Keberlanjutan Sistem Intensifikasi Padi di Indonesia Ditinjau Dari Indikator Hayati Studi Kasus di Jawa Barat dan Bali
No Thumbnail Available
Date
2010-11-10
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Abstract
Abstract (Bhs. Inggris)
Sustainability of System of Rice Intensification in Indonesia as Considered through Biological Indicator: A Case Study in West Java and Bali, Green Revolution has been practiced in Indonesia as Indonesian's System of Rice Intensification. The rice intensification itself has been initiated since the launch of mass guidance (BIMAS) program. Recently, the BIMAS was improved and renamed as National Rice Improvement Program (P2BN). Through such program the country was successfully attained the rice self sufficiency state in 1984 and 2008. In order to evaluate sustainability of rice intensification in Indonesia, survey was conducted in Tabanan and Badung Districts of Bali Province and in Karawang and Cianjur Districts of West Java Province. During the surveys in these two provinces, four indicators were observed, i.e.: (1) chemical input, (2) soil, (3) biological diversity, and (4) agricultural waste water. Sustainability of rice intensification was evaluated on the combination of sustainability-value of these four indicators. Results of these surveys indicated that rice intensification in Tabanan was classified as sustainable enough, in Cianjur was less sustainable, while in both Badung and Karawang were not sustainable. These results indicated that rice intensification practices in Tabanan shoud be maintained and while those in the other three districts, i.e. Badung, Cianjur, and Karawang, to prevent further environmental deterioration, the rice intensification should be improved.
Abstrak
Sistem intesifikasi padi (SIP) yang dimulai dari BIMAS sampai dengan P2BN yang merupakan adaptasi dari Revolusi Hijau telah berhasil mengantarkan Indonesia mencapai swasembada beras pada tahun 1984 dan tahun 2008. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan, membawa perhatian pada keberlanjutan sistem intensifiaksi padi. Untuk mengetahui keberlanjutan sistem intensifikasi padi diteliti indikator faktor produksi-input dan biologi serta indikator faktor yang terkait dengan faktor hayati. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Tabanan dan Badung, Provinsi Bali serta di Kabupaten Karawang dan Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Indikator yang diamati meliputi: (1) input kimiawi, (2) tanah, (3) keragaman hayati, dan (4) air limbah pertanian. Keberlanjűtan sistem intensifikasi ditentukan dari gabungan nilai keberlajutan dari keempat indikator tersebut. Dilihat dari nilai keberlanjutan hanya di Tabanan yang masuk kategori cukup terlanjutkan, sedangkan di Cianjur termasuk kurang terlanjutkan, dan di Karawang dan Badung sudah termasuk kategori tidak terlanjutkan. Implikasinya adalah pengelolaan di Tabanan perlu dipertahankan dan di tiga kabupaten lainnya perlu ditingkatkan supaya keragaman hayati tidak terganggu dan intensifikasi padi terlanjutkan.
Description
16 p.; tab.