutu tepung yang dihasilkan dari sawut lebih baik dibandingkan dengan yang diproduksi dari gaplek. Nilai tambah yang diberikan oleh setiap 10 ton ubi kayu setelah diolah jadi tepung lebih dari Rp600.000.
- ItemAnalisa Dampak Hasi Pengkajian Marning Gepeng Di Kabupaten Kediri(BPTP JATIM, 2008) P. SANTOSO; A. Suryadi
- ItemAnalisa Dinamika Usahatani di Kabupaten Tulungagung Mendukung Penggalian Sumber Pertumbuhan Baru Agroekologi Lahan Sawah(BPTP Jatim, 2002) ANDRI, Kuntoro Boda; G.Kartono; B. Irianto
- ItemANALISIS MODEL DALAM MENDUKUNG PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI JAWA TIMUR TAHUN 2007(BPTP Jatim, 2007) SANTOSO, Pudji; Sudarmadi PurnamaProgram peningkatan produksi padi nasional tahun 2007, Jawa Timur mengambil kontribusi 1 juta ton beras atau setara 1,58 juta ton GKG. Strategi untuk mencapai 1 juta ton beras telah direncanakan oleh Pemerintah daerah Propinsi Jawa Timur antara lain dalam bentuk bantuan benih serta dukungan program aksi dari BPTP Jawa Timur. Tujuan analisis kebijakan mendukung program peningkatan produksi padi ini adalah (1) memperoleh informasi penerapan teknologi padi pada MK I tahun 2007, (2) memperkirakan tambahan produksi padi Jawa Timur tahun 2007 dan (3) memperoleh model peningkatan produktivitas padi guna perbaikan program. Pengkajian ini dilakukan di dua lokasi Prima Tani, yaitu Kabupaten Nganjuk dan Blitar pada bulan Juli dan Agustus 2007 dengan metode survei. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan teknologi melalui pendekatan pengendalian tanaman terpadu (PTT) padi dengan kawalan teknologi di wilayah Prima Tani dapat meningkatkan produksi padi. Untuk padi hibrida pada MK I 2007 di wilayah Prima Tani Kabupaten Nganjuk dapat meningkatan produktivitas sekitar 29 % dan di Blitar sekitar 21 %. Sedangkan padi inhibrida di wilayah Prima Tani Blitar dapat meningkatkan produktivitas sekitara 12 %. Diseminasi PTT padi dengan kawalan teknologi di wilayah Prima Tani Kabupaten Nganjuk dan Blitar antara lain bertujuan untuk mendukung program peningkatan produksi padi di Jawa Timur. Program bantuan benih di Jawa Timur yang direncanakan untuk MK I dan MK II tahun 2007, ternyata realisasinya hanya untuk MK II 2007, yaitu seluas 182.352 ha terdiri 100.251 ha padi hibrida dan 82.101 ha padi inhibrida. Program bantuan benih seluas ini, jika penerapan teknologi seperti model Prima Tani (Model 1) diperkirakan ada tambahan produksi padi Jawa Timur dalam tahun 2007 sebesar 386.788 ton GKG atau setara 240.817 ton beras atau 24 % dari target 1 juta ton beras. Sedangkan tambahan produksi padi Jawa Timur untuk model di luar non Prima Tani (Model 2) adalah sebesar 158.382 ton GKG atau setara 98.672 ton beras yang berarti 9,9 % dari target 1 juta ton beras. Pendekatan PTT padi di wilayah Prima Tani di dua Kabupaten tersebut dapat digunakan sebagai model dalam mendukung program peningkatan produksi padi di Jawa Timur. Beberapa saran sebagai bahan kebijakan adalah (1) sebelum pelaksanaan kegiatan PTT padi perlu diadakan sosialisasi dan pelatihan bagi kelompok tani dan petugas lapang, (2) untuk padi hibrida dipilih lahan hamparan dengan jaringan irigasi terjamin, bukan daerah endemi hama penyakit utama (wereng coklat, hawar daun bakteri dan tungro) serta petani respon terhadap inovasi teknologi dan (3) tersedianya sarana produksi tepat waktu, tepata mutu, tepat jenis dan tepat harga.
- ItemAnalisis Nilai Tengah Generasi untuk Umur Panen Keturunan Persilangan Tiga Varietas Kedelai(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2015) Gatut Wahyu, A.S; W. Mangoendidjojo; P. Yudono; A KasnoPerbaikan karakter tanaman memerlukan informasi tentang parameter genetik, dan pendugaannya dilakukan dengan pendekatan analisis genetik yaitu melalui aksi gen. Penelitian bertujuan untuk mempelajari aksi gen karakter umur panen kedelai melalui analisis rata-rata generasi. Tetua-tetua yang digunakan adalah varietas Nanti, Grobogan dan Malabar. Penelitian terdiri atas dua tahapan. Tahap pertama, menyilangkan dua tetua untuk membentuk populasi tanaman yang meliputi F1, F2, silang balik atau backcross (BC1.1) dan BC1.2. Penelitian dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Malang, Jawa Timur, pada bulan Maret 2007 hingga Juni 2009. Tahap kedua, penelitian lapang untuk mempelajari genetik karakter umur panen kedelai yang melibatkan tetua P1, tetua P2, F1, BC1.1, BC1.2, dan F2 masing-masing kombinasi persilangan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Jambegede, Jawa Timur, pada awal musim kemarau ke-2 (MK II) Juli 2009. Pola pewarisan karakter umur panen ketiga kombinasi persilangan dikendalikan oleh interaksi gen dalam lokus. Aksi gen pengaruh aditif dan dominan berkontribusi mempengaruhi pewarisan umur panen pada persilangan varietas umur genjah (Grobogan) dengan umur genjah (Malabar). Persilangan antara varietas umur sangat dalam (Nanti) dengan umur genjah (Grobogan atau Malabar) menunjukkan karakter umur panen genjah dimungkinkan dikendalikan oleh gen resesif bersifat aditif.
- ItemAneka Olahan Sukun(IAARD Press, 2012) Badan Penelitian dan Pengembangan PertanianSukun (Artocarpus communis) adalah nama sejenis pohon dan buahnya sekaligus. Buah sukun tidak berbiji dan memiliki bagian yang empuk, yang mirip roti setelah dimasak atau digoreng. Orang-orang Eropa mengenalnya sebagai “buah roti” breadfruit, Inggris; atau broodvrucht, Belanda). Buah sukun merupakan bahan pangan penting sumber karbohidrat di pelbagai kepulauan di daerah tropik, terutama di Pasifik dan Asia Tenggara. Sukun dapat dimasak utuh atau dipotong-potong terlebih dulu, untuk kemudian direbus, digoreng, disangrai, atau dibakar. Buah yang telah dimasak dapat diiris-iris dan dikeringkan di bawah matahari atau di dalam tungku sehingga awet dan dapat disimpan lama. Di pulau-pulau Pasifik, kelebihan panen buah sukun dipendam dalam lubang tanah dan dibiarkan berfermentasi beberapa minggu sehingga berubah menjadi pasta mirip keju yang awet, bergizi, dan dapat dibuat menjadi semacam kue panggang. Sukun dapat pula dijadikan keripik dengan cara diiris tipis dan digoreng.
- ItemAneka Olahan Umbi Gadung(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, 2011-12-31) Rustiana, Ria [et.all]; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTBBuku Ini mengajarkan cara pengolahan umbi
- ItemAneka Umbi Unggul: Ubi kayu-ubi jalar-talas(Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, 2018) Kementerian Pertanian, Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian
- ItemAplikasi Teknik Serologi dalam Mendiagnosis Penyakit Virus Tanaman Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) M. Muhsin; Manzila; Jumanto H.; Roechan M.Cara yang umum dilakukan untuk mendiagnosis penyakit tanaman pangan yang disebabkan oleh virus adalah berdasarkan timbulnya gejala. Akan tetapi dalam kondisi tertentu gejala tersebut tidak jelas, bahkan tidak ada. Teknik serologi, antara lain uji bentonit, uji lateks, uji ELISA dan IEM telah berhasil diterapkan dalam mendeteksi dan mengidentifikasi virus tungro, virus kerdil hampa, virus kerdil rumput, virus kerdil kedelai, virus mosaik kedelai, virus mosaik samar kacang tunggak, virus belang dan virus bilur kacang tanah. Uji ELISA merupakan salah satu teknik yang paling luas digunakan, karena akuratan dalam menentukan jenis dan jumlah virus. Modifikasi teknik ELISA dan pengembangannya antara lain ELISA ringkas, ELISA kertas saring, dan ELISA tusuk gigi, telah digunakan untuk mendeteksi virus dari biji, kecambah, daun tanaman kacang-kacangan. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan teknik yang murah, mudah, dan tetap sensitif. Kegunaan lainnya antara lain untuk menghasilkan benih bebas virus, menyimpan isolat virus dalam biji, uji penyaringan varietas untuk ketahanan terhadap penyakit, dan mempelajari epidemiologi penyakit virus.
- ItemApplication of Technology in Farming and Corn Waste at South Sulawesi(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2013) Sunanto; Eka Triana Yuniarsih; M. AsaadMaize (Zea mays L.) is one of the world’s most important food crops other than wheat and rice. Productivity is still low at only reached 4.3 t/ha. Corn needs to increase. Corn crops in all the components can be useful directly or indirectly. The research was conducted in South Sulawesi in February until June 2012, with survey methods and observation at 120 farmer respondents. Assessment results indicate that corn farming on dry land and paddy fields after rice in South Sulawesi is a potential, as supported by natural resources and human resources (farmers). The results of the feasibility analysis of maize farming feasible to be developed because it gives the production rate of 5.930 kgs/ha at a cost of Rp 6,220,600/ha and revenue of Rp 14,825,000/ha. So that the income of Rp 8,604,400/ha with the R/C 2.38. Corn wastes can be used as animal feed, the farmer is often used among other components of the leaves, stems, and klobot by providing support equal 3 cows for 312 days. The advice given is guidance to farmers should be increased because farmers have a responsibility to change the level of technology is quite high, but it also supported the willingness and ability of farmers. Continued integration of crop assessment- cattle on dry land and paddy fields to utilize agricultural wastes, agricultural wastes that have added value.
- ItemArah dan Strategi Sistem Perbenihan Tanaman Nasional(Departemen Pertanian, 2006-12-16) Dr Aton Apriyantono, MSSistem perbenihan nasional saat ini sudah berjalan cukup baik. Namun perkembangan lingkungan di dalam negeri maupun internasional sangat mempengaruhi kinerja perbenihan di Indonesia. Di dalam negeri, perubahan sistem pemerintahan pusat dan daerah, sistem penganggaran, dan pelaksanaan good governance menuntut peran masyarakat dan swasta lebih dominan dalam semua sektor pembangunan. Demikian juga perkembangan lingkungan global seperti ratifikasi beberapa kesepakatan internasional dan regional mempengaruhi pasar dalam negeri, termasuk pasar benih. Pasar dalam negeri telah terintegrasi. kuat dengan pasar regional dan global, dengan demikian telah terjadi persaingan bebas. Sistem perbenihan harus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi seperti itu. Untuk mewujudkan sistem perbenihan yang mantap serta iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya industri benih nasional, sistem perbenihan saat ini perlu direvitalisasi sesuai dengan dinamika dan perkembangan tuntutan pasar. Buku ini memberikan gambaran tentang arah perkembangan sistem perbenihan tanaman ke depan, sekaligus sebagai acuan operasionalisasi program perbenihan yang sedang berjalan saat ini
- ItemAssessing Opportunities to Increase Yield and Profit in Rainfed Lowland Rice Systems in Indonesia(MDPI, 2021-04-15) Erythrina, Erythrina; Anshori, Arif; Bora, Charles Y.; Dewi, Dina O.; Lestari, Martina Sri; Mustaha, Muhammad A.; Remija, Khadijah E.; Rauf, Abdul W.; Mikasari, Wilda; Surdianto, Yanto; Suriadi, Ahmad; Darwis, Valeriana; Syahbuddin, HarisIn this study, we aimed to improve rice farmers’ productivity and profitability in rainfed lowlands through appropriate crop and nutrient management by closing the rice yield gap during the dry season in the rainfed lowlands of Indonesia. The Integrated Crop Management package, involving recommended practices (RP) from the Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), were compared to the farmers’ current practices at ten farmer-participatory demonstration plots across ten provinces of Indonesia in 2019. The farmers’ practices (FP) usually involved using old varieties in their remaining land and following their existing fertilizer management methods. The results indicate that improved varieties and nutrient best management practices in rice production, along with water reservoir infrastructure and information access, contribute to increasing the productivity and profitability of rice farming. The mean rice yield increased significantly with RP compared with FP by 1.9 t ha 1 (ranges between 1.476 to 2.344 t ha 1 ), and net returns increased, after deducting the cost of fertilizers and machinery used for irrigation supplements, by USD 656 ha (ranges between USD 266.1 to 867.9 ha 1 ) per crop cycle. This represents an exploitable yield gap of 37%. Disaggregated by the wet climate of western Indonesia and eastern Indonesia’s dry climate, the RP increased rice productivity by 1.8 and 2.0 t ha 1 , with an additional net return gain per cycle of USD 600 and 712 ha 1 , respectively. These results suggest that there is considerable potential to increase the rice production output from lowland rainfed rice systems by increasing cropping intensity and productivity. Here, we lay out the potential for site-specific variety and nutrient management 1 with appropriate crop and supplemental irrigation as an ICM package, reducing the yield gap and increasing farmers’ yield and income during the dry season in Indonesia’s rainfed-prone areas.
- ItemBahan Publikasi Pengembangan Gandum(Direktorat Budidaya Serealia, 2008) Direktorat Budidaya Serealia; Direktorat Budidaya SerealiaGandum merupakan biji-bijian yang kaya akan nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Gandum yang lebih dikenal dengan nama terigu pemakaiannya cukup besar hampir mencapai 6 juta ton/tahun dengan konsumsi rata-rata 17/kg/kapita/tahun, bila seluruh kebutuhan dalam negeri impor bisa diprediksi berapa devisa yang harus dikeluarkan. Kebutuhan terigu ini akan terus meningkat dengan adanya perubahan pola makan masyarakat perkotaan yang praktis dan siap saji seperti roti dan mie dan pola makan ini juga sudah bergeser sampai ke perdesaan.
- ItemBaku Operasional Pengendalian Hama Terpadu pada Pertanaman Padi Gogo di Antara Tanaman Perkebunan(Direktorat Jenderal Perkebunan, 1995) Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Ditjen PerkebunanSejalan dengan upaya peningkatan pendapatan petani perkebunan, telah digerakkan penanaman padi gogo varietas unggul di antara tanaman perkebunan. Untuk menjamin keberhasilan gerakan ini, dibutuhkan dukungan perlindungan tanaman terhadap gangguan opt (organisma pengganggu tumbuhan). Memang perlindungan tanaman tidak akan menghilangkan semua gangguan, tetapi dapat memperkecil resiko kehilangan hasil. Pada kondisi lapang, perlindungan tanaman menghadapi berbagai situasi yang harus diperhitungkan demi keberhasilan pelaksanaannya. Untuk mengakomodasi semua kondisi tersebut, implementasi pengendalian hama terpadu (pht) merupakan pilihan terbaik.
