Browsing by Author "Sudir"
Now showing 1 - 10 of 10
Results Per Page
Sort Options
- Item26. Komposisi dan Sebaran Ras Jamur Pyricularia Grisea Pada Padi Sawah Irigasi di Kabupaten Subang, Karawang dan Indramayu(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) Sudir; Nasution, Anggiani; Nuryanto, Bambang; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea merupakan penyakit penting pada tanaman padi di Indonesia terutama pada padi lahan kering. Akhirakhir ini penyakit blas sudah mulai banyak ditemukan di padi sawah irigasi. Penelitian untuk mengetahui komposisi dan sebaran ras jamur Pyricularia grisea penyebab penyakit blas padi sawah irigasi di Kabupaten Karawang, Subang, dan Indramayu Jawa Barat dilakukan pada musim tanam 2013. Kegiatan meliputi tiga tahapan yaitu pengamatan dan pengambilan sampel tanaman sakit dilapangan dengan metode survei, isolasi jamur P. grisea di laboratorium, dan pengujian ras di rumah kaca. Sampel tanaman bergejala sakit blas diambil secara acak di lapangan dan di masukkan ke dalam amplop kertas untuk diisolasi jamur P. grisea di laboratorium. Pengujian ras jamur dilakukan di rumah kaca dengan menginokulasikan jamur P. grisea yang diperoleh pada tujuh varietas diferensial. Hasil pengamatan di lapangan selama musim tanam 2013 menunjukkan penyakit blas leher di wilayah Kabupaten Subang ditemukan hampir merata dengan tingkat keparahan 1,0 sampai 8,0%, di Kabupaten Karawang, tingkat keparahan 2,7 sampai 4,6%, sedangkan di Kabupaten Indramayu, tingkat keparahan 3,1 sampai 10,9%. Hasil pengambilan sampel tanaman sakit blas diperoleh sebanyak 224 sampel tanaman sakit blas leher yang mewakili masing-masing wilayah, terdiri dari 60 isolat dari Kabupaten Subang, 40 isolat dari Kabupaten Karawang, dan 124 isolat dari Kabupaten Indramayu. Hasil isolasi jamur P. grisea diperoleh 224 isolat yang terdiri dari 60 isolat dari Kabupaten Subang, 40 isolat dari Kabupaten Karawang, dan 124 isolat dari Kabupaten Indramayu. Hasil identifi kasi ras dengan varietas diferensial diperoleh 18 kelompok ras. Secara umum, lima ras yang dominan keberadaannya yaitu ras 003 sebesar 19,6%, kemudian disusul dengan ras 053 (14,7%), ras 013 (14,3%), ras 001(12,5%) dan ras 073 sebesar 10,7%. Sebaran ras jamur Pyricularia grisea di Kabupaten Subang, Karawang, dan Indramayu berbeda-beda, di Kabupaten Subang ditemukan ada 16 kelompok ras, yang dominan adalah ras 053. Di Karawang ditemukan 11 kelompok ras, yang dominan adalah ras 003, sedangkan di Indramayu ditemukan 12 kelompok ras, yang dominan adalah ras 003. Hal yang perlu diwaspadai adalah ditemukannya ras yang memiliki virulensi tinggi seperti ras 353 dan ras 313 dengan frekwensi antara 0,4% sampai 5,4 %.
- ItemDinamika Penyakit-Penyakit Tanaman Padi Pada Waktu Tanam Berbeda Di Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Yuliani, Dini; Nur Milati, Laila; Sudir; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Penyakit padi merupakan salah satu faktor pembatas dalam budidaya tanaman padi. Akibat serangan penyakit, produktivitas padi menjadi menurun. Penelitian ini untuk mengetahui dinamika penyakit-penyakit padi di daerah dengan waktu tanam berbeda dilaksanakan di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah pada musim hujan (MH) 2014/2015 dan musim kemarau (MK) 2015. Penelitian berupa pengamatan tanaman di lapangan pada tiap musim tanam dilakukan pada waktu tanam awal (I), tanam pertengahan (II), dan waktu tanam akhir (III). Hasil penelitian menunjukkan pada tiap waktu tanam ditemukan empat jenis penyakit padi yaitu hawar daun bakteri (HDB), busuk batang, hawar pelepah, dan bercak daun Cercospora (BDC). Penyakit padi memiliki dinamika yang berbeda baik pada waktu tanam berbeda maupun musim tanam yang berbeda. Hawar daun bakteri memiliki dinamika penyakit yang sama dengan hawar pelepah yaitu memiliki trends keparahan penyakit yang tinggi pada waktu tanam awal musim hujan dan awal musim kemarau. Begitu juga dengan penyakit busuk batang memiliki dinamika penyakit yang sama dengan penyakit bercak daun cercospora yaitu memiliki trends keparahan penyakit yang tinggi pada waktu tanam akhir musim hujan dan awal musim kemarau. Untuk wilayah dengan pola tanam satu kali tanam padi dalam satu tahun dianjurkan untuk menanam padi pada waktu tanam akhir musim hujan atau awal musim kemarau saat patogen penyakit dalam kondisi tertekan populasinya. Untuk wilayah dengan indeks pertanaman ≥ 2 dalam setahun dianjurkan untuk menerapkan budidaya tanaman padi sehat seperti jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pemupukan berimbang sesuai dosis ajuran setempat, dan pengairan secara intermitten. Untuk daerah endemis penyakit HDB dapat menggunakan varietas tahan sesuai kondisi patotipe Xoo yang dominan di wilayahnya.
- ItemEpidemiologi, Patotipe, dan Strategi Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012-11-13) Sudir; B. Nuryanto; Triny S. KadirPenyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi di negaranegara penghasil padi, termasuk di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogen ini menginfeksi daun padi pada semua fase pertumbuhan tanaman, mulai dari pesemaian sampai menjelang panen. Gejala yang timbul pada tanaman fase vegetatif disebut kresek dan pada fase generatif disebut hawar. Apabila infeksi terjadi pada fase generatif mengakibatkan proses pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Kehilangan hasil karena penyakit HDB bervariasi antara 15– 80%, bergantung pada stadia tanaman saat penyakit timbul. Perkembangan penyakit HDB dipengaruhi oleh lingkungan terutama kelembapan, suhu, cara budi daya, varietas, dan pemupukan nitrogen. Oleh karena itu, pengendalian yang dianjurkan adalah secara terpadu dengan berbagai cara yang dapat menekan perkembangan penyakit. Varietas tahan merupakan komponen utama dalam pengendalian penyakit HDB secara terpadu. Namun aplikasi teknologi ini terkendala oleh kemampuan patogen beradaptasi membentuk patotipe (strain) baru yang lebih virulen sehingga sifat ketahanan varietas mudah patah. Pengendalian penyakit HDB dengan penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan patotipe yang ada. Monitoring dan pemetaan komposisi dan penyebaran patotipe bakteri Xoo diperlukan sebagai dasar rekomendasi pengendalian penyakit HDB dengan varietas tahan sesuai dengan keberadaan patotipe di suatu tempat.
- ItemKeragaman Hama Dan Penyakit Pada Produksi Benih Sumber Padi Kelas Benih Penjenis Di Kebun Percobaan Sukamandi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI), 2017) Nur Milati, Laila; Wahyuni, Sri; Sudir; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI)Produksi beras nasional dapat ditingkatkan melalui penggunaan benih bermutu dari varietas unggul. Benih penjenis merupakan sumber benih dari kelas dibawahnya, sehingga benih penjenis harus mempunyai mutu yang tinggi. Pengamatan organisme pengganggu tanaman dilakukan untuk mengetahui jenis hama dan penyakit pada pertanaman benih penjenis dan menentukan tindakanpengendalian yang tepat sehingga kualitas tanaman dapat terjaga hingga saat panen. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Sukamandi pada musim hujan (MT-2 tahun 2015). Metode yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Varietas padi sebagai perlakuan dan ulangan sebanyak 3 kali dalam setiap varietas. Setiap ulangan terdiri dari 10 rumpun tanaman padi. Pengamatan percobaan dilakukan pada fase vegetatif dan fase generatif. Varietas padi yang diamati terdiri dari 15 varietas yaitu Inpari 13, Inpari 12, Inpari 22, Inpari 34 Salin Agritan, Inpari Blas, Inpari HDB, Inpara 1, Inpago 8, Sintanur, Conde, Inpari 33, Inpari 32 HDB, Inpari 23 Bantul, Inpari 14 Pakuan, dan Limboto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama yang terdapat pada pertanaman adalah penggerek batang, hama putih palsu, wereng coklat, wereng punggung putih, dan kepinding tanah. Sedangkan penyakit yang ditemukan adalah busuk batang, hawar pelepah, hawar daun bakteri, dan ustilago. Pengendalian terhadap hama dan penyakit pada pertanaman sangat penting untuk dikendalikan secara tepat karena berpengaruh terhadap produktivitas dan kualitas benih padi. Pengamatan hama dan penyakit bermanfaat untuk menentukan tindakan pengendalian yang tepat.
