Buletin Palawija
Permanent URI for this collection
Browse
Browsing Buletin Palawija by Subject "A Agriculture/Pertanian::A50 Agricultural research/Penelitian Pertanian"
Now showing 1 - 20 of 59
Results Per Page
Sort Options
- ItemAdaptasi Beberapa Varietas Kedelai di Bawah Tegakan Tanaman Sawit Muda(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021-10) Zainudin Et al.Kedelai merupakan salah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman sela pada perkebunan tanaman kelapa sawit muda. Namun, rendahnya intensitas cahaya akibat naungan sering menjadi kendala untuk mencapai hasil tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui varietas kedelai yang toleran dan memiliki daya hasil tinggi ketika dibudidayakan di bawah naungan tegakan tanaman sawit muda (umur ± 2,5 tahun). Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2020 di Desa Petaling, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka menggunakan rancangan petak terpisah, tiga ulangan. Petak utama adalah kondisi lahan ternaungi dan tidak ternaungi. Anak petak terdiri atas lima varietas kedelai yaitu: Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Burangrang, dan Demas 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat naungan ±38%, varietas Demas 1 dan Anjasmoro lebih toleran dibandingkan varietas Argomulyo, Burangrang dan Grobongan. Varietas kedelai toleran terhadap naungan menghasilkan jumlah polong, jumlah biji, dan bobot biji per tanaman lebih tinggi dibandingkan varietas yang tidak toleran naungan.
- ItemBeauveria Bassiana Biopestisida Ramah Lingkungan dan Efektif untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021-05) Marida Santi Yudha Ika Bayu; Yusmani Prayogo; Sri Wahyuni IndiatiBeauveria bassiana merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang termasuk dalam divisi Ascomycota, kelas Sordariomycetes, ordo Hypocreales dan famili Clavicipitaceae. B. bassiana dapat membunuh seluruh stadia serangga pada berbagai jenis hama tanaman dari ordo Homoptera, Hemiptera, Coleoptera, Lepidoptera, Orthoptera, Isoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Efikasi B. bassiana dipengaruhi oleh berbagai jenis enzim yang dihasilkan yaitu: kitinase, protease, amilase, dan lipase yang berfungsi sebagai pendegradasi lapisan integumen serangga. Efikasi cendawan juga dipengaruhi oleh produksi toksin yang terdiri dari beauvericin, bassianin, bassiacridin, beauvericin, bassianolide, cyclosporine, oosporein, dan tenellin yang dapat mengganggu sistem syaraf dan membunuh serangga sasaran. Keunggulan B. bassiana bersifat ovisidal yang dapat menggagalkan penetasan telur selain membunuh stadia nimfa/larva maupun imago, sehingga dapat menekan perkembangan populasi dan menghambat terjadinya peledakan hama. Kelebihan lain B. Bassiana, yaitu bersifat endofit yang dapat menghambat perkembangan patogen tular tanah maupun penyakit karat daun (Phakospsora pachyrhizi), embun tepung (Microsphaera diffusa), dan embun bulu (Peronospora mansyurica). Cendawan B. Bassiana juga bersifat ramah lingkungan sehingga aman terhadap kelangsungan hidup musuh alami dan hewan ternak serta tidak mencemari sumber air maupun lingkungan. Aplikasi B. bassiana dapat menekan terjadinya resistensi maupun resurjensi. Waktu aplikasi B. bassiana dianjurkan pada sore hari dengan frekuensi aplikasi tiga kali. Cendawan B. bassiana prospektif untuk digunakan sebagai biopestisida dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, ramah lingkungan, serta dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pestisida sintetik.
- ItemBudidaya Kacang Tanah(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2015) Agustina Asri Rahmianna; Herdina Pratiwi; Didik HarnowoMembahas strategi peningkatan produktivitas kacang tanah di Indonesia yang masih tergolong rendah di tingkat nasional melalui penerapan pengelolaan tanaman terpadu dan perakitan paket teknologi budidaya spesifik agroekologi. Produktivitas tanaman sangat dipengaruhi oleh interaksi antara faktor lingkungan fisik (seperti jenis tanah, kisaran suhu optimum $27\text{--}30^\circ\text{C}$, radiasi matahari, dan penyebaran curah hujan) dengan komponen teknis seperti penyiapan lahan, waktu dan jarak tanam, pemupukan berimbang, manajemen irigasi pada fase kritis, serta pengendalian hama, penyakit, dan gulma. Selain itu, dokumen ini merinci berbagai formula paket teknologi yang disesuaikan dengan karakteristik khas dari enam lingkungan agroekologi utama—termasuk lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, lahan kering iklim basah ber-pH masam, lahan kering iklim kering, hingga lahan pasang surut—guna mengoptimalkan potensi hasil, menekan hambatan biotik/abiotik, dan meningkatkan pendapatan petani.
- ItemBuletin Palawija Volume 16 No. 2 Mei 2018(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2018-05) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiPlasma nutfah merupakan sumber gen yang digunakan dalam perakitan varietas, sehingga informasi dari aksesi plasma nutfah mengenai keragaan, keragaman, daya pewarisan, dan kemajuan genetik harapan, serta toleransinya terhadap serangan hama dan penyakit perlu tersedia untuk merakit varietas baru. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaan karakter agronomi dan parameter genetik aksesi ubi jalar (Ipomoea batatas L.) serta toleransinya terhadap hama boleng (Cylas formicarius) ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Muneng pada Mei–September 2014 menggunakan rancangan acak kelompok tiga ulangan dengan 75 aksesi ubi jalar koleksi Balitkabi dari berbagai daerah di Indonesia. Hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan genotipe yang sangat nyata pada semua karakter yang diamati, dengan aksesi MLGI 0247 menunjukkan bobot umbi per plot tertinggi sedangkan aksesi MLGI 0175 menunjukkan nilai terendah. Dari 75 aksesi yang diuji, terdapat perbedaan ketahanan terhadap hama boleng, yaitu satu aksesi ketahanan tinggi (HR), 19 aksesi ketahanan menengah (MR), 41 aksesi ketahanan rendah (LR), tujuh aksesi rentan (S), dan tujuh aksesi ekstrim rentan (ES), di mana empat aksesi (MLGI 0257, MLGI 0035, MLGI 0226, MLGI 0281) menunjukkan potensi hasil cukup tinggi dengan ketahanan kategori LR. Karakter diameter sulur, bobot tajuk, bobot umbi/plot, kadar bahan kering umbi, dan intensitas kerusakan umbi memiliki keragaman genetik yang luas, sedangkan panjang sulur, luas daun, indeks panen, jumlah umbi/plot, dan persen umbi boleng memiliki keragaman genetik yang sempit. Indeks panen dan bobot umbi/plot memiliki nilai keragaman genetik luas, heritabilitas, dan kemajuan genetik harapan yang tinggi, sehingga karakter tersebut berguna sebagai kriteria seleksi dan berpotensi memberikan respon positif dalam perbaikan hasil ubi jalar.
- ItemBuletin Palawija Volume 17 No. 1 Mei 2019(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019-05) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiVarietas kedelai toleran cekaman salinitas merupakan komponen utama budi daya kedelai pada tanah salin. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi toleransi 202 aksesi sumber daya genetik kedelai koleksi Balitkabi terhadap cekaman salinitas ini dilaksanakan di lahan salin Desa Lohgung, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan pada Juli–Oktober 2017. Evaluasi dilakukan pada dua lingkungan salinitas tanah, yaitu DHL 4,7–8,4 dS/m (L1) dan 8,8–15,4 dS/m (L2), di mana setiap aksesi ditanam dalam baris tunggal sepanjang 4 m dengan jarak antarbaris 30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan salinitas dari L1 ke L2 hanya menyebabkan 2–4 aksesi mengalami penurunan tinggi tanaman, populasi tanaman, dan bobot 100 biji ≥50%, sedangkan untuk peubah jumlah polong isi dan hasil biji berturut-turut dialami oleh 76 dan 64 aksesi. Hal ini mengindikasikan bahwa peubah jumlah polong isi dan hasil biji lebih sesuai digunakan sebagai indikator penilaian toleransi terhadap cekaman salinitas. Tingkat toleransi aksesi yang diuji terbukti beragam: sebanyak 52% aksesi teridentifikasi tidak toleran, 36% aksesi toleran salinitas L1 dengan hasil 1,5–3,0 t/ha, dan 13% aksesi toleran salinitas L2 dengan hasil 1,5–1,8 t/ha (kecuali satu aksesi yang mencapai 2,3 t/ha). Berdasarkan kenampakan gejala keracunan salin, sebagian besar aksesi yang tidak toleran tergolong ke dalam kelompok inkluder dan hanya sebagian kecil yang tergolong eksluder.
- ItemBuletin Palawija Volume 17 No. 2 Oktober 2019(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019-10) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiBerbagai penelitian dalam Buletin Palawija Volume 17 Nomor 2 Tahun 2019 membahas peningkatan produktivitas, pengelolaan hama dan gulma, keamanan pangan, pengelolaan pola tanam, serta pemanfaatan keragaman genetik tanaman palawija. Pada kedelai di lahan pasang surut Kalimantan Selatan, ditemukan beberapa hama utama seperti Spodoptera litura, Piezodorus hybneri, Riptortus linearis, Nezara viridula, dan Etiella zinckenella serta musuh alami yang perlu dipertimbangkan dalam pengendalian hama terpadu. Pada pertanaman kedelai setelah padi, gulma utama dapat dikendalikan secara efektif menggunakan herbisida oxyfluorfen yang mampu meningkatkan hasil dan menghemat tenaga kerja dibandingkan penyiangan manual. Pada kacang tanah, berbagai metode pengolahan memengaruhi kandungan protein, lemak, dan aflatoksin; sebagian besar produk olahan memiliki kandungan aflatoksin di bawah batas aman. Pengelolaan pola tanam berbasis kedelai dan jagung di lahan kering melalui pola monokultur, tumpangsari, dan tanam bersisipan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan usahatani, dengan hasil terbaik berbeda menurut lokasi. Penelitian keragaman genetik ubi jalar ungu menunjukkan adanya perbedaan keragaman berdasarkan karakter agronomi dan morfologi serta keragaman karakter agronomi yang cenderung luas. Sementara itu, evaluasi genotipe kacang tanah menunjukkan bahwa Mutan 6 dan BM/IC//IC-172-1 memiliki potensi hasil tinggi dan daya adaptasi baik, sedangkan BM/IC-154-2 dan BM/IC//IC-172-1 menunjukkan ketahanan relatif lebih baik terhadap penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan pentingnya penerapan teknologi budidaya spesifik lokasi, pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu, pemilihan pola tanam dan genotipe yang adaptif, serta pengolahan hasil yang tepat untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, pendapatan, dan keamanan pangan komoditas palawija.
- ItemBuletin Palawija Volume 18 No. 1 Mei 2020(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiMemuat enam penelitian mengenai pengembangan dan peningkatan produktivitas tanaman aneka kacang dan umbi. Penelitian pada kedelai menunjukkan bahwa genotipe G511H/Anjs-4 memiliki ketahanan yang konsisten terhadap pecah polong, berumur genjah, berbiji besar, dan menghasilkan 3,08 t/ha sehingga berpotensi digunakan dalam peningkatan produksi kedelai di daerah tropis. Pada lahan pasang surut Barito Kuala, penerapan teknologi budi daya konvensional dan teknologi perbaikan mampu meningkatkan produktivitas kedelai masing-masing sekitar 60% dan 50% dibandingkan teknologi petani, dengan varietas Anjasmoro lebih sesuai, sedangkan teknologi perbaikan lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida kimia. Penelitian tumpangsari menunjukkan bahwa model optimal padi gogo+kedelai adalah Model 1 dan Model 2 menggunakan varietas Dega 1, sedangkan pada tumpangsari jagung+kedelai model optimal adalah Model 1 dengan varietas Dega 1, yang memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan model lainnya. Penelitian kacang hijau di Sumba Timur menunjukkan bahwa komoditas tersebut berpotensi dikembangkan karena didukung kesesuaian lahan, teknologi budi daya, harga dan permintaan pasar yang tinggi, meskipun masih menghadapi kendala berupa produktivitas rendah, keterbatasan modal dan tenaga kerja, infrastruktur, hama, serta persaingan dengan tanaman lain; strategi yang disarankan adalah peningkatan produktivitas melalui penggunaan teknologi baru dan pengembangan kawasan usaha tani berbasis korporasi. Pada ubi kayu di tanah Latosol Maluku Utara, pemberian NPK dosis rekomendasi belum mampu meningkatkan produktivitas varietas yang diuji, sementara varietas lokal Mentega dan Ubi Kuning tanpa pemupukan justru menghasilkan umbi masing-masing 63,80 t/ha dan 53,71 t/ha, sedangkan Adira 1 menghasilkan 31,16 t/ha tanpa pemupukan. Sementara itu, penelitian preferensi dan penyebaran varietas unggul ubi kayu di Indonesia menemukan adanya perbedaan preferensi dan tingkat adopsi petani antarwilayah; kontribusi ekonomi varietas unggul tergolong tinggi di Lampung, sedang di Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta rendah di Yogyakarta karena keterbatasan luas penyebaran, sehingga diperlukan peningkatan diseminasi dan sosialisasi varietas unggul kepada petani, kelompok tani, penyuluh, dan dinas pertanian.
- ItemBuletin Palawija Volume 19 No. 1 Mei 2021(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021-05) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiVarietas toleran salinitas adalah kunci utama pengembangan kacang tanah di tanah salin, namun sampai saat ini belum ada perakitan varietas kacang tanah di Indonesia dengan spesifikasi toleran terhadap salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toleransi 25 aksesi kacang tanah koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi terhadap cekaman salinitas untuk menyediakan sumber gen persilangan tahan salinitas. Aksesi kacang tanah ditanam pada tiga level salinitas yaitu non salin, sedang (5-6 dS/m), dan tinggi (8-10 dS/m). Parameter yang diamati meliputi skor keracunan, kadar K dan Na pada akar dan tajuk, hasil polong dan biji, dan indeks toleransi cekaman (ITC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua aksesi teridentifikasi peka pada salinitas tinggi. Salinitas sedang merupakan level salinitas tertinggi yang masih dapat ditoleransi oleh 23 aksesi kacang tanah. Pada tingkat salinitas sedang, empat aksesi kacang tanah (MLGA 0211, MLGA 0222, MLGA 0546, MLGA 0570) teridentifikasi toleran, dua aksesi (MLGA 0473 dan MLGA 0605) peka, dan 19 aksesi lainnya tergolong sedang. Toleransi terhadap salinitas berhubungan dengan kemampuan aksesi untuk membatasi serapan Na dan translokasinya ke tajuk sehingga rasio K/Na di tajuk tetap tinggi dan dapat meningkatkan proses fotosintesis tanaman. Rasio Na-akar/Na-tajuk sama efektifnya dengan indikator rasio K/Na tajuk, oleh karena itu dapat dijadikan kriteria baru dalam seleksi toleransi kacang tanah terhadap cekaman salinitas. Aksesi yang toleran berdasarkan kemampuan untuk membentuk polong dan biji serta kemampuan menahan efek salinitas dapat dimanfaatkan dan diintegrasikan dalam pemuliaan kacang tanah untuk toleransi salinitas.
- ItemBuletin Palawija Volume 19 No. 2 Oktober 2021(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021-10) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
- ItemBuletin Palawija Volume 20 No. 1 Mei 2022(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-05) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiMemuat hasil penelitian dan kajian mengenai pengembangan komoditas palawija, meliputi pemuliaan kacang tanah dengan kandungan asam oleat tinggi, respons dan pemuliaan kedelai terhadap cekaman salinitas serta kekeringan, identifikasi penyebab penyakit busuk pangkal batang dan umbi porang, respons kacang nasi terhadap salinitas pada fase perkecambahan, serta teknik matriconditioning dan aplikasi pupuk hayati untuk meningkatkan mutu benih dan hasil biji kedelai. Secara umum, berbagai kajian tersebut menunjukkan pentingnya pemanfaatan teknologi pemuliaan, pengelolaan cekaman lingkungan, pengendalian penyakit, serta teknologi perbenihan dalam meningkatkan produktivitas, kualitas, dan daya adaptasi tanaman palawija. Hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan komoditas palawija dan penerapan teknologi pertanian di Indonesia.
- ItemBuletin Palawija Volume 20 No. 2 Oktober 2022(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-10) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi isolat lokal cendawan entomopatogen di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, sebagai calon agens hayati/biopestisida potensial untuk pengendalian hama tanaman. Eksplorasi dilakukan dari sampel tanah rizosfer tanaman pisang pada enam lokasi menggunakan metode perangkap serangga (insect baiting) dengan larva Tenebrio molitor instar V, kemudian dilanjutkan dengan uji patogenisitas serta identifikasi karakter morfologi makroskopis dan mikroskopis. Hasil identifikasi menemukan dua jenis cendawan entomopatogen, yaitu Beauveria bassiana (diperoleh dari Pitu Riawa) dan lima isolat Metarhizium anisopliae (diperoleh dari Marittengae, Panca Rijang, serta Pitu Riase I, II, dan III). Seluruh isolat lokal yang diperoleh mampu menyebabkan mortalitas larva uji T. molitor relatif tinggi berkisar antara 80–100% dengan indeks kecepatan kematian (masa inkubasi) 5–9 hari. Di antara seluruh isolat, M. anisopliae asal Marittengae menunjukkan tingkat virulensi dan kemampuan epizootik paling unggul karena mampu membunuh 100% larva T. molitor hanya dalam waktu lima hari. Dengan demikian, seluruh isolat lokal tersebut—khususnya M. anisopliae dari Marittengae—memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agens hayati biopestisida ramah lingkungan dalam strategi pengelolaan hama terpadu.
- ItemBuletin Palawija Volume 21 No. 1 Mei 2023(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2023-05) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan UmbiMemuat berbagai kajian ilmiah di bidang pertanian, yang mencakup tinjauan mengenai faktor ekstrinsik penentu pertumbuhan populasi hama Tetranychus urticae pada tanaman aneka kacang, karakterisasi keragaman agronomi plasma nutfah kacang gude, peningkatan produksi kedelai melalui sistem wanatani berbasis jati menggunakan varietas unggul baru dan perbaikan budidaya, sistem agroekonomi komoditas porang, pengaruh pupuk organik cair limbah kulit ari kedelai dan Rhizobium terhadap pertumbuhan kedelai, serta analisis faktor penyebab dan metode pematahan dormansi benih kacang bambara.
- ItemChemical and Physical Characteristics of Twenty One Sweet Potato Genotypes Collected from Malaysia(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-10) Joko Susilo Utomo; Erliana GintingKarakteristik kimia dan fisik ubijalar merupakan sifat penting yang menentukan kualitas dan tingkat penerimaan produknya. Kegiatan pemuliaan telah menghasilkan banyak varietas ubijalar yang bervariasi komposisi kimia dan sifat fisiknya. Oleh karena itu, dilakukan evaluasi karakteristik fisik dan kimia 21 genotipe ubijalar yang terdiri dari 17 aksesi plasma nutfah dan empat varietas komersial asal Malaysia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai materi pemuliaan maupun bahan pangan. Kandungan pati pada 21 genotipe berbeda nyata (p<0,05) dan berkisar antara 10,67 sampai 25,40% basis basah (bb). Kelompok ubijalar yang daging umbinya berwarna ungu memiliki kandungan amilosa lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang berwarna oranye, putih, dan kuning. Kandungan fruktosa tertinggi tampak pada kelompok ubijalar kuning, diikuti kelompok oranye, putih dan ungu. Namun, glukosa, sukrosa dan maltosa tidak dapat dikelompokkan menurut warna daging umbinya. Tekstur umbi kukus sangat bervariasi antargenotipe ubijalar. Ubijalar berdaging umbi putih menunjukkan tingkat kekerasan paling rendah, diikuti oleh genotipe berdaging umbi oranye, kuning dan ungu. Kadar air, pati dan amilosa berkorelasi nyata dengan kekerasan umbi kukus masing-masing dengan nilai r = -0,83**, 0,60**, dan 0,61**, sedangkan adhesiveness dipengaruhi oleh kadar air dan kadar amilosa dengan r =0,54** dan -0,37**. Springiness berkorelasi positif dengan adhesiveness, sedangkan chewiness berkorelasi negatif dengan kadar air namun berkorelasi positif dengan tingkat kekerasan. Ubijalar dengan tingkat kekerasan dan kekenyalan rendah sesuai digunakan sebagai bahan baku jus dan selai, sedangkan ubijalar dengan tingkat kekerasan dan kekenyalan sedang sesuai untuk produk yang terbuat dari pasta umbi. Ubijalar dengan tekstur yang keras sesuai untuk bahan baku tepung, yang selanjutnya dapat diolah menjadi produk berbasis tepung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik kimia dan fisik ubi jalar bervariasi antargenotipe. Genotipe-genotipe tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai tetua dalam perakitan varietas unggul untuk bahan pangan yang sesuai.
- ItemDaya Hasil dan Respons Galur Kacang Tanah terhadap Penyakit Bercak Daun, Karat Daun dan Layu Bakteri Ralstonia solanacearum(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-10) Joko Purnomo; A.A. Rahmianna; Eriyanto YusnawanPenyakit bercak daun, karat daun, dan layu bakteri Ralstonia merupakan kendala biotik utama pada upaya peningkatan produksi kacang tanah. Oleh karena itu perlu dirakit varietas tahan kendala biotik tersebut. Untuk itu dilakukan evaluasi daya hasil dan respons 18 galur harapan terhadap tiga penyakit utama tersebut. Uji lapang 18 galur harapan dan enam varietas pembanding berdasar rancangan acak kelompok, tiga ulangan dilakukan di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jambegede pada musim kemarau 2019. Setiap genotip ditanam pada petak 5 m × 2 m, satu biji/lubang. Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan intensif. Pengamatan pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman dilakukan pada lima tanaman contoh pada saat panen. Dilakukan skoring bercak dan karat daun serta insiden penyakit layu bakteri Ralstonia. Hasil uji menunjukkan daya hasil polong beragam antargalur. Daya hasil GH2 (LG5/BK1-B13-240-75) mencapai 4,7 t/ha polong kering dengan rata-rata 4,1 t/ha; GH6 (BK1/ LG5)-B13-29-6) mencapai 5,2 t/ha polong kering dengan rata-rata 4,2 t/ha; GH10 (BK1/LG5-B13-37-64) mencapai 4,5 t/ha polong kering dengan rata-rata 4,1 t/ha; dan GH11 (BK1/LG5)-39-65) mencapai 4,7 t/ha polong kering dengan rata-rata 4,1 t/ha. Keempat galur tersebut juga memiliki skor penyakit bercak daun dan skor karat daun, serta insiden penyakit layu bakteri Ralstonia yang rendah atau berstatus tahan sehingga layak disiapkan sebagai calon varietas unggul yang baru.
- ItemDeteksi dan Distribusi Virus pada Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) di Sulawesi Selatan(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-05) Niken Nur Kasim Et al.Sulawesi Selatan merupakan salah satu sentra produksi kacang tanah di Indonesia. Data infeksi virus pada kacang tanah, prevalensi dan penyebarannya di Sulawesi Selatan masih terbatas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi jenis virus, prevalensi dan sebarannya pada kacang tanah di Sulawesi Selatan. Sebanyak 747 sampel bergejala terinfeksi virus diambil dari delapan kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Frekuensi virus ditentukan secara serologi dengan metode Dot Blot Immunobinding Assay (DIBA) menggunakan enam antisera spesifik dan dikonfirmasi dengan Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Gejala infeksi virus yang ditemukan bervariasi seperti gejala mosaik, belang (mottle dan stripe), pemucatan tulang daun, klorosis interveinal, serta klorosis dengan penebalan tulang daun disertai malformasi daun. Berdasarkan hasil DIBA menunjukkan bahwa Bean common mosaic virus (BCMV) dan Cucumber mosaic virus (CMV) merupakan virus dengan prevalensi tersebar di semua lokasi dengan frekuensi virus berturut-turut dari Kabupaten Bantaeng, Barru, Bone, Gowa, Maros, Sinjai, Soppeng dan Wajo berkisar 35–100% dan 30- 100%. RT-PCR dengan primer spesifik mengonfirmasi keberadaan BCMV dan CMV, serta Polerovirus dari tanaman bergejala klorosis interveinal, dan klorosis dengan penebalan tulang daun disertai malformasi daun. Bean yellow mosaic virus (BYMV), Peanut mottle virus (PeMoV), Peanut stunt virus (PSV) dan Soybean mosaic virus (SMV) terdeteksi positif secara serologi, namun terdeteksi negatif dengan RT-PCR. Terdeteksinya ketiga virus yang menginfeksi tanaman kacang tanah secara alami menjadi temuan baru di Sulawesi Selatan
- ItemDiversity of Agronomic Characters of Pigeon Pea (Cajanus cajan (L.) Millsp.) Genetic Resources(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2023-05) Pratanti Haksiwi Putri; Novita Nugrahaeni; Rudy SoehendiPlasma Nutfah memiliki peranan penting dalam kegiatan pemuliaan. Karakterisasi diperlukan untuk mengklasifikasi koleksi plasma nutfah berdasarkan karakter tertentu seperti umur masak, jumlah polong per tanaman, dan hasil. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengelompokkan 60 aksesi plasma nutfah kacang gude koleksi Balai Pengujian Standar Instrumen (BPSI) Tanaman Aneka Kacang menggunakan analisis komponen utama dan analisis klaster. Enam puluh aksesi kacang gude ditanam di Kebun Pengujian Muneng Jawa Timur pada musim kemarau tahun 2018. Setiap aksesi ditanam dalam plot berukuran 2 m × 4 m, jarak tanam 100 cm × 20 cm. Pengamatan dilakukan pada 13 karakter kuantitatif. Total ragam dari variabel pengamatan adalah 75,3% yang dijelaskan oleh empat komponen utama. Komponen yang paling berpengaruh adalah komponen pertama yang menjelaskan 40,4% keragaman dan terdiri dari karakter umur berbunga, umur masak, tinggi tanaman, kedudukan polong, jumlah cabang utama, dan jumlah polong per tanaman. Enam puluh aksesi kacang gude koleksi plasma nutfah BPSI Tanaman Aneka Kacang dapat dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing terdiri dari 29, 7, 8, dan 16 aksesi. Kelompok 2 berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki keragaan tanaman yang baik yang dicirikan oleh kedudukan polong panjang, berbiji besar, dan hasil biji tinggi.
- ItemDormansi Benih Kacang Bambara (Vigna subterranea L. Verdc): Faktor Penyebab dan Metode Pematahannya(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2023-05) Maryati Sari Et al.Benih kacang bambara mengalami dormansi tetapi belum diketahui dengan pasti faktor penyebabnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penyebab dormansi (percobaan I) dan mendapatkan metode pematahan dormansi benih kacang bambara (percobaan II). Kedua percobaan disusun dalam rancangan petak tersarang. Percobaan I, perlakuan sebelum pengecambahan (kontrol, skarifikasi mekanik, perendaman KNO3, dan skarifikasi diikuti perendaman KNO3) tersarang pada periode after-ripening (1, 2, 3 bulan). Percobaan II, perlakuan pematahan dormansi (kontrol, pemanasan kering 40oC 48 jam, pemanasan kering 50oC 48 jam, perendaman air 6 jam, perendaman air 12 jam, pemanasan kering 40oC 48 jam diikuti perendaman air 6 jam, pemanasan kering 40oC 48 jam diikuti perendaman air selama 12 jam, pemanasan kering 50oC 48 jam diikuti perendaman air 6 jam, pemanasan kering 50oC 48 jam diikuti perendaman air 12 jam) tersarang pada jenis lanras (Sukabumi dan Tasikmalaya). Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih kacang bambara memiliki dormansi after-ripening. Faktor penyebab dormansi adalah keseimbangan hormon GA dan ABA dan rendahnya permeabilitas testa. Penyimpanan kering (kadar air benih 12%) mampu memperbaiki keseimbangan hormon dan meningkatkan permeabilitas testa dengan persistensi dormansi 3,0–3,9 bulan. Pematahan dormansi pada benih kacang bambara lanras Sukabumi (umur 3 minggu setelah panen) dapat dilakukan dengan pemanasan kering 50oC selama 48 jam, dan perlakuan perendaman air 12 jam dengan atau tanpa didahului pemanasan kering dengan peningkatan daya tumbuh dari 59,3 % menjadi 85,3– 91,3 %.
- ItemEfektivitas Tiga Paket Teknologi Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Barito Kuala, Kalimantan Selatan(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020-05) Sutrisno; Sri Wahyuningsih,; Yuliantoro BaliadiLahan pasang surut merupakan salah satu lahan potensial untuk perluasan areal tanam kedelai, namun teknik budi dayanya perlu diperbaiki untuk memperoleh hasil maksimal. Penelitian untuk menguji tiga paket teknologi budi daya kedelai di lahan pasang surut dilaksanakan di Desa Simpang Jaya, Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan pada bulan Mei hingga Agustus 2014. Perlakuan terdiri dari dua varietas kedelai yaitu Panderman dan Anjasmoro, dan tiga paket teknologi yaitu paket teknologi petani (eksisting), konvensional, dan perbaikan. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi, tiga ulangan. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah bintil akar, jumlah akar lateral, jumlah daun, komponen hasil dan hasil. Selain itu, dilakukan pengamatan terhadap serangan hama ulat grayak (Spodoptera litura), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), penggerek polong (Etiella zinckenella), penggulung daun (Lamprosema indicata), dan ulat jengkal (Plusia chalsites), serta penyakit karat daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi teknologi perbaikan dan teknologi konvensional budi daya kedelai di lahan pasang surut dapat meningkatkan produktivitas kedelai 50% dan 60% dibandingkan teknologi eksisting. Penggunaan varietas Anjasmoro pada agroekologi tersebut lebih sesuai dibandingkan varietas Panderman, karena produktivitasnya lebih tinggi. Meskipun teknologi perbaikan tidak lebih unggul dibandingkan teknologi konvensional dari aspek hasil maupun efektivitas pengendalian hama dan penyakit, namun teknologi tersebut lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida kimia. Untuk itu, perlu dievaluasi lebih lanjut tingkat kelayakan teknis dan ekonomi penggunaan biopestisida pada budi daya kedelai di lahan pasang surut.
- ItemEksplorasi dan Identifikasi Morfologi Cendawan Entomopatogen Isolat Lokal Sulawesi Selatan sebagai Calon Biopestisida Potensial(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2022-10) Elisurya Ibrahim Et al.Cendawan entomopatogen merupakan salah satu jenis agens hayati yang potensial digunakan sebagai biopestisida dalam pengendalian hama. Untuk mendapatkan cendawan entomopatogen yang efektif dan potensial dapat dilakukan melalui eksplorasi dari isolat lokal yang mempunyai daya adaptasi, virulensi dan kemampuan epizootik lebih unggul dibandingkan isolat dari hasil introduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat lokal cendawan entomopatogen di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan yang dilaksanakan mulai bulan Juli hingga September 2020. Metode eksplorasi yang digunakan adalah isolasi menggunakan sistem pengumpanan serangga (insect baiting). Isolat yang diperoleh kemudian diuji patogenisitasnya pada larva ulat Tenebrio molitor. Hasil eksplorasi dan identifikasi morfologi menunjukkan bahwa seluruh isolat lokal cendawan entomopatogen yang diperoleh mempunyai peluang yang cukup besar untuk digunakan sebagai agens pengendalian hayati. Dua isolat diantaranya yang cukup menonjol, yaitu Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae memiliki kemampuan membunuh serangga uji T. molitor hingga 80-100% dengan indeks kematian berkisar 5-9 hari. Isolat cendawan M. anisopliae yang diperoleh dari Merittengae lebih patogenik, karena mampu menyebabkan mortalitas T. molitor mencapai 100% hanya dalam waktu lima hari jika dibandingkan dengan isolat lainnya. Oleh karena itu, isolat tersebut mempunyai potensi besar untuk digunakan sebagai agens hayati dalam pengendalian hama karena mampu menyebabkan epizootik.
- ItemEvaluasi Mutu Tahu dari Beberapa Varietas Unggul Kedelai dibuat oleh Beberapa Pengrajin(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019-05) Alvi Yani; Joko Susilo UtomoVarietas unggul kedelai nasional berpeluang besar sebagai bahan baku tahu yang sudah menjadi menu harian bagi penduduk Indonesia. Peningkatan produksi kedelai dalam negeri memerlukan informasi kesesuaian penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas tahu yang dibuat oleh pengrajin dari berbagai varietas unggul kedelai. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus – November 2016 di Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung yang merupakan sentra pengrajin tahu dan tempe. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan empat varietas kedelai: Anjasmoro, Grobogan, Argomulyo, dan Gepak Kuning, serta kedelai impor sebagai pembanding dan empat pengrajin sebagai ulangan. Analisis mutu tahu meliputi karakter fisik, kimia dan uji organoleptik yang melibatkan 25 orang panelis. Varietas/jenis kedelai tidak berpengaruh terhadap sifat fisiko-kimia tahu (rendemen, kekerasan, warna, kadar air, protein, lemak, karbohidrat, abu, serat kasar). Hal ini disebabkan oleh bervariasinya teknik atau kondisi pengolahan tahu oleh masing-masing pengrajin, meskipun tahap pengolahannya sama. Secara keseluruhan, sifat sensoris tahu dari varietas unggul kedelai disukai oleh panelis. Tidak ada perbedaan tingkat kesukaan aroma tahu mentah antara varietas unggul kedelai dengan kedelai impor, tetapi untuk parameter lainnya seperti warna, tekstur, dan penampilan tahu mentah, Varietas Argomulyo, Anjasmoro dan Gepak Kuning memberikan nilai kesukaan yang lebih tinggi. Untuk tahu rebus, Varietas Argomulyo dan Anjasmoro memberikan nilai kesukaan tertinggi dari semua kriteria organoleptik yang diujikan.
- «
- 1 (current)
- 2
- 3
- »