Browsing by Author "D. Handoko, Dody"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisis Deskriptif Sensori Kuantitatif Beberapa Varietas Padi Aromatik Dari Provinsi Jawa Barat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) D. Handoko, Dody; Kusbiantoro, Bram; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kuantitatif deskriptif (ADK) beberapa varietas beras aromatik dari Provinsi Jawa Barat. Bahan penelitian adalah padi aromatik varietas Sintanur dari Kabupaten Pandeglang, Batang Gadis dari Kabupaten Lebak, Pandan Wangi dari Kabupaten Cianjur dan Pandan Wangi dari Kabupaten Garut. Sebagai pembanding digunakan Ketan Bilatung dari Kabupaten Garut dan beras Jasmine asal Thailand. Panelis yang digunakan pada uji ini telah melalui serangkaian seleksi dan pelatihan. ADK ini menggunakan atribut aroma (flavors): pandan, cereal, buttery (mentega), creamy (krim) dan manis (sweet); dan rasa (tastes): manis dan asin. Data pengujian kuantitatif yang diperoleh diolah menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa sampel nasi dapat digolongkan berdasarkan atribut rasa dan aroma menjadi empat kelompok, yaitu: nasi Ketan Bilatung (tunggal), nasi Pandan Wangi-Garut (tunggal), kelompok nasi Sintanur dan Batang Gadis, dan kelompok nasi Pandan Wangi-Cianjur dan Jasmine. Nasi Ketan Bilatung dicirikan dan dapat dibedakan dengan sampel nasi lainnya oleh aroma mentega. Nasi Pandan Wangi Garut dicirikan dan dapat dibedakan dengan sampel nasi lainnya oleh aroma krim dan pandan. Nasi Sintanur dan Batang Gadis dicirikan dan dapat dibedakan dengan sampel nasi lainnya oleh aroma cereal. Berbeda dengan kelompok nasi yang lain, nasi Jasmine dan Pandan Wangi-Cianjur memiliki aroma dan rasa yang moderat (terletak di dekat pusat kuadran).
- ItemKomponen Volatil Beras Mentikwangi dan Rojolele dan Karakteristik Mutunya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Dewi Indrasari, Siti; S.D. Ardhiyanti; D. Handoko, Dody; Kusbiantoro, BramAbstrak Tulisan ini mengulas komponen volatil beras aromatik Mentikwangi dan Rojolele, mutu fisik beras, mutu giling, dan sifat fisikokimianya yang berasal dari Jawa Tengah. Komponen volatil yang teridentifikasi pada Mentikwangi dan Rojolele diantaranya golongan ester, alkohol, aldehid, keton, aromatik heterosiklik, hidrokarbon, dan furan. Beras Rojolele mempunyai jumlah benzaldehida dan 2 pentil-furan berturut-turut (61,34 dan 81,18 ppb) lebih banyak dibanding Mentikwangi (44,75 dan 37,86 ppb). Secara fisik panjang beras Mentikwangi termasuk panjang dan Rojolele termasuk sangat panjang, namun kedua beras tersebut sama sama berbentuk sedang. Rendemen giling beras Mentikwangi dan Rojolele berturut-turut sebesar 69,3 % dan 68,6%. Persentase beras kepala Mentikwangi ( 90,7 %) memenuhi kelas mutu medium 1 (minimum 78%) dan Rojolele ( 66,7 %) hanya memenuhi mutu kelas medium 3 SNI beras (minimum 60%). Kadar amilosa Mentikwangi sebesar 19,15% termasuk amilosa rendah sehingga nasi yang dihasilkan sangat pulen rasanya, sedangkan Rojolele (21,11 %) termasuk amilosa sedang sehingga nasi yang dihasilkan pulen rasanya. Nilai viskositas balik beras Mentikwangi (2278,4 cp) dan Rojolele (2150,4 cp) menunjukkan nilai yang positif dan semakin tinggi nilai viskositas balik, maka tepung beras tersebut lebih sesuai untuk membuat produk olahan yang sifatnya mengeras/mengembang. Abstract This paper reviews volatile components of Mentikwangi and Rojolele aromatic rice, physical quality of rice, milled quality, and physical properties originating from Central Java. The volatile components identified in Mentikwangi and Rojolele include groups of esters, alcohols, aldehydes, ketones, heterocyclic aromatics, hydrocarbons, and furans. Rojolele rice has a number of benzaldehyde and 2 pentyl-furans successive (61.34 and 81.18 ppb) more than Mentikwangi (44.75 and 37.86 ppb). Physically, the length of Mentikwangi rice including long and Rojolele including very long, but both of them have a medium shape. The milling yield of Mentikwangi and Rojolele was 69.3% and 68.6%, respectively. The percentage of head rice of Mentikwangi rice (90.7%) meets quality of medium 1 class (minimum 78%) and Rojolele (66.7%) only meets the quality of medium 3 class 3 of SNI of rice (minimum 60%). The amylose content of Mentikwangi is 19.15 % includes low amylose so that resulting rice with very soft taste, while Rojolele (21.11 %) including medium amylose so that the rice produced is soft taste. The viscosity value of Mentikwangi rice (2278.4 cp) and Rojolele (2150,4 cp) shows positive value and the higher viscosity value, then the rice flour is more suitable to make processed products that are hardened or expanded.
- ItemPotensi Pengembangan Perangkat Lunak Untuk Menunjang Analisis Sensori di Laboratorium Organoleptik BB Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) D.W. Putra, Septian; D. Handoko, Dody; Mardiah, ZaharaAbstrak Salah satu atribut mutu nasi yang penting adalah mutu sensori. Evaluasi sensori juga diperlukan sebagai prasyarat pelepasan varietas padi. Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) telah memiliki laboratorium uji organoleptik untuk melakukan evaluasi sensori. Laboratorium tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Familiaritas panelis dan petugas laboratorium terhadap sistem uji sensori menjadi kelebihan utama. Selain itu sistem komputerisasi juga sudah dilakukan. Namun, sistem penyimpanan data masih bersifat lokal sehingga memerlukan kompilasi manual. Analisis sensori juga masih terbatas pada uji skoring dan hedonik. Analisis SWOT menunjukkan bahwa sistem yang ada telah cukup matang sehingga baik panelis maupun petugas laboratorium dapat menjalankan peran masing-masing dengan cukup baik. Namun demikian, masih tersimpan potensi besar untuk memperbaiki sistem tersebut sehingga lebih sempurna. Artikel ini berusaha untuk mengkaji potensi tersebut. Abstract One of the most important quality attributes of rice is sensory quality. Sensory evaluation is one of prerequisites for new rice varieties release. Indonesian Center for Rice Research (ICRR) has an established sensory evaluation laboratory. The laboratory has both advantages and disadvantages. Familiarity of panellists and laboratory staffs with existing sensory analysis system is the main strength. Computerized system is already implemented. Nevertheless, data storage system is done locally. Sensory analysis is also limited to scoring and hedonic tests. SWOT analysis was done to show that the existing system was mature enough. Both panellists and laboratory staffs were able to perform their roles well. Nevertheless, there is a hidden potency to improve the existing system. This article tried to address that potency.