Browsing by Author "Yuliani, Dini"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemDinamika Penyakit-Penyakit Tanaman Padi Pada Waktu Tanam Berbeda Di Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Yuliani, Dini; Nur Milati, Laila; Sudir; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Penyakit padi merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya tanaman padi. Akibat serangan penyakit, produktivitas padi menjadi menurun. Penelitian ini untuk mengetahui dinamika penyakit-penyakit padi di daerah dengan waktu tanam berbeda dilaksanakan di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada musim hujan (MH) 2014/2015 dan musim kemarau (MK) 2015. Penelitian berupa pengamatan tanaman di lapangan pada tiap musim tanam dilakukan pada waktu tanam awal (I), tanam pertengahan (II), dan waktu tanam akhir (III). Hasil penelitian menunjukkan pada tiap waktu tanam ditemukan empat jenis penyakit padi yaitu hawar daun bakteri (HDB), busuk batang, hawar pelepah, dan bercak daun Cercospora (BDC). Penyakit padi memiliki dinamika yang berbeda baik pada waktu tanam berbeda maupun musim tanam yang berbeda. Hawar daun bakteri memiliki dinamika penyakit yang sama dengan hawar pelepah yaitu memiliki trends keparahan penyakit yang tinggi pada waktu tanam awal musim hujan dan awal musim kemarau. Begitu juga dengan penyakit busuk batang memiliki dinamika penyakit yang sama dengan penyakit bercak daun cercospora yaitu memiliki trends keparahan penyakit yang tinggi pada waktu tanam akhir musim hujan dan awal musim kemarau. Untuk wilayah dengan pola tanam satu kali tanam padi dalam satu tahun dianjurkan untuk menanam padi pada waktu tanam akhir musim hujan atau awal musim kemarau saat patogen penyakit dalam kondisi tertekan populasinya. Untuk wilayah dengan indeks pertanaman ≥ 2 dalam setahun dianjurkan untuk menerapkan budidaya tanaman padi sehat seperti jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pemupukan berimbang sesuai dosis ajuran setempat, dan pengairan secara intermitten. Untuk daerah endemis penyakit HDB dapat menggunakan varietas tahan sesuai kondisi patotipe Xoo yang dominan di wilayahnya.
- ItemPerkembangan Penyakit Utama Pada Ratun Padi Sistem Salibu di Lahan Sawah Irigasi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Sudir; Yuliani, DiniBudidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas padi. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap budidaya salibu antara lain: 1). Tinggi pemotongan batang padi sisa panen, 2). Varietas, 3). Kondisi air tanah setelah panen, dan 4). Pemupukan. Upaya peningkatan produksi padi mengarah pada peningkatan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks panen dari 2 hingga 3 bahkan bisa 4 kali panen dalam 1 tahun. Budidaya padi salibu dapat memacu peningkatan produksi padi dengan meningkatkan IP (indek panen). Kemudian ada beberapa keuntungan budidaya sistem tersebut diantaranya: umurnya relatif lebih pendek, kebutuhan air lebih sedikit, biaya produksi lebih rendah karena penghematan dalam pengolahan tanah, penanaman, penggunaan bibit dan kemurnian genetik lebih terpelihara. Budidaya salibu dapat mempengaruhi kepadatan populasi hama dan intensitas penyakit karena tanaman padi selalu tersedia sebagai tempat hidup organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh karena itu, penting dilakukan monitoring keberadaan OPT pada budidaya padi dengan sistem ratun (salibu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penyakit utama pada padi ratun di sawah irigasi yang dilakukan di Kebun Percobaan Sukamandi pada musim tanam 2014. Untuk pengamatan penyakit ditarik garis diagonal pada tiap petak percobaan, selanjutnya untuk setiap garis diagonal diambil 10 rumpun tanaman sampel. Tiap rumpun sampel diamati tingkat serangan penyakit yang ditemukan dengan metode skoring (IRRI, 2014). Hasil penelitian menunjukkan penyakit tanaman padi yang ditemukan pada ratun sistem salibu yaitu busuk batang Helmithosporium sigmoideum, hawar pelepah Rhizoctonia solani, bercak daun Cercospora oryzae, hawar daun bakteri (HDB) Xanthomonas oryzae pv. oryzae, dan Bacterial Leaf Streak (BLS). Hasil pengamatan mulai dari tanaman utama hingga pertanaman salibu ketiga menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap keparahan beberapa penyakit padi, sedangkan interval aplikasi pestisida tidak berpengaruh nyata terhadap keparahan semua penyakit padi. Tidak terjadi interaksi antara varietas dengan aplikasi pestisida terhadap keparahan penyakit padi. Penyakit yang dominan menyerang tanaman utama pada fase vegetatif yaitu busuk batang dan BLS, sedangkan pada fase generatif adalah busuk batang, bercak daun Cercospora (BDC), HDB, dan BLS. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu pertama pada fase vegetatif yaitu ragged stunt dan busuk batang, sedangkan pada fase generatif sama dengan penyakit yang menyerang tanaman utama pada fase generatif. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu kedua pada fase vegetatif yaitu ragged stunt, sedangkan penyakit yang paling banyak ditemukan pada fase generatif yaitu hawar pelepah. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu ketiga baik fase vegetatif maupun generatif yaitu grassy stunt.
- ItemPerkembangan Penyakit Utama Pada Ratun Padi Sistem Salibu di Lahan Sawah Irigasi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Sudir; Yuliani, DiniBudidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas padi. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap budidaya salibu antara lain: 1). Tinggi pemotongan batang padi sisa panen, 2). Varietas, 3). Kondisi air tanah setelah panen, dan 4). Pemupukan. Upaya peningkatan produksi padi mengarah pada peningkatan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks panen dari 2 hingga 3 bahkan bisa 4 kali panen dalam 1 tahun. Budidaya padi salibu dapat memacu peningkatan produksi padi dengan meningkatkan IP (indek panen). Kemudian ada beberapa keuntungan budidaya sistem tersebut diantaranya: umurnya relatif lebih pendek, kebutuhan air lebih sedikit, biaya produksi lebih rendah karena penghematan dalam pengolahan tanah, penanaman, penggunaan bibit dan kemurnian genetik lebih terpelihara. Budidaya salibu dapat mempengaruhi kepadatan populasi hama dan intensitas penyakit karena tanaman padi selalu tersedia sebagai tempat hidup organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh karena itu, penting dilakukan monitoring keberadaan OPT pada budidaya padi dengan sistem ratun (salibu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penyakit utama pada padi ratun di sawah irigasi yang dilakukan di Kebun Percobaan Sukamandi pada musim tanam 2014. Untuk pengamatan penyakit ditarik garis diagonal pada tiap petak percobaan, selanjutnya untuk setiap garis diagonal diambil 10 rumpun tanaman sampel. Tiap rumpun sampel diamati tingkat serangan penyakit yang ditemukan dengan metode skoring (IRRI, 2014). Hasil penelitian menunjukkan penyakit tanaman padi yang ditemukan pada ratun sistem salibu yaitu busuk batang Helmithosporium sigmoideum, hawar pelepah Rhizoctonia solani, bercak daun Cercospora oryzae, hawar daun bakteri (HDB) Xanthomonas oryzae pv. oryzae, dan Bacterial Leaf Streak (BLS). Hasil pengamatan mulai dari tanaman utama hingga pertanaman salibu ketiga menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap keparahan beberapa penyakit padi, sedangkan interval aplikasi pestisida tidak berpengaruh nyata terhadap keparahan semua penyakit padi. Tidak terjadi interaksi antara varietas dengan aplikasi pestisida terhadap keparahan penyakit padi. Penyakit yang dominan menyerang tanaman utama pada fase vegetatif yaitu busuk batang dan BLS, sedangkan pada fase generatif adalah busuk batang, bercak daun Cercospora (BDC), HDB, dan BLS. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu pertama pada fase vegetatif yaitu ragged stunt dan busuk batang, sedangkan pada fase generatif sama dengan penyakit yang menyerang tanaman utama pada fase generatif. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu kedua pada fase vegetatif yaitu ragged stunt, sedangkan penyakit yang paling banyak ditemukan pada fase generatif yaitu hawar pelepah. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu ketiga baik fase vegetatif maupun generatif yaitu grassy stunt.
- ItemVerifikasi Ketahanan Varietas Unggul Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Yuliani, Dini; SudirAbstrak Salah satu komponen pengendalian dari penyakit hawar daun bakteri (HDB) adalah varietas tahan. Namun varietas dapat patah ketahanannya karena patogen HDB memiliki banyak kelompok patotipe dan mampu membentuk patotipe yang lebih virulen.Tujuan penelitian untuk verifikasi ketahanan varietas unggul padi terhadap penyakit HDB. Penelitian dilaksanakan di Screen Field Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi Subang pada musim kemarau (MK) 2016 dan musim hujan (MH) 2016/2017. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah tiga patotipe Xoo dominan di Indonesia, yaitu: patotipe III, patotipe IV, dan patotipe VIII. Anak petak adalah 14 varietas tahan HDB, yaitu: Inpari 1, Inpari 6, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 25, Inpari 32, Inpari HDB, Angke, Conde, Java 14, Ciherang, IR64, Chandra (Hibrida), dan Hipa Jatim 2. Evaluasi ketahanan varietas tahan terhadap HDB di lapangan pada MK 2016 dan MH 2016/2017 diperoleh tingkat ketahanan varietas mulai dari tahan hingga agak rentan. Hasil pengujian 14 varietas padi terhadap tiga patotipe Xoo dominan diperoleh varietas Java 14 dan Inpari 32 yang konsisten bereaksi tahan selama musim kemarau 2016 dan musim hujan 2016/2017. Empat belas varietas padi tahan HDB berpengaruh nyata terhadap intensitas penyakit padi diantaranya busuk batang, hawar daun jingga, bercak daun sempit pada dua musim tanam kecuali hawar pelepah. Intensitas penyakit padi tidak berpengaruh secara langsung terhadap hasil padi. Bobot gabah kering panen (BGKP) tertinggi pada MK 2016 dijumpai pada varietas Inpari 32. Pada MH 2016/2017, BGKP tertinggi pada 14 varietas uji adalah Inpari 1. Pada kedua musim dijumpai varietas dengan BGKP terendah yaitu Java 14. Abstract One of the control components of bacterial leaf blight (BLB) disease is resistant varieties. However, the resistance of varieties can be fracture because the pathogen of BLB have many pathotype groups which capable to forming more virulent pathotypes. The research purposes were to verify the resistance of improved rice varieties to BLB disease. The research was conducted at Screen Field of Indonesian Center for Rice Research, Sukamandi Subang in the dry season (DS) of 2016 and wet season (WS) of 2016/2017. The research was arranged in a split plot design with three replications. The main plots were the three dominant Xoo pathotypes in Indonesia, namely: pathotype III, pathotype IV, and pathotype VIII. The sub-plots were 14 BLB resistant varieties, namely: Inpari 1, Inpari 6, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 25, Inpari 32, Inpari HDB, Angke, Conde, Java 14, Ciherang, IR64, Chandra (Hybrid), and Hipa Jatim 2. Resistance evaluation of resistant varieties to BLB in the field at DS 2016 and WS 2016/2017 obtained resistance level of varieties ranging from resistant to moderately susceptible. The test results of 14 rice varieties on three dominant of Xoo pathotypes obtained the varieties of Java 14 and Inpari 32 which consistently reacted resistant during the dry season of 2016 and rainy season of 2016/2017. Fourteen resistant rice varieties to BLB significantly affected the intensity of rice disease such as stem rot, red stripe, narrow brown leaf spot on two growing seasons except sheath blight. The intensity of rice disease has no direct effect on rice yields. The highest of weight of dry grain harvest (WDGH) in DS 2016 was found in Inpari 32 varieties. At WS 2016/2017, the highest of WDGH on 14 test varieties were Inpari 1. In both seasons found varieties with the lowest WDGH that is Java 14.