Browsing by Author "N. Usyati"
Now showing 1 - 13 of 13
Results Per Page
Sort Options
- ItemEfektivitas Pemasangan Jaring Dalam Mengendalikan Hama Penggerek Batang Padi Kuning (Scirpophaga incertulas Wlk) di Pesemaian(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) N. Usyati; Kurniawati, Nia; Nuryanto, Bambang; Jamil, AliPemasangan jaring umumnya digunakan sebagai salah satu cara dalam pengendalian hama burung di pertanaman padi. Sampai saat ini pemasangan jaring tersebut belum banyak digunakan untuk mengendalikan hama penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Wlk). Pada MT-1 tahun 2015 penelitian dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai efektivitas pemasangan jaring dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning di persemaian telah dilakukan di lahan koperasi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi dan di lahan Petani di daerah Pabuaran Subang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan 20 titik pengamatan sebagai ulangan. Perlakuan terdiri atas: 1) pengambilan kelompok telur penggerek dan aplikasi insektisida; 2) jaring tanpa insektisida; 3) cara petani (aplikasi insektisida saja). Jaring digunakan hanya saat di pesemaian. Variabel yang diamati meliputi populasi ngengat, jumlah kelompok telur, dan tingkat serangan penggerek batang padi. Pengamatan dilakukan dengan interval satu minggu sekali sejak benih disebar sampai tanaman berumur satu bulan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan jaring efektif dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning di pesemaian dan efektivitasnya setara dengan pengendalian cara petani yaitu pengendalian yang hanya menggunakan aplikasi insektisida saja.
- ItemEvaluasi Ambang Kendali Hama Penggerek Batang Padi Kuning Scirpophaga Incertulas (Walker) (Lepidoptera: Pyralidae) Dan Nilai Ekonominya Pada Varietas Padi Yang Berbeda Umur(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI), 2017) N. Usyati; Kurniawati, Nia; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI)Penggerek batang padi kuning adalah salah satu hama utama pada pertanaman padi di Indonesia. Insektisida merupakan andalan petani untuk mengendalikan hama ini,namun hasilnya tidak memuaskan. Salah satu factor penyebabnya adalah waktu aplikasi insektisida yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ambang kendali hama penggerek batang padi kuning untuk menentukan waktu aplikasi insektisida yang tepat pada varietas padi yang berbedaumur. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi pada musim kemarau tahun 2011. Rancangan yang digunakan adalah split plot dengan 3 ulangan. Petak utama adalah varietas (A), yaitu: a1–varietas IR42 (berumur sedang); a2–varietas IR64 (berumur genjah); dan a3–varietas INPARI 13 (berumur sangat genjah). Anak petak adalah dasar ambang kendali (B), yaitu: b1– aplikasi insektisida dilakukan pada 4 hari setelah penerbangan ngengat apabila jumlah ngengat yang tertangkap pada light trap sebanyak 1 individu; b2– aplikasi insektisida dilakukan pada 4 hari setelah penerbangan ngengat apabila jumlah ngengat yang tertangkap pada light trap kurang dari 10 individu; b3– aplikasi insektisida dilakukan pada 4 hari setelah penerbangan ngengat apabila jumlah ngengat yang tertangkap pada lighttrap lebih dari 10 individu; b4–aplikasi insektisida dilakukan apabila intensitas serangan 5%; b5–aplikasi insektisida dilakukan apabila intensitas serangan 10%, b6–aplikasi insektisida dilakukan apabila intensitas serangan lebih dari 10%, dan b7–kontrol (tanpa pengendalian). Variabel yang diamati adalah tingkat intensitas serangan hama penggerek batang padi dan hasil panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambang kendaliuntuk hama penggerek batang padi kuning pada varietas IR42, IR64, dan Inpari 13 adalah sama yaitu pada 4 hari setelah penerbangan ngengat apabila jumlah ngengat yang tertangkap pada light trap sebanyak 1 individu. Dasar ambang kendali ini secara ekonomi memberikan pendapatan tertinggi sebesar Rp 981.000/ ha dan rasio biaya: pendapatannya adalah 1: 2,49.
- ItemIdentifikasi Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) di Rumah Kaca(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kadir, Triny S.; Roza, Celvia; N. Usyati; Jana Mejaya, MadePenelitian identifikasi ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) telah dilakukan di rumah kaca BB Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2013. Penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2013 Hasil pengujian aksesi asal koleksi plasma nutfah terhadap ketiga jenis patotipe Xoo menunjukkan bahwa aksesi plasma nutfah hanya memiliki sifat ketahanan terhadap patotipe III saja, baik pada pengujian stadia vegetatif maupun generatif dengan reaksi agak tahan hingga tahan. Aksesi tersebut adalah Ase Balacung (793), Cere Campak (5818), Cere Bandung (5915), Bumbuy Inih (5929), Ceredek (6301), dan GADIS LANGSAT (6966).
- ItemIdentifikasi Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) di Rumah Kaca(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kadir, Triny S.; Roza, Celvia; N. Usyati; Jana Mejaya, MadePenelitian identifikasi ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) telah dilakukan di rumah kaca BB Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2013. Penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2013 Hasil pengujian aksesi asal koleksi plasma nutfah terhadap ketiga jenis patotipe Xoo menunjukkan bahwa aksesi plasma nutfah hanya memiliki sifat ketahanan terhadap patotipe III saja, baik pada pengujian stadia vegetatif maupun generatif dengan reaksi agak tahan hingga tahan. Aksesi tersebut adalah Ase Balacung (793), Cere Campak (5818), Cere Bandung (5915), Bumbuy Inih (5929), Ceredek (6301), dan GADIS LANGSAT (6966).
- ItemIdentifikasi Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Penyakit Tungro di Rumah Kaca(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Roza, Celvia; Kusdiaman, Dede; Kurniawati, Nia; N. Usyati; Jana Mejaya, MadePenelitian identifikasi ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit tungro telah dilakukan di rumah kaca BB Padi pada MT-1 dan MT-2 tahun 2013. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi materi genetik aksesi plasma nutfah padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan gejala penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2013. Dari 75 aksesi koleksi plasma nutfah padi yang diuji diperoleh 3 aksesi yang menunjukkan reaksi tahan terhadap virus tungro yaitu Beronaja (519) dengan skor ketahanan 1, Pare Lottong (7928) dengan skor ketahanan 1, dan Pare Pulu (7929) dengan skor ketahanan 3. Ketiga aksesi plasma nutfah tersebut berpotensi untuk dijadikan tetua dalam perakitan varietas yang tahan terhadap serangan penyakit tungro.itu grassy stunt.
- ItemIdentifikasi Tetua Baru untuk Sifat Ketahanan terhadap Hawar Daun Bakteri Melalui Pengujian(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2019-12) Roza, Celvia; N. Usyati; Ruskandar, Ade; Hapsari Wening, Rina; Heryanto; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Identifikasi tetua baru untuk sifat ketahanan terhadap hawar daun bakteri melalui pengujian aksesi plasma nutfah telah dilakukan di rumah kaca BB Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2012. Tujuan kegiatan ini untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Metode yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Aksesi plasma nutfah yang diuji sebanyak 89 aksesi, dan diuji pada stadia vegetatif dan generatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi plasma nutfah padi yang teridentifikasi tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) patotipe III pada fase vegetative maupun fase generatif ialah Dekor (5759), NH-2-92 (5895), Pete Lambeun (5928), Ekor Hitam (1053), Padi Durian A (6162), Ketan Wuluh (6128), dan Tomas (7938). Aksesi plasma nutfah padi yang teridentifikasi bereaksi agak tahan terhadap HDB patotipe IV adalah NH-2-92 (5895), dan Padi Jambai (6630), sedangkan yang teridentifikasi tahan terhadap HDB patotipe VIII adalah NH-2-92 (5895) dan yang bereaksi agak tahan terhadap HDB patotipe VIII adalah Lampung Kuning (1070) dan Lumbu (2203).
- ItemKarakterisasi Ketahanan Varietas Padi Lokal Terhadap Penyakit Tungro(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Kusdiaman, Dede; Roza, Celvia; Suprihanto; N. Usyati; Rumasa, OcoAbstrak Penyakit tungro disebabkan oleh infeksi dua virus yang berbeda, yaitu Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV), yang keduanya hanya dapat ditularkan oleh wereng hijau (vektor) secara semi persisten. Kisaran kehilangan hasil pada stadia yang terinfeksi 2–12 minggu setelah tanam (mst) antara 20-90%. Penelitian telah dilakukan di rumah kasa BB Padi Sukamandi pada MT-1/MT-2 tahun 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi varietas padi lokal (aksesi plasma nutfah padi) yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro. Materi genetik yang digunakan adalah 100 nomor varietas padi lokal (aksesi), inokulum tungro varian Garut dan Purwakarta, dan wereng hijau. Metode inokulasi dilakukan dengan mengakuisisi wereng hijau sebagai vektor pada tanaman sumber inokulum Garut dan Purwakarta, kemudian diinvestasikan ke tanaman uji supaya menularkan virus tungro. Pengamatan dilakukan pada 2 minggu setelah inokulasi atau setelah TN1 sebagai kontrol rentan menunjukkan reaksi rentan. Karakterisasi ketahanan dilakukan dengan cara skoring berdasarkan SES IRRI 2014 dan dihitung indeks penyakitnya. Hasil penelitian menunjukkan 1 aksesi yang bereaksi agak tahan terhadap inokulum Garut, dan 3 aksesi bereaksi agak tahan terhadap inokulum Purwakarta, selebihnya bereaksi rentan terhadap inokulum Garut maupun Purwakarta. Aksesi yang bereaksi agak tahan terhadap inokulum Garut adalah Kuriak (9582) yang bereaksi agak tahan pada skala 6. Tiga aksesi yang bereaksi agak tahan terhadap inokulum Purwakarta adalah Cungkring (9523) yang bereaksi agak tahan pada skala 5, Oseg (9529) yang bereaksi agak tahan pada skala 6, dan Muncul (9547) yang bereaksi agak tahan pada skala 4. Abstrack Tungro is a found in rice crop disease caused by an infection of two different viruses, namely Rice tungro bacilliform virus (RTBV) and Rice tungro spherical virus (RTSV). These two viruses can only be transmitted by green leafhoppers (vectors) semipersisten. The range of result loss in infected stadia 2-12 weeks after planting (wap) between 20-90%. The research had been done at the house of ICRR Sukamnadi at dry season and rainy season in 2016. The purpose of this research was to characterize local rice varieties (rice germplasm accession) which resistant to tungro disease. Genetic materials used were 100 numbers of local rice varieties (accession), inoculum tungro used variant were Garut and Purwakarta, and green leafhoppers. Inoculation method was conducted by acquiring green leafhoppers as vector for the plant of inoculum source Garut and Purwakarta. The green leafhoppers infested to the test plant for transmitting tunro virus. Observations was performed at 2 weeks after inoculation or after TN1 as susceptible check to show a susceptible reaction. Characterization resistance was performed by scoring according to SES IRRI 2014 and calculating the disease index. The results showed that 1 accession reacted moderate resistant to Garut inoculum, and 3 accessions reacted moderate resistant to Purwakarta inoculum, the rest were susceptible to Garut inoculum and Purwakarta. The accession that reacts moderate resistant to the Garut inoculum has Kuriak (9582) which reacts somewhat resistant on a scale of 6. The three accessions that react moderate resistant to the Purwakarta inokulum were Cungkring (9523) which reacts moderate resistance on a scale of 5, Oseg (9529) which reacts moderate resistant on scale 6, and Muncul (9547) which reacts moderate resistant on a scale of 4.
- ItemKetahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Varian Virus Tungro Asal Garut, Magelang dan Lanrang(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kusdiaman, Dede; Jamil, Ali; Roza, Celvia; Kurniawati, Nia; N. UsyatiPenelitian ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap varian virus tungro asal Garut, Magelang, dan Lanrang telah dilakukan di rumah kaca BB Padi pada MT-1 dan MT-2 tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi materi genetik aksesi plasma nutfah padi (aksesi baru yang sudah dikarakterisasi secara agronomi) yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2014. Varian virus tungro yang digunakan untuk skrining adalah varian 073(Garut), 031 (Magelang), dan 013 (Lanrang). Empat belas hari setelah inokulasi tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan gejala penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2014. Hasil penelitin menunjukkan bahwa dari 60 aksesi koleksi plasma nutfah padi BB Padi yang diskrining baik terhadap varian virus tungro 073 (Garut), 031 (Magelang), dan 013 (Lanrang) tidak diperoleh satu aksesi pun yang bereaksi tahan. Semua aksesi bereaksi rentan terhadap tungro dengan skala 7 sampai 9.
- ItemKetahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Varian Virus Tungro Asal Garut, Magelang dan Lanrang(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kusdiaman, Dede; Jamil, Ali; Roza, Celvia; Kurniawati, Nia; N. UsyatiPemasangan jaring umumnya digunakan sebagai salah satu cara dalam pengendalian hama burung di pertanaman padi. Sampai saat ini pemasangan jaring tersebut belum banyak digunakan untuk mengendalikan hama penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Wlk). Pada MT-1 tahun 2015 penelitian dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai efektivitas pemasangan jaring dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning di persemaian telah dilakukan di lahan koperasi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi dan di lahan Petani di daerah Pabuaran Subang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan 20 titik pengamatan sebagai ulangan. Perlakuan terdiri atas: 1) pengambilan kelompok telur penggerek dan aplikasi insektisida; 2) jaring tanpa insektisida; 3) cara petani (aplikasi insektisida saja). Jaring digunakan hanya saat di pesemaian. Variabel yang diamati meliputi populasi ngengat, jumlah kelompok telur, dan tingkat serangan penggerek batang padi. Pengamatan dilakukan dengan interval satu minggu sekali sejak benih disebar sampai tanaman berumur satu bulan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan jaring efektif dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning di pesemaian dan efektivitasnya setara dengan pengendalian cara petani yaitu pengendalian yang hanya menggunakan aplikasi insektisida saja.
- ItemKetahanan Varietas Padi Lokal Terhadap Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas Oryzae Pv. Oryzae)(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Roza, Celvia; S. Kadir, Triny; N. Usyati; Ruskandar, AdeAbstrak Ketahanan varietas padi lokal terhadap hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Hawar Daun Bakteri (HDB) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi. Salah satu pengendalian yang efektif yaitu dengan penggunaan varietas tahan. Perakitan varietas unggul baru yang membawa gen tahan terhadap HDB terus dilakukan melalui persilangan dengan memanfaatkan keragaman sumber genetik padi yang ada. Penelitian dengan tujuan mengidentifikasi tingkat ketahanan varietas padi lokal koleksi plasma nutfah BB Padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) telah dilakukan di rumah kasa BB Padi Sukamandi pada MT-1/ MT-2 Tahun 2014. Materi genetik yang digunakan adalah 60 aksesi varietas padi lokal dan biakan murni bakteri Xoo patotipe III, IV,dan VIII. Metode inokulasi dilakukan dengan pengguntingan daun dan skoring ketahanan berdasarkan SES IRRI tahun 2002. Hasil penelitian menunjukkan ada varietas padi lokal (aksesi) yang tahan terhadap satu patotipe HDB (Xoo) saja dan ada yang tahan terhadap dua patotipe HDB (Xoo). Aksesi yang tahan terhadap patotipe III saja yaitu : Beras Hitam Melik (8770), Ketan Lomah Hitam (8791), Ketan Lomak (8792), Ketan Bayong (8804), Waren (8806), Ketan Hideung (8807), Karia (8815), Nemol (8822), dan Cireh Gudang (8823). Aksesi yang memiliki ketahanan terhadap dua patotipe HDB (Xoo) yaitu patotipe III dan VIII adalah Cantik Lembayung (aromatik) (8218), Mansur (8221), Ketan Bayong (046) (8804), dan Nemol (056) (8822), sementara aksesi yang memiliki sifat ketahanan terhadap patotipe III dan IV adalah Ketan Hideung (047) (8807) dan Cireh Gudang (051) (8823). Abstrack Resistance of local rice varieties against bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Bacterial Leaf Blight (BLB) is caused by the bacteria Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) is an important disease of rice plants. One of the effective controls is with the use of resistant varieties. The assembly of new improved varieties carrying genes resistant to BLB continues through crossbreeding by utilizing the diversity of existing genetic sources of rice. The research has been done at the green house of ICRR in Sukamandi on wet season and dry season 2014 with the aim to identify the level of resistance of local rice varieties of rice germplasm collection of ICRR on bacterial leaf blight disease (BLB). The genetic material used was 60 accessions of local rice varieties and pure culture of Xoo patotype III, IV, and VIII bacteria. Inoculation method was performed by leaf cutting and resistance scoring based on SES IRRI 2002. The results showed that there are local rice varieties (accessions) that are resistant to one HDB (Xoo) patotype only and some are resistant to two BLB (Xoo) patotypes. Accession resistant to patotype III only: Beras Hitam Melik (8770), Ketan Lomah Hitam (8791), Ketan Lomak (8792), Ketan Bayong (8804), Waren (8806), Ketan Hideung (8807), Karia (8815) , Nemol (8822), and Cireh Gudang (8823). The accessions that have resistance to two patotype BLB (Xoo) patotypes III and VIII are Cantik Lembayung (aromatic) (8218), Mansur (8221), Ketan Bayong (046) (8804), and Nemol (056) (8822), while accession which have resistance properties against the patotypes III and IV are Ketan Hideung (047) (8807) and Cireh Gudang (051) (8823).
- ItemPopulasi Dan Tingkat Serangan Hama Pada Tanaman Padi Gogo Dengan Penambahan Amelioran, Pemupukan, Dan Varietas Yang Berbeda(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI), 2017) Kurniawati, Nia; N. Usyati; Rustiati, Tita; Widyantoro; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI)Peluang pengembangan pertanian di lahan kering cukup besar, baik dari segi potensi sumber daya lahan maupun peluang peningkatan produktivitas melalui penerapan paket-paket teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Sebagai salah satu sumber hara, pupuk (organik/ an organik) merupakan sarana produksi yang memegang peranan penting dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan. Pupuk NPK diharapkan dapat memenuhi unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi tanaman padi gogo. Selain dengan pemupukan, dapat dilakukan dengan pemberian amelioran, penggunaan varietas yang tepat juga akan sangat menentukan dalam meningkatkan produksi padi gogo tersebut. Kendala utama yang sering dihadapi oleh petani adalah adanya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perkembangan populasi hama dan tingkat serangan hama pada tanaman padi gogo dengan penambahan ameliorant, pemupukan, dan varietas tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di desa Cikeusal, kecamatan Ciruas, kabupaten Serang, Banten pada MT-2 tahun 2014/2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial) dengan tiga faktor yang diulang sebanyak tiga kali. Adapun ketiga faktor tersebut, masing-masing terdiri dari dua taraf perlakuan. Faktor pertama adalah pemberian amelioran (A) terdiri dari dua taraf yaitu a0: perlakuan petani setempat, dan a5 berdasarkan PUTK. Faktor kedua adalah pemupukan (P), terdiri dari dua taraf yaitu p0: perlakuan berdasarkan kebiasaan petani setempat, dan p5: berdasarkan PUTK. Faktor ketiga adalah varietas (V), dimana varietas yang digunakan terdiri dari V0: Limboto, dan V5: Inpago 8. Variabel yang diamati meliputi tingkat serangan dan populasi hama, populasi musuh alami, dan hasil panen. Pengamatan dilakukan secara langsung di pertanaman pada 32 rumpun sampel secara acak diagonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi dan tingkat serangan hama, serta populasi musuh alami pada tanaman padi gogo dengan penambahan amelioran, pemupukan, dan varietas yang berbeda sangat rendah dan tidak berbeda nyata. Hasil panen tertinggi diperoleh pada perlakuan amelioran (A5 = PUTK) dan varietas Limboto
- ItemPotensi Tanaman Berbunga dalam Konservasi Musuh Alami Sebagai Pendukung Pengendalian Hama Ramah Lingkungan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2015-10) N. Usyati; Kurniawati, Nia; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiSampai saat ini insektisida adalah andalan petani dalam mengendalikan hama. Kondisi tersebut sangat beresiko karena penggunaan insektisida yang terus menerus berdampak negatif terhadap lingkungan. Untuk itu perlu dicari teknologi untuk mengendalikan hama yang efektif dan ramah lingkungan, salah satunya dengan penanaman tanaman berbunga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifi kasi potensi tanaman berbunga dalam konservasi musuh alami sebagai pendukung pengendalian hama ramah lingkungan. Penelitian dilakukan di kebun percobaan BB-Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2011. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan meliputi: A: Cleome aspera J (Capparidaceae); B: Asystasia gangetica (L) (Acanthaceae); C: Eclipta prostrata (L) (Asteraceae); D: Cleome gynandra (L) (Capparidaceae); E: Wedelia trilobata (L) (Asteraceae); F: Sesamum orientale (L) (Pedaliaceae); dan G: Kontrol (tanpa tanaman berbunga). Ukuran plot yang digunakan adalah 8 m x 5 m dan jarak antar plot 50 m. Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu sekali, sejak 2 minggu setelah tanam sampai 10 hari menjelang panen. Variabel yang diamati adalah kandungan nektar pada tanaman berbunga, lama berbunga untuk semua tanaman berbunga, dan populasi musuh alami (parasitoid dan predator). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bunga Wedelia trilobata (L) (Asteraceae) dan Sesamum orientale (L) (Pedaliaceae) adalah bunga yang paling berpotensi dalam konservasi musuh alami (predator dan parasitoid). Bunga W. trilobata (L) dan S. orientale (L) mampu meng-konservasi musuh alami (predator dan parasitoid) sejak stadia tanaman padi vegetatif awal sampai menjelang panen. Potensi yang dimiliki bunga W. trilobata (L) adalah berwarna kuning. Serangga pada umumnya lebih tertarik pada warna kuning. Selain itu, bunga W. trilobata (L) memiliki kandungan nektar sebesar 0.68% dan berbunga terus menerus sepanjang musim. Potensi yang dimiliki bunga S. orientale (L) adalah morfologi bunga yang besar dan berbentuk lonceng sehingga serangga mudah mengambil nektar. Kandungan nektar (kadar gula reduksi) bunga S. orientale (L) adalah 0.77%.
- ItemUji Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Wereng Coklat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI), 2017) Munawar, Dede; N. Usyati; Rahmini; Hari Iswanto, Eko; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB PADI)Penelitian dilakukan di rumah kasa Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada MT 2013. Perbanyakan wereng coklat biotipe 3 dilakukan pada varietas IR42 (bph2) berumur 30 hst untuk mendapatkan nimfa instar 2-3 yang banyaknya disesuaikan dengan aksesi yang akan diuji. Aksesi plasmna nutfah padi yang diuji adalah dari padi Plasma Nutfah BB Padi 75 aksesi. Ditambah dengan 4 varietas differensial yaitu TN1, Rathu Heenati, Swarnalata, dan PTB33. Dari 75 aksesi Plasma Nutfah, didapatkan yang skoring 3 agak tahan (2 galur). Pada tahun 2005, serangan wereng coklat merupakan isu nasional karena terjadi serangan wereng coklat di sentra produksi padi, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terhadap vaietas IR64 dan beberapa varietas populer lainnya yang telah patah ketahanannya. Serangan wereng coklat di Jawa Timur tersebar hampir di seluruh wilayah, terutama Pati, Demak, Kudus, Jepara, Sragen, Klaten, Grobogan, Batang, Pemalang, dan Tegal. Jawa Barat terpusat di Indramayu dan Cirebon. IR64 sudah patah ketahanannya, sehingga diperlukan varietas padi pengganti IR64 yang tahan wereng coklat biotipe 3, yaitu varietas koleksi plasma nutfah yang skor 3 agak tahan Ramos dan Jadul (padi hitam)