Browsing by Author "Suciantini"
Now showing 1 - 8 of 8
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnomali Iklim: Faktor Penyebab, Karakteristik, dan Antisipasinya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2006) Gatot Irianto; SuciantiniSecara harafiah, anomali iklim adalah pergeseran musim dari rata-rata normalnya. Empat faktor dominan penyebab anomali iklim adalah SST NINO, arah angin, beda tekanan udara permukaan di Darwin dan Tahiti, serta Indian Ocean Dipole. Ada tiga pola hujan di Indonesia, yaitu pola monsunal, pola ekuatorial, dan pola lokal. Wilayah dengan pola monsunal paling terpengaruh anomali iklim dan sebagian besar sentra padi di Indonesia berada di wilayah ini. Dengan demikian, kejadian ini perlu diprediksi untuk menekan kerugian. Dalam antisipasi anomali iklim, diperlukan langkah-langkah strategis seperti: mengefektifkan informasi prakiraan iklim dan teknik menghadapinya, memanfaatkan peta wilayah rawan kekeringan, menganalisis pergeseran musim, menganalisis neraca air wilayah dan indeks kecukupan air dan saat tanam yang tepat, menampung air hujan untuk mengisi cadangan air tanah, membudidayakan komoditas berumur pendek dan tahan kekeringan, mempercepat tanam, memanfaatkan sistem gogorancah, pompanisasi di daerah-daerah dengan cadangan air tanah, memperbaiki efektivitas saluran irigasi dan embung/bendungan, meningkatkan daya dukung daerah hulu aliran sungai, memantau dan mengevaluasi daya tampung waduk, me- manfaatkan mulsa in-situ untuk menekan evaporasi. Antisipasi lebih diperlukan untuk menghadapi El-NiÒo karena bencana yang ditimbulkannya lebih serius daripada La-NiÒa. Penurunan hujan akibat El-NiÒo dapat mencapai 80 mm/bulan; sementara peningkatan hujan akibat La-NiÒa tidak lebih dari 40 mm/bulan, itu pun dapat untuk perluasan areal tanam. Langkah-langkah operasional kelembagaan yang dapat dilakukan antara lain: (1) kebijakan pembagian tugas lintas instansi yang terkait dengan efektivitas organisasi, pendanaan, prioritas penanggulangan, perbaikan, dan pemilihan teknologi penanggulangan, (2) intensifikasi koordinasi dan meningkatkan kemampuan tim penanggulangan di beberapa propinsi yang rawan kekeringan, (3) penyebarluasan informasi prakiraan iklim dalam periode tertentu, dan (4) perluasan kawasan konservasi air di tiap kecamatan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota.
- ItemDampak Perubahan Iklim Terhadap Serangan Layu Fusarium Pada Pisang(Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2013-11-30) Suciantini; Susanti, ErniSalah satu faktor yang memegang peranan penting dalam pengembangan suatu komoditas adalah unsur iklim/cuaca. Iklim/cuaca merupakan salah satu komponen ekosistem (bio-fisik) yang proses dan dinamikanya dipengaruhi oleh faktor global dan berada di luar atmosfer. Secara garis besar unsur-unsur cuaca/iklim mempengaruhi kehidupan tanaman sehingga dapat dianggap sebagai faktor pembatas. Reaksi tanaman terhadap unsur-unsur iklim/cuaca sendiri cukup sulit untuk diperkirakan karena sistem yang dihadapi cukup rumit. Pertumbuhan dan kualitas tanaman tergantung pada interaksi antara faktor lingkungan dengan faktor genetik setiap tanaman. Perubahan iklim menimbulkan dampak pada berbagai sektor pembangunan dan berbagai aspek kehidupan. Sektor pertanian merupakan sektor yang sangat terpengaruh oleh perubahan iklim, terutama pada tanaman semusim, seperti yang terjadi pada tanaman pangan dan hortikultura. Dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dipengaruhi oleh kerentanan suatu sistem. Dampak netto yang ditimbulkan merupakan selisih antara pengaruh awal dengan daya adaptasi sistem tersebut. IPCC (2001) menggolongkan resiko akibat perubahan iklim menjadi risiko ekstrim sederhana dan risiko ekstrim komplek. Perubahan yang terjadi dapat bersifat menguntungkan atau merugikan. Dampak perubahan iklim pada produk hortikultura tergantung pada jenis komoditas dan lokasi pembudidayaan. Secara signifikan, dampaknya terhadap tanaman pangan maupun hortikultura diyakini dapat mengubah baik produksi maupun kerentanan terhadap penyakit tanaman, yang akan berpengaruh terhadap ketahanan pangan dan pendapatan. Perubahan iklim dapat menyebabkan terjadinya penurunan hasil pertanian, yang diakibatkan karena kekeringan, kebanjiran, atau meningkatnya serangan OPT. Meningkatnya serangan OPT dapat mengakibatkan gagal panen yang pada akhirnya menyebabkan penurunan hasil yang signifikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan CGIAR mengenai perubahan iklim, pertanian dan ketahanan pangan (CCAFS) menyoroti bagaimana perubahan iklim akan berdampak pada tanaman yang sangat penting untuk ketahanan pangan di Negara berkembang, dan strategi adaptasi yang digunakan untuk mengurangi dampak tersebut (http:/ccafs.cgiar.org/node/754). Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) juga terpengaruh oleh perubahan iklim. Pada beberapa kasus perubahan iklim menyebabkan hama penyakit meluas serangannya, menjadi pemicu ledakan hama penyakit atau timbulnya jenis OPT yang baru yang menyerang atau terjadi kekebalan hama penyakit tertentu terhadap jenis pestisida yang digunakan. Sebagai contoh, menurut Susanti (2010), kejadian La-Nina tahun 2010 menjadi pemicu ledakan WBC pada tanaman padi.
- ItemDerajat Hari Pertumbuhan(Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2021-01-01) Suciantini; Pramudia, ArisMungkin pernah muncul pertanyaan pada diri kita atau orang lain, mengapa waktu panen satu jenis tanaman bisa berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya, terutama yang memiliki kegian berbeda? Mengapa di dataran gi membutuhkan waktu panen yang lebih lama dibandingkan dengan dataran rendah? Ada yang menjawab, mungkin saja karena varietas yang digunakan berbeda, sehingga meskipun memiliki waktu tanam yang sama namun mendapatkan waktu panen yang menjadi berbeda. Atau bisa juga karena berbagai faktor, semisal hama penyakit tanaman, kesuburan tanah dan jenis tanah, atau toposekuens. Namun demikian, ternyata ada satu faktor penyang mempengaruhi terhadap waktu panen, sehingga umur tanaman di satu tempat yang berbeda kegian dapat berbeda, meskipun faktor yang lain dianggap sama. Faktor tersebut adalah derajat tumbuh harian yang dihitung dalam satuan panas (heat unit) atau derajat hari pertumbuhan (growing degree days). Derajat hari pertumbuhan (growing degree days, GDD) (Grigorieva, 2020; Grigorieva, Matzarakis dan de Freitas, 2010) atau indeks panas (heat unit, HU) (Lemos, Salomão, de Siqueira, Pereira, dan Cecon, 2018), yaitu konsep yang mengakumulasikan selisih antara suhu udara rata-rata harian dengan suhu dasar tanaman dimulai sejak awal pertumbuhan tanaman hingga panen atau awal dari suatu fase perkembangan tanaman hingga akhir fase tersebut yang ditandai dengan tercapainya nilai kumuladerajat panas yang dibutuhkan pada saat panen atau akhir fase perkembangan tanaman (Gartska, 1964; Griffith, 1985). Derajat Hari Pertumbuhan merupakan perhitungan integral dari keragaman suhu sebagai fungsi waktu harian. Fungsi ini berkaitan dengan nilai batas bawah suhu udara (suhu dasar) bagi organisme tanaman atau hewan tertentu (Grigorieva, 2020; Sangameshwari, Kumarimanimuthu, dan Ganapathy, 2019; Wikipedia, 2020).
- ItemPedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Rejekiningrum, Popi; Las, Irsal; Amien, Istiqlal; Pujilestari, Nurwindah; Estiningtyas, Woro; Surmaini, Elza; Suciantini; Sarvina, Yeli; Pramudia, Aris; Kartiwa, Budi; Muharsini, Sri; Sudarmaji; Hardiyanto; Hermanto, Catur; Putranto, Gatot Ari; Marbun, OswaldDengan sifat iklim yang dinamis, variabilitas dan perubahan iklim merupakan suatu keniscayaan yang mesti dan telah mulai terjadi di beberapa tempat. Namun karena pemanasan global akibat berbagai aktivitas manusia mempercepat dinamika dan perubahan iklim yang terjadi secara alami. Perubahan iklim berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan dan aktivitas manusia. Walaupun ikut berkontribusi sebagai penyebab, sektor pertanian merupakan korban dan paling rentan (vulnerable) terhadap perubahan iklim, terutama Ketahanan Pangan Nasional. Dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan nasional terjadi secara runtut, mulai dari pengaruh negatif terhadap sumberdaya (lahan dan air), infrastruktur pertanian (irigasi) hingga sistem produksi melalui produktivitas, luas tanam dan panen. Petani juga memiliki sumberdaya yang lebih terbatas untuk dapat beradaptasi pada perubahan iklim. Berdasarkan konsekuensi dan dampak dari perubahan iklim tersebut, diperlukan arah dan strategi antisipasi dan penyiapan program aksi adaptasi dengan dukungan teknologi inovatif dan adaptif. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu suatu panduan atau pedoman umum, baik dalam rangka antisipasi untuk menyiapkan strategi dan program adaptasi maupun dalam rangka pelaksanaan atau aksi adaptasi. Pedoman Umum Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian ini menguraikan beberapa dampak perubahan iklim pada masing-masing sub sektor, arah dan strategi serta program aksi adaptasi perubahan iklim pada sektor pertanian. Pedoman umum adaptasi perubahan iklim sektor pertanian diharapkan menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun program dan petunjuk operasional terkait upaya adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.
- ItemPedoman Umum Inventori Gas Rumah Kaca dan Mitigasi Perubahan Iklim Sektor Pertanian(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Setyanto, Prihasto; Susanti, Emi; Las, Irsal; Amien, Istiqlal; Makarim, A. K.; Nursyamsi, Dedy; Rubiyo; Anwar, Khairil; Widarto, Heru Tri; Rejekiningrum, Popi; Surmaini, Elza; Estiningtyas, Woro; Suciantini; Pujilestari, Nurwindah; Sutarya, Rakhmat; Harmanto; Miranti; Hamdani, Adang; Sukarman; Wahyunto; Thalib, Amlius; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
- ItemPetunjuk Teknis Pedoman Penilaian Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian Strategis Tingkat Semi Detail Skala 1:50.000(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, 2016) Wahyunto; Hikmatullah; Suryani, Erna; Tafakresnanto, Chendy; Ritung, Sofyan; Mulyani, Anny; Sukarman; Nugroho, Kusumo; Sulaeman, Yiyi; Apriana, Yayan; Suciantini; Pramudia, Aris; Suparto; Subandiono, Rudi Eko; Sutriadi, Teddy; Nursyamsi, DediTersedianya data dan informasi sumberdaya lahan/tanah yang lengkap sangat diperlukan untuk menunjang program pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Data tersebut diperoleh melalui kegiatan survei dan pemetaan tanah. Data informasi sumberdaya lahan hasil survei dan pemetaan tanah berupa peta tanah dan deskripsi sifat-sifat tanahnya, perlu diinterpretasi agar mudah dimengerti untuk keperluan pengembangan komoditas pertanian melalui kegiatan evaluasi dan penilaian kesesuaian lahan. Untuk tujuan evaluasi lahan Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian menyusun Buku Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian yang diterbitkan tahun 2013. Buku Petunjuk Teknis Pedoman Penilaian Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian Strategis ini disusun mengacu kepada Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Pertanian versi revisi tahun 2013, dirancang untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan tingkat semi detil (skala 1:50.000). Pedoman budidaya yang baik untuk tanaman Kelapa Sawit (Permentan No. 313/Permentan/OT. 140/12/ 2013),Kakao (Permentan No. 48/Permentan/OT.140/4/2014) dan Tebu (Permentan No.53/Permentan/KB.110/10/2015) juga digunakan sebagai acuan dalam penyusunan kriteria kesesuaian lahan untuk komoditas tanaman tersebut.
