Tanaman Pangan
Permanent URI for this community
Browse
Browsing Tanaman Pangan by Issue Date
Now showing 1 - 20 of 528
Results Per Page
Sort Options
- ItemUbikayu dan Cara Bercocok Tanamnya(Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor, 1979) J. Wargiono
- ItemDiagnosis Status Hara Nitrogen Kedelai dan Padi Berdasarkan Warna Daun(PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN PANGAN, 1985-12-16) M. ISMUNADJI; I. ZULKARNAINI; S. PARTOHARDJONO; F. YAZAWATanah pertanian di Indonesia umumnya kekurangan nitrogen. Respon tanaman terhadap nitrogen sangat cepat dengan pertumbuhan yang lebih subur dan warna daun yang lebih hijau. Diagnosis status hara nitrogen dari warna daun merupakan cara yang cepat untuk menilai apakah tanaman defisiensi, cukup atau kelebihan nitrogen. Meskipun takaran pupuk nitrogen yang tepat belum dapat ditetapkan dengan cara ini, akan tetapi dari pengalaman perkiraan takaran ini akan mendekati optimal. Metode ini merupakan cara yang praktis, bermanfaat dan dapat digunakan oleh kalangan luas, baik petugas dinas Pertanian, maupun petani. Dengan membandingkan warna daun dengan skala warna dalam brosur ini, takaran pupuk nitrogen dapat diperkirakan banyaknya. Semoga metode ini dapat menunjang pembangunan pertanian, terutama meningkatkan produksi padi dan kedelai.
- ItemKacang Gude(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG, 1989-12-16) Suwasik Karsono; SumarnoKacang gude sebenarnya sudah cukup lama dibudidayakan oleh petani di Indonesia, namun tidak secara luas. Penelitian terhadap tanaman kacang gude masih sedikit sekali dilakukan bila dibandingkan dengan penelitian terhadap kacang-kacangan lain. Buku ini berusaha menghimpun hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan yang dilaksanakan oleh Balittan Malang, Bogor, Maros dan Sukamandi. Sebagian dana penelitian tersebut berasal dari ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Cooperation) melalui kerjasama Badan Litbang Pertanian-ACIAR. Semoga dengan diterbitkanya buku ini dapat memberikan tambahan informasi kepada masyarakat pertanian di Indonesia.
- ItemTeknologi Peningkatan Produksi Kedelai di Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1990-12-16) Ibrahim Manwan; Sumarno; A. Syarifuddin Karama; Achmad M. FagiKedelai, sebagai tanaman palawija tradisional, telah berubah dari tanaman sampingan menjadi tanaman strategis dalam ekonomi nasional. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan komoditas kedelai sebagai bahan pangan, pakan dan industri. Permintaan yang meningkat tersebut terutama didorong oleh meningkatnya industri tahu, tempe, kecap, dan pakan. Bahkan dengan adanya ekspor kecap yang meningkat, kebutuhan bahan mentah kedelai akan terus meningkat di masa depan. Peningkatan produksi dalam negeri belum dapat mengimbangi kebutuhan yang terus bertambah sehingga impor kedelai telah mencapai sekitar 600.000 t/tahun. Laporan ini menghimpun hasil penelitian yang dilakukan oleh enam balai lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Tanaman Pangan yang telah dilakukan selama lima tahun terakhir, untuk menunjang program peningkatan produksi kedelai. Di Indonesia, dalam jangka pendek, usaha peningkatan produksi kedelai guna memenuhi kebutuhan nasional dapat ditempuh melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Peluang untuk perluasan areal ini masih terbuka lebar, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Demikian pula halnya peningkatan produksi melalui intensifikasi. Dalam laporan ini dikemukakan berbagai faktor yang menunjang perluasan areal dan pencapaian produksi kedelai yang tinggi, sekitar 2,0-2,5 t/ha. Dengan mengidentifikasi faktor tersebut, diharapkan keberhasilan serupa akan lebih mudah diulangi pada lokasi/wilayah lain di Indonesia. Berbagai paket teknologi produksi dan informasi sosial ekonomi pada berbagai zone agroekologi utama, disajikan pula dalam laporan ini. Diharapkan informasi ini dapat bermanfaat dalam mendukung usaha peningkatan produksi pada berbagai sentra produksi kedelai dan pengembangannya ke daerah lain yang potensinya masih belum tergali. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dr. Darman M. Arsyad, Dr. Made Oka Adnyana, Dr. Djoko S. Damardjati, Dr. Titis A. Sarwanto, serta para peneliti Puslitbang Tanaman Pangan lainnya yang telah memberikan sumbangan pemikiran, data, dan informasi sehingga dapat diterbitkannya laporan khusus ini.
- ItemPeta Agroekologi Utama Tanaman Pangan di Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991-04-23) Irsal Las; A. Karim Makarim; A. Ilidayat; A. Syarifuddin Karama; Ibrahim ManwanPerencanaan pembangunan pertanian nasional perlu dilandaskan pada informasi yang relevan dan akurat. Salah satu bentuk informasi penting yang dibutuhkan sekarang ini adalah peta agroekologi. Laporan Khusus ini diterbitkan untuk mendukung ketersediaan informasi semacam itu. Agroekologi merupakan pencirian sifat dan karakter lingkungan fisik suatu sistem produksi pertanian. Peta agroekologi utama tanaman pangan ini mengindikasikan faktor iklim, tanah, topofisiografi, dan infrastruktur secara umum di Indonesia. Oleh sebab itu peta ini berguna untuk menduga intensitas dan pola tanam potensial, penerapan suatu paket teknologi usahatani tanaman pangan pada suatu wilayah, dan memudahkan alih teknologi dari suatu wilayah ke lain wilayah. Di samping untuk menunjukkan penyebaran macam agroekologi utama di Indonesia, peta ini memperlihatkan potensi wilayah yang dapat mendukung strategi penelitian dan perencanaan pembangunan pertanian nasional secara lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, tingkat produksi serta jenis komoditas pertanian yang sesuai dapat dioptimalkan. Kami berharap bahwa berbagai pihak, termasuk lembaga, peneliti, perencana, khususnya yang berkaitan dengan pertanian tanaman pangan, dapat memanfaatkan publikasi ini. Sementara itu kami terus berusaha mengembangkan peta ini secara lebih terinci agar lebih sesuai dengan berbagai keperluan di wilayah-wilayah yang lebih spesifik. Berbagai kekurangan tentu masih terkandung dalam terbitan ini. Karena itu saran dan kritik dari pembaca akan sangat membantu kami dalam usaha untuk memperbaikinya. Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Proyek Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS-II dan the International Development Research Centre (IDRC), yang telah memberikan dukungan dana bagi penerbitan publikasi ini.
- ItemTeknik Budidaya Kedelai di Lahan Sawah Irigasi(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN SUKAMANDI, 1991-12-19) J. Rachman Hidajat; S. A. S. Wityanara; K. Pirngadi; S. Kartaatmadja; A. M. FagiDalamjangka lima belas tahun, produksi padi di Indonesia telah meningkat pesat, akan tetapi tidak demikian halnya dengan produksi palawija, khususnya produksi kedelai. Produksi kedelai belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Jika upaya peningkatan produksi kedelai tidak berhasil, maka kesenjangan antara produksi dan kebutuhan akan makin melebar dan Indonesia akan selalu tergantung pada kedelai impor. Untuk itu, pemerintah berusaha meningkatkan produksi kedelai baik dengan intensifikasi maupun ekstensifikasi. Sasaran diarahkan pada daerahdaerah produksi maupun daerah-daerah pengembangan seperti lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan dan lahan darat. Buku ini disusun sebagai petunjuk praktis bagi para pengguna, penyuluh, dan petani kedelai di lahan sawah dalam upaya turut menunjang program pemerintah dalam mencapai swasembada kedelai.
- ItemPenentuan Komoditas Tanaman Pangan dan Hortikultura Unggulan Jawa Timur dan Strategi Pengembanganya(BPTP Karangploso, 1992) Dinas Pertanian Propinsi Jawa Timur
- ItemInovasi Teknologi Pengolahan Hasil dan Perbaikan Sistem Pemasaran Komoditas Pertanian Menghadapi Pasar Bebas(BPTP Karangploso, 1992) SUHARDJO; Puji Santoso
- ItemPeranan Wanita dalam Usahatani(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1992-04-15) Sri Suharni Siwi; Sunihardi; Arif Musaddad; Herman SupriadiSeperti halnya pria, wanita tidak kalah besar peranannya dalam pembangunan pertanian. Dalam upaya peningkatan dan kesejahteraan keluarga, misalnya wanita tani pun telah memberikan kontribusi besar
- ItemPerbaikan Komponen Teknologi Budidaya Kacang Tanah(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG, 1992-12-16) Nasir Saleh; T. Adisarwanto; Achmad WinartoBuku ini merupakan rangkuman hasil penelitian dari Peanut Improvement Project 8834 yang merupakan proyek kerjasama Penelitian antara Badan Litbang Pertanian Republik Indonesia dengan Australian Centre International for Agricultural Research (ACIAR), Australia. Proyek kerjasama berlangsung selama tiga tahun mulai November 1988 hingga November 1991. Kegiatan proyek tersebut dilaksanakan bersama oleh Balai Penelitian Tanaman Pangan (Balittan) Bogor, Sukamandi, Malang, Sukarami dan Maros, di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) yang berkedudukan di Bogor bersama dengan Department of Primary Industries, Queenslands (QDPI). Beberapa penemuan dan informasi penting telah dihasilkan dari kegiatan penelitian ini yang berkaitan dengan pengelolaan penyakit bakteri, penyakit layu, penyakit virus belang (PStV), penelitian tentang pemupukan, dan pengelolaan lahan masam untuk budidaya kacang tanah. Ucapan terima kasih disampaikan kepada ACIAR, yang telah memberi bantuan dana baik untuk penelitian maupun untuk penerbitan buku ini. Juga kepada para peneliti serta penyunting yang telah menyelesaikan laporan ini disampaikan penghargaan.
- ItemPenyakit Virus Belang Kacang Tanah (peanut Stripe Virus) dan Usaha Pengendaliannya(BALAI PENELITIAN TANAMAN PANGAN MALANG, 1992-12-16) Nasir Saleh; Yuliantoro BaliadiKeberhasilan tanaman kacang tanah sangat ditentukan oleh kesehatan tanaman. Penyakit yang sering menjadi kendala produksi, selain bercak daun dan karat daun, adalah penyakit virus belang yang disebabkan oleh Peanut Stripe Virus. Peanut Stripe Virus (PStV) merupakan penyakit yang relatif baru di Indonesia. Pengenalan penyakit ini secara baik merupakan awal untuk pengendalian serangan penyakit ini. Penerbitan buku ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk mengenali gejala, bentuk/tanda serangan dan cara penularan penyakit ini, sehingga pengendaliannya dapat dilaksanakan seawal mungkin. Usaha untuk mendapatkan varietas tahan terhadap PStV telah dilaksanakan secara ekstensif, namun dari sekitar 10.000 plasma nutfah kacang tanah yang diteliti tidak diperoleh satu pun yang bersifat tahan. Untuk sementara pengendalian secara kultur teknis tampaknya masih merupakan alternatif terbaik. Dalam buku ini dibahas berbagai aspek yang berkaitan dengan pengendalian virus belang. Kepada para peneliti yang secara aktif menangani penelitian virus belang sehingga diperoleh informasi dalam bentuk publikasi buku ini, disampaikan penghargaan. Juga kepada penyunting disampaikan terima kasih. Semoga informasi dalam buku ini bermanfaat untuk peningkatan produksi kacang tanah di Indonesia.
- ItemKebijaksanaan Penyediaan dan Distribusi Pangan Nasional(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Ibrahim HasanPermasalahan pemenuhan pangan bersifat dinamis dan berkembang sesuai dengan tuntutan perkembangan dan perubahan zaman, serta sebagai dampak dari semakin kuatnya keterkaitan antarsektor, dan proses globalisasi dunia. Selain itu, pangan berkaitan erat dengan masalah-masalah lain, seperti kemiskinan, sumber daya manusia, lingkungan hidup, dan penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu, pemecahan masalah pangan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terkait dengan sektor lain. Globalisasi dunia, misalnya, juga merupakan hal yang tidak terelakkan dan mengharuskan untuk tanggap terhadap konsekuensinya, antara lain dengan mengembangkan pangan lokal agar mampu bersaing dan bersanding dengan pangan impor.
- ItemTelaah Hasil Penelitian Ubi-ubian untuk Mendukung Peningkatan Produksi dan Pengembangan Agroindustri(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Ahmad Dimyati; Koes Hartojo; M. Djazuli; A. Husni Malian¹Dengan pengembangan agroindustri diharapkan akan tercipta nilai tamтbah yang terdistribusi secara adil kepada para pelakunya, terutama para petani yang selama ini hanya memperoleh bagian sedikit. Untuk keperluan pemahaman masalah, sistem komoditas ubi-ubian dipilah menjadi tiga subsistem yaitu subsistem produksi, pengolahan, dan konsumsi, sedangkan tataniaga dianggap berada di dalam dan di antara ketiga subsistem itu. Makalah ini menguraikan karakteristik subsistem yang ideal untuk pengembangan agroindustri yang andal, serta gambarkan dan analisis keragaan setiap subsistem yang ada dewasa ini berdasarkan telaahan atas laporan hasil penelitian selama lima tahun terakhir. Secara teknis agronomis, subsistem produksi yang mampu menghasilkan marketable surplus dengan kualitas yang baik secara kontinyu sepanjang tahun sebenarnya dimungkinkan, tetapi diperlukan insentif yang memadai bagi para petani produsen dalam bentuk kepastian harga yang menguntungkan. Teknik pengolahan yang diperlukan juga sudah tersedia tetapi memerlukan pengaturan yang transparan tentang penggunaan bahan asal ubi-ubian agar dengan permintaan aktual, mатри memberikan keuntungan yang menggairahkan bagi petani. Pengaturan yang paling diperlukan adalah agar subsistem tataniaga berjalan efisien dan adil sehingga menguntungkan produsen, menyajikan harga yang layak bagi konsumen, sambil tetap memelihara kelangsungan subsistem tataniaga sendiri. Margin yang ada sudah memungkinkan tetapi dibutuhkan political will yang kuat dan pengawasan yang efektif dari pemerintah. Peraturan dan kebijakan itu hendaknya memperhitungkan secara cermat karakteristik para pelaku dalam setiap subsistem. Secara sederhana, pengaturan itu harus mampu mendorong partisipasi petani produsen dalam proses pengolahan dan mendorong tanggung-jawab yang jujur dari pengolah dan pedagang terhadap keberlanjutan subsistem produksi yang merupakan prasyarat bagi kelangsungan sistem agroindustri secara keseluruhan. Investasi, baik oleh pemerintah maupun swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana serta dalam pembinaan sumber daya manusia, merupakan prasyarat yang juga esensial. Tetapi, tanpa pengaturan dan pengawasan, semuanya akan sia-sia.
- ItemHasil dan Strategi Penelitian Jagung, Sorgum, dan Terigu dalam Pencapaian dan Pelestarian Swasembada Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Subandi; Marsum Dahlan; Amsir RifinDengan mengasumsikan petani menanam varietas unggul yang tersedia dan 60% dari hasil rata-rata percobaan dapat direalisasi oleh petani (faktor konversi hasil, FKH= 0,6), maka prakiraan produksi jagung pada tahun 1998 adalah 7,6 juta lon. Untuk mencapai produksi sebesar 8,9 juta ton sesuai prakiraan Departemen Pertanian, maka FKH harus ditingkatkan menjadi 0,7. Untuk itu diperlukan penanganan intensif dalam perbenihan dan sarana produksi lainnya, penyuluhan teknologi, pengolahan produk dan pemasarannya, serta penyediaan kredit. Penelitian di lahan petani untuk mendapatkan paket teknologi perlu diperluas. Penelitian paket teknologi bagi lahan berproduktivitas rendah/marginal dengan masukan rendah perlu dipertajam. Penelitian rintisan di berbagai disiplin perlu terus dipacu guna mendukung penelitian terapan yang adaptif. Sorgum memiliki potensi untuk dikembangkan di lahan atau pada musim di mana tanaman lain sepertijagung dan padi tidak dapat memberi hasil baik. Selain itu, dua galur terigu diidentifikasi sebagai varietas unggul.
- ItemTeknologi Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Sumarno; D. Pasaribu; HarnotoProduksi kacang-kacangan nasional belum dapat mencukupi kebutuhan, karena luas panen aktual masih belum memadai dan produktivitas masih rendah. Untuk mencukupi kebutuhan komoditas kacang-kacangan secara nasional, maka luas panen kedelai aktual harus mencapai 3 juta ha, kacang tanah 0,9 juta ha, dan kacang hijau 0,8 juta ha/tahun. Usaha perluasan areal perlu dilakukan, terutama di luar Jawa pada lahan sawah musim kemarau, lahan bukaan baru, dan pada lahan usaha kehutanan dan perkebunan yang tanaman pokoknya masih muda. Teknologi untuk peningkatan produksi kacang-kacangan nasional secara umum telah tersedia, terutama ditekankan pada penyiapan lahan agar pertumbuhan optimal, penggunaan benih varietas unggul bermutu tinggi, penyiangan tanaman agar bebas gulma sejak tumbuh hingga berbunga, dan pengendalian hama/ penyakit berdasarkan ambang kerusakan. Peningkatan hasil dengan peningkatan produktivitas terutama ditujukan agar kacang-kacangan kompetitif terhadap komoditas lain. Dengan penerapan teknologi budi daya maju, produktivitas kedelai dapat mencapai 2,0 t/ha, kacang tanah 2,5 t/ha (polong kering) dan kacang hijau 1,6 t/ha. Peningkatan produksi kacang-kacangan nasional diharapkan akan dapat menambah ketersediaannya di pasaran untuk mendorong laju peningkatan diversifikasi pangan dan gizi masyarakat. Kacang hijau теmiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat karena produksinya mudah ditingkatkan dan dapat diolah menjadi beragam produk yang bergizi. Dalam PJP II, selama konsumsi protein hewani belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, protein asal kacang-kacangan dapat dijadikan andalan dalam program perbaikan gizi masyarakat.
- ItemBaku Operasional Pengendalian Hama Terpadu pada Pertanaman Padi Gogo di Antara Tanaman Perkebunan(Direktorat Jenderal Perkebunan, 1995) Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Ditjen PerkebunanSejalan dengan upaya peningkatan pendapatan petani perkebunan, telah digerakkan penanaman padi gogo varietas unggul di antara tanaman perkebunan. Untuk menjamin keberhasilan gerakan ini, dibutuhkan dukungan perlindungan tanaman terhadap gangguan opt (organisma pengganggu tumbuhan). Memang perlindungan tanaman tidak akan menghilangkan semua gangguan, tetapi dapat memperkecil resiko kehilangan hasil. Pada kondisi lapang, perlindungan tanaman menghadapi berbagai situasi yang harus diperhitungkan demi keberhasilan pelaksanaannya. Untuk mengakomodasi semua kondisi tersebut, implementasi pengendalian hama terpadu (pht) merupakan pilihan terbaik.
- ItemAplikasi Teknik Serologi dalam Mendiagnosis Penyakit Virus Tanaman Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) M. Muhsin; Manzila; Jumanto H.; Roechan M.Cara yang umum dilakukan untuk mendiagnosis penyakit tanaman pangan yang disebabkan oleh virus adalah berdasarkan timbulnya gejala. Akan tetapi dalam kondisi tertentu gejala tersebut tidak jelas, bahkan tidak ada. Teknik serologi, antara lain uji bentonit, uji lateks, uji ELISA dan IEM telah berhasil diterapkan dalam mendeteksi dan mengidentifikasi virus tungro, virus kerdil hampa, virus kerdil rumput, virus kerdil kedelai, virus mosaik kedelai, virus mosaik samar kacang tunggak, virus belang dan virus bilur kacang tanah. Uji ELISA merupakan salah satu teknik yang paling luas digunakan, karena akuratan dalam menentukan jenis dan jumlah virus. Modifikasi teknik ELISA dan pengembangannya antara lain ELISA ringkas, ELISA kertas saring, dan ELISA tusuk gigi, telah digunakan untuk mendeteksi virus dari biji, kecambah, daun tanaman kacang-kacangan. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan teknik yang murah, mudah, dan tetap sensitif. Kegunaan lainnya antara lain untuk menghasilkan benih bebas virus, menyimpan isolat virus dalam biji, uji penyaringan varietas untuk ketahanan terhadap penyakit, dan mempelajari epidemiologi penyakit virus.
- ItemPerbaikan Varietas Padi Gogo pada Lahan Kering Marginal(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Abdul KaherPerbaikan varietas padi gogo pada lahan kering marginal diarahkan kepada perakitan genotipe tenggang keracunan aluminum dan cekaman kekeringan, mempunyai ketahanan stabil (durable resistance) terhadap penyakit blas, umur genjah sampai sedang (100-130 hari), dan potensi hasil tinggi dengan masukan rendah. Ratusan plasma nutfah lokal dan introduksi telah disaring, terutama dari kendala keracunan aluminum, cekaman kekeringan, dan ketahanan blas. Rekombinasi genetik melalui persilangan dan seleksi turunannya dengan metode bulk dan pedigree serta pengujian adaptasi dan stabilitas hasil galur harapan telah dilakukan pada lahan kering marginal. Hasil pengujian menunjukkan, plasma nutfah yang dimiliki mempunyai adaptasi yang luas pada tanah bereaksi masam dan tahan patogen blas. Pengembangan varietas atau genotipe unggul padi gogo dibatasi oleh keragaman ras fisiologis patogen blas dan kondisi iklim yang mempengaruhi keragaman ras fisiologis patogen pada suatu lokasi dan musim tanaт. Genotipe yang dikembangkan dari silang tunggal lebih labil terhadap patogen blas dibandingkan dengan turunan silang ganda. Sistem silang diallel selektif yang mempunyai kemampuan menggabungkan genotipe yang majemuk cenderung menghasilkan genotipe yang memiliki ketahanan stabil terhadap patogen blas. Beberapa genotipe yang ditemukan mampu memberi hasil relatif tinggi dengan pemberian pupuk takaran rendah dan ketahanannya stabil terhadap penyakit blas.
- ItemUsahatani Tamanan-Ternak Meningkatkan Produktivitas Lahan dan Pendapatan Petani(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Mahyuddin Syam; Adi Widjono; Hermanto; Ino G. Ismail; Hans Anwarhan; M. Sabrani
- ItemRamapil: Mesin Pemipil Jagung untuk Pedesaan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) I.K. TastraSalah satu kendala dalam pengembangan usahatani jagung adalah belum berkembangnya teknologi pemipilan. Kapasitas pemipilan jagung dengan cara tradisional sangat rendah sehingga memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam kondisi ketersediaan tenaga yang terbatas atau mahalnya upah kerja, pemipilan jagung dengan cara tradisional tidak efisien. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang telah merakit mesin pemipil jagung RAMAPIL, yang dapat diproduksi oleh bengkel lokal di pedesaan. Makalah ini membahas kelayakan operasionalisasi RAMAPIL (diproduksi oleh bengkel lokal di Malang Selatan dan Maumere pada tahun 1992) di tingkat kelompok tani. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada kadar air biji jagung 12-14%, rata-rata kapasitas kerja RAMAPIL mencapai 164,5 kg jagung pipilan/jam, kerusakan biji 1,1%, dan efisiensi pemipilan mencapai 97,8%. Pada tingkat ongkos pemipilan Rp5,00/kg jagung, jam kerja efektif 600 jam/tahun, upah seorang operator Rp3.500/hari, dan harga RAMAPIL Rp250.000/unit, maka keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan RAMAPIL adalah sebesar Rp164.000, nisbah antara keuntungan dengan biaya = 1,12, tingkat pengembalian modal 43,98%, biaya pokok mesin Rp3,7/kg, titik impas operasionalisasi 36,9 t jagung pipilan/tahun, dan waktu pengembalian modal 1,9 tahun. Berdasarkan hasil analisis ini disimpulkan bahwa RAMAPIL produksi bengkel lokal tersebut layak dikembangkan di pedesaan.