BAYAM SEBAGAI TANAMAN OВАТ : Warta Balittro No. 36 dan 37 Tahun 1996
No Thumbnail Available
Date
1996-01-01
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Abstract
Anda tentulah sudah mengenal bayam sebagai tanaman sayuran. Dari kecil kita semua sudah menyantap sayur bening bayam, pecel, atau tumis bayam. Tetapi tak banyak yang tahu, bahwa bayam bukanlah sekadar sayur sebagai unsur pemenuh gizi empat sehat lima sempurna. Beberapa penelitian menunjukkan, bayam ternyata juga berfungsi sebagai obat. Dengan fungsinya yang meluas sementara pembudidayaannya amat sederhana, membuat bayam amat cocok sebagai tanaman rakyat. Tanaman yang satu ini, memang cocok ditanam di dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Waktu tanamnya pun relatif singkat, sekitar satu bulan, sementara pengelolaannya tidaklah rumit. Ibaratnya hanya bermodal pot dan benih (terutama untuk yang berlahan sempit), seluruh keluarga bisa ikut menikmati hasilnya. Bayam di Indonesia ada bermacam-macam. Di antaranya yang banyak dimanfaatkan adalah Amaranthus craentus, A hypochondricus, A caudatus, dan A spinosis. Bayam-bayam tu kandungan gizinya cukup tinggi dan menjadi sumber protein nabati yang sangat diperlukan tubuh. Menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, dalam setiap 100 (seratus) gram bahan didapatkan vitamin A 6,09 SI (satuan standar internasional), vitamin B1 0,10 mg dan vitamin C 80 mg. Selain itu juga tercatat kalori 86,9 gram, mineral kalsium 267,0 mg, fosfor 66,8 mg, lemak 0,5 gram, zat besi 3,9 mg, karbohidrat 6,5 gram, dan protein 3,5 gram. Tentang bayam sebagai tanaman obat itu sendiri, merupakan hasil penelitian yang dilaku-kan oleh Guzman Ladion dari Sanitarium & Hosfital di Manila bekerjasama dengan Physical Therapy Departement Filipina. Penelitian ini berhasil membuktikan manfaat bayam sebagai tanaman obat.