Browsing by Author "Priatmojo, Bhakti"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemDampak Penerapan Inovasi Teknologi Terhadap Hasil Dan Pendapatan Petani Dalam GP-PTT Pajale(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Priatmojo, Bhakti; Nugraha, Dedi; Wardana, I Putu; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian memiliki program untuk meningkatkan produksi agar tercapainya swasembada pangan, salah satunya yaitu program GP-PTT Padi, Jagung dan Kedelai. Program GP-PTT perlu diawasi, dikawal, diperbaiki dan dianalisis efektifitasnya baik dari dampaknya terhadap hasil produksi maupun terhadap kesejahteraan petani. Efektifitas program dapat dilihat melalui kelebihan dan kekurangannya dibandingkan sebelum adanya pelaksanaan program. Pelaksanaan GP-PTT jagung di Demak dari segi input produksi sesuai dengan pedoman umum, namun pelaksanaan PHT belum dipahami oleh seluruh petani. Produktivitas GP-PTT jagung di Demak (4.65 t/ha) menurun 17% dibandingkan musim yang sama pada tahun sebelumnya (5,62 t/ha), namun pendapatan petani dapat meningkat 80% Peningkatan pendapatan tersebut diperoleh dari efisiensi tenaga kerja (berkurang 20 HOK/ha) dan efisiensi dosis pupuk NPK yang diaplikasikan. Pelaksanaan GP-PTT kedelai di Sragen dari segi input produksi sebagian besar tidak melakukan olah tanah (TOT). Produktivitas GP-PTT kedelai di Sragen (1,38 t/ha) meningkat sedikit dari musim yang sama pada tahun sebelumnya (1,37 t/ha). Pelaksanaan GP-PTT padi di Klaten secara umum masih terjadi ketidaksesuaian dengan pedoman umum seperti tidak melakukan seleksi benih, jumlah bibit per rumpun berlebih dan penerapan legowo yang keliru. Dalam segi hasil, produktivitas GP-PTT padi di Klaten (5,1 t/ha) mengalami kenaikan sedikit dibandingkan musim yang sama tahun sebelumnya (5,06 t/ha).
- ItemDampak Penerapan Inovasi Teknologi Terhadap Hasil Dan Pendapatan Petani Dalam GP-PTT Pajale(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Priatmojo, Bhakti; Nugraha, Dedi; Wardana, I Putu; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian memiliki program untuk meningkatkan produksi agar tercapainya swasembada pangan, salah satunya yaitu program GP-PTT Padi, Jagung dan Kedelai. Program GP-PTT perlu diawasi, dikawal, diperbaiki dan dianalisis efektifitasnya baik dari dampaknya terhadap hasil produksi maupun terhadap kesejahteraan petani. Efektifitas program dapat dilihat melalui kelebihan dan kekurangannya dibandingkan sebelum adanya pelaksanaan program. Pelaksanaan GP-PTT jagung di Demak dari segi input produksi sesuai dengan pedoman umum, namun pelaksanaan PHT belum dipahami oleh seluruh petani. Produktivitas GP-PTT jagung di Demak (4.65 t/ha) menurun 17% dibandingkan musim yang sama pada tahun sebelumnya (5,62 t/ha), namun pendapatan petani dapat meningkat 80% Peningkatan pendapatan tersebut diperoleh dari efisiensi tenaga kerja (berkurang 20 HOK/ha) dan efisiensi dosis pupuk NPK yang diaplikasikan. Pelaksanaan GP-PTT kedelai di Sragen dari segi input produksi sebagian besar tidak melakukan olah tanah (TOT). Produktivitas GP-PTT kedelai di Sragen (1,38 t/ha) meningkat sedikit dari musim yang sama pada tahun sebelumnya (1,37 t/ha). Pelaksanaan GP-PTT padi di Klaten secara umum masih terjadi ketidaksesuaian dengan pedoman umum seperti tidak melakukan seleksi benih, jumlah bibit per rumpun berlebih dan penerapan legowo yang keliru. Dalam segi hasil, produktivitas GP-PTT padi di Klaten (5,1 t/ha) mengalami kenaikan sedikit dibandingkan musim yang sama tahun sebelumnya (5,06 t/ha).
- ItemPendapatan Usahatani Pangan Dalam Pola Tanam Setahun Dan Peluang Peningkatannya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Wardana, I Putu; Priatmojo, Bhakti; Nugraha, Dedi; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Kebutuhan padi, jagung dan kedelai sebagai bahan pangan dan pakan di Indonesiaterus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Ketersediaan komoditas tersebut dalam jumlah yang cukup dan tingkat harga yang wajar diperlukan oleh konsumen maupun petani. Pendapatan usahatani padi, jagung dan kedelai biasanya dianalisis secara terpisah, sehingga hasil analisisnya sering bias atau cenderung “overestimate”.Oleh karena itu analisis usahatani padi, jagung dan kedelai perlu dilakukan dalam kesatuan pola tanam setahun. Penelitian dilakukan dengan metode survai di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan pada tahun 2014. Sebanyak 70 responden dipilih secara acak berstrata (stratified random sampling) untuk mewakili petani yang menerapkan pola tanam Padi-Padi-Jagung dan Padi-Padi-Kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan dari usahatani dalam pola tanam setahun komoditas padi-padi-jagung dan padi-padi-kedelai tidak berbeda nyata. Pendapatan kedua pola tanam mencapai Rp 26,4 juta dan Rp 25,5 juta per ha dari total penerimaan kedua pola tanam yang masing-masing mencapai Rp 49,5 juta dan Rp 47,9 juta. Penerimaan dari hasil padi pada MH dan MK masing-masing mencapai Rp 22,2 juta dan Rp 18,7 juta. Pendapatan dari usahatani padijauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jagung dan kedelai.Pendapatan usahatani padi pada MH dan MK masing-masing Rp 14,1 juta dan Rp 10,3 juta per ha, sedangkan pendapatan usahatani jagung dan kedelai masing mencapai Rp 2,0 juta dan Rp 1,2 juta, yang diperoleh dari hasil produksi sebesar Rp 8,6 juta dan Rp 6,9 juta per ha. Usahatani padi dalam dua musim menyumbang sekitar 80% pendapatan usahatani dalam setahun.Faktor yang berpengaruh tingginya produksi padi pada MH adalah luas lahan, pupuk kimia dan tenaga kerja, sementara pada MK1 yang mempengaruhi adalah luas lahan dan tenaga kerja. Sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung adalah benih dan yang berpengaruh terhadap produksi kedelai adalah benih dan pupuk organik. Peluang peningkatan produksi padi dapat dicapai dengan penerapan pemupukan hara spesifik lokasi (PHSL) dan pengaturan jarak tanam melalui teknik tanam legowo 4:1, dimana hasilnya mampu mencapai nilai Rp 23,6 juta dan pendapatan Rp 16 juta. Sedangkan peningkatan produksi jagung dilakukan dengan mengintroduksikan varietas jagung hibrida (Bima URI dan P-27) dan PHSL dengan hasil senilai Rp 18,8 juta dan pendapatan Rp 12,2 juta. Sementara itu peningkatan produksi kedelai dilakukan dengan perbaikan teknologi pemupukan dengan hasil senilai Rp 14,9 juta dan pendapatan Rp 6,8 juta.
- ItemPendapatan Usahatani Pangan Dalam Pola Tanam Setahun Dan Peluang Peningkatannya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Wardana, I Putu; Priatmojo, Bhakti; Nugraha, Dedi; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Kebutuhan padi, jagung dan kedelai sebagai bahan pangan dan pakan di Indonesia terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Ketersediaan komoditas tersebut dalam jumlah yang cukup dan tingkat harga yang wajar diperlukan oleh konsumen maupun petani. Pendapatan usahatani padi, jagung dan kedelai biasanya dianalisis secara terpisah, sehingga hasil analisisnya sering bias atau cenderung “overestimate”. Oleh karena itu analisis usahatani padi, jagung dan kedelai perlu dilakukan dalam kesatuan pola tanam setahun. Penelitian dilakukan dengan metode survai di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan pada tahun 2014. Sebanyak 70 responden dipilih secara acak berstrata (stratified random sampling) untuk mewakili petani yang menerapkan pola tanam padi–padi-jagung dan padi-padi-kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan dari usahatani dalam pola tanam setahun komoditas padi-padi-jagung dan padi-padi-kedelai tidak berbeda nyata.Pendapatan kedua pola tanam mencapai Rp 26,4 juta dan Rp 25,5 juta per ha dari total penerimaan kedua pola tanam yang masing-masing mencapai Rp 49,5 juta dan Rp 47,9 juta. Penerimaan dari hasil padi pada MH dan MK masing-masing mencapai Rp 22,2 juta dan Rp 18,7 juta. Pendapatan dari usahatani padi jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jagung dan kedelai. Pendapatan usahatani padi pada MH dan MK masing-masing Rp 14,1 juta dan Rp 10,3 juta per ha, sedangkan pendapatan usahatani jagung dan kedelai masing mencapai Rp 2,0 juta dan Rp 1,2 juta, yang diperoleh dari hasil produksi sebesar Rp 8,6 juta dan Rp 6,9 juta per ha. Usahatani padi dalam dua musim menyumbang sekitar 80% pendapatan usahatani dalam setahun. Faktor yang berpengaruh tingginya produksi padi pada MH adalah luas lahan, pupuk kimia dan tenaga kerja, sementara pada MK1 yang mempengaruhi adalah luas lahan dan tenaga kerja. Sedangkan faktor yang berpengaruh terhadap produksi jagung adalah benih dan yang berpengaruh terhadap produksi kedelai adalah benih dan pupuk organik. Peluang peningkatan produksi padi dapat dicapai dengan penerapan pemupukan hara spesifik lokasi (PHSL) dan pengaturan jarak tanam melalui teknik tanam legowo 4:1, dimana hasilnya mampu mencapai nilai Rp 23,6 juta dan pendapatan Rp 16 juta. Sedangkan peningkatan produksi jagung dilakukan dengan mengintroduksikan varietas jagung hibrida (Bima URI dan P-27) dan PHSL dengan hasil senilai Rp 18,8 juta dan pendapatan Rp 12,2 juta. Sementara itu peningkatan produksi kedelai dilakukan dengan perbaikan teknologi pemupukan dengan hasil senilai Rp 14,9 juta dan pendapatan Rp 6,8 juta.
- ItemStudi Kelayakan Usaha Tani Varietas Padi Khusus di Kabupaten Cianjur(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Priatmojo, Bhakti; Ikhwani; Wardhana, I PutuAbstrak Studi Kelayakan Usaha tani Varietas Padi Khusus di Kabupaten Cianjur Peningkatan produksi pada usaha tani beras khusus merupakan hal yang diharapkan dapat mengurangi jumlah impor beras khusus yang berasal dari luar negeri. Permasalahan saat ini rendahnya produksi beras khusus salah satunya karena banyak petani yang belum menanam beras khusus pada usaha taninya, oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas dan kelayakan ekonomi usaha tani padi khusus. Percobaan dilaksanakan di lahan petani, dilaksanakan pada Mei – Agustus 2016, pada areal seluas 3 ha dan di lahan berpengairan teknis, di Desa Karang Wangi, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Lahan dibagi menjadi tujuh hamparan luasan 0,5 ha, dengan varietas khusus dan varietas existing sebagai pembanding ditanam di lahan petani. Tujuh varietas khusus yang digunakan yaitu: Inpari 17, Inpara 4, Inpari 21, Cisokan, Tayken, lusi, dan beras ketan lokal grendel. Hasil gabah varietas khusus terbaik varietas Inpara 4 (8.74 t GKG /ha) diikuti varietas Cisokan (8,21 t GKG /ha), penerimaan paling besar terdapat pada varietas Inpara 4, yaitu sebesar Rp. 34.984.000,- dan yang terendah pada varietas inpari 21 sebesar Rp. 20.003.000,-. Beras khusus dengan R/C ratio yang lebih tinggi dari varietas kontrol terdapat pada varietas Inpara 4, Lusi, Tayken dan Cisokan, dengan R/C ratio masing-masing sebesar 3.39, 3.32, 3.21 Dan 3.18. Analisis TIP dan TIH tertinggi terhadap 7 (tujuh) varietas khusus yang diuji (Cisokan, Inpari 17, Inpari 21, Inpara 4, Tayken, Grendel, dan Lusi masih lebih tinggi daripada TIH dan TIP yang ditentukan. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengembangan varietas-varietas khusus petani tidak akan mengalami kerugian meskipun terjadi penurunan produktivitas ataupun harga apabila tidak kurang dari nilai TIH dan TIP. Abstract. Feasibility of the Special Rice Varieties Farming System in Cianjur District. Increased production on special rice farming is expected by the government since it could reduce the number of imports of some special rice that comes from abroad, the problem today is the low production of special rice from local farmerstherefore the purpose of this research is to study the economic feasibility of a special rice farming in enhancing the productivity and income of farmers. The experiment was conducted in farmers’ fields, conducted in May-August 2016 on the +3 ha area with technical irrigation land, in the village of Karang Wangi, Ciranjang subdistrict, Cianjur, West Java. The location for this research was purposively selected, with consideration Karangwangi Village is a village that has been applying technology in an effort to increase rice production. The land is divided into seven plots in the same area (0.2 to 0.5 ha), The treatment are combination of special varieties and double row spacing 4: 1 planting. Seven special varieties are: Inpari 17; Inpara 4 (29%); Inpari 21 (18%); Cisokan; Tayken; Lusi (6%); and the local glutinous rice Grendel. Results of the research showed the best special varieties of rice are “varieties Inpara 4” (8.74 t /ha) followed by Cisokan (8.21 t grain / ha). The greatest revenue contained in Inpara 4 varieties, with Rp. 34,984,000, - and the lowest is Inpari 21 Rp. 20,003,000, -. Special rice that feasible are Inpara 4, Lusi, Tayken and Cisokan, with a value of R/C ratio respectively of 3.39, 3.32, 3.21 and 3.18. The result of Breakeven Product and Breakeven Price Analysis to seven special varieties shows that the development of special varieties will not suffer losses despite a decrease in productivity or the price is not reached Breakeven Product and Breakeven Price value. Therefore the value of tested variety farming remain profitable.