- ItemMetode Identifikasi Ras Pyricularia Grisea Sacc. Penyebab Penyakit Blas Pada Tanaman Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Milati, Laili Nur; Nasution, Anggiani; SudirPyricularia grisea Sacc, merupakan jamur penyebab penyakit blas pada tanaman padi. Kerusakan padi akibat penyakit blas di Indonesia mencapai 1.285 juta hektar atau kehilangan hasil 50-90%. Penyakit blas sulit dikendalikan di lapangan sehingga memerlukan tindakan pengendalian yang tepat salah satunya dengan penggunaan varietas tahan. Pemilihan varietas tahan disesuaikan dengan jenis ras patogen yang dominan pada suatu tempat. Identifikasi ras P. grisea di lapangan sangat berguna untuk menentukan varietas tahan yang akan ditanam sesuai dengan jenis ras dominan setempat. Identifikasi ras dilakukan di Kebun Percobaan Muara, Bogor pada 10 Februari – 27 Maret 2015. Metode yang digunakan dalam identifikasi ras adalah metode isolasi spora tunggal. Inokulasi menggunakan metode semprot pada tanaman padi stadia vegetatif berumur 21 hst. Pengamatan keparahan penyakit dilakukan dengan metode SES IRRI 2014, setelah itu dikelompokan berdasarkan reaksi ketahanan terhadap varietas diferensial Indonesia, yaitu Asahan, Cisokan, IR 64, Krueng Aceh, Cisadane, Cisanggarung, dan Kencana Bali. Hasil pengamatan dari 2 isolat jamur P. grisea, satu isolat menyebabkan reaksi rentan pada varietas Asahan, Cisokan, dan Kencana Bali sehingga dimasukkan dalam kelompok ras 301 sedang yang satu lagi, menimbulkan reaksi rentan pada varietas Asahan dan Kencana Bali sehingga dimasukkan dalam kelompok ras 201. Informasi dominasi ras penting kaitannya dengan program pengendalian dan penggunaan varietas tahan penyakit blas.
- ItemPengaruh Kombinasi Ketahanan Varietas Terhadap Perubahan Patotipe Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) Penyebab Penyakit Hawar Daun Bakteri Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) SudirAbstract The bacterial of Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) caused the rice bacterial leaf blight disease on rice easily change their virulence. This research to study the mechanism change of bacterium pathotype of Xoo especially on the effect of plant mosaic, mixture, and rotation of varieties by inoculation method. Experiments were conducted using Randomized Block Design with five replications during the dry season (DS) of 2007 and wet season (WS) of 2007/2008 in Sukamandi. As treatment is pattern plant mosaic, mixture, and rotation planting system of varieties The results indicate that bacterium of Xoo of result of first inoculation not change of that virulence of Xoo on the first of inoculation not increased. On the second inoculation indicate on the mosaic and mixed varieties change the hem of from group of pathotype III become VIII. While on the planting varieties with rotation that virulence is change from group of pathotype III become group of pathotype IV. Abstrak Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) penyebab penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi sangat mudah berubah patotipenya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari mekanisme perubahan patotipe bakteri Xoo terutama tentang pengaruh pola tanam mozaik, campuran, dan pergiliran varietas terhadap virulensi bakteri xoo dengan uji inokulasi atau penularan. Penelitian dilaksanakan di screen field Sukamandi pada MK 2007 dan MH 2007/2008. Percobaan ditata dalam rancangan acak kelompok 5 ulangan, sebagai perlakuan adalah pola tanam mozaik, campuran, dan pergiliran varietas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri Xoo dari hasil inokulasi pertama tidak terjadi perubahan virulensi. Hasil inokulasi kedua menunjukkan adanya perubahan virulensi yaitu pada pertanaman mozaik dan campuran bakteri Xoo berubah virulensinya dari kelompok patotipe III menjadi VIII. Sedangkan pada pertanaman pergiliran varietas terjadi perubahan peningkatan virulensi yaitu dari kelompok patotipe III menjadi kelompok patotipe IV.
- ItemPenyakit Blas Pyricularia grisea pada Tanaman Padi dan Strategi Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2014-12-15) Sudir; A. Nasution; Santoso; B. NuryantoSalah satu masalah dalam peningkatan produksi padi adalah terjadinya serangan penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Pada mulanya penyakit blas merupakan penyakit penting tanaman padi pada lahan kering, tetapi akhir-akhir ini penyakit blas banyak ditemukan pada padi sawah terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh munculnya jamur Pyricularia grisea ras baru yang mampu beradaptasi dan berkembang pada ekologi padi sawah irigasi. Meningkatnya penggunaan pupuk N, serta penanaman varietas yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit ini juga ikut berperan. Perkembangan penyakit blas dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya iklim makro dan mikro (musim, suhu dan kelembapan), cara budi daya, lokasi, waktu tanam, dan varietas padi. Penurunan hasil karena penyakit ini bervariasi dari ringan hingga 100% tergantung pada intensitas penyakit. Pengendalian penyakit blas yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu yaitu dengan memadukan berbagai cara pengendalian yang dapat menekan perkembangan penyakit, diantaranya teknik budi daya, penanaman varietas tahan, dan penggunaan fungisida bila diperlukan. Penanaman varietas tahan merupakan komponen utama dan merupakan cara yang paling efektif, ekonomis, dan mudah dilakukan, namun dibatasi oleh waktu dan tempat, artinya tahan di satu waktu dan tempat, bisa rentan di waktu dan tempat lain. Hal ini disebabkan pathogen penyakit blast, memiliki keragaman genetik dan kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga dengan cepat mematahkan ketahanan varietas yang baru diperkenalkan. Oleh karena itu, penanaman varietas tahan harus didukung oleh komponen teknik pengendalian lain. Penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan keberadaan ras di suatu tempat, untuk itu monitoring keberadaan ras di suatu agroekositem sangat diperlukan.
- ItemPerkembangan Penyakit Utama Pada Ratun Padi Sistem Salibu di Lahan Sawah Irigasi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Sudir; Yuliani, DiniBudidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas padi. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap budidaya salibu antara lain: 1). Tinggi pemotongan batang padi sisa panen, 2). Varietas, 3). Kondisi air tanah setelah panen, dan 4). Pemupukan. Upaya peningkatan produksi padi mengarah pada peningkatan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks panen dari 2 hingga 3 bahkan bisa 4 kali panen dalam 1 tahun. Budidaya padi salibu dapat memacu peningkatan produksi padi dengan meningkatkan IP (indek panen). Kemudian ada beberapa keuntungan budidaya sistem tersebut diantaranya: umurnya relatif lebih pendek, kebutuhan air lebih sedikit, biaya produksi lebih rendah karena penghematan dalam pengolahan tanah, penanaman, penggunaan bibit dan kemurnian genetik lebih terpelihara. Budidaya salibu dapat mempengaruhi kepadatan populasi hama dan intensitas penyakit karena tanaman padi selalu tersedia sebagai tempat hidup organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh karena itu, penting dilakukan monitoring keberadaan OPT pada budidaya padi dengan sistem ratun (salibu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penyakit utama pada padi ratun di sawah irigasi yang dilakukan di Kebun Percobaan Sukamandi pada musim tanam 2014. Untuk pengamatan penyakit ditarik garis diagonal pada tiap petak percobaan, selanjutnya untuk setiap garis diagonal diambil 10 rumpun tanaman sampel. Tiap rumpun sampel diamati tingkat serangan penyakit yang ditemukan dengan metode skoring (IRRI, 2014). Hasil penelitian menunjukkan penyakit tanaman padi yang ditemukan pada ratun sistem salibu yaitu busuk batang Helmithosporium sigmoideum, hawar pelepah Rhizoctonia solani, bercak daun Cercospora oryzae, hawar daun bakteri (HDB) Xanthomonas oryzae pv. oryzae, dan Bacterial Leaf Streak (BLS). Hasil pengamatan mulai dari tanaman utama hingga pertanaman salibu ketiga menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap keparahan beberapa penyakit padi, sedangkan interval aplikasi pestisida tidak berpengaruh nyata terhadap keparahan semua penyakit padi. Tidak terjadi interaksi antara varietas dengan aplikasi pestisida terhadap keparahan penyakit padi. Penyakit yang dominan menyerang tanaman utama pada fase vegetatif yaitu busuk batang dan BLS, sedangkan pada fase generatif adalah busuk batang, bercak daun Cercospora (BDC), HDB, dan BLS. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu pertama pada fase vegetatif yaitu ragged stunt dan busuk batang, sedangkan pada fase generatif sama dengan penyakit yang menyerang tanaman utama pada fase generatif. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu kedua pada fase vegetatif yaitu ragged stunt, sedangkan penyakit yang paling banyak ditemukan pada fase generatif yaitu hawar pelepah. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu ketiga baik fase vegetatif maupun generatif yaitu grassy stunt.
