Browsing by Author "Agustina Asri Rahmianna"
Now showing 1 - 7 of 7
Results Per Page
Sort Options
- ItemChanges of Chemical Composition and Aflatoxin Content of Peanut Products as Affected by Processing Methods(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019-10) Erliana Ginting; Agustina Asri Rahmianna; Eriyanto YusnawanProduksi kacang tanah di Indonesia sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sehingga aspek nilai gizi dan kontaminasi aflatoksin menjadi isu penting ditinjau dari ketahanan dan keamanan pangan. Kacang tanah mengalami perubahan fisik dan kimia selama pengolahan yang mengakibatkan nilai gizinya berkurang dan tidak aman dikonsumsi. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pengaruh cara pengolahan terhadap komposisi kimia dan kandungan aflatoksin produknya. Polong kering yang diperoleh dari hasil panen petani di Ponorogo, Jawa Timur disimpan selama satu bulan, kemudian diolah menjadi kacang goreng, sambel pecel, bungkil kacang, bungkil kacang goreng, tempe bungkil kacang dan tempe bungkil kacang goreng. Penelitian untuk mengetahui komposisi kimia dan kandungan aflatoksin bebrapa hasil olahan kacang tanah tersebut dilakukan dengan rancangan acak lengkap, tiga ulangan. Analisis kandungan aflatoksin B1 dilakukan dengan metode ELISA. Biji kacang tanah mengandung 26,3% protein (bk) dan 50,4% lemak (bk), kandungan aflatoksin pada biji relatif rendah (9,1 ppb). Peningkatan kadar protein tertinggi diamati pada pengolahan kacang tanah menjadi tempe bungkil kacang, diikuti tempe bungkil kacang goreng, bungkil kacang, dan bungkil kacang goreng, sedangkan kadar lemak turun pada semua produk berkaitan dengan kadar air yang cukup rendah (5,6%), tidak terdeteksi infeksi Aspergillus flavus, dan persentase biji utuh tinggi (73,1%). Pada pengolahan kacang goreng dan bungkil kacang goreng, kandungan aflatoksin berkurang masing-masing sebesar 26,4% dan 41,8%, sementara pada sambal pecel dan bungkil kacang goreng kadar lemak relatif sama nilainya. Kandungan aflatoksin meningkat dua kali pada pengolahan tempe bungkil kacang, namun berkurang 38,9% setelah menjadi tempe bungkil kacang goreng. Selain tempe bungkil kacang, lima produk kacang lainnya mengandung aflatoksin di bawah ambang batas aman yang diijinkan, yakni 15 ppb, sehingga aman untuk dikonsumsi.
- ItemInovasi Teknologi Budi Daya Kacang Tanah pada Beragam Agroekologi di Indonesia(Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Aneka Kacang, 2024) Agustina Asri Rahmianna; Abdullah Taufiq; Herdina Pratiwi; Nur’Aini Herawati; Pratanti Haksiwi Putri; Sri Ayu Dwi Lestari; Bambang Sri Koentjoro; Andi Amran SulaimanBuku petunjuk praktis karangan Agustina Asri Rahmianna dkk. yang diterbitkan oleh Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Aneka Kacang pada tahun 2024 ini membahas secara komprehensif mengenai strategi perakitan dan penerapan inovasi teknologi budi daya kacang tanah yang spesifik agroekologi di Indonesia guna mengatasi penurunan luas panen serta produksi nasional. Pembahasan mencakup peran kacang tanah dalam pola usaha tani (baik monokultur maupun tumpangsari), analisis kriteria kesesuaian lahan, hingga implementasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang menggabungkan komponen teknologi dasar—seperti penggunaan varietas unggul, benih bermutu, pengolahan tanah, saluran drainase, pengaturan populasi, dan pengendalian OPT—serta komponen teknologi pilihan seperti pemupukan, pengairan, dan penanganan pascapanen. Buku ini merinci paket teknologi anjuran yang disesuaikan secara khusus untuk enam kondisi agroekologi utama, yaitu lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, lahan kering iklim kering (tipe D3 dan E), lahan kering masam, lahan pasang surut, hingga lahan salin. Melalui pendekatan terpadu dan spesifik lokasi tersebut, inovasi budi daya ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal (LATO) untuk mendorong peningkatan produktivitas serta pendapatan petani kacang tanah secara berkelanjutan.
- ItemKacang tanah inovasi teknologi dan pengembangan produk(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2015-12-05) Astanto Kasno; Agustina Asri Rahmianna; Made Jana Mejaya; Didik Harnowo; Sudarmadi PurnomoMeski bukan tanaman pangan utama, komoditas kacang tanah semakin penting perannya sebagai tanaman cash crop, terutama sebagai pemasok bahan baku untuk bioindustri pangan, khususnya kudapan (snack) yang terus berkembang. Oleh karena itu perhatian terhadap teknologi produksi dan pengolahan kacang tanah perlu mendapat perhatian lebih. Sebagaimana digariskan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan selalu menekankan dan mengarahkan agar rencana strategis (Renstra) Balai Penelitian komoditas senantiasa mengantisipasi kebutuhan inovasi di masa mendatang dengan dasar perubahan lingkungan strategis seperti perubahan iklim, kesuburan tanah, potensi berkembanganya organisme pengganggu dan juga aspek gizi dan kesehatan masyarakat serta yang tak kalah pentingnya adalah potensi penerapan inovasi tersebut secara ekonomis. Monograf Kacang Tanah ini, yang merupakan rangkuman hasil penelitian dengan menjelaskan kacang tanah dari berbagai disiplin, saya pandang sangat penting sebagai salah satu cara mengomunikasikan inovasi yang telah dicapai kepada para penyuluh dan praktisi sebagai bahan penyuluhan kepada petani. Di samping itu, materi dalam monograf ini juga penting untuk pengembangan kacang tanah bagi para akademisi. Lebih-lebih dalam perdagangan internasional aspek gizi dan cemaran aflatoksin akan menjadi parameter penting untuk standar kualitas perdagangan kacang tanah. Semoga buku ini dapat dijadikan pegangan untuk pengembangan kacang tanah, sehingga mendorong peningkatan produksi kacang tanah dalam negeri dan mengurangi impor yang semakin bertambah.
- ItemPeningkatan Produksi Kedelai pada Sistem Wanatani Berbasis Jati dengan Varietas Unggul Baru dan Perbaikan Budidaya(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2023-05) Herdina Pratiwi; Agustina Asri Rahmianna; Titik SundariSalah satu kendala pengembangan kedelai pada lahan hutan jati adalah naungan yang menyebabkan tanaman kekurangan sinar matahari sehingga menurunkan hasil biji. Pengujian ini bertujuan untuk merakit dan menilai kelayakan ekonomis teknologi budidaya varietas unggul baru di bawah tegakan jati. Kegiatan dilaksanakan pada hutan jati berumur 4 tahun dengan tingkat naungan 43-49% selama masa pertumbuhan kedelai di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Percobaan disusun menggunakan rancangan split-split plot, empat ulangan. Petak utama adalah perlakuan dua varietas: Denasa 1 dan Denasa 2. Anak petak adalah perlakuan tiga jarak tanam kedelai: 40 cm × 15 cm, 30 cm × 15 cm, dan 50 cm × (30 cm × 15 cm). Anak-anak petak adalah empat perlakuan pemupukan: 250 kg Phonska/ha, 250 kg Phonska + 50 kg SP36/ha, 250 kg Phonska + 50 kg SP36 + 50 kg ZA/ha, dan 250 kg Phonska + 50 kg SP36 + 50 kg ZA + 1000 kg pupuk kandang/ha. Data yang dikumpulkan adalah sifat kimia tanah sebelum tanam, intensitas cahaya di atas tajuk kedelai dan di lokasi tanpa naungan, komponen pertumbuhan, komponen hasil dan hasil biji kedelai. Jumlah tanaman dipanen dan bobot kering biji kedelai diamati pada ubinan 2 m × 2 m. Teknologi budidaya kedelai varietas Denasa 1 memberikan keuntungan tertinggi sekaligus layak secara ekonomis dengan dosis pupuk 250 kg Phonska + 50 kg SP36 + 50 kg ZA/ha, sedangkan pada varietas Denasa 2 dengan dosis pupuk 250 kg Phonska + 50kg SP36/ha. Jarak tanam 40 cm × 15 cm layak disarankan untuk kedua varietas karena membutuhkan jumlah benih paling sedikit.
- ItemPETUNJUK TEKNOLOGI BUDI DAYA KACANG TUNGGAK(Balai Pengujian Standar Instrumen Aneka Kacang, 2024-12-18) Agustina Asri RahmiannaKacang tunggak telah lama dibudidayakan oleh petani di Indonesia dalam skala usaha tani kecil dan tradisional. Kacang tunggak dimanfaatkan sebagai sayur atau diolah menjadi makanan kecil. Sejalan dengan perkembangan agroindustri dan permintaan pasar luar negeri, kebutuhan kacang tunggak semakin meningkat. Oleh karena itu, peningkatan produksi dan kualitas hasil menjadi pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Peningkatan produksi dan kualitas dapat dicapai dengan perbaikan teknologi budi daya. Kalau selama ini petani menggunakan teknologi budi daya tradisional, maka sudah saatnya dikenalkan teknologi budi daya anjuran yang dapat meningkatkan hasil sekaligus kualitasnya. Di dalam buku ini, penulis memaparkan teknologi budi daya yang dapat digunakan sebagai acuan untuk bercocok tanam kacang tunggak. Selain cara atau teknologi budi daya, penulis juga menyajikan informasi tentang taksonomi dan morfologi, asal dan penyebaran, ekobiologi dan agroekologi kacang tunggak. Perlu ditambahkan bahwa penggunaan varietas unggul dengan sifat-sifat unggul dan sesuai permintaan pasar merupakan komponen teknologi yang paling siap untuk diadopsi petani. Harapan penulis, semoga informasi yang tersaji di dalam buku ini bermanfaat bagi para pembaca.
- ItemPetunjuk Teknologi Budi Daya Kacang Tunggak(Balai Pengujian Standar Instrumen Aneka Kacang, 2024) Agustina Asri RahmiannaBuku ini merupakan panduan teknis komprehensif tentang budi daya kacang tunggak (Vigna unguiculata) yang disusun untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil guna memenuhi permintaan pasar domestik maupun ekspor. Disusun oleh penyuluh ahli utama dari Balai Pengujian Standar Instrumen Aneka Kacang, buku ini membahas berbagai aspek penting mulai dari taksonomi, asal-usul dan penyebaran, morfologi tanaman, varietas unggul, hingga teknik budi daya modern. Ditekankan penggunaan varietas unggul dan teknologi yang sesuai agroekologi lokal sebagai kunci peningkatan hasil. Buku ini juga menguraikan teknik pengendalian hama dan penyakit, serta langkah-langkah panen dan pascapanen untuk menjaga mutu hasil. Panduan ini ditujukan bagi petani, penyuluh, dan pelaku usaha pertanian sebagai acuan praktik pertanian yang produktif dan berkelanjutan.
- ItemPetunjuk Teknologi Budi Daya Kacang Tunggak(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Tanaman Aneka Kacang, 2024) Agustina Asri RahmiannaBuku petunjuk teknis berjudul "Petunjuk Teknologi Budi Daya Kacang Tunggak" yang ditulis oleh Agustina Asri Rahmianna dan diterbitkan oleh Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Aneka Kacang pada tahun 2024 ini menyajikan panduan komprehensif mengenai pengenalan teknologi anjuran guna meningkatkan produksi dan kualitas hasil komoditas kacang tunggak (Vigna unguiculata). Dokumen ini menguraikan taksonomi, asal-usul, serta aspek morfologi tanaman yang mencakup identifikasi tipe pertumbuhan determinit dan indeterminit. Dari sudut pandang ekobiologi dan agroekologi, kacang tunggak dikenal sebagai tanaman berhari pendek yang sangat adaptif terhadap lahan kering iklim kering serta lebih toleran terhadap cekaman kekeringan dibanding kacang-kacangan lainnya berkat sistem perakaran tunggang yang mampu membentuk bintil akar penambat nitrogen. Komponen budi daya yang dipaparkan meliputi teknik penyiapan lahan kering dan lahan sawah bekas padi, penentuan waktu tanam yang optimal pada musim kemarau, pengaturan jarak tanam (seperti 40 cm × 15 cm untuk tipe tegak), pemupukan berimbang berbasis fosfat, manajemen tumpangsari, hingga rekayasa kanopi melalui pemangkasan pucuk dan daun. Selain menyediakan acuan ambang kendali untuk menangani hama utama (seperti lalat kacang dan penggerek polong Maruca) serta patogen penyakit (cendawan, bakteri hawar, dan virus CAMV), pedoman ini menekankan standarisasi penanganan pascapanen yang ketat melalui pemanenan saat 85–90% polong kering, pengeringan biji hingga kadar air di bawah 10%, serta pemanfaatan metode hermetik berupa kantong Purdue Improved Crops Storage (PICS) untuk mengeliminasi serangan hama gudang tanpa insektisida selama penyimpanan jangka panjang.