Browsing by Author "Taryono"
Now showing 1 - 8 of 8
Results Per Page
Sort Options
- ItemBudidaya Tanaman Mengkudu (Morinda citrifolia L.)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002) Taryono; Ruhnayat, AgusTanaman lidah buaya (Aloe vera) berasal dari Kepulauan Canary, sebelah barat Afrika dan diperkirakan masuk ke Indonesia mulai pada abad ke 17. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa lidah buaya merupakan tanaman asli dari dataran Asia dan Amerika. Manfaat lidah buaya telah dikenal sejak lama, ragam unsur yang terkandung dalam sari lidah buaya mampu meningkatkan daya sembuh yang luar biasa bagi tubuh manusia dan banyak dipakai untuk kosmetika. Konon, Cleopatra dan Nafertiti, dua wanita cantik yang pernah hidup di zaman Mesir kuno merawat kecantikan diri mereka dengan cara menggunakan gel Aloe vera untuk mandi. Suku Indian Amerika menganggapnya sebagai tumbuhan dewa karena khasiatnya untuk menyembuhkan bermacam luka. Literatur lama memaparkan bahwa tanaman ini berguna untuk mengobati berbagai macam penyakit kulit, jamur, kulit terbakar, gigitan ular, juga sebagai hair tonik untuk merangsang pertumbuhan rambut. Lebih dari 17 jenis lidah buaya telah dibudidayakan di daerah tropis, namun sampai saat ini hanya ada tiga jenis yang diusahakan untuk tujuan komersial yaitu: Aloe barbadensis dari Amerika, Aloe ferox dari Afrika, dan Aloe Sinensis dari Asia (Cina). Aloe Barbadensis adalah yang terbaik karena lebih tahan terhadap hama dan penyakit, ukurannya jauh lebih besar dibanding jenis lainnya. Zat-zat yang terkandung pada jenis tersebut paling lengkap, yakni lebih dari 75 macam zat yang sangat diperlukan tubuh, dan yang terpenting aman untuk dikonsumsi. Tanaman lidah buaya ada juga jenis beracun.
- ItemEKSPOSE DAN PAMERAN TEKNOLOGI TANAMAN REMPAH DAN ОВАТ : Warta balittro No. 49 Tahun 2004(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2004-12-01) Taryono; Ruhnayat, AgusSalah satu Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) adalah menyebarkan dan mendayagunakan hasil-hasil penelitian. Sehubungan dengan Tupoksi tersebut maka pada periode Juli - Desember 2004 Balittro telah mengikuti beberapa kali ekspose dan pameran diantaranya adalah: IBEC 2004 (Indonesian Biopharmaca Exhibition and Congress) Pameran Biofarmaka Nasional diselenggarakan di Yogyakarta 14 - 18 Juli 2004. Indonesia berpeluang besar memasok keperluan bahan baku tanaman biofarmaka di pasar domestik ataupun ekspor, sedikitnya 61,3% responden mempunyai kebiasaan meminum jamu. Meningkatkan industri obet tradisional, serta tersedianya beragam pilihan produk biofarmaka menunjukkan bahwa industri pengolahan biofarmaka, potensi pasarnya masih terbuka. Pengembangan biofarmaka perlu didasari oleh aspek khasiat dan jenis komoditas yang didukung oleh data etnofarmaka, aspek ekologi teknis/budidaya, ekonomi siosial budaya, aspek kebijakan dan kelembagaan yang ada juga perlu disesuaikan dengan teknologi yang dapat dikuasai.
- ItemMEMBANGUN KERJASAMA DENGAN MITRA DALAM KOMERSIALISASI TEKNOLOGI : Warta balittro No. 45 Tahun 2002(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Taryonoparadigma pembangunan pertanian saat ini adalah pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi. Untuk menuju ke arah agribisnis yang berdayasaing tidak cukup apabila kita hanya mengandalkan sumberdaya saja atau modal saja, tetapi harus didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini terlihat dari realita saat ini di mana kita mempunyai sumberdaya yang melimpah seperti lahan, air dan plasma nutfah, tetapi pertanian kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri seperti beras, jagung, kedelai, kacang tanah, gula, dan lain-lain, termasuk benihnya masih harus diimpor.
- ItemMENGENAL PENYAKIT KANKER DAN TANAMAN OBAT UNTUK PENYEMBUHANNYA : Warta balittro No. 49 Tahun 2004(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2004-12-01) TaryonoPENGERTIAN PENYAKIT KANKER DAN TUMOR Kanker Kanker adalah suatu penyakit yang merupakan pertumbuhan selsel jaringan tubuh yang baru (neoplasma) yaitu tidak normal (hasil mutasi genetis sel), cepat dan tidak terkendali. Oleh karena itu kanker bukanlah penyakit infeksi yang terjadi karena kuman, tetapi kanker tumbuh dari sel-sel organ itu sendiri yang mengalami mutasi genetis. Mutasi genetis tersebut menyebabkan sel tumbuh tidak normal dan bersifat destruktif yaitu tidak mungikuti hukum-hukum pertumbuhan dan cenderung merusak.
- ItemNATPRO 2005 : Warta balittro No. 49 Tahun 2004(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2004-12-01) TaryonoPada tanggal 14 Oktober 2004, Kepala Balittro, Ketua UKТ dan Kepala Seksi Jasa Penelitian mengikuti Seminar "Memahami Industri Tanaman Obat dan Produk Alami di Malaysia". Yang diselenggarakan oleh Malaysia Herbal Corporation (MHC). Peluang baru dunia usaha bagi produsen/eksportir asia. Di Betawi I Room, Hotel Santika - Jakarta. Berbagai tantangan global dari industri Herbal dan Natural serta bagaimana memasuki pasar serta pendapatan produk herbal dan natural di Malaysia telah disampaikan oleh Executive Director MHC Dr. Syeh А. Rahman bin Wazir.
- ItemObservasi pertumbuhan jarak pagar (Jatropha Curcas L.) Di lahan pasir pantai(Bayumedia Publishing, 2008) Taryono; Supriyanta; Putra, Eka Tarwaca Susila; Yudono, Prapto; Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, YogyakartaTanaman jarak pagar dapat tumbuh pada lahan bermasalah seperti lahan miskin hara, lahan terdegradasi, lahan terkontaminasi, lahan pasir pantai baik lahan kering maupun tadah hujan. Dengan mengingat bahwa potensi lahan pasir pantai untuk pertanian di Jawa masih sangat besar, serta dengan pertimbangan teoritis bahwa jarak pagar cepat tumbuh di lahan pasir pantai, maka usaha pengembangan teknologi budi daya jarak pagar lahan pasir pantai perlu dikaji. Kajian eksploratif untuk menentukan bahan tanam yang sesuai untuk pengembangan jarak pagar di lahan pasir pantai telah di-laksanakan yang meliputi kajian bahan tanam asal setek dan biji, tanam langsung dan melalui pembibitan. Dari kajian eksploratif tersebut dan berdasarkan tanaman yang mampu bertahan hidup setelah melewati musim kemarau dapat di-simpulkan bahwa (1) Penanaman bahan tanam setek maupun biji langsung tidak disarankan, (2) Bahan tanam biji lebih baik dibandingkan dengan setek, dan (3) Apabila bahan tanam asal setek akan digunakan maka media penyetekan dan ukuran polibag dicurigai berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman di lapangan. Dengan melihat kendala yang diha-dapi tanaman jarak pagar di lahan pasir pantai yaitu gugurnya daun pada saat musim kemarau, maka penelitian selanjut-nya mengarah ke pemanfaatan limbah pertanian khususnya sabut kelapa untuk menjaga ketersediaan air dalam tanah guna mendukung pertumbuhan awal jarak pagar.
- ItemPelatihan Kewirausahaan Dalam Pengembangan Inovasi Teknologi Pertanian : Warta balittro No. 45 Tahun 2002(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) TaryonoTantangan Badan Litbang Pertanian ke depan adalah makin dinamisnya perkembangan lingkungan strategis, reformasi peranan sektor pertanian, serta sistem dan usaha agribisnis. Dalam upaya meningkatkan nilai tambah komersial, dari Rapat Kerja Badan Litbang Pertanian telah teridentifikasi beberapa hal berikut: (a) kurang tersedianya teknologi yang siap dikomersialkan, (b) terbatasnya program Litbang yang menyentuh aspek bisnis dan berpotensi komersial, (c) fasilitas penelitian untuk menuju era komersialisasi dengan fasilitas yang terakreditasi dan berstandar internasional belum memadai, dan (d) budaya "enterpreneurship" dari peneliti yang masih belum searah dengan paradigma nilai tambah komersial (Badan Litbang Pertanian, 2001). Sejalan dengan keinginan untuk mewujudkan dan meningkatkan proses litbang dalam era komersialisasi, Badan Litbang Pertanian telah melakukan serangkaian promosi dan ekspose teknologi hasil penelitian baik dalam pameran maupun seminar.
- Item''МАНКОTA DEWA" SI RAJA OBAT : Warta balittro No. 45 Tahun 2002(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Taryono; Ruhnayat, A."Mahkota Dewa" adalah tanaman asli Indonesia dengan nama latin Phaleria papuana atau Phaleria macrocarpa. Sebagaimana tercermin pada salah satu namanya, habitat asli tanaman ini diperkirakan adalah tanah Papua. Namun, dikenalnya sebagai tanaman obat justru bermula dari lingkungan kraton Jawa yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Di berbagai daerah ada yang menyebut tanaman ini sebagai Mahkota Raja, Mahkota Ratu, Pusaka Dewa, Derajat, Makuto Dewo dan lain sebagainya. Tanaman ini dilaporkan berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit antara lain: kanker,. Liver, ginjal, diabetes, asam usar, rematik, darah tinggi, jantung, lemah syahwat, ketergantungan obat (narkoba), sirosis hati, sakit paru-paru, disentri, alergi, flu, serta berbagai penyakit kulit seperti eksim, gatal-gatal di kepala, jerawat, digigit serangga dan lain-lain. Mungkin karena khasiatnya sebagai obat dengan spektrum yang amat luas itu sehingga orang Banten menyebutnya sebagai raja obat, dan orang Cina menyebutnya pau yang berarti obat pusaka.