Browsing by Author "Ambarwati"
Now showing 1 - 19 of 19
Results Per Page
Sort Options
- ItemEstimasi Ketidakpastian Pengukuran Uji Kadar Siprofloksasin Sediaan Serbuk dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2020) Palupi, Maria Fatima; Anita Sari, Rosana; AmbarwatiBalai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) adalah laboratorium pengujian obat hewan yang telah terakreditasi ISO/IEC: 17025:2017. Salah satu ruang lingkup yang telah mendapatkan akreditasi adalah pengujian kadar siprofloksasin dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Secara rutin BBPMSOH harus dapat menjalankan klausul yang dipersyaratkan dalam ISO/IEC: 17025:2017 yaitu estimasi nilai ketidakpastian pengukuran. Bila metode uji tidak memungkinkan evaluasi ketidakpastian pengukuran yang ketat, estimasi harus dilakukan berdasarkan pemahaman prinsip-prinsip teoritis atau pengalaman praktis dari kinerja tersebut. Ketidakpastian adalah parameter yang berhubungan dengan hasil suatu pengujian dan atau kalibrasi yang memberikan gambaran penyebaran dari nilai pengujian dan atau kalibrasi. Adapun estimasi nilai ketidkpastian dalam uji kadar siproflokasin dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: serapan standar siprofloksasin, serapan sampel siprofloksasin, konsentrasi sampel siprofloksasin dan linearitas. Berdasarkan hasil perhitungan estimasi ketidakpastian untuk uji kadar siproflokasin dengan menggunakan metode IKP FAR.719 dengan spektrofotometer UV-Vis diperoleh angka yang relatif kecil yaitu 0,046%. Pengujian metode ini menunjukkan kedekatan terhadap nilai benar dari sifat ukur.
- ItemFarmakokinetik Siprofloksasin Pada Ayam Layer(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2022-12) Palupi, Maria Fatima; Sari, Rosana Anita; Khomariyah, Siti; Ambarwati; Ariyani, Novida; Nurhidayah; Idrishanti, Nafisah; Carry, Luckyana; Indriyana; Nugraha, Eli; Widyarimbi, Dyah; Rusmiati, Emi; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)Penggunaan antibiotik pada hewan dan manusia jika tidak dikontrol sejak saat ini, maka berdasarkan kajian akan menimbulkan resistansi antimikroba. Adapun antibiotik yang dibahas dalam artikel ini adalah Siprofloksasin. Siprofloksasin adalah antibiotik golongan kuinolon-flurokuinolon yang banyak diregistrasikan sebagi salah satu obat hewan di Indonesia. Menurut Indeks Obat Hewan Indonesia edisi XII tahun 2019 terdapat 22 produk obat hewan siprofloksasin baik dalam bentuk tunggal ataupun kombinasi dengan antibiotik lain telah mendapat nomor resgistrasi untuk beredar di Indonesia. Farmakokinetik dan farmakodinamik adalah salah satu parameter yang sangat penting dalam melakukan penilaian risiko resistansi antimikroba. Dari data diperoleh hasil evaluasi AUC siproflokasin dengan dosis 40 mg/kg baik per oral ataupun intravena dan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) siprofloksasin terhadap kuman Escherichia coli didapatkan nilai AUC/KHM adalah kurang dari 125, sehingga pada dosis 40 mg/kg Berat Badan masih memungkinkan terjadinya resistansi single step mutant. Sehingga, disarankan agar siprofloksasin tidak sebagai pilihan pertama dalam mengobati infeksi bakteri pada ayam, karena memungkinkan terjadinya reistansi antibiotik.
- ItemHomogenitas dan Stabilitas Sampel Uji Profesiensi Obat Hewan Enroflokasin Serbuk(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2019) Sari, Rosana Anita; Ambarwati; Palupi, Maria Fatima
- ItemMonitoring Resistansi Kolistin Pada Escherichia Coli Dari Ayam Broiler Pasca Pelarangan Penggunaan Kolistin Pada Hewan Produksi di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2025) Maria Fatima Palupi; Nurhidayah; Novida Ariyani; Siti Khomariyah; Ambarwati; Indriyana; Anna Miftahul Jannah M.; Emi Rusmiati; Nafisah Idrishanti; Fika Astati FananiSesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No 09 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), BBPMSOH memiliki tugas dan fungsi melakukan pemantauan obat dan vaksin hewan dan pengujian resistansi antimikroba. Selain itu, sejalan dengan Surat Edaran Dirjen PKH No 09160/PK.350/F/12/2029 tanggal 09 Desember 2019 tentang Pelarangan Penggunaan Kolistin pada Hewan secara resmi tanggal 01 Juli 2020, Kolistin telah resmi dilarang untuk digunakan di hewan produksi di Indonesia. Hal ini diperkuat lagi dengan penambahan Lampiran 3 pada Permentan No 14/Permentan/PK.350/5/2017 tentang klasifikasi obat hewan. Kolistin sulfat sendiri adalah antimikrob yang sangat penting bagi manusia karena masuk kedalam kategori Highest Priority Critically Important Antimicrobials for Human Medicine Bersama dengan sefalosporin (generasi ke-3, 4 dan 5), kuinolon, glikopeptid, makrolid dan ketolide. Sejak kolistin dilarang penggunaannya pada hewan produksi, belum diketahui efektivitas penurunan tingkat resistansi kolistin pasca pelarangan sejak tahun 2020. Pada pengkajian ini membahas monitoring resistansi kolistin pada ayam broiler dengan target utama bakteri Escherichia coli. Sampel diperleh dari 6 Kabupaten di 5 provinsi di Indonesia. Setiap sampel di uji resistansinya terhadap kolistin menggunakan uji sensitivitas microbroth dilution (MBD), selain itu dilakukan uji patogenesitas dengan menggunakan uji Congo red.
- ItemPengkajian Mutu Antibiotik Golongan (Fluoro)kuinolon di Delapan Provinsi di Indonesia tahun 2022(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2022-12) Sari, Rosana Anita; Palupi, Maria Fatima; Ambarwati; Khomariyah, Siti; Rusmiati, Emi; Indrishanty, Nafisah; Fanani, Fika Asti; Ariyani, Novida; Nurhidayah; Indriyana; Jannah, Anna Miftahul; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)Antibiotik golongan (fluoro)kuinolon merupakan antibiotik spektrum luas yang banyak digunakan dalam pengobatan infeksi bakteri. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui mutu antibiotik golongan (fluoro)kuinolon yang beredar di delapan provinsi di Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan di poultry shop dan distributor obat hewan. Adapun lokasi pengambilan sampel dilakukan di provinsi Sumatera Selatan, Bali, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat. Berdasarkan hasil pengujian mutu ang dilakukan di unit uji Farmasetik dan Premiks diperoleh semua sampel memenuhi persyaratan mutu.
- ItemPengkajian Mutu Sediaan Obat Hewan Eritromisin dan Profil Farmakokinetiknya dalam Plasma Ayam Broiler(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2018) Nurhidayah; Ariyani, Novida; Ambarwati; Sari, Rosana AnitaEritromisin adalah antibiotika broad sprectrum yang termasuk kedalam golongan makrolida. Makrolida adalah golongan antibiotik yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi bakteri, terutama infeksi saluran pernapasan. Eritromisin dihasilkan dari strain actinomyces, yaitu Saccaropolyspora erythraea. Eritromisin secara in vitro efektif terhadap Mycoplasma, Cocci Gram positif, Neisseria, beberapa strain Haemophilus, Corynebacterium, Listeria, Pasterurella mutocida, Brucella dan Treponemes. Di benua Eropa dosis yang digunakan untuk ayam pedaging dan petelur (eritromisin base) adalah 20 mg/kg/hari. Dalam pengkajian ini sebanyak 98 sampel eritromisin sediaan serbuk di peroleh dari depo obat dari 12 provinsi di Indonesia. Adapun metode pengujian obat yang digunakan adalah metode uji hayati (bio assay). Hasil pengkajian menunjukkan profil farmakokinetik yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan masih perlunya evaluasi lebih lanjut mengenai bioavailibilitas dan bioekivalensi obat hewan eritromisin yang beredar di Indonesia.
- ItemPengkajian Mutu Sediaan Obat Hewan Siprofoloksasin di Tujuh Provinsi Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2021) Khomariyah, Siti; Palupi, Maria Fatima; Ambarwati; Sari, Rosana Anita; Rusmiati, Emi; Idrishanty, Nafisah; Carry, LuckyanaSiprofloksasin adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang termasuk ke dalam antibiotik spektrum luas. Siprofloksasin bekerja dengan menghambat kinerja enzim topoisomerase IV dan topoisomerase II (DNA gyrase). Enzim tersebut merupakan komponen dasar yang diperlukan bakteri dalam perbaikan DNA, transkripsi, rekombinasi dan replika. Siprofloksasin sendiri direkomendasikan penggunaannya dalam dunia kesehatan hewan untuk menangani kasus infeksi pada saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran urinaria yang disebabkan oleh Campylobacter, E.coli, Haemophilus, Mycoplasma, Pasteurella dan Salmonella sp. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kualitas siprofloksasin yang beredar di Indonesia. Adapun sampelnya di ambil dari 7 provinsi di Indonesia. Pengujian siprofloksasin di BBPMSOH dilakukan dengan melakukan uji umum dengan melihat keseragaman warna. Uji khusus terdiri dari dua uji, yaitu uji identitas dan uji kadar menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh semua sampel siprofloksasin dinyatakan telah memenuhi persyaratan mutu obat hewan.
- ItemPengkajian Residu Antibiotik Bacitracin dalam Daging, Hati dan Usus Ayam Broiler di 14 Provinsi di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2017) Ariyani, Novida; Nurhidayah; Ambarwati; Sari, Rosana Anita; Yulianti, Nina TriAntibiotik Bacitracin merupakan antibiotik golongan polipeptida yang diproduksi oleh Bacillus licheniformis,dan lebih stabil dalam bentuk zink dan digunakan sebagai pemacu pertumbuhan terutama untuk babi dan ayam. Namun, penggunaan antibiotik dilarang sebagai imbuhan pakan ternak. Pangan hewani yang beredar indonesia harus memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Untuk menjamin daging yang beredar di Indonesia aman dari antibiotik batricin, dilakukan pengujian dengan 168 sampel daging paha, 168 sampel daging hati, dan 168 sampel usus dari 56 peternakan ayam broiler di 14 provinsi indonesia. Menggunakan pengujian secara kualitatif dengan menggunakan metode bioassay, sampel daging yang berasal dari 56 peternakan ayam di 14 provinsi di Indonesia menunjukan hasil tidak mengandung residu antibiotik bacitracin.
- ItemPengkajian Residu Beberapa Golongan Antibiotika pada Telur Ayam di Beberapa Provinsi di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2015) Nurhidayah; Yulianti, Nina Tri; Palupi, Maria Fatima; Ariyani, Novilda; Patriana, Unang; Werdiningsih, Sri; Nugraha, Eli; Sari, Rosana Anita; Ambarwati; Widyarimbi, Dyah; Rusmiati, Emi
- ItemPengkajian Residu Tetrasiklin dalam Organ dan Telur Ayam pada Beberapa Provinsi di Indonesia(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2013) Werdiningsih, Sri; Patriana, Unang; Ariyani, Novida; Ambarwati; Nugraha, Eli
- ItemPengujian Phytase Menggunakan Metode Megazyme dan Metode Produsen(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2010) Ambarwati; Amalia, Emma
- ItemPerbandingan Pengujian Kadar Albendazol dengan Metode Spektofotometri dan Titrasi Bebas Air(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2011) Ambarwati; Palupi, Maria Fatima; Patriana, Unang; Rusmiati, Emi; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)
- ItemPerbandingan Pengujian kadar Albendazol Dengan Metode Spektrometri dan Titrasi Bebas Air(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2011) Ambarwati; Palupi, Maria Fatima; Patriana, Unang; Rusmiati, Emi; Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH)
- ItemProfil Farmakokinetik Beberapa Sediaan Amoxilin pada Ayam Broiler(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2008) Werdiningsih, S.; Patriana, U.; Ariyani, N.; Ambarwati; Palupi M.F.
- ItemProfil Farmakokinetik Beberapa Sediaan Oxytetracyclin pada Ayam Broiler(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2009) Werdiningsih, S.; Ambarwati; Patriana, U.; Ariyani, N.; Palupi, M.F.
- ItemProfil Farmakokinetik Beberapa Sediaan Tilosin pada Ayam Broiler(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2013) Werdiningsih, Sri; Patriana, Unang; Ariyani, Novida; Ambarwati; Nugraha, Eli
- ItemTinjauan Hasil Pengujian Mutu Obat Hewan Sediaan Hormon Reproduksi di BBPMSOH tahun 2015-2018(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2019) Ambarwati; Sari, Rosana Anita; Palupi, Maria FatimaSalah satu tantangan yang dihadapi peternak terutama peternak hewa besar seperti sapi, kerbau, kuda, kambing dan domba adalah masalah gangguan reproduksi. Gangguan reproduksi sangat mengganggu kemampuan hewan besar dalam bereproduksi baik hewan jantan maupun betina. Penggunaan horman pada hewan besar bisa menjadi salah satu alternatif yang digunakan peternak guna mengatasi masalah kebuburan hewannya. Pentingnya penggunaan hormon pada hewan besar maka dipandang perlu untuk memantau kualitas horman hewan yang beredar di Indonesia selama kurun waktu 2015-2018. Adapun sampel yang digunakan aalah sampel yang berada di laboratorium Farmasetik dan Premiks BBPMSOH. Dari hasil pengujian dan pengamatan diperoleh data jenis zat aktif hormon yang iduji paling banyak mengandung zat aktif dinoprost thromethamine. Pada tahun 2018 ditemukan zat aktif baru yaitu Fertirelin asetat dan buserelin asetat. Sedangkan jumlah presentase sampel sediaan obat hewan hormon yang memenuhi persyaratan obat hewan pada tahun 2015-2018 berturut-turut adalah 96%, 94%, 91% dan 93%. Untuk menjamin kualitas mutu pengujian obat hewan, metode yang digunakan berasal dari British Pharmacopoeia (BP) tahun 2013, Farmakope Obat Hewan Indonesia (FOHI) Jilid 2 Edisi 4 Tahun 2009 sediaan Farmasetik dam Premiks dan United State Pharmacopoeia 24 NF 19 Tahun 2000.
- ItemValidase Metode Uji Kadar Albendazol dengan menggunakan Spektrofometer UV/VIS(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2012) Ambarwati; Palupi, Maria Fatima; Patriana, Unang
- ItemValidasi Metode Uji Kadar Albendazole Suspensi menggunakan Spektrofotometer UV-Vis(Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, 2020) Ambarwati; Anita Sari, Rosana; Khomariyah, Siti; Idrishanty, Nafisah; Palupi, Maria Fatima; Rusmiati, Emi; Cerry, LuckyanaInfeksi cacing nematode pada saluran pencernaan hewan meruapakan salah satu penghambat upaya meningkatkan produktivitas ternak. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan obat cacing (anthelminthik) yang sering digunakan pada ruminansia menurut informasi dari beberapa Dinas Peternakan dan perusahaan obat hewan di Indonesia yaitu dari golobgan benzimidazole. Albendazole adalah obat hewan golongan anthelminthik derivat benzimidazol berspektrumm luas yang cukup dikenal dalam dunia kedokteran hewan. Daya ovicidail dari albendazole yang kuat terhadap Ascaris suum dan Fasciola hepatic dengan cara merusak struktur sel (deformasi). Salah satu tugas pokok dan fungsi BBPMSOH menurut SK Menteri Pertanian No 53/Permentan/OT.140/5/2013 adalah melaksanakan pengembangan teknik dan metode pengujian obat hewan guna menjamin mutu layanan dan meningkatkan kinerja BBPMSOH, maka selaku laboratirium pengujian melalui unit Uji farmasetik dan Premiks dilakukan validasi metode uji kadar Albendazole sediaan suspensi dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan pelarut H2So4 1% dalam methanol p.a., diperoleh nilai yang presisi, akurasi dan lineraitas yang baik, sedangkan nilai LOD dan LOQ metode uji adalah masing-masing 1,30 ppm dan 4,34 ppm. Pengujian kadar albendazole sediann suspensi menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan pelarut H2So4 1% dalam methanol p.a. dapat digunakan dalam pengujian rutinitas dan memrikan hasil yang baik dalam validasi pengujian obat hewan.