DETEKSI JAMUR PATOGEN DAN AFLATOKSIN PADA SERBUK DAN EKSTRAK SAMBILOTO SERTA FORMULA OBAT DBD
No Thumbnail Available
Date
2007-09
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Abstract
Dewasa ini terjadi peningkatan penggunaan produk herbal sebagai obat alternatif maupun
sebagai komplementer obat-obatan kimia. Produk herbal rentan terhadap kontaminasi jamur
patogen penghasil mikotoksin, karena kondisi iklim maupun akibat proses panen dan
penyimpanan. Oleh karena itu, setiap produk herbal yang akan dikonsumsi sebagai obat perlu
dilakukan pengujian tingkat kontaminasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya
jamu patogen tingkat kontaminasinya, dan kadar aflatoksin pada beberapa produk herbal asal
Balittro Bogor. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Balittro, Bogor, mulai bulan April
sampai Agustus 2007. Produk herbal yang diuji berasal dari Teknologi Hasil Balittro, Bogor, yaitu
: serbuk dan ekstrak sambiloto, serta formula obat Demam Berdarah Dengue (DBD) (terdiri dari
tanaman Meniran, Kunyit, Temu Ireng, daun Pepaya dan daun Jambu Biji Merah). Pengujian
dilakukan dengan cara mengisolasi sampel produk herbal pada media PDA + Chlorampenicol
dengan metode pengenceran bertingkat, kemudian dilakukan penghitungan jumlah koloni jamur
yang tumbuh setelah diinkubasi selama 3 hari pada suhu kamar. Jamur patogen yang tumbuh
dimurnikan dan diidentifikasi. Hasil pengujian menunjukkan pada serbuk sambiloto ditemukan
jamur sebanyak 3,67 x 104 cfu/g bahan, dan setelah disimpan selama 4 bulan ditemukan jamur
sebanyak 4,36 x 104 efu/g bahan. Penyimpanan ternyata tidak mempengaruhi tingkat kontaminasi
jamur kontaminan pada serbuk sambiloto. Pada ekstrak sambiloto setelah disimpan selama 8
bulan, tidak ditemukan adanya jamur kontaminan. Sedangkan pada formula obat untuk DBD
setelah disimpan selama 2 bulan, didapatkan 3,26 x 103 cfu/g bahan. Dari hasil isolasi, ditemukan
5 spesies jamur Aspergillus pada serbuk sambiloto, yaitu A. niger, A. tamarii, A. japonicus, А.
flavus dan A. parasiticus. Sedangkan pada formula obat untuk DBD ditemukan 2 spesies
Aspergillus., yaitu: A. niger dan A. sydowii. Berdasarkan pengujian secara kualitatif dengan
lampu UV, tidak terdeteksi adanya aflatoksin pada serbuk sambiloto, tetapi setelah diuji secara
kualıtatif dengan menggunakan TLC Scanner, didapatkan kadar aflatoksin B1 sebesar 29,51 ppb
per gram bahan. Perlu dilakukan pengujian lebih lanjut untuk menguji kemampuan A. flavus dan
A. parasiticus dalam memproduksi aflatoksin B1.