VARIASI MUTAN FUTATIF TANAMAN LADA (Piper nigrum L.) HASIL IRRADIASI SINAR GAMМА : Warta balittro No. 60 tahun 2013
No Thumbnail Available
Date
2013-12-01
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Abstract
Ragam genetik tanaman lada di Indonesia masih cukup rendah
sekitar 47 nomor (Manohara, et al.,
2006). Dari hasil serangkaian penelitian
yang telah dilakukan pada tanaman lada,
terseleksi serta telah dilepas 7 varietas
lada (Petaling 1, Petaling 2, Natar 1,
Natar 2, Bengkayang, LDK, dan
Chunuk). Varietas-varietas ini telah
diperbanyak di lahan petani dan di antara
7 varietas tersebut, varietas Petaling 1, Petaling 2, dan Bengkayang termasuk
produksi tinggi. Varietas Chunuk
mempunyai sifat yang spesifik, yakni
berbuah terus menerus. Varietas Natar 1
memiliki ketahanan terhadap BРВ
(busuk pangkal batang) dibandingkan
dengan varietas lainnya (Manohara
et al., 2006).
Sifat ketahanan varietas Natar 1 ini
masih belum mampu menutupi
rendahnya kehilangan hasil akibat
serangan BPB. Penyakit BPB yang
disebabkan oleh jamur Phytophthora
capsici merupakan faktor utama
rendahnya produksi dibandingkan
dengan masalah-masalah lain yaitu
penyakit kuning dan serangan penggerek
batang (Lophobaris piperis). Faktor lain
yang dapat menurunkan produksi adalah
populasi tanaman sudah tua, perubahan
iklim, dan belum adanya varietas lada
unggul yang berdaya hasil tinggi dan
tahan (toleran) terhadap hama dan
penyakit.
Untuk meningkatkan keragaman
genetik, perbaikan sifat genetik dapat
dilakukan secara konvensional dengan
cara penyilangan (hibridisasi). Selain itu,
dapat juga dilakukan dengan mutasi
fisika dan kimia.
Mutasi fisik di Indonesia dimulai
sejak tahun 1976 dan kini hampir semua
tanaman (palawija, perkebunan, dan
hortikultura) sudah menerapkannya.
Mutasi fisik dengan irradiasi akan
memungkinkan untuk meningkatkan
hanya satu karakter yang diinginkan
tanpa mengubah karakter yang lainnya.
Pada tanaman yang biasa diperbanyak
secara vegetatif (tanaman heterozigot)
akan menimbulkan keragaman yang
tinggi setelah dilakukan irradiasi.
Irradiasi juga merupakan satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan keragaman pada tanaman
yang steril dan apomiksis (Melina,
2008).
Terbentuknya mutan baru, selain
dipengaruhi oleh jenis kultur, juga
tergantung pada laju dosis radiasi yang
digunakan. Laju dosis radiasi adalah
jumlah dosis terserap per satuan waktu.
Satuan SI untuk dosis radiasi adalah
Joule per kg (J/kg), gray (Gy) atau sama
dengan 100 rad, di mana 1 Gy = 100 rad
= 0,1 krad (Wiryosimin, 1995). Dosis
yang umum digunakan untuk tanaman
adalah 40-400 Gy (Ismachin, 1989).