Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Harnoto"

Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Bioekologi dan Pengendalian Penggerek Polong Etiella spp.
    (Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, 1998) Harnoto; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Ecobiology and Control of Soybean Pod Borer Etiella spp. Hamoto. Pod borer caused by Etiella spp. is one of the most important pests of soybean in Indonesia, because it causes reduction in soybean yield both qualitatively and quantitatively. Two species of pod borers were found on soybean, i.e.. Etiella zinckenella Treitschke and E. hobsoni Butler. These two insects and damages they caused are difficult to distinguish, since they are quite similar to each other. They could be distinguised only by identification of morphological characteristics of the insect at each stage of their life cycles. In the laboratory, both pod borer species feed on pods of various legumes, while in the field they attack only few legume species. Approach to control this pest may be done by integration of different pest control components including crop rotation, crop sanitation from wildhost plants, varietal resistance, as well as use of parasitoid and recommended insecticides. Tnchogrammatoidea bactrae-bactrae seems to be a good parasitoid to control the pest, but more field trials need to be done to clarify further for its efficacy and economic value.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengendalian Lalat Bibit pada Jagung
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Agus Iqbal; Agus Kardinan; Harnoto
    Lalat bibit jagung, Atherigona sp. adalah salah satu organisme pengganggu yang dapat menyebabkan kematian tanaman jagung pada stadia bibit. Hama ini dapat dikendalikan dengan penggunaan varietas tahan, mulsa, tanam serentak, insektisida, dan musuh alami. Varietas/galur jagung yang diketahui tahan terhadap hama lalat bibit adalah Sadewa, Citanduy, Kalingga, Bayu, Pionir, Bredel, Lokal Tengah, Lokal Putih, P3-G10 (24F) TB, P4-G10 (15F), 1-1-3-1 (3), 43-3-1-1-1 (107), 52-1-1-1 (130) dan 23-2-1-1-1 (60). Penggunaan mulsa sebanyak 6 t/ha dapat menekan serangan organisme pengganggu ini. Beberapa bahan mulsa yang dapat digunakan adalah jerami padi, glirisidia, kaliandra, dan alang- alang. Penggunaan insektisida untuk pengendalian lalat bibit jagung dapat dilakukan dengan cara semprot, perawatan benih, dan melalui tanah (ditugal). Insektisida semprot yang efektif adalah monokrotofos dan isoxathion dengan konsentrasi 4 cc/l air, diaplikasikan pada saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam (hst). Melalui perawatan benih, insektisida yang efektif adalah karbosulfan, furathiokarb, dan thiodikarb dengan dosis 15 g/kg benih. Insektisida karbofuran dengan dosis 0,12 kg b.a/ha efektif bila diaplikasikan melalui tanah.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Teknologi Peningkatan Produksi Kacang-kacangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1994) Sumarno; D. Pasaribu; Harnoto
    Produksi kacang-kacangan nasional belum dapat mencukupi kebutuhan, karena luas panen aktual masih belum memadai dan produktivitas masih rendah. Untuk mencukupi kebutuhan komoditas kacang-kacangan secara nasional, maka luas panen kedelai aktual harus mencapai 3 juta ha, kacang tanah 0,9 juta ha, dan kacang hijau 0,8 juta ha/tahun. Usaha perluasan areal perlu dilakukan, terutama di luar Jawa pada lahan sawah musim kemarau, lahan bukaan baru, dan pada lahan usaha kehutanan dan perkebunan yang tanaman pokoknya masih muda. Teknologi untuk peningkatan produksi kacang-kacangan nasional secara umum telah tersedia, terutama ditekankan pada penyiapan lahan agar pertumbuhan optimal, penggunaan benih varietas unggul bermutu tinggi, penyiangan tanaman agar bebas gulma sejak tumbuh hingga berbunga, dan pengendalian hama/ penyakit berdasarkan ambang kerusakan. Peningkatan hasil dengan peningkatan produktivitas terutama ditujukan agar kacang-kacangan kompetitif terhadap komoditas lain. Dengan penerapan teknologi budi daya maju, produktivitas kedelai dapat mencapai 2,0 t/ha, kacang tanah 2,5 t/ha (polong kering) dan kacang hijau 1,6 t/ha. Peningkatan produksi kacang-kacangan nasional diharapkan akan dapat menambah ketersediaannya di pasaran untuk mendorong laju peningkatan diversifikasi pangan dan gizi masyarakat. Kacang hijau теmiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai upaya peningkatan gizi masyarakat karena produksinya mudah ditingkatkan dan dapat diolah menjadi beragam produk yang bergizi. Dalam PJP II, selama konsumsi protein hewani belum terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, protein asal kacang-kacangan dapat dijadikan andalan dalam program perbaikan gizi masyarakat.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback