Browsing by Author "Nurlaila Safitri"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemTeknologi Budidaya Kangkung Hidroponik Berbasis Media Batu Koral(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Nurlaila SafitriKeterbatasan lahan subur serta tingginya biaya investasi media tanam hidroponik standar mendorong perlunya inovasi budidaya yang murah, melimpah, dan berkelanjutan. Teknologi budidaya kangkung hidroponik berbasis media batu koral menyajikan teknik menanam tanpa tanah (soilless) memanfaatkan pecahan batu koral lokal sebagai alas penyangga akar sekaligus penyerap larutan nutrisi. Tujuan dari penerapan teknologi ini adalah untuk menyediakan solusi pertanian di lahan terbatas atau kritis, meminimalkan serangan hama/penyakit tanah, meningkatkan efisiensi air-pupuk, serta menyeragamkan bobot tanaman dengan masa panen yang lebih cepat. Prosedur praktik terbaik (best practice) dilakukan pada petakan ukuran $3\times1$ meter menggunakan batu koral berukuran 2–5 cm yang telah dicuci bersih dan direndam selama 1–2 jam. Batu koral kemudian disusun setebal 10–15 cm secara rata, lalu dibuat alur horizontal dengan jarak antar-alur 5–10 cm sebagai tempat penaburan benih kangkung varietas "Bika". Kondisi lingkungan optimal yang dipersyaratkan meliputi suhu udara 25–32 °C, paparan sinar matahari 5–6 jam/hari, dan suplai air bersih ber-pH 5,5–6,5 yang dikombinasikan dengan nutrisi AB Mix atau pupuk daun. Hasil implementasi menunjukkan kangkung siap dipanen pada umur 25 hari setelah tanam saat tinggi tanaman mencapai 25–30 cm. Karakteristik batu koral yang berpori terbukti efektif menjaga sirkulasi udara di sekitar perakaran dan menstabilkan kebutuhan tanaman. Aspek ekonomis utama dari teknologi ini adalah penghematan biaya media tanam hingga 90% karena batu koral dapat dibersihkan dan digunakan kembali secara terus-menerus, serta mampu menghemat penggunaan air hingga 70% dibanding metode konvensional. Meskipun memiliki keterbatasan berupa bobot media yang berat saat pemasangan awal dan kapasitas retensi air yang rendah, sistem hidroponik koral ini sangat potensial diaplikasikan sebagai solusi pangan adaptif di wilayah pesisir, lahan gambut, maupun area rawan banjir. Kata Kunci: Hidroponik, Kangkung Bika, Batu Koral, Efisiensi Sumber Daya, Lahan Kritis.
- ItemTeknologi Budidaya Kangkung Hidroponik Berbasis Media Batu Koral(SMK Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru, 2026) Nurlaila SafitriTeknologi budidaya kangkung hidroponik berbasis media batu koral merupakan teknik menanam tanpa tanah (soilless) yang memanfaatkan pecahan batu koral lokal sebagai penyangga akar dan penyerap larutan nutrisi. Inovasi ini bertujuan memanfaatkan bahan lokal yang melimpah sebagai alternatif media tanam yang murah, awet, dan efektif untuk mengatasi keterbatasan lahan kritis, gambut, maupun area rawan banjir. Metode implementasi dilakukan dengan menyusun batu koral bersih (ukuran 2–5 cm) di dalam petakan tanah ukuran $3 \times 1$ meter dengan ketebalan 10–15 cm. Benih kangkung varietas "Bika" ditanam pada alur horizontal berjarak 5–10 cm dan disiram secara rutin menggunakan nutrisi AB Mix atau pupuk daun pada kisaran pH air 5,5–6,5. Sistem ini mensyaratkan kondisi lingkungan dengan suhu udara 25–32 °C dan paparan sinar matahari selama 5–6 jam per hari. Hasil penerapan menunjukkan kangkung tumbuh dengan lebih bersih, sehat, dan dapat dipanen cepat pada umur 25 hari saat tinggi tanaman mencapai 25–30 cm. Keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensi biaya yang tinggi karena struktur batu koral yang berpori dapat dibersihkan dan digunakan kembali secara berulang kali untuk musim tanam berikutnya. Meskipun memiliki kelemahan berupa bobot media yang berat saat instalasi awal dan kapasitas retensi air yang rendah, inovasi ini sangat potensial diaplikasikan sebagai solusi ketahanan pangan lokal yang ramah lingkungan. Kata Kunci: Kangkung Hidroponik, Batu Koral, Kangkung Bika, Lahan Kritis, Ramah Lingkungan.