Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Sri Wahyuni"

Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Integritas Kelembagaan Petani Gapoktan dan P3A
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-11-14) Sri Wahyuni
    Peraturan pemerintah No 38 tahun 2007 yang menetapkan bahwa Departemen Pertanian di samping bertanggung jawab terhadap pembinaan kelompok tani/ Gapoktan juga terhadap P3A (semula menjadi tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum, PU), mulai berlaku pada tahun 2009. Anggota Gapoktan dan P3A adalah individu yang sama, dengan lingkungan alam dan sosial ekonomi yang sama. Maka mengintegrasikan kedua kelembagaan tersebut menjadi “Kelembagaan Kesejahteraan Petani” akan lebih efektif dan bermanfaat. Kelembagaan mencakup aspek “keorganisasian” dan “kelembagaan”. Teori pembangunan masyarakat “struktural fungsional” menekankan kedua aspek tersebut harus bekerjasama dengan baik sebagai suatu sistem. Kelembagaan Gapoktan yang memiliki multi peran tepat sebagai kelembagaan integrasi, dengan minimal lima subdivisi/seksi yaitu keuangan/ekonomi, pengadaan saprotan, pemasaran, teknologi plus menejemen ketersediaan air dalam struktur keorganisasian. Substansi “aspek kelembagaan” disarikan dari kelembagaan yang sukses, yang dimulai dari pemimpin yang mempunyai kepemimpinan yang kuat dan berorientasi bisnis
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengadaan Bahan Tanam Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Di Indonesia; Desa Mandiri Energi Serta Strategi Penelitian Di Masa Depan
    (Bayumedia Publishing, 2008) Hasnam; Cheppy Syukur; R.R. Sri Hartati; Sri Wahyuni; Dibyo Pranowo; Sri Eko Susilowati; Edi Purlani; Bambang Heliyanto; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
    Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Indonesia sudah menetapkan minyak jarak pagar dan minyak kelapa sawit dalam produksi biodiesel. Beberapa teknik budi daya dan pengolahan hasil sudah tersedia (terutama melalui inter-net), akan tetapi hasil-hasil perbaikan varietas masih sangat terbatas. Koleksi spesies dan provenan baru dimulai pada akhir 2005, dimana terkumpul 15 provenan/subprovenan dari berbagai daerah/populasi untuk disebarkan ke petani-peta-ni jarak pagar. Kemajuan yang cukup berarti, sudah dicapai pada tahun 2006 dan 2007 melalui seleksi rekuren seder-hana. Produktivitas tanaman meningkat dari 0,36 ton menjadi 0,97 ton biji kering per hektar pada siklus-1, kemudian meningkat menjadi 2,2 ton pada siklus-2 pada provenan Lampung. Demikian juga pada provenan Nusa Tenggara Barat dimana produktivitas biji kering meningkat dari 0,43 ton menjadi 1,0 ton pada siklus-1 kemudian 1,9 ton pada siklus-2. Diperkirakan, produktivitas jarak pagar akan mencapai 6–7 ton per hektar sesudah tahun ke-4 dan seterusnya. Dengan perkiraan di atas, selama tahun 2007/2008, akan dihasilkan 10 ton IP-1 dan 2,0 ton IP-2 yang akan didistribusikan ke seluruh Indonesia. Hasil penelitian simulasi menunjukkan bahwa dengan teknologi yang tersedia, usaha tani jarak pagar masih menimbulkan kerugian di pihak petani selama dua tahun pertama. Tanpa bantuan dari pemerintah/swasta, dalam bentuk kredit dan perlindungan investasi dari pemerintah, pengembangan jarak pagar tidak akan mencapai sasaran yang ditetapkan. Dalam pengembangan jarak pagar, Pemerintah Indonesia mencanangkan konsep Desa Mandiri Energi (DME) berbasis jarak pagar, dengan memanfaatkan kelembagaan yang tersedia atau baru terbentuk. Pelaksanaan pro-gram ini akan dilaksanakan secara bertahap di desa-desa tertinggal sebagai bagian dari program penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan. Penelitian jarak pagar di masa depan ditujukan ke pemanfaatan secara maksimum seluruh potensi jarak pagar. Untuk itu perlu dilakukan penelitian yang akan menjadi sumber data dalam pemanfaatan tersebut. Juga dikemukakan strategi penelitian terpadu dari Sichuan University. Program nasional jarak pagar dapat di-sesuaikan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya nasional dalam mengatasi krisis energi untuk Indonesia.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Produktivitas Varietas Padi dari Kelas Benih Berbeda
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013-12-15) Sri Wahyuni; Indria W. Mulsanti; Satoto
    Dalam sistem sertifikasi benih di Indonesia, benih diklasifikasikan menjadi empat kelas benih, yaitu benih penjenis (BS), benih dasar (BD), benih pokok (BP) dan benih sebar (BR). Petani seharusnya menggunakan benih sebar untuk memproduksi beras. Namun, di beberapa provinsi banyak petani yang menggunakan benih pokok karena menganggap bahwa kelas benih yang lebih tinggi akan menghasilkan gabah yang lebih banyak. Padahal sertifikasi benih dirancang untuk mengendalikan keaslian dan kemurnian varietas, sehingga potensi genetik dapat tercermin di pertanaman. Hasil gabah dipengaruhi oleh faktor genetik dan agroekologi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu benih dari kelas benih yang lebih tinggi tidak selalu lebih baik dibandingkan dengan kelas benih di bawahnya. Selain itu, pertanaman dengan menggunakan kelas benih yang lebih tinggi dari varietas yang sama tidak memberikan perbedaan karakter agronomis tanaman (tinggi tanaman dan jumlah anakan) dan tidak menunjukkan perbedaan komponen hasil (bobot gabah isi, panjang malai dan jumlah gabah isi per malai), serta tidak menunjukkan hasil gabah yang lebih tinggi. Dengan demikian anggapan yang berkembang di petani dan stakeholder lainnya bahwa “semakin tinggi kelas benih maka hasilnya semakin tinggi” adalah persepsi yang salah. Sertifikasi benih dirancang untuk mempertahankan kemurnian genetik bukan untuk meningkatkan produktivitas.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback