Browsing by Author "Baehaki S.E."
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemHama Penggerek Batang Padi dan Teknologi Pengendalian(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013-11-17) Baehaki S.E.Hama penggerek batang padi merupakan hama penting yang perlu dipantau dan dikendalikan karena intensitas serangannya cukup tinggi, khususnya Jawa Barat dan Jawa Tengah. Strategi yang ampuh untuk mengendalikan hama penggerek adalah mengimplementasikan triangle strategy, yaitu menerapkan SOP pengendalian penggerek dengan benar, membangun kebersamaan pengendalian di masyarakat, dan dukungan kebijakan dan komitmen pemerintah pusat maupun daerah. Penerapan SOP pengendalian penggerek batang padi harus menerapkan ambang ekonomi terbaru berdasarkan monitoring populasi ngengat menggunakan lampu perangkap, empat hari setelah penerbangan ngengat pertama. Perlu ditegaskan bahwa pengendalian hama penggerek tidak lagi menggunakan ambang ekonomi lama berdasarkan intensitas serangan, karena saat ambang tercapai sudah terjadi kehilangan hasil yang cukup tinggi, sebelum aplikasi
- ItemPeranan Varietas dan Galur Padi dan Predator dalam Mengendalikan Wereng Coklat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Baehaki S.E.Abstract Performance of Rice Varieties and Predators in Managing the Population of BPH. A study on the performance of several rice varieties and predators to manage the development of the brown planthopper (BPH), Nilaparvata lugens Stål, was carried out in Dempet, Demak, Central Java, during the wet season of 2007. The trial was arranged in Randomized Block Design with three replications. Treatments were 10 rice varieties, i.e. IR74, BP360, Ciherang, IR64, Clapus, Conde. Digul, Ketonggo, Cimelati, and Mekongga. Results of this trial indicated that the performance of rice varieties in managing the population of BPH can be categorized into three groups of characters, with the BPH population occurred on IR64 as the comparison. The first group includes the varieties of IR74, BP360, and Ciherang, which were able to highly reduce the population of BPH by 72.24, 58.94, and 37.79%, respectively. The second group includes the varieties of Ciapus, Conde, and Digul which were able to moderately reduce the population of BPH by 35.05, 13.57, and 12.00%, respectively. While the third group includes those rice varieties which were not able to inhibit the population of BPH development. These varieties were Ketonggo, Cimelati, and Mekongga with higher BPH population by 35.05, 13.57, and 12.00%, respectively, than that on IR64. Starting when the rice crop was at 30 days of age, the BPH population developed up to the time when the rice crop reached 80 days of age. Especially the one that occurred on the third group of varieties, predators were not able to inhibit the development of BPH population. Under such cisrcumstances the BPH predators, such as Lycosa pseudoannulata, spiders, Paederus fuscifes, and Cyrtorhinus lividipennis were not able to competitively develop against the development of BPH. The highest rice yields harvested from the varieties protected with insecticides was demonstrated by Ciherang, which reached up tons 10,5 t/ha of milling dried grain and was followed by BP360, Mekongga, and Conde varieties Abstrak Penelitian kinerja beberapa varietas padi dan predator untuk mengendalikan wereng coklat dilaksanakan di pertanaman petani di Dempet., Demak, Jawa Tengah pada MP 2007. Penelitian ditata dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan. Sebanyak 10 varietas dan galur, yaitu IR74, BP360, Ciherang, IR64, Ciapus, Conde, Digul, Ketonggo, Cimelati, dan Mekongga ditanam dalam percobaan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja varietas/galur di lapangan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok karakter. Kelompok pertama adalah varietas-varietas IR74, BP360, dan Ciherang yang mampu menurunkan wereng coklat masing-masing sebesar 72,24%, 58,94%, dan 37,79%. Kelompok kedua adalah varietas-varietas Ciapus, Conde, dan Digul yang mampu menurunkan wereng coklat masing-masing sebesar 35,05%, 13,57%, dan 12%. Sedangkan kelompok ketiga adalah varietas-varietas yang tidak mampu menurunkan populasi wereng coklat. Varietas yang termasuk dalam kelompok ini adalah Ketonggo, Cimelati, clan Mekongga. Populasi wereng coklat pada varietas-varietas ini berturut-turut 35,05%, 13,57%, dan 12% lebih tinggi dibandingkan dengan populasi wereng coklat pada IR64. Populasi wereng coklat terus meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman padi, walaupun peningkatan yang terjadi pada beberapa varietas lebih lambat dibanding yang terjadi pada beberapa varietas yang lain. Predator tidak mampu menghambat ambat laju peningkatan wereng coklat, terutama yang terjadi pada varietas-varietas kelompok tiga, sehingga peran Lycosa pseudoannulata, laba-laba, Paederus fuscifes, dan Cyrtorhinus lividipennis tidak mampu mengimbangi perkembangan populasi wereng coklat. Hasil gabah tertinggi pertanaman padi yang diperlakukan dengan insektisida adalah sebesar 10,5 t/ha GKP yang dicapai oleh Ciherang, diikuti oleh BP360, Mekongga, dan Conde.
- ItemPerkembangan Biotipe Hama Wereng Coklat pada Tanaman Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012-10-19) Baehaki S.E.Wereng coklat sudah menyerang tanaman padi di Darmaga, Bogor, pada tahun 1939, kemudian di Yogyakarta dan Mojokerto tahun 1940. Dalam upaya peningkatan produksi padi nasional, pemerintah pada tahun 1967 mengintroduksi varietas unggul IR5 dan IR8 yang tidak mempunyai gen ketahanan terhadap wereng coklat. Pada tahun 1971, timbul ledakan wereng coklat biotipe 1. Pada tahun 1975 diintroduksi varietas IR26 (gen tahan Bph1) dari IRRI, namun pada tahun 1976 terjadi ledakan yang hebat di beberapa sentra produksi padi karena terjadi perubahan populasi wereng coklat dari biotipe 1 ke biotipe 2. Pada tahun 1980, untuk menghadapi wereng biotipe 2 diintroduksi varietas IR42 (gen tahan bph2) dari IRRI, namun pada tahun 1981 terjadi ledakan yang hebat di Simalungun, Sumatera Utara, dan beberapa daerah lainnya karena adanya perubahan populasi wereng coklat dari biotipe 2 ke biotipe 3. Untuk menghadapi wereng coklat biotipe 3 telah diintroduksikan varietas padi IR56 (gen tahan Bph3) pada 1983 dan IR64 (gen tahan Bph1 + ) pada tahun 1986, dan pada tahun 1991 diintroduksi varietas IR74 (gen tahan Bph3). Pada tahun 2006, gen ketahanan IR64 patah karena populasi wereng coklat berubah ke biotipe 4. Kestabilan wereng coklat biotipe nol bertahan selama 41 tahun sebelum menjadi wereng coklat biotipe 1. Perubahan wereng coklat biotipe 1 ke biotipe 2 hanya dalam waktu 4 tahun, dan perubahan wereng coklat biotipe 2 ke biotipe 3 dalam kurun waktu 5 tahun. Sampai tahun 2005 (24 tahun) wereng coklat masih didominasi oleh biotipe 3, dan pada tahun 2006 mulai berkembang wereng coklat biotipe 4. Keberadaan wereng coklat biotipe 3 yang cukup lama disebabkan oleh berkembangnya varietas IR64 (Bph1 + ) dalam kurun waktu yang lama. IR64 merupakan varietas tahan lestari (durable resistance) yang mampu menahan perubahan wereng coklat ke biotipe yang lebih tinggi, selain tidak berkembangnya vartietas IR74 (Bph3) yang akan menyulut BAEHAKI:PERKEMBANGAN BIOTIPE HAMAWERENG COKLAT 9 terbentuknya biotipe baru. Untuk menghambat perubahan biotipe wereng coklat diperlukan pengendalikan dengan pergiliran varietas yang berbeda ketahanannya untuk menunda seleksi terarah, pertanaman mosaik varietas, dan menghindari menanam varietas dengan genotipe yang lebih tinggi dari biotipe yang ada di lapangan
- ItemStrategi Pengendalian Hama Utama Padi Menggunakan Musuh Alami(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Baehaki S.E.; M. Arifin²Sepanjang tahun, proses pengendalian hama secara terpadu (PHT) alamі terangkai dalam siklus pemanfaatan komponen pengendalian: varietas tahan - kultur teknik - musuh alami - varietas tahan. Dalam siklus tersebut, musuh alami belum banyak dimanfaatkan, walaupun arti pentingnya sebagai penyeimbang biologi (biological balance) populasi hama telah diketahui. Ada tiga strategi pengendalian hama dengan musuh alami, yaitu importasi, perbanyakan massal, dan manipulasi musuh alami. Manipulasi musuh alami dapat dilakukan dengan (1) konservasi, yaitu usaha melestarikan musuh alami yang sudah ada di lapang agar dapat bertahan hidup dan berkembang sesuai dengan sifatnya, dan (2) augmentasi, yaitu usaha meningkatkan efektivitas musuh alami di lapang agar mampu mengendalikan populasi hama. Pemantauan populasi hama dan musuh alami secara berkala harus dilakukan untuk menentukan perlu tidaknya populasi hama dikendalikan. Khusus untuk wereng coklat, keseimbangan populasi antara wereng dan musuh alaminya akan tercapai bila tingkat parasitasi telur wereng oleh Anagrus dan Oligosita lebih dari 25%. Dalam hal ini, wereng tidak perlu dikendalikan.