Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Haryudin, Wawan"

Now showing 1 - 18 of 18
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    KARAKTERISTIK MORFOLOGI BUNGA KENCUR (Kaempferia galanga L.)
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2008) Haryudin, Wawan; Rostiana, Otih
  • No Thumbnail Available
    Item
    KARAKTERISTIK MORFOLOGI TANAMAN CABE JAWA (Piper retrofractum. Vahl) DI BEBERAPA SENTRA PRODUKSI
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2009) Haryudin, Wawan
  • No Thumbnail Available
    Item
    KARAKTERISTIK MORFOLOGI, ANATOMI DAN PRODUKSI TERNA AKSESI NILAM ASAL ACEH DAN SUMATERA UTARA
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2011) Haryudin, Wawan; Maslahah, Nur
  • No Thumbnail Available
    Item
    Keragaman Aksesi Jambu Mete Hasil Persilangan pada Umur Dua Tahun Berdasarkan Karakter Morfologi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2018) Haryudin, Wawan; Rostiana, Otih; Darajat, Jajat
    Jambu mete merupakan tanaman menyerbuk silang, salah satu upaya untuk meningkatkan keragaman gentik pada plasma nutfah jambu mete dilakukan persilangan antara tetua berproduksi tinggi dan tetua toleran terhadap hama helopeltis sp. Penelitian bertujuan untuk mengetahui ke ragaman 25 aksesi jambu mete hasil persilangan berdasarkan karakter morfologi daun. Peneliti dilakukan di KP. Cikampek, sejak Januari sampai Desember 2016, menggunakan metode observasi dengan mengamati secara individu karakter morfologi secara kualitatif dan kuantitatif mete umur 2 tahun. Pengamatan dilakukan terhadap 8 tanaman per plot, masing-masing diamati 50 daun per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan karakter morfologi jambu mete hasil persilangan bervariasi. Karakter bentuk daun bulat telur, bulat telur terbalik dan memanjang. Pangkal dan ujung bulat, runcing dan tumpul. Bentuk tepi daun rata, bentuk permukaan bawah dan atas daun halus. Warna daun dewasa hijau tua dan daun muda hijau kekuningan dan coklat kemerahan. Tingkat keragaman 18,35-100 % dan tingkat kedekatan antara 0,10-0,38 terbagi dua kelompok. Kelompok I dipisahkan oleh karakter bentuk daun memanjang, bentuk pangkal daun membulat, bentuk ujung daun bulat dan tumpul dan warna daun muda GBG N119 A, kelompok II dipisahkan oleh karakter bentuk daun bulat telur terbalik, bentuk pangkal tumpul, bentuk ujung daun runcing dan berlekuk dan warna daun muda GB 200 B. Karakter panjang daun, lebar daun, tebal daun dan panjang tangkai daun bervariasi dengan tingkat keragaman 47,67-96,94 % dan jarak kedekatan antara 0,19-6,19 yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok I dipisahkan oleh karakter panjang daun tertinggi 17,6-20,6 cm, sedangkan kelompok II dipisahkan oleh karakter panjang daun terkecil 14,6-17,1 cm.
  • No Thumbnail Available
    Item
    KERAGAMAN KARAKTER MORFOLOGI DAN PRODUKSI CABE JAWA PADA POHON INDUK TERPILIH (PIT) DI KABUPATEN SUMENEP, JAWA TIMUR : Warta balittro Vol. 37 No. 74 tahun 2020
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2020-12-01) Haryudin, Wawan
    Cabe Jawa (Piper reirofractum. Vahl), yang termasuk famili Piperaceae merupakan salah satu tanaman obat yang tumbuh memanjat pada tiang panjat. Manfaat utama tanaman cabe jawa, yaitu buahnya sebagai campuran ramuan jamu, ramuan penghangat badan yang dapat dicampur dengan kopi, teh, dan susu. Cabe jawa juga dapat digunakan sebagai obat luar. di antaranya untuk pengobatan penyakit beri-beri dan reumatik, tekanan darah tinggi, influenza, kholera, sakit kepala, lemah syahwat, bronchitis menahun dan sesak napas. Pemilihan pohon induk dilakukan pada bulan 5 November 2019 di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep dengan luas areal 0,5 ha dengan populasi tanaman 700 pohon. Tepilih sebanyak 500 tanaman sebagai pohon induk terpilih dan 15 pohon untuk ssmpel pengamatan. Umur tanamaman 2-3 tahun dengan jarak tanam 2,75 m x 2,75 m. Parameter yang diamati adalah karakter kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengamatan menunjukkan pada 15 pohon induk terpilih mempunyai karakter yang bervariasi terutama pada katakter kuantitatif, sedangkan karakter kualitatif tidak bervariasi hampir semua pohon induk terpilih memeliki karakter yang sama dengan tingkat keragaman 56,30-99,18% yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok I dan II. Kelompok satu dan dua dipisahkan oleh karakter jumlah cabang buah per m jumlah buah per pohon, dan produksi buah yang terendah pada kelompok I dan tertinggi pada kelompok II.
  • No Thumbnail Available
    Item
    PENAMPILAN KARAKTER MORFOLOGI DAN PRODUKSI 15 AKSESI NILAM PADA UMUR TIGA, EMPAT, DAN LIMA BULAN SETELAH TANAM : Warta balittro Vol. 35 No. 69 tahun 2018
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2018-06-01) Haryudin, Wawan
    Nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting di Indonesia. Tanaman ini dibudidayakan di beberapa sentra produksi, seperti Nangroe Aceh Darusalam (NAD), Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur. Umumnya tanaman nilam dipanen pada umur 5– 6 bulan, namun umur panen tersebut dirasa oleh petani masih cukup panjang, oleh karena itu diperlukan varietas unggul nilam yang umurnya pendek. Karakter kualitatif dari 15 aksesi nilam untuk bentuk tulang dan tepi daun tidak begitu bervariasi, sedangkan pada karakter lainnya seperti bentuk ujung, pangkal, permukaan dan warna daun agak bervariasi. Bentuk daun terdiri atas bulat dan oval, tepi daun bergerigi tumpul dan runcing. Ujung daun runcing dan tumpul dan pangkal daun runcing dan rata dengan pertulangan daun menyirip. Kedudukan daun berhadapan dengan ruas berseling. Karakter kuantitatif, seperti tinggi tanaman, panjang ruas batang dan cabang, diameter batang, jumlah cabang primer dan sekunder pada umur 3, 4 dan 5 bulan mempunyai karakter yang bervariasi, sedangkan karakter produksi bobot basah dan kering, kadar minyak atsiri dan kadar patchouli alkohol ke 15 aksesi nilam yang pada umur 3, 4, dan 5 bulan setelah tanam mempunyai karakter yang bervariasi.
  • No Thumbnail Available
    Item
    PENAMPILAN KESERAGAMAN POHON INDUK TERPILIH (PIT) PADA KARAKTER PRODUKSI BENIH DAN GELONDONG METE DI KABUPATEN SUMBA TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR : Warta balittro Vol. 36 No. 71 tahun 2019
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2019-06-01) Haryudin, Wawan
    Jambu mete (Anacardium occidentale L) pada awalnya dikembangkan di Indonesia sebagai tanaman penghijauan di lahan marginal, pada lahan tersebut komoditas lain tidak dapat tumbuh. Pengembangannya sampai saat ini menyebar di seluruh provinsi di Indonesia dengan kondisi lahan dan iklim kering. Tujuan kegiatan ini adalah menyeleksi PIT (Pohon Induk Terpilih) pada BPT (Blok Penghasil Tinggi) di Kabupaten Sumba Timur sebagai dasar penetapan kebun benih sumber. Kegiatan dilakukan pada BPT jambu mete desa Preimaditha dan desa Nggoni, kecamatan Nggongi, Kabupaten Sumba Timur. Karakter morfoloogi buah dan daun pada umumnya seragam, warna buah tua merah berbentuk silindris. Bentuk gelondong seperti ginjal berwana abu-abu, potensi produksi gelondong 62,5 kg per pohon dengan tingkat keragaman sekitar 44,5 – 99,8% уang terbagi manjadi dua kelompok besar yaitu kelompok I dan II yang dipisahkan oleh karakter jumlah buah, produksi benih dan produksi gelondong.
  • No Thumbnail Available
    Item
    RESPON TANAMAN CABE JAWA PRODUKTIF TERHADAP PEMUPUKAN DI SUMENEP MADURA
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2011) Ruhnayat, Agus; Muljati, Rosita Sri; Haryudin, Wawan
  • No Thumbnail Available
    Item
    STABILITAS KARAKTER MORFOLOGI 10 AKSESI CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.) DI KEBUN PERCOBAAN CIKAMPEK
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2011) Haryudin, Wawan; Rostiana, Otih
  • No Thumbnail Available
    Item
    TINGKAT KERAGAMAN 12 AKSESI TEMU IRENG (Curcuma aeruginosa Roxb) PADA KARAKTER KUANTITATIF DAN KUALITATIF : Warta balittro Vol. 39 No. 77 tahun 2022
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-06-01) Haryudin, Wawan; Setiadi, Adi; Syukur, Cheppy
    Temu ireng merupakan komoditas tanaman obat yang mempunyai peranan penting sebagai bahan baku obat tradisional. Rimpang temu ireng mengandung senyawa aktif saponin, flavonoid, polifenol, guaiane, dan glukan, serta menghasilkan tiga golongan sesquiterpen sebagai zedoarol, curcumenol, dan isocurcumenol. Pengamatan dilakukan terhadap karakter kualitatif dan kuantitatif. Data dianalisa dengan menggunakan analisis klaster. Hasil analisis cluster ke 12 aksesi tersebut mempunyai tingkat keragaman yang bervariasi antara 15,67–89,25 % dengan tingkat jarak (distance level) 2,67–24,89, yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu, kelopok 1 dan II serta beberapa kelompok di bawahnya. Kelompok tersebut dipisahkan oleh karekter panjang daun, tebal daun, lebar daun, tinggi tanaman, panjang batang, lebar batang, dan panjang petiol. Sedangkan pada karakter kualitatif tidak bervariasi, seperti pada karakter morfologi daun, yaitu bentuk tepi daun, bentuk ujung daun, bentuk pangkal daun, bentuk dan warna permukaan daun bagian atas dan bawah, bentuk dan warna batang mempunyai karakter yang sama. Pada karakter kuantitatif mempunyai karakter yang bervariasi, seperti pada karakter tinggi tanaman,jumlah daun dan anakan, panjang dan lebar daun, panjang dan lebar batang, jumlah batang per rumpun dan panjang petiol
  • No Thumbnail Available
    Item
    TINGKAT KERAGAMAN MORFOLOGI DAN PRODUKSI POHON INDUK TERPILIH (PIT) JAMBU MEТЕ DI KABUPATEN WONOGIRI, JAWA TENGAH : Warta balittro Vol. 37 No. 73 tahun 2020
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2020-06-01) Haryudin, Wawan
    Jambu mete (Anacardium yang tumbuh di lahan marginal yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah. Tanaman ini mempunyai kontribusi yang cukup penting terhadap pendapatan petani dan sebagai sumber devisa negara. Peningkatan keragaman tanaman (variabilitas) memepunyai arti yang sangat penting dalam pemuliaan tanaman karena tanpa adanya keragaman tanaman peluang keberhasilan program pemuliaan melalui seleksi sangat rendah. Keragaman dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor genetik dan gabungan dari dua faktor tersebut. Karakterisasi terhadap karakter morfologi dan produksi gelondong perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keragaman dari masing-masing PIT. Pengamatan dilakukan pada tanggal 28 November 2018 sampai dengan 30 November 2018, di Desa Gemawang, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Luas areal 3 ha, populasi tanaman 214 pohon terpilih 73 pohon induk. Pohon induk yang diamati sebagai sample sebanyak 24 pohon induk. Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi dan produksi gelondong. Hasil pengamatan menunjukkan pada karakter morfologi terutama bentuk kanopi, bentuk gelondong, warna gelondong, bentuk buah semu, bentuk daun, warna daun, bentuk permukaan daun, bentuk pangkal daun, bentuk ujung daun, dan bentuk pertulangan daun sama (tidak bervariasi). Sedangkan pada karakter lainnya, seperti luas kanopi, jumlah pucuk, jumlah tangkai per meter persegi, jumlah buah per meter persegi, jumlah buah per pohon, produksi benih per pohon dan produksi gelondong per pohon sangat bervariasi dengan tingkat keragaman 44,89 - 99,86% yang terdiri atas dua kelompok besar, yaitu kelompok I dan II yang dipisahkan oleh karekter jumlah buah, produksi benih dan produksi gelondong tertinggi, dan terrendah.
  • No Thumbnail Available
    Item
    TINGKAT KESERAGAMAN PIT JAMBU METE PADA KARAKTER PRODUKSI, MORFOLOGI DAUN DAN GELONDONG DI KAB. JENEPONTO SULAWESI SELATAN : Warta balittro Vol. 33 No. 65 tahun 2016
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2016-06-01) Haryudin, Wawan
    Pohon Induk Terpilih (PIT) jambu mete di lokasi Blok Penghasil Tinggi (BPT) di Kab. Jeneponto mempunyai tingkat keseragaman yang tinggi berkisar antara 93,14 – 99,95, yang terbagi menjadi dua kelopok besar yaitu kelompok I dan II. Kedua kelompok tersebut terbagi lagi menjadi dua sub kelompok dan subsub kelompok lebih kecil yang dipisahkan oleh karakter jumlah gelondong tertinggi dan terendah. Jumlah gelondong tertinggi terdapat pada kelompok II sebesar 13.792- 20.514 gelondong/pohon, sedangkan jumlah gelondong terendah terdapat pada kelompok I berkisar antara 3.632–12.634 gelondong/pohon. Pada karakter morfologi daun, buah dan gelondong tidak begitu bervariasi. Bentuk daun bulat telur (oval) dan lanset, bentuk pangkal daun runcing, bentuk ujung daun tumpul dan bulat dengan permukaan daun halus. Warna buah muda hijau sampai hijau keunguan, sedangkan warna buah tua merah. Bentuk gelondong seperti ginjal dengan ukuran dan bobot gelondong yang bervariasi.
  • No Thumbnail Available
    Item
    UJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, Kanda
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    UJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, Kanda
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    UJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Sukanda, Kanda
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    UJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi Kanda
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    UJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, Kanda
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
  • No Thumbnail Available
    Item
    UJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)
    (Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, Kanda
    Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback