Browsing by Author "Sri Wahyuni Indiati"
Now showing 1 - 6 of 6
Results Per Page
Sort Options
- ItemBeauveria Bassiana Biopestisida Ramah Lingkungan dan Efektif untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021-05) Marida Santi Yudha Ika Bayu; Yusmani Prayogo; Sri Wahyuni IndiatiBeauveria bassiana merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang termasuk dalam divisi Ascomycota, kelas Sordariomycetes, ordo Hypocreales dan famili Clavicipitaceae. B. bassiana dapat membunuh seluruh stadia serangga pada berbagai jenis hama tanaman dari ordo Homoptera, Hemiptera, Coleoptera, Lepidoptera, Orthoptera, Isoptera, Diptera, dan Hymenoptera. Efikasi B. bassiana dipengaruhi oleh berbagai jenis enzim yang dihasilkan yaitu: kitinase, protease, amilase, dan lipase yang berfungsi sebagai pendegradasi lapisan integumen serangga. Efikasi cendawan juga dipengaruhi oleh produksi toksin yang terdiri dari beauvericin, bassianin, bassiacridin, beauvericin, bassianolide, cyclosporine, oosporein, dan tenellin yang dapat mengganggu sistem syaraf dan membunuh serangga sasaran. Keunggulan B. bassiana bersifat ovisidal yang dapat menggagalkan penetasan telur selain membunuh stadia nimfa/larva maupun imago, sehingga dapat menekan perkembangan populasi dan menghambat terjadinya peledakan hama. Kelebihan lain B. Bassiana, yaitu bersifat endofit yang dapat menghambat perkembangan patogen tular tanah maupun penyakit karat daun (Phakospsora pachyrhizi), embun tepung (Microsphaera diffusa), dan embun bulu (Peronospora mansyurica). Cendawan B. Bassiana juga bersifat ramah lingkungan sehingga aman terhadap kelangsungan hidup musuh alami dan hewan ternak serta tidak mencemari sumber air maupun lingkungan. Aplikasi B. bassiana dapat menekan terjadinya resistensi maupun resurjensi. Waktu aplikasi B. bassiana dianjurkan pada sore hari dengan frekuensi aplikasi tiga kali. Cendawan B. bassiana prospektif untuk digunakan sebagai biopestisida dalam mengendalikan hama dan penyakit tanaman, ramah lingkungan, serta dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pestisida sintetik.
- ItemIdentifikasi dan Pengendalian Hama & Penyakit Tanaman Ubi Jalar(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2017) Nasir Saleh; Sri Wahyuni Indiati; Yudi Widodo; Sumartini; St.A. RahayuningsihGangguan hama, penyakit, dan gulma merupakan tantangan utama dalam budidaya ubi jalar yang dapat menurunkan hasil serta kualitas umbi dan bahan tanam (stek). Berbagai jenis hama serangga dan tungau menyerang bagian daun, batang, hingga umbi—seperti hama boleng (Cylas formicarius), penggerek batang (Omphisia anastomasalis), dan kutu kebul (Bemisia tabaci) yang juga menjadi vektor penyakit virus. Selain itu, serangan patogen jamur, bakteri, dan virus memicu penyakit berbahaya di lapangan seperti kudis (Sphaceloma batatas) dan busuk batang (Sclerotium rolfsii), maupun penyakit pascapanen pada simpanan seperti busuk lunak (Rhizopus stolonifer) dan busuk hitam (Ceratocystis fimbriata). Kehadiran gulma semusim dan menahun juga memicu persaingan hara, air, dan cahaya yang berpotensi menurunkan hasil umbi hingga 40–50% sekaligus menjadi tanaman inang bagi hama/patogen. Identifikasi yang tepat terhadap bioekologi hama, patogen, dan gulma merupakan langkah awal yang strategis untuk menentukan strategi pengendalian secara terpadu melalui kultur teknis, pengendalian biologis, mekanis, hingga penggunaan bahan kimia yang bijak.
- ItemKeragaan Karakter Agronomi dan Parameter Genetik Aksesi Ubi Jalar serta Toleransinya terhadap Hama Boleng(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2018-05) Wiwit Rahajeng; Sri Wahyuni IndiatiInformasi mengenai keragaan, keragaman, daya pewarisan, kemajuan genetik harapan, serta toleransi plasma nutfah ubi jalar (Ipomoea batatas L.) terhadap hama boleng (Cylas formicarius) sangat diperlukan dalam merakit varietas baru. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keragaan karakter agronomi, parameter genetik, dan toleransi 75 aksesi ubi jalar koleksi Balitkabi terhadap hama boleng. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Muneng pada Mei–September 2014 menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil analisis ragam menunjukkan perbedaan genotipe yang sangat nyata pada semua karakter yang diamati, di mana aksesi MLGI 0247 menghasilkan bobot umbi per plot tertinggi dan MLGI 0175 terendah. Dari 75 aksesi yang diuji, terdapat 1 aksesi dengan ketahanan tinggi (HR), 19 aksesi ketahanan menengah (MR), 41 aksesi ketahanan rendah (LR), 7 aksesi rentan (S), dan 7 aksesi ekstrim rentan (ES), dengan empat aksesi (MLGI 0257, MLGI 0035, MLGI 0226, MLGI 0281) menunjukkan potensi hasil cukup tinggi pada kategori LR. Karakter diameter sulur, bobot tajuk, bobot umbi/plot, kadar bahan kering umbi, dan intensitas kerusakan umbi memiliki keragaman genetik yang luas, sedangkan panjang sulur, luas daun, indeks panen, jumlah umbi/plot, dan persen umbi boleng memiliki keragaman genetik yang sempit. Indeks panen dan bobot umbi/plot memiliki nilai keragaman genetik luas, heritabilitas, serta kemajuan genetik harapan yang tinggi, sehingga kedua karakter tersebut berguna sebagai kriteria seleksi yang berpotensi memberikan respon positif dalam perbaikan hasil ubi jalar.
- ItemPenerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) pada Tanaman Kedelai(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2017-12) Sri Wahyuni Indiati; MarwotoPengendalian Hama Terpadu (PHT) memberi ruang dan hak kehidupan bagi semua komponen biota ekologi tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan. Sasaran pengendalian hama terpadu adalah mengurangi penggunaan pestisida kimia dengan memadukan berbagai komponen teknik pengendalian hayati dan aplikasi kimiawi jika teknik pengendalian lain tidak mampu menekan populasi hama. Pada tahun 1986 Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 1986 yang menjadi tonggak sejarah PHT di Indonesia,yaitu tentang larangan penggunaan 57 formulasi pestisida kimia untuk tanaman padi. Perkembangan selanjutnya adalah UU No 12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman yang menyatakan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem PHT. Pengendalian hama pada tanaman kedelai hingga kini masih bertumpu pada penggunaan pestisida kimia, sedangkan cara pengendalian yang lain masih belum banyak dilakukan. Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan berdampak pada timbulnya resistensi hama sasaran, dan pencemaran lingkungan pertanian, sehingga PHT perlu dilakukan. PHT pada tanaman kedelai merupakan teknik pengelolaan keseimbangan lingkungan pertanian melalui ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Strategi PHT adalah mensinergikan semua teknik atau metode pengendalian hama dan penyakit yang kompatibel didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. Prinsip operasional yang digunakan dalam PHT adalah (1) budidaya tanaman sehat, (2) penyeimbangan komponen ekobiota lingkungan, (3) pelestarian musuh alami, (4) pemantauan ekosistem secara terpadu, dan (5) mewujudkan petani aktif sebagai ahli PHT.
- ItemSerangga Hama Kedelai dan Musuh Alami di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019-10) Sri Wahyuni IndiatiKerusakan tanaman akibat serangan hama merupakan salah satu kendala pengembangan kedelai di lahan pasang surut. Informasi tentang komposisi spesies hama kedelai dan musuh alaminya merupakan kebijakan dasar pengelolaan hama terpadu di suatu lokasi, sehingga survei perlu dilakukan, untuk mengetahui dominasi dan status hama kedelai serta musuh alaminya di lahan pasang surut. Survei dilakukan pada bulan Juni sampai dengan November 2016 di Kalimantan Selatan. Serangga hama yang ditemukan di lokasi survei sangat tergantung dari umur/fase pertumbuhan tanaman saat dilakukan pencatatan. Komposisi jenis hama kedelai yang ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan adalah kutu kebul (Bemisia tabaci Gennadius), wereng daun (Empoasca kerri Pruthi), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli Tryon), ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius), belalang (Attractomorpha crenulata), perusak polong (Piezodorus hybneri Gmelin, Riptortus linearis Fabricius, Nezara viridula Linnaeus dan Etiella zinckenella Treitsche), dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H) 1,655 dan indeks dominansi Simpson (c) 0,214. Di antara hama-hama tersebut, S. litura, P. hybneri, R. linearis, N. viridula dan E. zinckenella merupakan hama penting di semua lokasi survei. Jenis musuh alami yang banyak ditemukan ada tiga jenis, yaitu Oxyopes sp., parasitoid dan Coccinella sp. dengan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H) 1,088 dan indeks dominansi Simpson (c) 0,415. Pengendalian hama pada tanaman kedelai di lahan pasang surut harus mempertimbangkan hama-hama utama dan musuh alaminya.
- ItemTetranychus urticae Koch (Acarina Tetranychidae) dan Faktor Ekstrinsik Penentu Pertumbuhan Populasi(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2023-05) Marida Santi Yudha Ika Bayu,; Yusmani; Sri Wahyuni IndiatiTetranychus urticae merupakan salah satu hama yang memiliki kisaran inang yang luas, tersebar di seluruh dunia baik di iklim tropis maupun subtropis, serta menimbulkan kerusakan ekonomi yang signifikan. Hama ini memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap acarisida karena siklus hidupnya yang pendek, sifat reproduksinya yang haplodiploid, serta akibat penggunaan acarisida secara intensif. Perubahan iklim akibat pemanasan global dapat memicu ledakan hama dan perubahan status suatu hama dari hama minor menjadi hama utama yang menimbulkan kerusakan hebat pada tanaman budidaya. T. urticae yang termasuk serangga ektoterm sangat sensitif terhadap variasi suhu. Selain suhu, faktor yang mempengaruhi perkembangan dan reproduksi T. urticae adalah inang (jenis pakan) dan lama penyinaran atau fotoperiod. Variasi faktor morfologi dan kimia antarjenis inang maupun antarvarietas tanaman sangat mempengaruhi perilaku konsumsi T. urticae yang berdampak pada perbedaan periode perkembangan dan reproduksi imago betina. Pada suhu tinggi (27o–35oC), perkembangan T. urticae lebih cepat dibandingkan pada suhu rendah (15o–25oC). Pada kisaran suhu rendah, suhu yang berfluktuasi lebih menguntungkan bagi T. urticae untuk berkembang dengan cepat dibandingkan dengan perkembangannya pada suhu konstan. Lama waktu penyinaran dapat mempercepat atau memperlambat waktu perkembangan dewasa pada kondisi suhu tertentu, yang akan turut mempengaruhi kemampuan reproduksi serangga tersebut. Oleh karena itu jenis pakan, suhu, dan fotoperiod perlu diperhatikan untuk memprediksi dengan tepat pertumbuhan populasi T. urticae di lapangan dan mengurangi terjadinya kesalahan dalam pengambilan tindakan pengendalian.