Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Kementrian Pertanian"

Now showing 1 - 20 of 61
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN KABUPATEN PUNCAK PROVINSI PAPUA
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2020-09-01) Lewaherilla, Niki E.; Tirajoh, Siska; Lestari, Martina Sri; Wulandari, Septi; Suebu, Yusuf; Kementrian Pertanian
    Analisis kebijakan pengembangan komoditas unggulan pertanian Kabupaten Puncak bertujuan untuk: 1) menentukan komoditas pertanian unggulan dan kebutuhan teknologinya, 2) menetapkan arah kebijakan pengembangan komoditas pertanian unggulan Kabupaten Puncak. Pendekatan survey melalui pengumpulan data primer berupa pengamatan dan wawancara responden petani dan pemangku kepentingan (pedagang, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pihak Pemda Bupati, Assisten II, Bappeda, Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi). Wilayah sampel pengamatan ditentukan secara sengaja yaitu wilayah Distrik Gome dan Ilaga. Data sekunder dari berbagai institusi berupa luas lahan pertanian, jumlah dan jenis ternak, produksi komoditas pertanian, data kependudukan yang diperoleh dari Dinas Pertanian kabupaten, BPS, Bappeda, Perguruan Tinggi. Penentuan komoditas unggulan menggunakan analisis L/Q Question, selanjutnya untuk mengetahui ketepatan penentuan komoditas unggulan dilakukan penilaian terhadap komoditas unggulan terpilih oleh pemangku kepentingan Pihak Pemda menggunakan skala tinggi, sedang dan rendah. Analisis arah kebijakan pengembangan pertanian kabupaten Puncak didasarkan pada analisis SWOT, yang dituangkan dalam bentuk matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Hasil analisis menunjukkan bahwa komoditas unggulan kabupaten Puncak yaitu ubijalar dan sayuran pada 8 distrik induk yaitu: Ilaga, Pigoma, Agadugume, Beoga, Sinak, Duofo, Wangbe dan Gome. Komoditas Talas/bete dan ubikayu terdapat pada 7 Distrik basis. Jagung pada 4 Distrik Basis yaitu; Distrik Duofo, Beoga, Pogoma dan Sinak. Komoditas kacang tanah 3 wilayah basis pengembangan yaitu Distrik Duofo, Pogoma, dan Sinak. Dukungan inovasi teknologi pengembangan komoditas unggulan pertanian berupa penyediaan VUB, teknis budidaya praktis, pascapanen dan pengolahan hasil komoditas. Strategi Pengembangan komoditas unggulan Kabupaten Puncak terdiri dari 11 program.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Analisis Usaha Tani Tanaman Padi dengan Ternak Sapi Potong
    (BPTP Papua, 2019-06-22) Tiro, Batseba M.W; Beding, Petrus A.; Kementrian Pertanian
    Komoditas padi maupun sapi potong sangat potensial untuk dikembangkan secara terpadu di Kabupaten Merauke, karena selain menghasilkan produk utama (beras dan daging) juga menghasilkan produk samping (jerami, dedak, pupuk kandang). Program sistem integrasi padi sapi merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi padi, daging, susu, dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis besarnya pendapatan dari usahatani integrasi antara tanaman padi dan ternak sapi potong di Distrik Semangga, Kabupaten Merauke. Metode pengkajian dirancang dalam dua kelompok perlakuan, yaitu pola integrasi dan pola non-integrasi. Analisis biaya dan pendapatan dilakukan untuk mengetahui tingkat keuntungan usahatani integrasi dan non integrasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem usahatani integrasi padi-sapi dapat meningkatkan pendapatan dan nilai R/C. Pola integrasi jauh lebih tinggi dalam memperoleh pendapatan (Rp 80.999.332) daripada non integrasi (Rp 47.680.000). Peningkatan pendapatan petani dari sistem non integrasi ke sistem integrasi sebesar Rp 33.319.332 atau sekitar 69,88 persen dengan nilai R/C meningkat sebesar 12,092 persen.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Areca palm
    (BPTP Papua, 2021-07-01) parinding, jeriston; Kementrian Pertanian
  • No Thumbnail Available
    Item
    Budidaya Jagung
    (BPTP Papua, 2020-07-01) Parinding, Jeriston; Kementrian Pertanian
  • No Thumbnail Available
    Item
    Budidaya Kangkung
    (BPTP Papua, 2021-07-01) Sibury, Pathyang AR; Kementrian Pertanian
    Kangkung dapat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan tempat tumbuhnya kangkung darat dan air , yaitu : 1) kangkung air, hidup di tempat yang basah atau berair, dan 2) kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan. Kangkung (Ipomoea spp.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran daun, termasuk ke dalam famili Convolvulaceae. Kangkung merupakan sumber provit A yang sangat baik.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Dinamika Perkembangan Folikel Pasca Beranak Induk Sapi Silangan Simental
    (BPTP Papua, 2019-01-01) Tiro, Batseba M.W; Kementrian Pertanian
    lnduk sapi pasca beranak seringkali tidak menunjukkan gejala estrus ataupun gejala estrusnya lemah atau kurang jelas. Pengamatan terhadap perkembangan folikel pasca beranak dapat memperjelas gejala estrus yang lemah sehingga induk dapat dikawinkan tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati bagaimana dinamika perkembangan folikel pada induk sapi silangan Simmental - Peranakan Ongole pasca beranak dengan penambahan jerami kedelai, sehingga dapat menentukkan waktu yang tepat bagi ternak untuk dikawinkan. Menggunakan 15 ekor induk sapi pasca beranak yang dibagi dalam 3 kelompok perlakuan. Perlakuan PO: kontrol (hanya diberi pakan basal), Pl: kontrol + jerami kedelai 1,8 kg, P2: kontrol + 3,6 kgjerami kedelai. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan folikel pada induk sapi pasca beranak sudah dimulai pada hari ke 4 pasca beranak yang ditandai dengan adanya folikel yang berukuran 5 mm. Dapat disimpulkan bahwa walaupun perkembangan folikel pada induk sapi SimPO dimulai pada hari ke 4 pasca beranak pada semua perlakuan, namun hanya pada perlakuan P2 yang mencapai folikel de Graaf dengan diameter folikel I 3,0 dan I 0,6 mm. Ukuran folikel yang mencapai folikel de graaf ini bervariasi an tar individu temak.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    EKSPLORASI DAN IDENTIFIKASI TANAMAN LOKAL SEBAGAI SUMBER PLASMA NUTFAH DI KABUPATEN BIAK NUMFOR, PROVINSI PAPUA
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2020-09-01) Wulanningtyas, Heppy Suci; Wulandari, Septi; Rumsarwir, Yuliana; Ondikeleuw, Mariana; Lestari, Martina Sri; Kementrian Pertanian
    Biak Numfor merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua berupa pulau yang terpisah dari daratan Papua. Secara umum termasuk wilayah dataran rendah dengan didominasi relief bergelombang-berbukit. Biak Numfor kaya aneka flora dengan plasma nutfah beragam. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis tanaman lokal spesifik sebagai bagian dari pengelolaan dan pelestarian sumberdaya genetik di Biak Numfor, Papua. Metode yang digunakan adalah survei, kuesioner dan wawancara. Survei dilakukan pada pekarangan-kebun di tiga puluh rumah tangga yang tersebar di lima distrik di Kabupaten Biak Numfor yang diduga menjadi lokasi tumbuh tanaman yakni Distrik Samofa, Biak Kota, Biak Utara, Yendidori dan Warsa. Kuesioner dan wawancara dilakukan pada masyarakat setempat untuk mendapat informasi mengenai pemanfaatan dan nama lokal tanaman. Diperoleh 24 aksesi tanaman buah, 22 aksesi tanaman sayur, 29 aksesi tanaman hias, 6 aksesi umbi-umbian, dan 14 aksesi tanaman obat dari hasil eksplorasi. Dari data tersebut, beberapa merupakan tanaman lokal Biak Numfor dan sebagian hanya diketahui nama lokalnya yaitu alpukat hutan, sukun hutan, kuker, pisang jarum, gedi batang merah, anggrek tanah, talas merah, daun gatal, daun masnasem dan pohon kayu perahu.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT ADOPSI TEKNOLOGI PETANI TERHADAP PENGUNAAN RICE TRANSPLANTER DI KAMPUNG KOYA BARAT
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2020-09-01) Wulandari, Yunita Indah; Palobo, Fransiskus; Kementrian Pertanian
    Rice transplanter merupakan mesin penanam padi yang digunakan untuk menanam bibit yang telah disemaikan pada areal khusus (menggunakan tray/dapok) dengan umur atau ketinggian tertentu, pada areal tanah sawah kondisi siap tanam. Inovasi dan penggunaan teknologi rice ransplanter berpeluang mempercepat waktu tanam bibit dan mengatasi kurangnya buruh tanam bibit padi. Teknologi baru pada umumnya memerlukan cukup waktu untuk dapat diterima masyarakat. Adanya perubahan teknik penanaman ini menyebabkan petani perlu belajar karena mereka telah terbiasa dengan teknik penanaman konvensional menggunakan tenaga manusia sepenuhnya. Adopsi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap suatu inovasi sejak mengenal, menaruh minat, menilai sampai menerapkan. Atau dengan kata lain inovasi yang diterima. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis tingkat adopsi teknologi petani dan menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi (usia petani, pendapatan dan pendidikan) dalam mengadopsi teknologi penggunaan mesin rice transplanter. Lokasi penelitian ditentukan secara ‘purposive. Parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat adopsi yaitu dengan menggunakan skala likert sedangkan untuk mengetahui pengaruh karakteristik petani terhadap tingkat adopsi dianalisis dengan menggunakan Uji Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa diperoleh hasil pengaruh karakteristik sosial ekonomi petani terhadap tingkat adopsi dalam penggunaan mesin transplanter yaitu variabel pedapatan berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi dalam penggunaan mesin transplanter dan memiliki tingkat adopsi yang tinggi. Sedangkan pada variabel umur dan pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi dalam penggunaan mesin transplanter.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    From Zero To Hero : Merajut Sinergi Terapkan Inovasi Pertanian dari Aceh hingga Papua
    (BBP2TP, 2021-01-01) Lesmana, Setia; Mukhlis; Soim, Ahmad; Natastya, Gesha Yuliani; Kementrian Pertanian
    Buku ini menggambarkan hubungan yang harmonis dan sinergis dalam menciptakan pertanian inklusif melalui inovasi teknologi. Pejuang teknologi BPTP bersama pihak-pihak terkait telah berhasil merubah kebisaan usahatani padi dan tanaman pangan lain, petani buah dan sayuran, petani peternak. BPTP sejak awal berdiri hingga hari ini, digambarkan sebagai jembatan, ‘perajut sinergi dalam memajukan petani’ dengan pihak-pihak yang terlibat baik pusat, daerah, swasta hingga kelompok tani. Potret jatuh bangunnya pendampingan teknologi spesiik lokasi tersurat di buku ini. Kreativitas, inovatif, dan kolaboratif, serta kerja ikhlas untuk kemajuan petani menjadi penyemangat dan buah manis para pejuang teknologi di BPTP yang berhasil direkam dalam buku ini. Harapan tim penyusun, semoga buku kumpulan pejuang teknologi BPTP Balitbangtan ini bisa menjadi sumber inspirasi dan pembaca mendapatkan pembelajaran dari sejarah.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Hidroponik
    (BPTP Papua, 2022-02-15) Setiawati, Dede Tia; Kementrian Pertanian
    Kelebihan budidaya tanaman dengan sistem NFT adalah tanaman relatif lebih cepat besar sehingga siklus produksi pertahun dapat ditingkatkan, namun kelemahan utama dari NFT adalah bahwa tanaman sangat sensitif terhadap gangguan aliran air dari pemadaman listrik atau alasan apapun. Tanaman akan mulai layu dengan sangat cepat setiap kali air berhenti mengalir melalui sistem
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    INTENSITAS SERANGAN TUNGAU Polyhagotesonemus latus PADA TANAMAN WIJEN DI AREAL PERTANAMAN TAMAN AGRO BPTP PAPUA
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2020-09-01) Lestari, Martina Sri; Garuda, Sitti Raodah; Talanta, Simon; Kementrian Pertanian
    Tanaman Wijen (Sesamum indicum L.) adalah tanaman semak semusim termasuk dalam famili Pedaliceae dan merupakan salah satu tanaman tropis yang mudah dibudidayakan dan tahan kering. Salah satu kendala utama budi daya wijen adalah serangan hama dan penyakit, yang dapat menurunkan produksi. Pengamatan hama telah dilakukan di areal pertanaman Taman Agro BPTP Papua. Tujuan pengamatan ini untuk menginventarisasi serangga hama serta musuh alami pada tanaman wijen Metode pengambilan contoh tanaman dilakukan secara diagonal sebanyak 6 tanaman wijen dan pengamatan dilakukan setiap bulan. Parameter yang diamati ialah jenis-jenis serangga hama dan parasitoid serta persentase tanaman terserang. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jenisjenis serangga hama pada tanaman wijen ialah kutu daun (Aphis sp), tungau (Polyhagotesonemus latus), thrips sp., kepik hijau, mizus dan belalang (Atratomorpha sp.). Hasil pengujian menunjukkan bahwa varietas Sb-1, Winas-1, Winas-2 dan klon lokal termasuk varietas tahan terdahap serangan tugau B P. latus.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kajian Dinamika Bobot Badan Sapi Potong dan Potensi Pakan Di Kabupaten Merauke, Papua
    (BPTP Papua, 2020-07-01) Tiro, Batseba M.W; Palobo, Fransiskus; Beding, Petrus A.; Thamrin, Muhammad; Kementrian Pertanian
    Penelitian bertujuan untuk mengkaji dan mengevaluasi dinamika bobot badan sapi potong serta potensi ketersediaan pakan pada musim kemarau di Kabupaten Merauke. Lokasi yang dipilih adalah tiga distrik yang mewakili pusat pengembangan sapi potong di Merauke dan distrik tersebut memiliki kepadatan ternak atau populasi yang tinggi dan dibandingkan antar-luas wilayah, sehingga yang mewakili populasi tinggi (Distrik Merauke), sedang (Distrik Tanah Miring), dan rendah (Distrik Kurik). Metoda menggunakan survei melalui penimbangan ternak sapi yang dipelihara petani/peternak dengan jumlah ternak 50 hingga 100 ekor, terdiri jantan dewasa, induk, muda, dan anak. Untuk mengukur produksi hijauan pakan dibuat kurungan terbuat dari kayu ukuran 1,5 x 1,5 meter sebanyak 15 buah terbagi dalam tiga lokasi, masing-masing lokasi terdapat lima kurungan. Hasil: rataan bobot badan ternak sapi di ketiga Distrik (Merauke, Kurik dan Tanah Miring), sangat rendah baik itu pedet (< 0,3 kg/ekor), ternak muda maupun dewasa (< 0,2 kg/ekor); variasi spesies hijauan dan legum di lokasi pengamatan relatif sama dan didominasi oleh spesies rumput (93,30 – 94,85 persen), dan produksi hijauan pada awal musim kemarau (bulan Juli) masih relatif tinggi, dan terus menurun sampai puncaknya pada bulan September dan Oktober.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kajian Dinamika Bobot Badan Sapi Potong Pada Musim Kemarau di Kabupaten Merauke Provinsi Papua
    (BPTP Papua, 2015-01-01) Tiro, Batseba M.W; Nggobe, Muflin; Usman; Kementrian Pertanian
    Kabupaten Merauke merupakan salah satu sentra pengembangan ternak sapi potong di Papua dan memiliki perbedaan musim yangjelas dibandingkan daerah lainnya di Papua. Hal ini tentunya akan berpengaruh kepada produktivitas temak sapi potong. Pengkajian bertujuan untuk mengevaluasi dinamika bobot badan sapi potong se/ama musim kemarau di sentra pengembangan sapi di kabupaten Merauke. Pengkajian dilaksanakan di Kabupaten Merauke pada lokasi yang terptlin yang memitiki kepadatan temak yang tinggi, sedang dan rendah, yakni Distrik Merauke, Distrik Tanah Miring dan Distrik Kurik. Metoda yang dilakukan adalah metode survei melalui penimbangan ternak sapi yang dipelihara petanilpeternak dengan jumlah ternak 50-100 ekor yang terdiri jantan dewasa, induk, muda dan anak yang ditimbang setiap bu/an. Umur jantan di atas 3 tahun dikategorikan sebagai jantan dewasa, betina yang pernah melahirkan anak dikatagorikan sebagai induk, jantan dan betina yang berumur antara 6 bu/an sampai 3 tahun dikatagorikan sebagai muda dan anak dibawah umur 6 bu/an. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan rata-rata dan persentase serta disajikan dalam bentuk Tabel atau Grajik. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada musim kemarau ternak sapi mengalami penurunan bobot badan yang cukup drastis, terlihat dari rataan bobot badan ternak sapi di ketiga Distrik (Merauke, Kurik dan Tanah Miring), sangat rendah baik itu pedet < 0,3 kg/ekor, ternak muda maupun dewasa < 0,2 kg/ekor. Disimpulkan bahwa pada musim kemarau perlu adanya pemberian pakan tambahan bagi temak sapi yang digemba/akan agar dapat mengurangi kehilangan bobot badan
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kajian Integrasi Tanaman Kedelai Dengan Ternak Sapi Potong Di lahan Kerinf Kabupaten Keerom, Papua
    (BPTP Papua, 2017-09-18) Tiro, Batseba M.W; Usman; Beding, Petrus A.; Kementrian Pertanian
    Sistem i ntegrasi tanaman kedelai dengan ternak sapi akan terjadi keterkaitan yang bersinergis dan saling menguntungkan. Ternak sapi dapat memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari kacang kedelai berupa jerami kedelai sebagai pakan sapi, sedangkan tanaman kedelai dapat memanfaatkan kotoran yang dihasilkan ternak sapi sebagai pupuk organik yang nantinya diharapkan dapat meminimalkan biaya produksi untuk tanaman kedelai. Kajian bertujuan untuk untuk mendapatkan model sistem integrasi tanaman kedelai dengan sapi potong yang berbasis agribisnis. Dua pola yang dikaji yaitu pola integrasi dan non integrasi (pola petani). Parameter yang diamati mel iputi konsumsi pakan, perubahan bobot badan induk, kecepatan timbulnya estrus pasca beranak dan produksi kedelai. Hasil kajian menunjukkan produksi kedelai pada pola integrasi sebesar 2,32 t/ha dan noon integrasi 1,53 t/ha, dan produksi jerami kedelai pada pola integrasi 4,54 t/ha dan non integrasi 3,05 t/ha. Perubahan bobot badan induk sapi selama pengkajian ada pola integrasi 0,36 ± 0,27 kg/ekor/hari dan non integrasi 0,34 ± 0,06 kg/ekor/hari, konsumsi BK, PK dan TDN pada pola integrasi masing-masing 10,10 ± 1,54 kg/ekor/hari; PK 0,55 ± 0,08 kg/ekor/hari dan 4,75 ± 0,73 kg/ekor/hari. Sedangkan induk sapi pada pola integrasi lebih cepat menunjukkan gejala estrus (25,86 ± 10,40 hari) dibanding pada non integrasi 44,75 ± 18,84 hari yang diamati setelah dimulai pemberian jerami kedelai. Secara ekonomis, pemeliharaan ternak sapi pada pola integrasi lebih menguntungkan dibanding non integrasi. Dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan induk sapi pada pola integrasi dapat memperbaiki produksi dan reproduksi induk sapi potong serta memberikan keuntungan yang lebih tinggi baik untuk ternak maupun kedelai. Kata kunci: Kajian, lntegrasi, kedelai, sapi potong, lahan kering
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kajian Pola Perkadangan Serta Pengaruhnya Terhadap Performan Ternak Kambing Peranakan Etawa (PE)
    (BPTP Papua, 2020-01-01) Tiro, Batseba M.W; Djuri, Rusiadi; Kementrian Pertanian
    Salah satu temak yang dapat memenuhi kebutuhan akan daging dan susu adalah temak kambing. Namun sekarang ini ada indikasi terjadinya penurunan populasi temak kambing. Penurunan populasi disebabkan tingginya pemotongan temak akibat permintaan masyarakat terhadap daging kambing terutama pada hari raya haji/lebaran. Selain itu ternak kambing Peranakan Etawah (PE) umumnya masih dipelihara secara tradislonal. Suatu kajian untuk mengetahui pengaruh pola perkandangan terhadap performan temak kambing PE telah dilaksanakan pada Kelompok Tani Farem di desa Sepse Kecamatan Biak limur. Hasil kajian menunjukan bahwa sistem pemeliharaan yang dilakukan peternak selama ini adalah dilepas pada siang hari dan malam hari baru dikandangkan. Pakan yang digunakan adalah jenis daun-daunan yang berasal dari tanaman yang tumbuh liar dan belum pernah dibudidayakan. Jenis daun-daunan yang selarna ini diberikan oleh peternak adalah daun syasum, soserep, waser, parson warsas dan safer. Disamping itu juga ada hijauan gamal namun jarang digunakan oleh peternak sebagai pakan. Hasil analisa proksimat menunjukan bahwa jenis tanaman tersebut memiliki kandungan gizi yang rendah terutama protein (berkisar 3-10%). Hasil pengamatan terhadap pola perkandangan menunjukan bahwa pertambahan bobot badan pada kandang indlvldu lebih tinggi (53,7 g/ekor/harl) dibanding kandang kelompok (38,9 g/ekor/hari), demiklan juga konsumsi pakan pada kandang individu lebih besar (2,55 kg/ekor/hari) dibanding kandang kelompok (2,11 kg/ekor/hari) walaupun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang nyata.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Kajian Teknologi Budidaya dan Pengaruhnya Terhadap Penampilan Ternak Babi
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2007-12-07) Tiro, Batseba MW; Fernandez, Paskalis Th.; Kementrian Pertanian
    Pemeliharaan temak babi di Kabupaten Jayawijaya masih dilakukan secara tradisional, dimana pakan yang diberikan hanya terdiri dari ubi dan daun ubi jalar. Disamping itu kandang babi umumnya sangat tertutup dan masih menyatu dengan tempat tinggal (honai). Kajian untuk melihat pengaruh po/a perkandangan terhadap penampilan ternak babi telah dilaksanakan di kampung Okoloma Pisugi Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya sejak bu/an September - Desember 2006. Menggunakan 18 ekor babi umur lepas sapih yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. Perlakuan I : kandang perbaikan, dan perlakuan II : kandang introduksi. Pakan yang diberikan pada kedua po/a sama yaitu terdiri dari 75% ubi ja/ar + 25% daun ubi jalar + legume lokal dan limbah sayuran. Hasil kajian menunjukkan pertambahan bobot badan temak babi pada kandang introduksi lebih tinggi (0, 1 O kglekorlhari) dibanding pada kandang perbaikan (0, 06 kglekorlhari). Konsumsi pakan pada kandang introduksi juga lebih tinggi (854,59 glekorlhari) dibanding pada kandang perbaikan (827,26 glekorlhari). Hasil ana/isa ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan terbesar dicapai pada po/a kandang introduksi sebesar Rp 10.674.392 atau Rp 3.558.130/bulan dengan nilai RIC 1,9. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penampilan ternak babi pada kandang introduksi lebih baik dan lebih menguntungkan dibanding pada kandang perbaikan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Kalender Tanam Terpadu
    (BPTP Papua, 2017-01-01) Wulandari, Septi; Kementrian Pertanian
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Keragaan Teknologi Eksisting Budidaya Sapi Potong Pada Kelompok Tani Lembu Agung, Distrik Kurik, Merauke
    (BPTP Papua, 2017-07-21) Tiro, Batseba M.W; Kementrian Pertanian
    Kajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan teknologi eksisting dalam budidaya sapi potong pada kelompok tani Lembu Agung. Data sekunder yang dikumpulkan meliputi potensi daerah dan populasi ternak, sedangkan data primer meliputi jumlah ternak, sistem pemeliharaan, manajemen pakan dan kinerja reproduksi. Pengumpulan data dilakukan melalui metode Foccus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan kuisioner semistruktur. Hasil: kelompok tani Lembu Agung memiliki jumlah ternak sapi 24 ekor, terdiri dari betina dewasa 17 ekor, jantan dewasa empat ekor, dan pedet betina tiga ekor, dengan skala pemeliharaan yang relatif rendah, rata-rata kepemilikan satu hingga dua ekor per KK. Sistem pemeliharaan masih secara semi intensif dengan manajemen yang minim terutama dalam penyediaan pakan sepanjang tahun. Pemberian pakan hanya mengandalkan ketersediaan rumput alam dan sebagian kecil rumput gajah yang ditanam di areal pematang sawah, dengan jumlah pemberian hijauan sekitar lima hingga 10 kg per ekor per hari. Kinerja reproduksi induk dengan teknologi eksisting meliputi calving rate (60 persen); SKT induk (dua hingga 2,5); calving interval (18 hingga 24 bulan); berat lahir (15 hingga18) dan calf crop (40 hingga 50 persen). Kajian ini menunjukkan bahwa masalah pakan merupakan faktor pembatas dalam budidaya ternak sapi potong, walaupun potensi pakan cukup tersedia tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini berdampak pada rendahnya produktivitas ternak sapi.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Keragaan Usaha Ternak Sapi Potong Pada Kelompok Tabni Sejahtera di Kabupaten Nabire, Papua
    (BPTP Papua, 2017-01-01) Usman; Tiro, Batseba M.W; Tirajoh, Siska; Bustami; Kementrian Pertanian
    Usaha ternak sapi potong di Kabupaten Nabire umumnya dipelihara secara tradisional tanpa pemberian pakan tambahan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan produktivitas ternak sapi potong pada kelompok tani Sejahtera di kawasan ternak sapi potong Kabupaten Nabire. Metode pengambilan data dilakukan melalui metode survei dengan menggunakan kulsioner semi-struktur terhadap 20 orang responden peternak pada kelompok tani Sejahtera dan dipertajam dengan pendekatan Focus Group Discution (FGD). Data yang dikumpulkan adalah data sekunder dari BPS Kabupaten Nabire dan Provinsi Papua, sedangkan data primer adalah populasi sapi potong pada kelompok tani, interval kelahiran, bobot lahir, sistem perkawinan dan tingkat mortalitas. Hasil survei terhadap produktivitas sapi potong pada kelompok tani Sejahtera masih sangat rendah. Dari 7 5 ekor induk dan 2 ekor pejantan bantuan sapi potong sejak tahun 2010 dan 2011 sampai tahun 2015 hanya dapat menghasilkan sapi muda/dara sebanyak 46 ekor dan anak pra sapih sebanyak 28 ekor. Tingkat mortalitas tertinggi terjadi pada sapi muda/dara 43,2%. Hasil analisis usahatani diperoleh nilai RC ratio 1,0, yang berarti usaha ini hanya mampu mengembalikan biaya pokok produksi selama ± 4,5 tahun masa pemeliharaan.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Keragaman Teknologi dalam Budidaya Ternak Babi di Dataran Tinggi Jayawijaya Provinsi Papua
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, 2017-01-01) Tiro, Batseba MW; Malik, Afrizal; Kementrian Pertanian
    Temak babi sebagai ternak penghasil daging yang berpotensi untuk dikembangkan di Papua, baik itu ditinjau dari sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan juga aspek sosial budaya masyarakat. Disamping itu temak ini juga dapat memberikan tambahan penghasilan bagi rumah tangga petani dalam waktu yang relatif singkat. Namun demikian produktivitas temak babi masih tergolong rendah disebabkan sistem pemeliharaannya yang masih bersifat tradisional dimana ternak babi dilepas mencari makan sendiri. Perbaikan manajemen pemberian pakan dan pola perkandangan mampu meningkatkan produktivitas ternak. Teknologi pakan melalui pengaturan komposisi pakan ubi dan daun ubi jalar (75% ubi jalar + 25% daun ubi jalar) dapat meningkatkan pertambahan bobot badan (PBB) ternak mencapai 220% dibanding pola petani. Pemberian pakan lain seperti sundaleka/ Puerasia chepaloides dan dedak juga dapat meningkatkan PBB temak, selain itu dengan pemberian kedua bahan pakan ini dapat mengurangi pemberian ubi dan daun ubi jalar yang adalah juga merupakan makanan pokok masyarakat di dataran tinggi Jayawijaya. Melalui Teknologi perkandangan dapat meningkatkan produktivitas temak babi dan keuntungan yang diperoleh mencapai 30%, kandang yang diintroduksi dapat meningkatkan PBB temak babi sekitar 66% dibanding pada kandang perbaikan. Hal ini tentunya juga berpengaruh terhadap keuntungan yang diperoleh petani dalam memelihara temak babi, dimana melalui teknologi perkandangan keuntungan yang diperoleh lebih tinggi dalam memelihara temak babl yakni mencapai 30%.
  • «
  • 1 (current)
  • 2
  • 3
  • 4
  • »

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback