Penanganan Pascapanen Ubi Kayu Menunjang Pengembangan Agroindustri di Pedesaan

dc.contributor.authorAgus Setyono
dc.contributor.authorRidwan Thahir
dc.contributor.authorSoeharmadi
dc.date.accessioned2026-06-20T17:23:55Z
dc.date.available2026-06-20T17:23:55Z
dc.date.issued1996
dc.description.abstractPanen raya ubi kayu biasanya jatuh pada bulan Juli-Oktober, menjelang musim tanam padi. Melimpahnya produksi ubi kayu pada bulan-bulan tersebut menyebabkan merosotnya harga sampai Rp15- Rp30/kg ubi. Untuk mengatasi kerugian, petani memerlukan teknologi pascapanen yang memadai. Hasil penelitian menunjukkan, ubi kayu yang disimpan dalam sekam lembab, kesegarannya dapat diperpanjang sampai 3 bulan. Selain itu, ubi kayu segar dapat diolah menjadi tape dan enyek-enyek, atau bahan setengah jadi berupa gaplek, sawut kering, dan tepung kasava, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk makanan seperti cake, roti, cookies, gula sirup, alkohol, asam sitrat, dan asam glutamat. Sistem pengembangan agroindustri ubi kayu di pedesaan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan sistem pembinaan secara individu, kelompok, koperasi, dan sistem plasma inti (Bapak Angkat) -- tergantung kepada kondisi daerah.
dc.identifier.isbn979-8161-52-1
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/30129
dc.language.isoid
dc.publisherPusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
dc.titlePenanganan Pascapanen Ubi Kayu Menunjang Pengembangan Agroindustri di Pedesaan
dc.typeBook
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
23. Penanganan Pascapanen Ubi Kayu Menunjang Pengembangan Agroindustri.pdf
Size:
2.02 MB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.77 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: