Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian by Author "Arifin, Sultoni"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPenggunaan Traktor dan Produktivitasnya: Kasus di Kabupaten Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Arifin, SultoniTimbulnya perbedaan pendapat terhadap penggunaan traktor untuk pengolah tanah bersumber pada tidak jelasnya dampak mekanisasi tersebut terhadap peningkatan pendapatan petani dan lapangan kerja. Studi kasus di Kabupaten Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa petani yang masih muda dan kurang berpengalaman cenderung menggunakan traktor untuk mengolah tanah. Luas tanah garapan petani yang selalu menggunakan traktor untuk mengolah tanah dua kali lipat daripada luas tanah garapan petani yang tidak pernah atau hanya sewaktu-waktu menggunakan traktor. Pada umumnya, penggunaan traktor akan mengurangi pemakaian tenaga kerja, terutama tenaga keluarga. Kenaikan hasil yang diperoleh kelompok petani pemakai traktor lebih erat kaitannya dengan penggunaan sarana produksi (pupuk dan pestisida). Petani di daerah irigasi menyesuaikan kegiatannya dengan anjuran pemerintah, sedangkan di daerah tadah hujan kegiatan tersebut tergantung pada curah hujan. Tampaknya pengaruh traktorisasi terhadap kegiatan tanam dan panen tidak konsisten. Analisa regresi memperlihatkan bahwa keragaman hasil dari tahun ke tahun dipengaruhi oleh keadaan air dan waktu panen.
- ItemPermintaan Traktor di Pinrang dan Sidrap, Sulawesi Selatan(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Arifin, SultoniAnjuran tanam serempak oleh pemerintah mengakibatkan periode pengolahan tanah semakin singkat dan tenaga kerja yang ada harus tersebar ke seluruh wilayah yang bersangkutan. Oleh karena itu, pendekatan terhadap perkiraan kebutuhan traktor dan tenaga pengolah tanah lainnya ditempuh melalui kombinasi optimal dari alat dan tenaga tersebut bagi seluruh wilayah, bukan bagi petani secara perorangan. Untuk itu, dalam analisa "linear programming" (LP), jumlah "surplus cash" dari hasil sawah seluruh daerah ditempatkan sebagai tujuan utama yang akan dimaksimalkan. Pada pola tanam petani (dua kali padi/tahun), dengan tingkat sewa traktor sebesar Rp 27.500,-/ha dan dengan menggunakan tenaga keluarga, maka permintaan akan traktor adalah 1.223 unit bagi areal seluas 34.238 ha, yang berarti rata-rata 28 ha tiap traktor. Apabila dalam hal tersebut tenaga kerja harus dibayar Rp 1.000,-/hari, maka permintaan akan traktor menjadi 4.004 unit bagi areal tanah seluas 144.127 ha atau rata-rata 36 ha bagi tiap traktor. Kedua rata-rata olah tersebut masih di bawah titik impas. yakni 43,8 ha. Peningkatan intensitas tanam melalui mekanisasi dari 2 menjadi 3 kali padi dalam setahun ahrus disertai dengan penggunaan varietas berumur genjah seperti PB 36. Dalam hal ini, bila tenaga kerja berasal dari tenaga keluarga, sedangkan tingkat sewa traktor tetap sebesar Rp 27.500,-/ha, maka luas seluruh lahan yang akan diolah adalah 121.131 ha dengan jumlah traktor sebanyak 3.676 unit (33 ha tiap traktor). Bila tenaga kerja ahrus dibayar Rp 1.000,-/hari, maka rata-rata tiap traktor akan mengolah areal seluas 40 ha, hampir mendekati titik impas (43,8 ha). Apabila sewa traktor ditingkatkan agar pemilik traktor jangan rugi, maka hal ini akan mengakibatkan turunnya pendapatan dan produksi total daerah. Hasil analisa juga menunjukkan bahwa introduksi trkator mengakibatkan berkurangnya pemakaian tenaga kerja. Dengan tingkat sewa traktor sebesar Rp 45.000,-/ha (dengan menggunakan tenaga keluarga) dan Rp 39.000.-/ha bila memakai tenaga kerja dengan upah Rp 1.000,-/hari, maka tidak akan ada traktor yang akan digunakan. karena petani akan beralih ke tenaga kerja manusia dan hewan.