- ItemBe-Bas Biopestisida untuk Mendalikan Hama Penggerek Ubi Jalar di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiBe-Bas merupakan biopestisida berbahan aktif konidia cendawan entomopatogen Beauveria bassiana yang dikembangkan untuk mengendalikan hama penggerek ubi jalar (Cylas formicarius) di lahan pasang surut Kalimantan Selatan. Hama tersebut menjadi salah satu kendala utama produksi ubi jalar karena larvanya merusak umbi dan sulit dikendalikan dengan insektisida kimia. Hasil aplikasi Be-Bas menunjukkan kemampuannya mengendalikan telur, larva, dan imago C. formicarius, sehingga mampu menekan kerusakan umbi dan meningkatkan hasil ubi jalar hingga sekitar 38,22 t/ha. Penggunaan Be-Bas juga lebih efisien secara ekonomi dibandingkan insektisida kimia serta relatif aman bagi manusia, hewan, serangga berguna, dan lingkungan. Dengan demikian, Be-Bas berpotensi menjadi alternatif pengendalian hama penggerek ubi jalar yang efektif, ekonomis, dan mendukung penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
- ItemBe-Bas Biopestisida untuk Mengendalikan Hama Penggerek Ubi Jalar (Crylas formicarius)(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2018) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiSerangan hama penggerek umbi (Cylas formicarius) merupakan kendala utama budidaya ubi jalar yang dapat memicu kerusakan hingga 100% dan menghasilkan toksin berbahaya pada umbi. Pengendalian dengan insektisida kimia umumnya tidak efektif karena larva berkembang di dalam umbi tanah. Biopestisida Be-Bas hadir sebagai solusi ramah lingkungan berbahan aktif konidia cendawan entomopatogen Beauveria bassiana yang bersifat ovisidal dan larvisidal. Cendawan ini memproduksi berbagai toksin (seperti beauvericin dan bassianin) yang efektif membunuh telur, larva, hingga imago C. formicarius, serta aman bagi lingkungan dan musuh alami. Hasil pengujian di lahan pasang surut Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menunjukkan bahwa aplikasi Be-Bas mampu menekan tingkat kerusakan umbi hingga 0% (dibandingkan insektisida kimia sebesar 17,5% dan kontrol 60,5%), sekaligus meningkatkan hasil umbi segar mencapai 955,5 gram/tanaman (setara 38,22 t/ha). Selain lebih efektif, pemanfaatan Be-Bas memberikan efisiensi biaya hingga Rp200.000/ha dibandingkan insektisida kimia berbahan aktif karbofuran, sehingga sangat prospektif untuk mendukung budidaya ubi jalar secara berkelanjutan.
- ItemBe-Bas Formulasi Biopestisida dari Konidia(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2018) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiBe-Bas merupakan formulasi biopestisida ramah lingkungan berbahan aktif konidia jamur entomopatogen Beauveria bassiana yang dikembangkan oleh Laboratorium Biopestisida BALITKABI. Produk ini memiliki efikasi spektrum luas yang mampu mengendalikan berbagai jenis hama tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan, seperti penggerek ubi jalar (Cylas formicarius) dengan sifat ovisidal 100% pada telur, ulat grayak (Spodoptera litura), pengisap polong, lalat kacang, kutu kebul, hingga rayap. Selain berdaya bunuh tinggi terhadap serangga dari ordo Lepidoptera, Coleoptera, dan Hemiptera, Be-Bas memiliki keunggulan ganda karena mampu memparasitasi spora penyakit daun kedelai seperti karat daun (Phakopsora pachyrhizi), downy mildew, dan powdery mildew. Penggunaan Be-Bas tidak menyebabkan resistensi maupun resurjensi hama, serta aman bagi serangga berguna (seperti predator Coccinella sp. dan Oxyopes sp.), manusia, ternak, dan lingkungan perairan. Aplikasi dilakukan dengan konsentrasi 3–5 g/L air yang dicampur perekat dan disemprotkan pada sore hari, menjadikannya solusi bioinsektisida yang efektif dan berkelanjutan
- ItemBeberapa Hama Penyakit Tanaman Kedelai dan Jagung(BPTP Kalteng, 2000-02-13) Surnardi; Susilawati; Rukayah; BPTP KaltengSalah satu kendala didalam meningkatkan produksi kedele dan jagung adalah adanya gangguan hama dan penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan tanaman, menurunkan hasil bahkan gagal panen apabila tidak ada tindakan pengendalian. Sehingga organisme pengganggu tanaman (OPT) atau yang dikenal dengan hama dan penyakit tidak boleh dianggap sepele.
- ItemBiji Mimba dan SLNPV untuk Pengendalian Hama Kedelai di Lahan Pasang Surut(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiKombinasi biopestisida serbuk biji mimba dan virus SLNPV untuk mengendalikan ulat grayak dan penggerek polong di lahan pasang surut, terbukti meningkatkan hasil biji hingga 1,89 t/ha melampaui pestisida kimia.