Program Sawit untuk Rakyat (Prowitra) Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas, Pemberdayaan, Keberlanjutan, dan Kesejahteraan Pekebun Kelapa Sawit Rakyat
Loading...
Date
2015-11-10
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
IAARD Press
Abstract
Perkembangan kelapa sawit rakyat di Indonesia berkembang begitu cepat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perkembangan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas. Produktivitas perkebunan sawit Indonesia hanya mencapai 3,19 ton/ha dari potensinya yang mencapai 8−9 ton/ha. Pusat Penelitian Kelapa Sawit sebagai pusat unggulan iptek melakukan Program Sawit Rakyat (Prowitra) dalam upaya peningkatan produktivitas, pemberdayaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekebun kelapa sawit. Kegiatan Prowitra telah
dilakukan di sembilan provinsi di Sumatera. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kondisi perkebunan rakyat dan kendala pekebun rakyat mencapai produktivitas kelapa sawit, serta peranan Prowitra dalam membantu upaya peningkatan produktivitas, pemberdayaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan perkebunan rakyat. Metode yang digunakan adalah participatory rural appraisal (PRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa terdapat empat permasalahan utama pada perkebunan rakyat, yaitu penggunaan
benih palsu, kurangnya penerapan best management practice (BMP), lemahnya kelembagaan perkebunan rakyat, dan terhambatnya replanting. Untuk itu, Prowitra melakukan empat program kegiatan, yaitu sosialisasi dan peningkatan akses benih unggul, penerapan BMP secara terpadu dan berkelanjutan, penguatan kelembagaan, dan pembinaan replanting. Kunci sukses pelaksanaan Prowitra adalah mengetahui apa yang menjadi permasalahan dan kebutuhan pekebun rakyat. Di samping itu, peran penguatan kelembagaan
perkebunan rakyat sangat berperan penting dalam pengefektifan diseminasi teknologi, pemberdayaan pekebun, serta peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekebun rakyat.
Description
Kelapa sawit merupakan komoditas pertanian strategis yang menjadi salah satu pilar bagi perekonomian Indonesia. Komoditas ini memberikan sumber pendapatan yang sangat besar bagi pendapatan negara melalui ekspor dan pajak serta berperan penting dalam menyumbang produk domestik bruto Indonesia. Industri kelapa sawit berperan sebagai sumber bahan baku bagi berbagai macam industri, baik pangan, consumer goods, oleokimia, maupun bioenergi. Di samping itu, subsektor ini sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja, membuka kesempatan berusaha, serta pengembangan wilayah di berbagai daerah melalui multiplier effect yang berdampak pada peningkatan dan pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah pengembangan kelapa sawit (Agustira et al. 2008)
Pada awalnya kelapa sawit hanya diusahakan oleh perkebunan besar, baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun oleh perusahaan swasta. Salah satu penyebabnya adalah membangun perkebunan kelapa sawit membutuhkan modal yang cukup besar yang hanya bisa dilakukan perusahaan (Koentjaraningrat 1997). Cikal bakal perkebunan rakyat dimulai pada tahun 1977 di mana dibentuk Pola Inti Plasma (PIR). Pola PIR ini berkembang dalam berbagai pola meliputi PIR-lokal, PIR-khusus, PIR-trans yang dananya bersumber dari pinjaman luar negeri maupun pemerintah melalui Departemen Pertanian. Konsepsi pola PIR tersebut merupakan pengembangan perkebunan rakyat di mana perkebunan besar sebagai inti, yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat sekitarnya sebagai plasma dalam satu sistem kemitraan yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan (Badrun 2010). Konsepsi PIR terus berkembang dengan berbagai pola kemitraan termasuk pola KKPA dan revitalisasi (Anwar dan Herwani 2010)
Keywords
E Economics, development, and rural sociology/Ekonomi, Pembangunan dan Sosiologi Pedesaan::E20 Organization, administration and management of agricultural enterprise or farms// Organisasi, Administrasi dan Pengelolaan Perusahaan Pertanian/Usaha tani, Q Food science/Ilmu Pangan::Q80 Packaging/Pengepakan Produk Industri Hasil Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kehutanan