Teknologi Budidaya Kangkung Hidroponik Berbasis Media Batu Koral

dc.contributor.authorNurlaila Safitri
dc.date.accessioned2026-07-19T05:26:50Z
dc.date.available2026-07-19T05:26:50Z
dc.date.issued2026
dc.descriptionKebaruan utama dari teknologi ini terletak pada substitusi media hidroponik komersial sekali pakai (seperti rockwool atau cocopeat) dengan pecahan batu koral lokal berukuran 2–5 cm yang dapat dibersihkan dan digunakan kembali secara terus-menerus untuk musim tanam berikutnya. Struktur batu koral yang berpori terbukti efektif menopang tegakan tanaman, menjaga aerasi dan sirkulasi udara di sekitar perakaran guna mencegah kebusukan, serta menstabilkan retensi larutan nutrisi secara terkontrol.
dc.description.abstractKeterbatasan lahan subur serta tingginya biaya investasi media tanam hidroponik standar mendorong perlunya inovasi budidaya yang murah, melimpah, dan berkelanjutan. Teknologi budidaya kangkung hidroponik berbasis media batu koral menyajikan teknik menanam tanpa tanah (soilless) memanfaatkan pecahan batu koral lokal sebagai alas penyangga akar sekaligus penyerap larutan nutrisi. Tujuan dari penerapan teknologi ini adalah untuk menyediakan solusi pertanian di lahan terbatas atau kritis, meminimalkan serangan hama/penyakit tanah, meningkatkan efisiensi air-pupuk, serta menyeragamkan bobot tanaman dengan masa panen yang lebih cepat. Prosedur praktik terbaik (best practice) dilakukan pada petakan ukuran $3\times1$ meter menggunakan batu koral berukuran 2–5 cm yang telah dicuci bersih dan direndam selama 1–2 jam. Batu koral kemudian disusun setebal 10–15 cm secara rata, lalu dibuat alur horizontal dengan jarak antar-alur 5–10 cm sebagai tempat penaburan benih kangkung varietas "Bika". Kondisi lingkungan optimal yang dipersyaratkan meliputi suhu udara 25–32 °C, paparan sinar matahari 5–6 jam/hari, dan suplai air bersih ber-pH 5,5–6,5 yang dikombinasikan dengan nutrisi AB Mix atau pupuk daun. Hasil implementasi menunjukkan kangkung siap dipanen pada umur 25 hari setelah tanam saat tinggi tanaman mencapai 25–30 cm. Karakteristik batu koral yang berpori terbukti efektif menjaga sirkulasi udara di sekitar perakaran dan menstabilkan kebutuhan tanaman. Aspek ekonomis utama dari teknologi ini adalah penghematan biaya media tanam hingga 90% karena batu koral dapat dibersihkan dan digunakan kembali secara terus-menerus, serta mampu menghemat penggunaan air hingga 70% dibanding metode konvensional. Meskipun memiliki keterbatasan berupa bobot media yang berat saat pemasangan awal dan kapasitas retensi air yang rendah, sistem hidroponik koral ini sangat potensial diaplikasikan sebagai solusi pangan adaptif di wilayah pesisir, lahan gambut, maupun area rawan banjir. Kata Kunci: Hidroponik, Kangkung Bika, Batu Koral, Efisiensi Sumber Daya, Lahan Kritis.
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/30339
dc.language.isoid
dc.publisherSMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru
dc.subjectA Agriculture/Pertanian
dc.subjectA Agriculture/Pertanian::A50 Agricultural research/Penelitian Pertanian
dc.subjectF Plant production/Produksi Tanaman::F01 Crop Husbandry/Pertanaman
dc.titleTeknologi Budidaya Kangkung Hidroponik Berbasis Media Batu Koral
dc.typeArticle
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
Nurlaila Safitri ARTIKEL BUDIDAYA KANGKUNG HIDROPONIK BERBASIS MEDIA BATU KORAL.pdf
Size:
139.29 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.77 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description:
Collections