Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian by Subject "A Agriculture/Pertanian"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemDinamika pemanfaatan dan potensi pasar benih padi bersertifikat untuk mendukung swasembada padi di Provinsi Bali(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2026-06-30) Wijaya, I Gede Made Artha Sudewa; Purba, Dumaris Priskila; Manurung, Benyamin Yosafat; Sukanteri, Ni Putu; Suparyana, Pande KomangKeberlanjutan sektor pertanian pangan di Provinsi Bali menghadapi tekanan akibat pesatnya perkembangan sektor pariwisata yang mendorong alih fungsi lahan sawah serta menurunkan luas panen dan produksi padi. Dalam kondisi tersebut, penggunaan benih padi bersertifikat menjadi strategi intensifikasi yang penting untuk menjaga produktivitas dan mendukung swasembada pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika pemanfaatan dan potensi pasar benih padi bersertifikat di Provinsi Bali. Kebaruan studi berupa gambaran menyeluruh mengenai dinamika dan potensi pasar benih padi bersertifikat di Provinsi Bali. Data primer dan sekunder dikumpulkan melalui observasi, studi dokumentasi, dan wawancara terhadap seluruh 33 produsen benih padi bersertifikat menggunakan metode sensus. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan dukungan interpretasi kualitatif melalui analisis tren, estimasi kebutuhan benih, kapasitas produksi, peluang pasar, dan nilai ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyaluran benih padi bersertifikat menurun dari 1.318,84 ton pada 2022 menjadi 890,25 ton pada 2024. Pasokan benih dari luar provinsi juga menurun, sedangkan produksi benih lokal berfluktuasi dan rata-rata hanya mampu memenuhi 10,41% kebutuhan benih. Peluang pasar benih padi bersertifikat masih sangat besar, yaitu rata-rata 2,27 juta kg atau 89,59% dari kebutuhan benih, dengan potensi nilai ekonomi mencapai Rp33,82 miliar per tahun. Pengembangan produksi benih lokal berpotensi meningkatkan pendapatan asli daerah dan nilai tambah bagi petani mitra. Implikasi kebijakan meliputi penguatan kapasitas Balai Benih Induk (BBI) dan penangkar benih, penyediaan benih sumber, insentif penggunaan benih bersertifikat, peningkatan pendampingan petani, serta pengawasan peredaran benih. DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v24n1.2026.15-30
- ItemFactors that play a role in building resilience, autonomy, and sustainability of smallholder coconut farming in Aceh Province(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2025-12-31) Sulistyorini, Henny; Sumardjo; Fatchiya, Anna; Purnaningsih, Ninuk; Cahyana, DestikaPerkebunan kelapa rakyat di Provinsi Aceh menghadapi peningkatan risiko keberlanjutan usaha akibat rendahnya pendapatan petani dari usaha ini yang disebabkan oleh penurunan luas areal tanam, penuaan tanaman, keterbatasan akses terhadap teknologi dan penyuluhan, serta lemahnya kelembagaan petani. Meskipun demikian, perkebunan kelapa rakyat tetap memiliki posisi strategis sebagai sumber pangan, pendapatan petani, bahan baku industri, lapangan kerja, dan konservasi lingkungan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas dan resiliensi petani menjadi faktor krusial untuk mampu secara optimal mengelola usaha berbasis kelapa. Penelitian ini mengkaji hubungan antara fungsi kelompok tani, peran kepemimpinan kelompok tani, modal sosial, resiliensi petani, kemandirian petani, dan keberlanjutan usaha kelapa rakyat. Penelitian dilakukan tahun 2024 di Kabupaten Aceh Besar, Simeulue, dan Bireuen melalui survei terhadap 277 petani kelapa. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi kelompok tani dan peran ketuanya memiliki pengarup positif dan signoifikan trerhadap kemandirin, serta modal sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi petani. Selanjutnya, resiliensi petani berhubungan positif dengan kemandirian petani dan keberlanjutan usaha kelapa, sementara kepemimpinan kelompok tani juga berpengaruh langsung terhadap kemandirian petani. Untuk mendukung keberlanjutan usaha kelapa rakyat di Aceh direkomendasikan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan penguatan kapasitas sosial dan kelembagaan melalui kelompok tani, terutama melalui penguatan jejaring sosial dan kepercayaan, peningkatan peran ketua kelompok tani sebagai motivator dan fasilitator, serta penguatan kelompok tani sebagai wahana pembelajaran kolektif dan kerja sama. DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v23n2.2025.265-286
- ItemPengaruh status penguasaan lahan dan adopsi teknologi terhadap produksi padi sawah di provinsi sentra padi di Indonesia(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2025-12-31) Ariani, Mewa; Tarigan, Herlina; Suhartini, Sri Hastuti; Ariningsih, Ening; Sumedi; Savitri, Sheila; Suryani, Erma; Mardianto, Sudi; SunarsihHasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan peningkatan jumlah petani gurem yang mendorong adopsi strategi adaptif berupa penguasaan lahan nonpemilikan. Status penguasaan lahan ini memengaruhi keputusan penggunaan input dan teknologi yang berpotensi menurunkan produksi padi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh status penguasaan lahan dan adopsi teknologi terhadap produksi padi sawah. Survei dilakukan pada tahun 2021 di sepuluh provinsi sentra produksi padi di Jawa dan luar Jawa, mencakup 20 kabupaten dan 39 kecamatan dengan total responden 1.950 petani. Responden dipilih berdasarkan proporsi status penguasaan lahan. Data dianalisis secara deskriptif dan regresi linier berganda menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidak semua petani pemilik menggarap lahannya karena keterbatasan modal dan tenaga kerja. Lahan milik tersebut dikuasakan kepada kerabat atau orang kepercayaan dalam satu desa melalui mekanisme sewa, sakap, atau gadai. Mayoritas petani telah mengadopsi benih ungggul bersertifikat, pupuk kimia, dan alat mesin pertanian, namun sistem tanam masih didominasi sistem tegel. Hasil regresi menunjukkan benih dan pupuk secara signifikan dan positif memengaruhi produksi padi, sedangkan penguasaan lahan sewa dan gadai menunjukkan pengaruh sebaliknya. Dari hasil kajian ini direkomendasikan untuk pencapaian swasembada beras, volume bantuan benih dan pupuk bersubsidi per hektare perlu ditingkatkan dan cakupan jumlah petani penerima bantuan diperluas, terutama di luar Jawa. Selain itu, perlu dilakukan penyuluhan kepada petani bukan pemilik lahan untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya penggunaan teknologi usaha tani padi secara tepat untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatannya. DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v23n2.2025.195-216