Prosiding seminar perbenihan tanaman rempah dan obat
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Prosiding seminar perbenihan tanaman rempah dan obat by Title
Now showing 1 - 15 of 15
Results Per Page
Sort Options
- ItemHubungan Kekerabatan Antar Aksesi Plasma Nutfah Lada Berdasarkan Karakter Morfologi 51-58(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Nurya Yuniyati dan Enny RandrianiLada merupakan tanaman rempah tertua di dunia sehingga disebut Rajanya Rempah. Indonesia memiliki keragaman genetik yang luas. Aksesi-aksesi lada yang ada akan optimal bila ditanam pada kondisi tanah dan iklim yang sesuai. Tujuan penelitian ini untuk memperkirakan kekerabatan dari keragaman genetik untuk 35 aksesi lada bagi kegiatan perakitan varietas baru. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukamulya, Sukabumi, Jawa Barat sejak April 2009 sampai Oktober 2010. Penelitian dilakukan dengan cara mengamati karakter-karakter morfologi dan hasil setiap aksesi tanaman lada. Setiap aksesi diamati minimal 9 tanaman, yang dipilih secara purposive. Hasil pengamatan dianalisa dengan menggunakan analisa klaster. Dari banyak karakter generatif aksesi Paniyur memiliki kelebihan dari segi potensi hasil dimana diameter bijinya 3,99 mm, bobot 1000 biji 50 g, diameter buah 6,5 mm, jumlah buah per malai 49, persentase buah sempurna 80%, bobot 1000 buah basah 160 g, jumlah tandan per malai per cabang sekunder 8, dan kisaran panjang malai 12 cm. Hasil analisa tingkat kemiripan 85% diperoleh tiga kelompok aksesi-aksesi lada. Kelompok pertama terdiri dari LDL Rawi Sungkap, Kuching KP, dan LDL. Kelompok kedua terdiri dari No.22, Teluk Bengkulen, Banjarmasin Daun Langsing dan No.32. Aksesi lainnya yang tidak termasuk kedalam kedua kelompok tersebut diklasifikasikan sebagai kelompok ketiga. Tingkat kekerabatan kelompok I lebih jauh bila dibandingkan dengan jarak antara kelompok II dan III. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum koleksi 35 aksesi lada yang ada di KP. Sukamulya mempunyai keragaman fenotip yang cukup luas. Dengan asumsi keragaman lingkungan dianggap konstan, maka tingginya keragaman fenotip ini diharapkan sebanding dengan tingginya keragaman genotip sehingga dapat memberikan peluang yang cukup besar dalam upaya perbaikan varietas. Kata kunci: lada, aksesi, morfologi, klaster, keragaman, kekerabatan
- ItemKeragaan Hasil dan Pola Panen Pala di Kebun Percobaan Cicurug 101-108(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Nurliani Bermawie, Wawan Lukman, Nur Laela Wahyuni Meilawati dan Susi PurwiyantiPala merupakan salah satu tanaman rempah asli Indonesia yang berbuah sepanjang tahun, namun volume dan pola panen tanaman pala bervariasi. Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan variasi panen adalah kondisi iklim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hasil dan pola panen pala dikaitkan dengan kondisi iklim. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasi pada 39 aksesi pala yang ditanam tahun 1994, di Kebun Percobaan (KP) Cicurug, Sukabumi (550 mdpl). Pengamatan dilakukan pada produksi buah masak petik setiap bulan dan diakumulasikan per tahun, pada setiap tanaman per aksesi, selama sepuluh tahun (2005-2014). Untuk melihat keeratan hubungan antara kondisi iklim dan produksi buah maka dilakukan analisis korelasi. Hasil observasi selama 10 tahun (2005-2014), panen tertinggi terjadi pada tahun 2011 mencapai 373.788 butir dan terendah pada tahun 2005 hanya 26.456 butir. Pola panen di KP. Cicurug setiap tahunnya dapat dibagi menjadi 3 yaitu musim panen Januari-Maret, April-September dan Oktober-Desember. Juni adalah bulan panen buah tertinggi (26.134,8 butir). Fluktuasi panen per bulan dan per tahun tidak terkait dengan curah hujan dan jumlah hari hari hujan, namun lebih cenderung disebabkan adanya pola fluktuasi tanaman, yang apabila setelah mencapai puncak akan menurun selama 2-3 tahun tahun sampai dengan titik terendah kemudian naik lagi mencapai puncak panen berikutnya. Kata kunci: Myristica spp., pola panen, produksi buah, iklim
- ItemKeragaan Pertumbuhan Tujuh Aksesi Jahe Merah di Pembibitan Menggunakan Benih Asal Tunas Tanpa Rimpang 93-100(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Cheppy Syukur, Nurliani Bermawie dan Endang HadipoentyantiKebutuhan benih jahe per-hektar sekitar 1-2 ton dan harga benih yang cukup tinggi, menjadikan kendala dalam pengembangan jahe. Penggunaan benih yang berkembang sampai saat ini adalah benih dalam bentuk potongan rimpang bertunas ukuran 30-50 g yang berasal dari hasil panen tua. Terobosan baru dalam teknik pembibitan dengan mengefisienkan kebutuhan benih telah dilakukan dengan menggunakan tunas tanpa rimpang. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca KP. Cimanggu, Balittro Bogor, sejak November 2014 sampai Januari 2015 menggunakan tujuh aksesi jahe merah. Rimpang disemai di bak pembibitan yang berisi media cocopit, masing-masing aksesi disemai, tanpa ulangan. Pemupukan diberikan dengan cara menyemprotkan pupuk cair organik 3 cc/I, dua kali seminggu. Tunas yang berukuran 30 cm dengan 2-3 daun dipisahkan dari rimpang, dipindah ke polibag yang berisi media tanah. Pembibitan dilakukan selama dua bulan. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu terhadap kecepatan bertunas dan jumlah tunas yang siap dipindahkan ke polibag. Hasil penelitian menunjukkan jumlah tunas rimpang yang tumbuh dari satu kilogram rimpang, berkisar antara 163-387 tunas, populasi tunas terbanyak dihasilkan dari aksesi 006 dan terendah aksesi 004. Benih yang diperoleh dan siap tanam di lapang mencapai minimum 250 benih dalam dua bulan. Apabila penanaman dilakukan dengan satu tunas per lubang, maka kebutuhan benih per hektar hanya memerlukan 20-30% dari volume kebutuhan benih umumnya yaitu 200-300 kg rimpang. Efisiensi biaya benih cukup tinggi, dengan harga benih Rp. 25.000,-/kg dengan biaya Rp. 7.500.000,- per ha, sedangkan apabila menggunakan sistim pembibitan dengan rimpang akan memerlukan biaya sekitar Rp. 25.000.000,-. Keuntungan lainnya benih dapat tersedia setiap saat, sehingga masalah kelangkaan benih dapat dengan mudah diatasi. Model perbanyakan seperti ini tidak hanya dapat dimanfaatkan oleh petani dalam mengefisiensikan benih, akan tetapi dapat dimanfaatkan juga dalam konservasi plasma nutfah dan penyediaan benih sumber yang harus tersedia setiap saat. Kata kunci: Zingiber officinale var. rubrum, teknik pembibitan, benih tunas tanpa rimpang
- ItemKeragaman Morfologi Antar dan Inter Species Plasma Mentha 79-86(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Wawan Haryudin, Otih Rostiana, Endang Hadipoentyanti dan Sitti Fatimah SyahidTanaman Mentha sp. merupakan salah satu tanaman yang menghasilkan minyak atsiri, dan banyak digunakan dalam industri seperti minuman, obat, kosmetik dan produk penyegar pada makanan dan minuman. Balittro memiliki koleksi plasma nutfah beberapa jenis Mentha yang berasal dari berbagai negara, namun belum diketahui karakteristik morfologinya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat keragaman plasma nutfah mentha berdasarkan karakter pertumbuhan dan morfologi daun, sebagai bahan pemuliaan untuk perakitan varietas unggul. Penelitian dilakukan di KP. Manoko sejak Januari sampai Desember 2014. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 ulangan dengan 19 aksesi (yang berasal dari 6 spesies) sebagai perlakuan. Perlakuan tersebut adalah 7 aksesi (Mentha piperita), 7 aksesi M. Arvensis. 1 aksesi M. Viridis, 1 aksesi M crispa, 1 aksesi M. Canadensis, 1 aksesi Herbamint (Mentha sp.) dan 1 aksesi Triplemint (Mentha sp.). Parameter yang diamati adalah karakter pertumbuhan dan karakter morfologi daun yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang primer, lebar daun, panjang daun, bentuk ujung daun dan bentuk tepi daun. Data di analisis dengan menggunakan analisis cluster dengan jarak euclidean distance, single linkage. Teknologi budidaya dilakukan sesuai SOP anjuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ke 19 aksesi metha mempunyai karakter yang bervariasi terutama pada karakter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang primer, lebar daun dan panjang daun, sedangkan pada karakter bentuk ujung daun dan tepi daun tidak bervariasi. Tingkat keragaman plasma nutfah mentha yang ada di KP. Manoko sangat tinggi berkisar antara 78,82-98,59% yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok I dan kelompok II. Kelompok I terdiri dari Mentha piperita, M. arvensis, M. viridis, M. criepa, M. Canadensis dan Mentha sp, sedangkan pada kelompok II terdiri dari Mentha piperita dan M. arvensis. Pada kelompok I terdiri dari dua sub kelompok yaitu sub 1 dan sub 2. Sub 1 terbagi lagi menjadi sub-sub yang yang lebih kecil yang terdiri dari 5 aksesi yaitu (1) Piperits, (4) Piperita MA, (5) Piperita MI, (6) Piperita UKA dan (14) Javanica, sedangkan pada kelompok sub 2 terbagi lagi menjadi sub-sub 1 dan sub-sub 2 yang terdiri dari 12 aksesi yaitu (2) Piperita Manoko, (3) Piperita USA to, (8) Taiwan, (9) Akasaka, (10) Ryukuby, (11) Tempaku, (13) Ayanami, (15) Viridis, (16) Crispa, (17) Canadensis, (18) Herbamint, dan (19) Triplemint. Pada kelompok II terdiri dua nomor aksesi yaitu (7) Piperita NZ (Menthapiperita) dan (12) Jombang (Menthaarvensis). Kata kunci: Menthasp, spesies, keragaman morfologi, jarak genetik, aksesi
- ItemKeragaman Sumber Daya Genetik Tanaman Obat Tradisional Dayak Bahau, Benuaq dan Tunjung di Kabupaten Kutai Kertanegara Provinsi Kalimantan Timur 23-36(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Selly Salma, Noor Roufiq A, Nurbani dan Sri SudarwatiKelestarian sumber daya genetik (SDG) tumbuhan obat hutan tropika saat ini mengalami kerusakan karena efek dari eksploitasi kayu, perambahan, kebakaran dan konversi hutan Sumber daya genetik merupakan bahan dasar keragaman genetik, pengembangan varietas unggul dan obat tradisonal. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan SDG agar keberadaanya terus berkelanjutan. Penelitian bertujuan menginventarisasi dan mengkonservasi tumbuhan obat tradional untuk mendukung kelestarian sumber daya genetik tumbuhan obat di Kabupaten Kutai Barat. Inventarisasi dilaksanakan di empat Kecamatan yaitu: Laham (Dayak Bahau), Sekolah Joleq (Dayak Benuaq), Barongtongkok (Dayak Tunjung), dan Kecamatan Damai (Dayak Benuaq). Penelitian dilakukan melalui survei dan inventarisasi plasma nutfah tanaman obat pada lokasi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh 47 spesies tanaman obat tradisional yang dapat digunakan sebagai obat tradisional. Kata kunci: Sumber daya genetik, keragaman, tanaman obat
- ItemKinerja Perbenihan Tanaman Rempah, Obat dan Aromatik Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balittro 1-8(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Agus Wahyudi, Sukamto, Sri Wahyuni, Deliah Seswita dan SujiantoVarietas tanaman yang telah dilepas Balittro baik hasil penelitian sendiri maupun bekerja sama dengan instansi lain cukup banyak. Pada komoditas rempah jumlah varietas yang telah dilepas adalah delapan varietas lada, sepuluh varietas jambu mete, dua varietas vanili, empat varietas cengkeh, empat varietas pala. Pada tanaman aromatik telah dihasilkan empat varietas nilam, satu varietas seraiwangi, dua varietas seraiwangi, dua varietas akar wangi dan satu varietas mentha. Pada kelompok tanaman obat telah dilepas sebanyak dua puluh lima varietas tanaman. Benih dari varietas yang telah dilepas tersebut dikelola Unit Pengelola Benih Sumber Tanaman Rempah dan Obat Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat untuk menjaga ketersediaan benih sehingga peningkatan produksi dan mutu melalui varietas unggul berdampak lebih cepat kepada para pengguna. Produksi dan peredaran benih dari varietas tanaman rempah dan obat dalam jumlah yang besar hanya beberapa, diantaranya adalah komoditas jahe, nilam, lada dan seraiwangi. Kinerja produksi dan penyebaran benih tanaman tersebut selama dekade terakhir cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan harga produk komoditas di pasaran. Benih tanaman obat umumnya bukan true seed, sifat benih voluminous (berukuran besar), ukuran tidak seragam, kadar air tinggi sehingga tidak tahan simpan. Oleh karena itu benih tidak siap salur setiap waktu, ketersediaan benih sesuai musim panen. Kata kunci: Varietas, benih, produksi benih, penyebaran benih, UPBS TRO
- ItemPengaruh Jumlah Anakan dan Lama Penyimpanan terhadap Viabilitas Benih Akar Wangi (Vetiveria zizaniodes (Stapt)). 73-78(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Deliah Seswita dan SukarmanPengembangan akarwangi memerlukan ketersediaan benih unggul bermutu. Sampai saat ini informasi standar mutu benih akarwangi masih terbatas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah anakan benih dan lama penyimpanan terhadap viabialitas benih akarwangi sebagai dasar penyusunan Standard mutu benih. Penelitian dilakukan dirumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) sejak Januari sampai April 2015, menggunakan benih akarwangi varietas Verina 1 dari KP. Manoko. Percobaan faktorial dengan 2 faktor, 3 ulangan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor pertama adalah jumlah anakan benih yang digunakan untuk satuan tanam yaitu (1) A1 (satu anakan); (2) A2 (dua anakan) dan (3) A3 (tiga anakan). Faktor ke dua adalah periode penyimpanan yaitu (1) 0 hari; (2) 3 hari dan (3) 6 hari. Parameter yang diamati meliputi kadar air, daya tumbuh, pertambahan tinggi tanaman, bobot basah dan bobot kering. Hasil penelitian menunjukan daya tumbuh benih tidak berbeda antara perlakuan jumlah anakan maupun lama penyimpanan. Sampai 6 hari penyimpanan daya tumbuh benih yang berasal dari satu,dua dan tiga anakan masih lebih dari 90%. Akan tetapi, pertambahan tinggi tanaman, produksi biomas tertinggi diperoleh dari benih yang berasal dari tiga anakan dan terendah pada benih dengan satu anakan. Kata kunci: Vertiveria zizaniodes, viabilitas,jumlah anakan benih, lama penyimpanan
- ItemPengaruh Pemberian Urin Sapi Pada Pertumbuhan Benih Tanaman Kayumanis Ceylon (Cinnamomum zeylanicum Blume) 45-50(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Eliza Mayura, Yudarfis dan Herwita IdrisKayumanis Ceylon (Cinnamomum zeylanicum Blume.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri terutama dari daun dan kulit batangnya. Bibit mempunyai peranan penting dalam rangka pengembangan dan peningkatan produksi tanaman. Urin sapi merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang dapat dimanfaatkan untuk merangsang pertumbuhan bibit. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh urin sapi terhadap pertumbuhan bibit tanaman kayumanis. Percobaan dilakukan di pembibitan Kebun Percobaan Balittro Laing Solok Sumatera Barat sejak Maret sampai September 2014. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok diulang enam kali dengan empat perlakuan konsentrasi urin sapi yaitu (1) A0 = Kontrol/air biasa, (2) A1 = 25%, (3) A2 = 50%, (4) АЗ = 75%. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun lebar daun, jumlah akar dan panjang akar) serta biomass (bobot basah dan kering batang, daun dan akar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi zat pengatur tumbuh urin sapi 25% terbaik dalam memacu pertumbuhan vegetatif dan biomass tanaman. Kata kunci: Cinnamomum zeylanicum, zat pengatur tumbuh, urin sapi, bibit, pertumbuhan
- ItemPengaruh Sitokinin dan Auksin pada Perbanyakan Tanaman Pegagan (Centella asiatica L.) Secara In Vitro 9-14(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Suci Rahayu, Dede Nurul Iman, Tubagus Bahtiar Rusbana dan SusiyantiPegagan (Centella asiatica L.) merupakan salah satu tanaman obat yang sangat potensial untuk dikembangkan. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai kegunaan pegagan antara lain untuk penyembuhan luka, radang rematik, asma, wasir, tubercolosis, disentri, lepra, demam serta penambah selera makan. Beberapa tahun belakangan ini masyarakat dunia memberi perhatian lebih terhadap penggunaan produk-produk tanaman berbasis ecofriendly dan biofriendly untuk pencegahan dan pengobatan penyakit. Hai itu menyebabkan permintaan terhadap obat herba meningkat demikian juga terhadap tanaman pegagan. Akan tetapi eksploitasi di alam yang terus menerus dan tidak terorganisir menyebabkan banyak tanaman menjadi langka atau punah. Oleh karena itu diperlukan sebuah protokol untuk produksi tanaman pegagan secara in vitro. Perlakuan pada tahap inisiasi tunas adalah media dasar Murashige dan Skoog (MS) ditambah BAP atau Kinetin atau 2-iP (0; 0,5; 1; 2 dan 4 mg/l) atauTDZ (0; 0,05 dan 0,1 mg/l). Perlakuan pada tahap multiplikasi tunas adalah MS ditambah BAP (0; 0,5; 1; 2 dan 4 mg/l) baik secara tunggal maupun kombinasi dengan TDZ (0; 0,05 dan 0,1 mg/l). Perlakuan induksi perakaran adalah MS ditambah IBA atau NAA atau IAA (0; 0,5; 1; 1,5 dan 2 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media terbaik untuk inisiasi tunas adalah BAP 1 mg/I (5,2 tunas). Media terbaik untuk multiplikasi tunas adalah kombinasi BAP 1 mg/I + TDZ 0.05 mg/I (6,2 tunas). Media terbaik untuk induksi perakaran adalah IBA 1 mg/l (5,25 akar/tunas). Pada tahap aklimatisasi di rumah kaca sebanyak 75% planlet pegagan dapat bertahan hidup pada media tanah: pupuk kandang (1:1). Kata kunci: Centella asiatica, perbanyakan, in vitro, sitokinin
- ItemPengelolaan Benih Rekalsitrant Tanaman Perkebunan 37-44(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Sukarman dan MelatiBenih rekalsitran meliputi sebagian besar benih tanaman perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis sangat penting. Daya simpan relatif singkat, dari beberapa hari sampai beberapa minggu. Berbeda dengan benih orthodok yang mempunyai daya simpan sampai beberapa tahun. Benih rekalsitran juga peka terhadap penurunan kadar air dan suhu penyimpanan yang rendah (dibawah 10 °C). Oleh karena itu benih harus dikelola sebaik mungkin agar viabilitas dan vigornya tidak cepat menurun. Dalam makalah ini akan ditelaah cara pengelolaan benih rekalsitran khususnya benih tanaman perkebunan (kakao, karet, kopi, pala dan cengkeh) untuk mempertahankan viabilitas dan vigor benih yang diawali dari panen, prosesing (ekstrasi buah), pengeringan, penyimpanan, invigorasi, pemanfaatan zat pengatur tumbuh (ZPT) dan cara pengelolaan benih rekalsitran untuk menigkatkan viabilitas dan vigor benih. Secara umum benih harus segera dipanen setelah benih mencapai masak fisiologis, diproses dan dikeringkan dengan kadar air benih tidak lebih rendah dari 30% tergantung spesiesnya. Benih disimpan pada suhu tidak lebih rendah dari 15 °C, dengan kelembaban (Rh 80%). Perlakuan benih dengan skarifikasi, pemberian GA3, KNO3 pada dosis yang tepat dapat meningkatkan viabilitas benih. Sebaliknya, penggunaan paclobutrazol dapat menghambat laju pertumbuhan benih semai yang cepat pertumbuhannya sehingga dapat memperpanjang daya simpan benih semai. Kata kunci: Benih, rekalsitran, pengelolaan, viabilitas, vigor
- ItemPeranan Media Tumbuh untuk Meningkatkan Vigor Benih Tanaman Rempah dan Obat 65-72(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Melati dan SukarmanMedia tumbuh untuk perkecambahan benih masih kurang mendapat perhatian selama ini, padahal sangat berperan dalam peningkatan vigor benih. Secara umum media tumbuh perkecambahan benih yang baik adalah media yang mampu menyediakan air dan unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan benih, Makalah ini akan menelaah peranan media perkecambahan benih/pembibitan untuk meningkatkan vigor benih secara umum, khususnya pada beberapa tanaman rempah dan obat. Perbaikan media pembibitan melalui modifikasi porositas media dan pengkayaan unsur hara. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menginformasikan media perkecambahan benih yang baik untuk meningkatkan vigor benih. Perkecambahan benih pala dengan menggunakan media tanam tanah: pupuk kandang: pasir (3:2:1) mempunyai vigor yang terbaik dengan viabilitas potensial tinggi. Benih coklat (Theoboromо саcаo) уang dikecambahkan pada media pasir dan vermikompos (2:1) memberikan hasil vigor yang tinggi dengan lingkaran akar yang besar setelah 5 BST, mempunyai biomas tunas dan akar yang tinggi. Secara umum porositas media harus disesuaikan dengan jenis tanaman (sedikit atau banyak menyerap air), sehingga tidak akan terjadi kelebihan atau kekurangan air. Penambahan pupuk organik, anorganik dalam media, serta pemanfaatan vermikompos sebagai media tumbuh dapat meningkatkan vigor benih. Kata kunci: vigor benih, media tumbuh, tanaman rempah dan obat
- ItemPerbanyakan Benih Tanaman Obat Bidara Upas (Merremia mammosa) 87-92(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Tias Arlianti dan Sitti Fatimah SyahidTanaman bidara upas merupakan salah satu jenis tanaman obat yang dikategorikan sebagai obat langka. Bidara upas memiliki banyak khasiat diantaranya sebagai immunomodulator, antikanker, obat demam dan anti radang. Upaya penyediaan benih untuk mendukung perbanyakan tanaman diperlukan karena keberadaan jenis ini sudah mulai sulit ditemukan. Bidara upas dapat diperbanyak secara konvensional dengan menggunakan umbi dan setek batang, sedangkan secara kultur jaringan menggunakan tunas aksilar. Perbanyakan dengan umbi merupakan cara terbaik dibandingkan dengan setek maupun kultur jaringan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengoptimalkan perbanyakan dengan setek dan kultur jaringan. Kata kunci: Merremia mammosa, perbanyakan benih, setek, umbi, kultur jaringan
- ItemPerbanyakan Jambu Mete (Anacardium occidentale) Melalui Kultur Jaringan untuk Produksi Benih Masal 59-64(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Nurya Yuniyati dan Rr Sri HartatiJambu mete merupakan tanaman tahunan berkayu yang baru mulai dikembangkan produksi perbanyakannya melalui kultur jaringan. Selama ini perbanyakan secara vegetatif umumnya dilakukan melalui grafting. Keterbatasan tanaman induk menjadi kendala pada perbanyakan konvensional tersebut. Ketersediaan bibit dalam jumlah yang banyak diharapkan dapat terwujud dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan memiliki kelebihan dibandingkan perbanyakan tanaman secara vegetatif konvensional maupun secara generatif. Kelebihan tersebut antara lain tidak tergantung musim, hanya dibutuhkan bagian kecil dari tanaman dan benih yang dihasilkannya lebih seragam dan sifatnya sama dengan induknya. Beberapa penelitian kultur jaringan pada jambu mete di berbagai belahan dunia masih giat dilakukan. Bahan tanaman yang digunakan antara lain eksplan yang berasal dari mahkota bunga, daun, nuselus dan zigotik muda jambu mete. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak seluruh sumber eksplan mampu menunjukkan respon pada media tanam kultur jaringan meskipun telah ditambahkan dengan berbagai kombinasi zat pengatur tumbuh (ZPT). Eksplan yang berasal dari nuselus lebih respon dalam pembentukan kalus embriogenik sehingga diharapkan mampu membentuk embrio somatik. Saat ini kultur jaringan diarahkan pada pembentukan embriogenesis somatik yang mampu menghasilkan individu tanaman dengan perakaran tunggang (ketahanan rebah) dan sifat yang sama dengan induknya. Media terbaik yang digunakan sebagai media induksi kalus embriogenik maupun pembentukan embrio somatik diperoleh melalui banyak penelitian pada berbagai formulasi media dengan penambahan ZPT (umumnya 2,4-D dan BA). Selanjutnya untuk tahap pendewasaan struktur embrio somatik dan pemanjangan tunas struktur bipolar diformulasikan media kultur yang berbeda. Setelah tunas terbentuk sempurna dilakukan induksi dan pemanjangan akar lalu aklimatisasi planlet (benih somatik). Kata kunci: Anacardium occidentole, perbanyakan vegetatif, eksplan, kultur jaringan
- ItemPerkecambahan Benih sebagai Suatu Sistem 109-116(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) MelatiProses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Proses perkecambahan dapat dianggap sebagai suatu sistem. Untuk mempermudah mempelajari sistem tersebut dapat dilakukan melalui aliran proses perkecambahan yang akhirnya membentuk suatu model perkecambahan. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkecambahan benih saling berhubungan satu sama lain, baik itu faktor dalam maupun faktor luar. Model perkecambahan dapat diduga melalui tingkat kemasakan benih, ukuran benih, air, suhu, O2 dan cahaya. Tulisan ini menguraikan perkecambahan benih sebagai suatu sistem yang saling terkait dan membuat model perkecambahan benih berdasarkan bobot benih dan kaitannya dengan viabilitas dan vigor benih. Berdasarkan studi kasus pada benih tanaman jarak didapatkan adanya hubungan yang erat dan bersifat positif antara bobot biji jarak dengan tinggi kecambah, daya berkecambah, indeks vigor dan bobot segar kecambah. Terdapat hubungan erat satu sama lain yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu sistem. Semakin berat bobot biji Jarak, maka semakin semakin tinggi viabilitas dan vigor benih. Kata kunci: Sistem, faktor dalam, faktor luar, model perkecambahan, bobot benih
- ItemStandar Mutu Benih Tanaman Rempah dan Obat 15-22(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Sri Wahyuni dan Endang HadipoentyantiMutu benih adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh benih, yang menunjukkan kemampuan untuk memenuhi standar yang ditentukan. Mutu benih meliputi karakter benih yang ditunjukkan secara individual atau kelompok. Kualitas atau mutu benih meliputi mutu fisik, mutu fisiologis, dan mutu genetik. Jaminan mutu dan pengendalian peredaran benih dilakukan melalui skema sertifikasi. Sebagai dasar dalam pengendalian/pengawasan peredaran benih diperlukan Standar mutu benih. Mutu benih tanaman rempah dan obat baru sedikit yang telah dibakukan standar mutunya. Standar mutu benih diperlukan sebagai dasar dalam produksi, pengendalian/pengawasan peredaran benih. Standar mutu benih tanaman rempah dan obat yang telah dibakukan dan diterbitkan SNInya baru lima tanaman yaitu jahe, panili, seraiwangi, jambu mete dan lada. Pengembangan standar mutu benih merupakan tanggung jawab instansi terkait yang mempunyai mandat komoditas. Perlu mulai disiapkan standar mutu benih komoditas tanaman rempah dan obat (TRO) lainnya yang dapat digunakan sebagai acuan oleh pelaku perbenihan TRO. Kompilasi standar mutu benih dapat diterbitkan dalam bentuk terbitan intern sebagai pegangan UPBS dalam produksi dan pengelolaan benih. Kata kunci: benih, standar mutu, tanaman, rempah, obat