- ItemPerkembangan Penyakit Utama Pada Ratun Padi Sistem Salibu di Lahan Sawah Irigasi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Sudir; Yuliani, DiniBudidaya padi salibu adalah salah satu inovasi teknologi untuk memacu produktivitas padi. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap budidaya salibu antara lain: 1). Tinggi pemotongan batang padi sisa panen, 2). Varietas, 3). Kondisi air tanah setelah panen, dan 4). Pemupukan. Upaya peningkatan produksi padi mengarah pada peningkatan produktivitas lahan melalui peningkatan indeks panen dari 2 hingga 3 bahkan bisa 4 kali panen dalam 1 tahun. Budidaya padi salibu dapat memacu peningkatan produksi padi dengan meningkatkan IP (indek panen). Kemudian ada beberapa keuntungan budidaya sistem tersebut diantaranya: umurnya relatif lebih pendek, kebutuhan air lebih sedikit, biaya produksi lebih rendah karena penghematan dalam pengolahan tanah, penanaman, penggunaan bibit dan kemurnian genetik lebih terpelihara. Budidaya salibu dapat mempengaruhi kepadatan populasi hama dan intensitas penyakit karena tanaman padi selalu tersedia sebagai tempat hidup organisme pengganggu tanaman (OPT). Oleh karena itu, penting dilakukan monitoring keberadaan OPT pada budidaya padi dengan sistem ratun (salibu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan penyakit utama pada padi ratun di sawah irigasi yang dilakukan di Kebun Percobaan Sukamandi pada musim tanam 2014. Untuk pengamatan penyakit ditarik garis diagonal pada tiap petak percobaan, selanjutnya untuk setiap garis diagonal diambil 10 rumpun tanaman sampel. Tiap rumpun sampel diamati tingkat serangan penyakit yang ditemukan dengan metode skoring (IRRI, 2014). Hasil penelitian menunjukkan penyakit tanaman padi yang ditemukan pada ratun sistem salibu yaitu busuk batang Helmithosporium sigmoideum, hawar pelepah Rhizoctonia solani, bercak daun Cercospora oryzae, hawar daun bakteri (HDB) Xanthomonas oryzae pv. oryzae, dan Bacterial Leaf Streak (BLS). Hasil pengamatan mulai dari tanaman utama hingga pertanaman salibu ketiga menunjukkan varietas berpengaruh nyata terhadap keparahan beberapa penyakit padi, sedangkan interval aplikasi pestisida tidak berpengaruh nyata terhadap keparahan semua penyakit padi. Tidak terjadi interaksi antara varietas dengan aplikasi pestisida terhadap keparahan penyakit padi. Penyakit yang dominan menyerang tanaman utama pada fase vegetatif yaitu busuk batang dan BLS, sedangkan pada fase generatif adalah busuk batang, bercak daun Cercospora (BDC), HDB, dan BLS. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu pertama pada fase vegetatif yaitu ragged stunt dan busuk batang, sedangkan pada fase generatif sama dengan penyakit yang menyerang tanaman utama pada fase generatif. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu kedua pada fase vegetatif yaitu ragged stunt, sedangkan penyakit yang paling banyak ditemukan pada fase generatif yaitu hawar pelepah. Penyakit yang dominan menyerang tanaman salibu ketiga baik fase vegetatif maupun generatif yaitu grassy stunt.
- ItemVerifikasi Ketahanan Varietas Unggul Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Yuliani, Dini; SudirAbstrak Salah satu komponen pengendalian dari penyakit hawar daun bakteri (HDB) adalah varietas tahan. Namun varietas dapat patah ketahanannya karena patogen HDB memiliki banyak kelompok patotipe dan mampu membentuk patotipe yang lebih virulen.Tujuan penelitian untuk verifikasi ketahanan varietas unggul padi terhadap penyakit HDB. Penelitian dilaksanakan di Screen Field Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi Subang pada musim kemarau (MK) 2016 dan musim hujan (MH) 2016/2017. Penelitian menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah tiga patotipe Xoo dominan di Indonesia, yaitu: patotipe III, patotipe IV, dan patotipe VIII. Anak petak adalah 14 varietas tahan HDB, yaitu: Inpari 1, Inpari 6, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 25, Inpari 32, Inpari HDB, Angke, Conde, Java 14, Ciherang, IR64, Chandra (Hibrida), dan Hipa Jatim 2. Evaluasi ketahanan varietas tahan terhadap HDB di lapangan pada MK 2016 dan MH 2016/2017 diperoleh tingkat ketahanan varietas mulai dari tahan hingga agak rentan. Hasil pengujian 14 varietas padi terhadap tiga patotipe Xoo dominan diperoleh varietas Java 14 dan Inpari 32 yang konsisten bereaksi tahan selama musim kemarau 2016 dan musim hujan 2016/2017. Empat belas varietas padi tahan HDB berpengaruh nyata terhadap intensitas penyakit padi diantaranya busuk batang, hawar daun jingga, bercak daun sempit pada dua musim tanam kecuali hawar pelepah. Intensitas penyakit padi tidak berpengaruh secara langsung terhadap hasil padi. Bobot gabah kering panen (BGKP) tertinggi pada MK 2016 dijumpai pada varietas Inpari 32. Pada MH 2016/2017, BGKP tertinggi pada 14 varietas uji adalah Inpari 1. Pada kedua musim dijumpai varietas dengan BGKP terendah yaitu Java 14. Abstract One of the control components of bacterial leaf blight (BLB) disease is resistant varieties. However, the resistance of varieties can be fracture because the pathogen of BLB have many pathotype groups which capable to forming more virulent pathotypes. The research purposes were to verify the resistance of improved rice varieties to BLB disease. The research was conducted at Screen Field of Indonesian Center for Rice Research, Sukamandi Subang in the dry season (DS) of 2016 and wet season (WS) of 2016/2017. The research was arranged in a split plot design with three replications. The main plots were the three dominant Xoo pathotypes in Indonesia, namely: pathotype III, pathotype IV, and pathotype VIII. The sub-plots were 14 BLB resistant varieties, namely: Inpari 1, Inpari 6, Inpari 11, Inpari 17, Inpari 25, Inpari 32, Inpari HDB, Angke, Conde, Java 14, Ciherang, IR64, Chandra (Hybrid), and Hipa Jatim 2. Resistance evaluation of resistant varieties to BLB in the field at DS 2016 and WS 2016/2017 obtained resistance level of varieties ranging from resistant to moderately susceptible. The test results of 14 rice varieties on three dominant of Xoo pathotypes obtained the varieties of Java 14 and Inpari 32 which consistently reacted resistant during the dry season of 2016 and rainy season of 2016/2017. Fourteen resistant rice varieties to BLB significantly affected the intensity of rice disease such as stem rot, red stripe, narrow brown leaf spot on two growing seasons except sheath blight. The intensity of rice disease has no direct effect on rice yields. The highest of weight of dry grain harvest (WDGH) in DS 2016 was found in Inpari 32 varieties. At WS 2016/2017, the highest of WDGH on 14 test varieties were Inpari 1. In both seasons found varieties with the lowest WDGH that is Java 14.