- ItemPetunjuk Teknis Penentuan Sumber Air dan Jenis Irigasi Suplementer(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015) Kartiwa, Budi; Heryani, Nani; Rejekiningrum, Popi; Susanti, Erni; Estiningtyas, Woro; Suciantini; Haryono; Sosiawan, Hendri; Sutrisno, Nono; Hamdani, Adang; Talaohu, Sidik Hadi; Sudarman, Kurmen; Pramudia, Aris; Apriyana, Yayan; Surmaini, Elza; Husen, Edi; Syahbuddin, Haris; Nursyamsi, DediPetunjuk teknis (Juknis) Penentuan Sumber Air dan Jenis Irigasi Suplementer merupakan pedoman bagi: (1) koordinator POPT Kabupaten (Dinas Pertanian), (2) Danramil wilayah kekeringan (KODIM), (3) koordinator Liaison Officer (LO) Upaya Khusus (UPSUS) BPTP, di 14 provinsi yang terkena kekeringan, serta (4) beberapa eselon 2 dan 3 Balitbangtan, (5) Eselon 2 dan 3 Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, (6) eselon 2 dan 3 Ditjen Tanaman Pangan, dan (7) Tim kekeringan Kementerian Pertanian. Juknis Penentuan Sumber Air dan Jenis Irigasi Suplementer terdiri atas: (1) pendahuluan, (2) jenis-jenis sumber dan bangunan air, (3) identifikasi sumber dan bangunan air eksisting, (4) identifikasi dan pengembangan sumber dan bangunan air baru, (5) perawatan sumber dan bangunan air, dan (6) pelaporan hasil
- ItemRoad Map Strategi Sektor Pertanian Menghadapi Perubahan Iklim(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011) Las, Irsal; Runtuwutu, Eleonora; Surmaini, Elza; Estiningtyas, Woro; Suciantini; Amien, Istiqlal; Rejekiningrum, Popi; Pujilestari, Nurwindah; Unadi, Astu; Agus, Fahmudin; Susanti, Erni; Syahbuddin, Haris; Makarim, A.K; Irawan; Suwandi; Mudiarsa, Ketut G.; Wijayanti, Ari; Sutrisno, Nono; Noble, Pither; Wahyunto; Thalib, Amlius; Hamdani, Adang; HaryonoPerubahan iklim telah dan akan mengancam hampir semua lini kehidupan di muka bumi. Peningkatan suhu udara, kekeringan, banjir, dan badai topan adalah dampak langsung dari perubahan iklim. Fenomena alam ini telah terjadi di berbagai belahan dunia dan menimbulkan kerugian besar, termasuk penurunan produksi pertanian. Sektor pertanian paling peka terhadap perubahan iklim yang mengubah sistem produksi dan pola tanam. Di sisi lain, pertanian berperan penting dalam kehidupan umat manusia, baik sebagai sumber pangan maupun industri yang menggerakkan roda perekonomian. Meski peka terhadap iklim, sektor pertanian potensial dalam hal mitigasi. Indonesia dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia dan terus meningkat dari tahun ke tahun dituntut untuk mampu menyediakan pangan bagi semua lapisan masyarakat. Di sisi lain, dinamika pembangunan nasional berdampak terhadap konversi lahan pertanian dan sosial-ekonomi masyarakat. Hal ini merupakan tantangan yang perlu dicarikan jalan keluarnya.