Prosiding seminar perbenihan tanaman rempah dan obat
Permanent URI for this collection
Browse
Recent Submissions
Now showing 1 - 5 of 15
- ItemPerkecambahan Benih sebagai Suatu Sistem 109-116(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) MelatiProses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Proses perkecambahan dapat dianggap sebagai suatu sistem. Untuk mempermudah mempelajari sistem tersebut dapat dilakukan melalui aliran proses perkecambahan yang akhirnya membentuk suatu model perkecambahan. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkecambahan benih saling berhubungan satu sama lain, baik itu faktor dalam maupun faktor luar. Model perkecambahan dapat diduga melalui tingkat kemasakan benih, ukuran benih, air, suhu, O2 dan cahaya. Tulisan ini menguraikan perkecambahan benih sebagai suatu sistem yang saling terkait dan membuat model perkecambahan benih berdasarkan bobot benih dan kaitannya dengan viabilitas dan vigor benih. Berdasarkan studi kasus pada benih tanaman jarak didapatkan adanya hubungan yang erat dan bersifat positif antara bobot biji jarak dengan tinggi kecambah, daya berkecambah, indeks vigor dan bobot segar kecambah. Terdapat hubungan erat satu sama lain yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu sistem. Semakin berat bobot biji Jarak, maka semakin semakin tinggi viabilitas dan vigor benih. Kata kunci: Sistem, faktor dalam, faktor luar, model perkecambahan, bobot benih
- ItemKeragaan Hasil dan Pola Panen Pala di Kebun Percobaan Cicurug 101-108(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Nurliani Bermawie, Wawan Lukman, Nur Laela Wahyuni Meilawati dan Susi PurwiyantiPala merupakan salah satu tanaman rempah asli Indonesia yang berbuah sepanjang tahun, namun volume dan pola panen tanaman pala bervariasi. Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan variasi panen adalah kondisi iklim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hasil dan pola panen pala dikaitkan dengan kondisi iklim. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasi pada 39 aksesi pala yang ditanam tahun 1994, di Kebun Percobaan (KP) Cicurug, Sukabumi (550 mdpl). Pengamatan dilakukan pada produksi buah masak petik setiap bulan dan diakumulasikan per tahun, pada setiap tanaman per aksesi, selama sepuluh tahun (2005-2014). Untuk melihat keeratan hubungan antara kondisi iklim dan produksi buah maka dilakukan analisis korelasi. Hasil observasi selama 10 tahun (2005-2014), panen tertinggi terjadi pada tahun 2011 mencapai 373.788 butir dan terendah pada tahun 2005 hanya 26.456 butir. Pola panen di KP. Cicurug setiap tahunnya dapat dibagi menjadi 3 yaitu musim panen Januari-Maret, April-September dan Oktober-Desember. Juni adalah bulan panen buah tertinggi (26.134,8 butir). Fluktuasi panen per bulan dan per tahun tidak terkait dengan curah hujan dan jumlah hari hari hujan, namun lebih cenderung disebabkan adanya pola fluktuasi tanaman, yang apabila setelah mencapai puncak akan menurun selama 2-3 tahun tahun sampai dengan titik terendah kemudian naik lagi mencapai puncak panen berikutnya. Kata kunci: Myristica spp., pola panen, produksi buah, iklim
- ItemPerbanyakan Benih Tanaman Obat Bidara Upas (Merremia mammosa) 87-92(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Tias Arlianti dan Sitti Fatimah SyahidTanaman bidara upas merupakan salah satu jenis tanaman obat yang dikategorikan sebagai obat langka. Bidara upas memiliki banyak khasiat diantaranya sebagai immunomodulator, antikanker, obat demam dan anti radang. Upaya penyediaan benih untuk mendukung perbanyakan tanaman diperlukan karena keberadaan jenis ini sudah mulai sulit ditemukan. Bidara upas dapat diperbanyak secara konvensional dengan menggunakan umbi dan setek batang, sedangkan secara kultur jaringan menggunakan tunas aksilar. Perbanyakan dengan umbi merupakan cara terbaik dibandingkan dengan setek maupun kultur jaringan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengoptimalkan perbanyakan dengan setek dan kultur jaringan. Kata kunci: Merremia mammosa, perbanyakan benih, setek, umbi, kultur jaringan
- ItemKeragaan Pertumbuhan Tujuh Aksesi Jahe Merah di Pembibitan Menggunakan Benih Asal Tunas Tanpa Rimpang 93-100(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Cheppy Syukur, Nurliani Bermawie dan Endang HadipoentyantiKebutuhan benih jahe per-hektar sekitar 1-2 ton dan harga benih yang cukup tinggi, menjadikan kendala dalam pengembangan jahe. Penggunaan benih yang berkembang sampai saat ini adalah benih dalam bentuk potongan rimpang bertunas ukuran 30-50 g yang berasal dari hasil panen tua. Terobosan baru dalam teknik pembibitan dengan mengefisienkan kebutuhan benih telah dilakukan dengan menggunakan tunas tanpa rimpang. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca KP. Cimanggu, Balittro Bogor, sejak November 2014 sampai Januari 2015 menggunakan tujuh aksesi jahe merah. Rimpang disemai di bak pembibitan yang berisi media cocopit, masing-masing aksesi disemai, tanpa ulangan. Pemupukan diberikan dengan cara menyemprotkan pupuk cair organik 3 cc/I, dua kali seminggu. Tunas yang berukuran 30 cm dengan 2-3 daun dipisahkan dari rimpang, dipindah ke polibag yang berisi media tanah. Pembibitan dilakukan selama dua bulan. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu terhadap kecepatan bertunas dan jumlah tunas yang siap dipindahkan ke polibag. Hasil penelitian menunjukkan jumlah tunas rimpang yang tumbuh dari satu kilogram rimpang, berkisar antara 163-387 tunas, populasi tunas terbanyak dihasilkan dari aksesi 006 dan terendah aksesi 004. Benih yang diperoleh dan siap tanam di lapang mencapai minimum 250 benih dalam dua bulan. Apabila penanaman dilakukan dengan satu tunas per lubang, maka kebutuhan benih per hektar hanya memerlukan 20-30% dari volume kebutuhan benih umumnya yaitu 200-300 kg rimpang. Efisiensi biaya benih cukup tinggi, dengan harga benih Rp. 25.000,-/kg dengan biaya Rp. 7.500.000,- per ha, sedangkan apabila menggunakan sistim pembibitan dengan rimpang akan memerlukan biaya sekitar Rp. 25.000.000,-. Keuntungan lainnya benih dapat tersedia setiap saat, sehingga masalah kelangkaan benih dapat dengan mudah diatasi. Model perbanyakan seperti ini tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh petani dalam mengefisiensikan benih, akan tetapi dapat dimanfaatkan juga dalam konservasi plasma nutfah dan penyediaan benih sumber yang harus tersedia setiap saat. Kata kunci: Zingiber officinale var. rubrum, teknik pembibitan, benih tunas tanpa rimpang
- ItemPengelolaan Benih Rekalsitrant Tanaman Perkebunan 37-44(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Sukarman dan MelatiBenih rekalsitran meliputi sebagian besar benih tanaman perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis sangat penting. Daya simpan relatif singkat, dari beberapa hari sampai beberapa minggu. Berbeda dengan benih orthodok yang mempunyai daya simpan sampai beberapa tahun. Benih rekalsitran juga peka terhadap penurunan kadar air dan suhu penyimpanan yang rendah (dibawah 10 °C). Oleh karena itu benih harus dikelola sebaik mungkin agar viabilitas dan vigornya tidak cepat menurun. Dalam makalah ini akan ditelaah cara pengelolaan benih rekalsitran khususnya benih tanaman perkebunan (kakao, karet, kopi, pala dan cengkeh) untuk mempertahankan viabilitas dan vigor benih yang diawali dari panen, prosesing (ekstrasi buah), pengeringan, penyimpanan, invigorasi, pemanfaatan zat pengatur tumbuh (ZPT) dan cara pengelolaan benih rekalsitran untuk menigkatkan viabilitas dan vigor benih. Secara umum benih harus segera dipanen setelah benih mencapai masak fisiologis, diproses dan dikeringkan dengan kadar air benih tidak lebih rendah dari 30% tergantung spesiesnya. Benih disimpan pada suhu tidak lebih rendah dari 15 °C, dengan kelembaban (Rh 80%). Perlakuan benih dengan skarifikasi, pemberian GA3, KNO3 pada dosis yang tepat dapat meningkatkan viabilitas benih. Sebaliknya, penggunaan paclobutrazol dapat menghambat laju pertumbuhan benih semai yang cepat pertumbuhannya sehingga dapat memperpanjang daya simpan benih semai. Kata kunci: Benih, rekalsitran, pengelolaan, viabilitas, vigor
- «
- 1 (current)
- 2
- 3
- »