Memproduksi bibit unggul kelapa dengan cara hibridisasi
Loading...
Date
1974-04
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
PUSAT PENELITIAN TANAMAN INDUSTRI
Abstract
Tanaman kelapa type dalam (varietas typica) yang memproduksi kopra, lebih banyak melakukan penyerbukan secara silang, karena itu pertanaman yang ada sangat heterogen. Sampai sekarang seleksi masa masih dilakukan yaitu dengan menyeleksi buah dari tanaman yang ber- produksi tinggi dan dijadikan bibit. Karena "heritability values" hasil kopra dan berat buah tanpa sabut cukup tinggi (Lakshamana Char. 1959: Liyanage dan Sakai, 1960), seleksi dari induk-induknya dalam sifat-sifat ini akan menimbulkan sedikit per- kembangan genetik pada keturunan-keturunannya. Respons dari keturunan meningkat bila selection differential diper- besar kearah kanan sebaran populasi (upward basis). Hasil kopra dari keturunan-keturunan yang berasal dari 5 persen tanaman terbaik didalam suatu populasi memberikan 14 persen lebih tinggi dari rata-rata populasi (population mean), sedangkan yang berasal dari 15 persen tanaman terbaik hanya memberikan kenaikan hasil 8 persen, yakni bila induk- induknya dipilih atas dasar hasil kopra. Pada seleksi kearah kiri sebaran populasi (downward basis), produksi dari keturunan-keturunan yang berasal dari 5 persen tanaman terburuk lebih rendah bila dibandingkan dengan produksi dari keturunan yang berasal dari 15 persen tanaman ter- buruk (Liyanage, 1967). Walaupun terdapat respons terhadap seleksi dari bahan yang berasal dari penyerbukan bebas, akan tetapi kenaikan hasil dari keturunannya tidak cukup tinggi. Agar diperoleh keturunan-ketu- runan yang berproduksi lebih tinggi diadakanlah pengaturan dalam hal penyerbukan, Penyerbukan tersebut merupakan teknik yang mudah dan telah banyak diuraikan didalam literatur. Pemakaian teknik ini tentunya tidak lepas dari kesukaran-kesukaran lainnya. Umumnya tanaman kelapa hanya menghasilkan beberapa butir/tahun (80-125 butir)