Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Sugandi, Totong"

Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    KARAKTER MORFOLOGI, PERTUMBUHAN TAHONGAI (Kleinhovia hospita Linn.) DAN UPAYA KONSERVASI PLASMA NUTFAH : Warta balittro Vol. 36 No. 71 tahun 2019
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2019-06-01) Syahid, Sitti Fatimah; Sugandi, Totong
    Tahongai (Kleinhovia hospita Linn.) merupakan salah satu jenis tanaman obat multi khasiat dari famili Sterculiaceae. Spesies ini merupakan tanaman asli dari Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini. Di Indonesia, tahongai banyak ditemui di daerah Kalimantan Timur dan tumbuh liar di sepanjang aliran sungai Mahakam. Tanaman ini sudah lama digunakan oleh masyarakat di daerah Dayak dan sekitarnya untuk mengobati berbagai macam penyakit, di antaranya penyakit hati, diabetes, dan kolesterol. Salah satu upaya untuk memperkaya koleksi plasma nutfah tanaman obat di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat dapat dilakukan melalui perbanyakan koleksi tanaman yang dibawa oleh para peneliti yang bertugas di berbagai daerah di Indonesia karena terbatasnya kegiatan eksplorasi plasma nutfah. Saat ini koleksi plasma nutfah tahongai telah dikonservasi di rumah kaca. Hasil karakterisasi morfologi menunjukkan tahongai memiliki batang bulat dengan kulit batang yang tidak kasar. Daun tanaman berbentuk jantung agak lebar, dengan tulang daun menonjol. Ujung daun runcing, berduri dan pangkal daun berlekuk. Tepi daun bergerigi dan permukaan daun halus berduri. Daun berbentuk jantung, duduk daun tunggal berseling dan tipe percabangan berseling. Warna daun muda hijau kekuningan (YGG 144A), warna daun tua hijau (GG 137 A), warna batang muda hijau kekuningan (YGG 144 А), dan warna batang tua cokleat keabuabuan (GBC 199 C). Komponen pertumbuhan pada umur sembilan bulan memiliki tinggi 80,5 cm, jumlah cabang 4,3 cabang, panjang daun 19,5 cm, lebar daun 16,9 cm dan diameter batang 7,1 mm. Pertumbuhan semakin optimal pada kondisi cahaya penuh pada umur 12 bulan. Dengan terkonservasinya sumber daya genetik tahongai di rumah kaca memberi peluang untuk penyediaan bahan tanaman dalam menunjang kegiatan penelitian.
  • No Thumbnail Available
    Item
    SENGKUBAK (Pycnarrhena cauliflora Miers.) Diels, TANAMAN ОВАТ POTENSIAL SEBAGAI PENYEDAP ÁLAMI : Warta balittro Vol. 37 No. 73 tahun 2020
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2020-06-01) Syahid, Sitti Fatimah; Sugandi, Totong
    Perubahan pola hidup masyarakat yang kurang sehat diantaranya tingginya kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet, pewarna, maupun penyedap rasa diduga dapat memicu kanker. Penyedap rasa sintetis seperti vetsin atau jenis lainnya yang mengandung bahan kimia monosodium glutamat (MSG) dapat menimbulkan rasa gurih pada makanan. Namun, penggunaan MSG kedalam makanan dalam waktu panjang akan berdampak kepada kesehatan. Salah satu upaya agar kesehatan selalu terjaga adalah dengan menggunakan bahan alami sebagai pengganti penyedap sintetis. Daun sengkubak (Pycnarrhena caulifora Miers.) Diels telah lama digunakan oleh masyarakat di Kalimantan Barat terutama di daerah Sintang sebagai pengganti penyedap rasa sintetis dalam proses masakan karena tergolong aman dan tidak menimbulkan efek samping. Saat ini penggunaan sengkubak mulai jarang dilakukan karena masyarakat ingin segala sesuatu yang mudah dan praktis padahal berdampak negatif terhadap kesehatan. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) memiliki koleksi Sumber Daya Genetik (SDG) sengkubak hasil kegiatan eksplorasi ke Kalimantan Selatan di tahun 2006. Koleksi sengkubak saat ini dipelihara di rumah kaca. Pengunaan sengkubak sebagai penyedap masakan cukup mudah. Daun dicuci bersih lalu dipotong-potong dan dicampukan ke dalam makanan yang akan dimasak sehingga menimbulkan rasa gurih dan kualitas makananpun terjamin sehat. Hasil uji organoleptik ekstrak daun sengkubak pada konsentrasi 0,25% paling disukai panelis bila ditambahkan pada masakan. Sengkubak berpeluang diteliti dan dikembangkan lebih lanjut karena juga berkhasiat sebagai obat.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback