Prosiding
Permanent URI for this community
Browse
Browsing Prosiding by Subject "A Agriculture/Pertanian"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemAppropriate Farming Systems Research (FSR) Methodology in Asian Countries(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1985-01-01) Price, EdwinIn farming systems research (FSR) we customarily consider that farmer’s resources vary and that the production activities of farmers also vary. Farming systems research is like farming -- different research programs have different resources and often different goals. Therefore, the methods they use to "produce" technology should also vary. To choose appropriate research methods, a FSR program should be clear about its goals. At least three different goals appear to have been chosen by various FSR programs in Asia.
- ItemFarmers Response to the System of Rice Intensification (SRI) Extension Material Improvement Exploring Economic Benefits of SRI, Biogas, and Worm Cultivation Integration(IAARD Press, 2015-11-10) Maulana, MohamadThe availability of abundant cattle waste in a village is an important factor for implementing organic rice farming practice. The utilization of cattle waste in SRI practice, biogas, and worm cultivation increase farmers’ income, but this issue is not informed well to farmers because traditionally agricultural extension agent focused on delivering cropping techniques than economic advantages. The objective of this study is to assess farmers’ response to the possibility of inserting the information about the economic benefits of integrating SRI, biogas, and worm cultivation in the SRI extension program. Respondents were conventional farmers in Boyolali Regency and using value added and farmers’ response concept. There are three activities in this research, namely obtaining value added throughout biogas value chain, presenting the value added to farmers, and receiving farmers’ response. The results shows in three parts of biogas value chain increase farmers’ economic benefits from Rp974 thousand/year to Rp5.18 million/year. Conventional farmers give high positive response to the integration of implementing SRI and following biogas project and receiving value-added from installing biogas digester. However, farmers give low response to worm cultivation due to unstable demand and price volatility. Ketersediaan kotoran sapi yang melimpah menjadi faktor penting dalam mengimplementasikan usaha tani padi organik. Penggunaan kotoran sapi dalam SRI, biogas, dan usaha budi daya cacing dapat menjadi upaya peningkatan pendapatan petani, namun informasi dan upaya ini kurang dipahami petani karena para penyuluh pertanian cenderung memfokuskan penyampaian informasi teknis bertanam organik dibandingkan keuntungan ekonomi. Kajian ini bertujuan untuk memperoleh respons petani terhadap kemungkinan memasukkan informasi perolehan nilai tambah dan keuntungan ekonomi dalam materi penyuluhan padi organik di mana kegiatannya difokuskan pada memperoleh data dan informasi nilai tambah pada rantai nilai biogas, mempresentasikan nilai tambah tersebut kepada petani dan memperoleh respons petani. Objek kajian ini adalah para petani konvensional di Kabupaten Boyolali dan menggunakan konsep nilai tambah dan respons petani. Hasil kajian menunjukkan bahwa keuntungan petani bertambah mulai dari Rp974 ribu/tahun hingga Rp5,18 juta/tahun. Respons positif diperoleh keinginan petani menerapkan integrasi SRI dan biogas, tetapi tidak untuk usaha budi daya cacing karena ketidakstabilan permintaan dan harga produk.
- ItemFarming Systems Research: a Conceptual Framework(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1985-01-01) Rumawas F.From experience, agriculturalists are aware that improving agricultural production is not the result of changing a single activity or introducing a single input. Even when many aspects are considered, the effort may still fail. This has been especially true in traditional agriculture of third world countries. Agricultural inputs such as farm machinery, fertilizers, pesticides, high yielding varieties, farm credit and extension do not necessarily result in sustained increased output. There is a big gap between experimental results and farmer yields. To cope with this problem, scientists are treating agricultural production as a system. Since farming systems research (FSR) is concentrated in the "less developed countries" (LDC's) it is often considered unique to LDC's or tropical regions. This is a misconception. The systems approach applies also to modern and highly productive agriculture as well. Even in the LDC's, FSR is considered mainly for smallholders, disregarding commercial farms (estates). The components of a farming system are not determined by the level of agricultural technology used or by farm size. In a systems approach, an effort is made to show this interrelationship of activities and components involved in agricultural production. It gives researchers and farmers a tool to understand and manipulate the subsystem (s). The understanding of the entire system will help those who work with different components to understand the importance of their contribution in relation to other inputs.
- ItemKajian Teknologi Pemupukan terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Pisang di Kalimantan Timur(IAARD Press, 2014-11-04) Rizal, Muhamad; Sasmita, SriTujuan dari penelitian ini adalah memberikan informasi kajian teknologi pemupukan terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman pisang varietas Ketan, Emas Kirana, Raja Kinalun, dan Unti Sayang yang merupakan varietas unggul spesifik lokasi dan adaptif. Penelitian dilaksanakan di Desa Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, dari Januari sampai Desember tahun 2012. Tahap pelaksanaan penelitian dimulai dengan penanaman pisang pada lubang tanam ukuran 50x50x50 cm dengan jarak 4x4 m. Bibit pisang ditanam dengan posisi tegak pada lubang tanam yang telah diberi kapur dolomit dan pupuk kandang dua minggu sebelum penanaman. Data dianalisis dengan analisis statistik, yaitu data hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis dengan analisis sidik ragam (analysis of variance) dan bila F hitung nyata, diteruskan dengan uji Duncan 5% (beda nyata terkecil). Hasil kajian menunjukkan bahwa pada bulan ke-1 hingga ke-5 terlihat perbedaan yang nyata. Pada bulan ke-1 varietas Raja Kinalun memiliki performa yang paling tinggi, yaitu 49,8 cm, sedangkan diameter batang adalah varietas Unti Sayang, yaitu 6,53 cm. Pada bulan ke-5 varietas Unti Sayang memiliki performa yang paling tinggi dan diameter batang yang besar, yaitu 177,4 cm dan 18,72 cm. Tingkat kenaikan tinggi tanaman dan diameter batang pada bulan ke-1, varietas Raja Kinalun yang memiliki kenaikan paling cepat, yaitu 14,70 cm dan 2,22 cm, dan pada bulan ke-5 varietas Unti Sayang memiliki kenaikan paling cepat, yaitu 139,00 cm dan 14,04 cm. Dengan demikian, pisang varietas Unti Sayang memiliki tingkat adaptasi yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan tiga varietas pisang lainnya.
- ItemProceedings: Workshop on Farming System Research in Indonesia(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1985-01-01) Pasandaran, Effendi; Yusdja, Yusmichad; Chong, Kee Chai; Rasahan, Chairil A.; Brein, Dennis T O; Swenson, David Hill C.G.Saat ini, Penelitian Sistem Pertanian (Farming Systems Research/FSR) di Indonesia masih berfokus pada pendekatan agronomis dan pola tanam berbasis tanaman pangan untuk meningkatkan pendapatan petani skala kecil di lahan kering. Namun, pendekatan ini memiliki banyak keterbatasan karena kurang mengintegrasikan sektor non-lahan seperti peternakan dan perikanan, serta belum mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lahan, modal, dan tenaga kerja. Selain itu, FSR masih berorientasi pada model pertanian individual untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga mikro, sehingga belum mampu mendukung pembangunan ekonomi regional atau memperhitungkan dampak pendapatan sosial secara menyeluruh. Di sisi lain, pelaksanaan FSR menghadapi kendala besar berupa keterbatasan anggaran, kurangnya tenaga ahli, serta minimnya kolaborasi lintas disiplin dan antarlembaga akibat struktur penelitian nasional yang masih terkotak-kotak. Teknologi yang dihasilkan pun sulit diadopsi secara luas oleh petani karena kurangnya keterlibatan aktif dari petani dan petugas penyuluh. Ke depannya, model FSR perlu diperbaiki dengan memperjelas keterkaitan antara sektor pertanian berbasis lahan dan non-lahan, membangun komunikasi dua arah yang kuat antara peneliti dan penyuluh, serta melibatkan petani secara langsung dalam mengidentifikasi kebutuhan, menguji teknologi, dan mengevaluasi hasilnya.