Antisipasi Perubahan Iklim, Inovasi Teknologi dan Arah Penelitian Padi di Indonesia
| dc.contributor.author | Las, Irsal | |
| dc.contributor.author | E. Surmaini | |
| dc.contributor.author | A. Ruskandar | |
| dc.date.accessioned | 2026-09-12T06:26:31Z | |
| dc.date.available | 2026-09-12T06:26:31Z | |
| dc.date.issued | 2009-07-24 | |
| dc.description | 18 p.: ills.; tab. | |
| dc.description.abstract | Abstrak Dampak potensial dari perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah menurunnya produksi dan produktivitas pertanian sebagai akibat dari peningkatan Suhu udara, peningkatan permukaan air laut, perubahan pola hujan, dan peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim. Penurunan produksi tentu Saja berpengaruh langsung terhadap tingkat kesejahteraan petani, yang merupakan kelompok masyarakat yang kurang sejahtera dan paling rentan terhadap perubahan iklim. Di sisi lain lahan pertanian di Indoensia merupakan sumber utama emisi gas metana. Berbagai hasil penelitian menyebutkan total emisi CH. dari lahan padi sawah di Indonesia bervariasi antara 2,2-6,2 juta ton CH/tahun atau setara dengan 46,2-130 juta ton Coze. Konsorsium penelitian dan pengembangan Perubahan Iklim Sektor Pertanian (KP31) pada tahun 2008 melakukan penghitungan ulang emisi menyatakan bahwa pelepasan CH, dari Jahan sawahdi Indonesia ke atmosfer adalah 1 ,72 Juta ton atau setara dengan 39,63 juta ton Coze. Namun disisi lain sektor pertanian juga merupakan penyedia cadangan karbon yang tidak dapat diabaikan. Cadangan karbon dari sektor pertanian meliputi tanah gambut dan lahan perkebunan, Cadangan karbon gambut Indonesia diperkirakan sekitar 40 Gt. Tanaman perkebunan merupakan penambat (seques- ter) karbon terbesar di antara berbagai jenis komoditas pertanian. Peluang peningkatan rosot karbon adalah dengan konversi hutan primer dan alang alang atau semak belukar menjadi lahan Perkebunan. Untuk menetapkan strategi penanggulangan perubahan iklim, termasuk strategi dan arah penelitian padi, perlu kajian dan analisis yang komprehensif untuk mengetahui dan memahami dampak pembahan iklim terhadap sistem produksi secara kuantitatif. Ada dua pendekatan untuk menigkatkan kelenturan (resilience) pertanian terhadap perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi. Teknologi mitigasi bertujuan untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca dari lahan pertanian khususnya pada lahan pertanaman padi sawah, antara lain: (a) penggunaan varietas yang rendah emisi, seperti Ciherang, Cisantana, Tukad Balian, Way Apo Buru, Batanghari, dan Tenggulang, (b) penggunaan pupuk urea tabletjprill dan pupuk A, dan (c) penerapan teknologi tanpa Oleah tanah, dan irigasi interrnitten. Teknologi adapatasi bertujuan untuk meningkatan kemampuan penyesuaian dengan perubahan iklim, antara lain dengan pengembangan teknologi varietas unggul toleran salinitas, kekeringan, dan rendaman. Abstract Potential impact of climate change on the agricultural sector is declining agricultural production and productivity as a result of the increased temperature, increased sea surface water, changes in rainfall patterns, and increased frequency of extreme climate events. Decline of production, directly affect the welfare of farmers, which is less prosperous and the most vulnerable to climate change. On the other hand, Ricefield in Indonesia is the main source of gas emission methane. Research results indicate that total CH, emissions from rice paddy field in Indonesia vaned between million tons, equivalent CH4/year with 46,2-130 million tonnes Coze. Consortium of Research and Development of Agriculture Sector on Climate Change (KP31) in the year 2008 to the recalculate CH4 emissions from rice field is I .72 million tons, equivalent to 39.53 million tons of Coze. However, the other agriculture sub sector is a potential carbon sequester that cannot be ignored. Carbon stock from agricultural land especially from peatland and plantation. Peat land in Indonesia reserves estimated at 40 Gt carbon Plantation crops is also a sequester carbon. Opportunities carbon sink is increased with the conversion of primary forest and imperata or shrub land into plantations. To define a strategy for climate change, including strategy and direction of rice re. search, it is necessary to study and comprehensive analysis to identify and understand the impact of climate change on the production system is quantitative. There are two approaches to increase resilience of agriculture to climate change, including mitigation and adaptation. Mitigation technology aims to reduce emissions from greenhouse gasses from agricultural land, especially on paddy fields, among others: (a) use a variety of low-emissions, such as Ciherang, Cisantana, Tukad Balian, Wäy Apo Buru, Batanghari, and Tenggulang, (b) the use of fertilizer such as urea tablet (prill) and 4, and (c) the application of technology without olah land, and irrigation intermittent Adaptation aims to increasing the ability to adjust to climate change, among others, with the development varieties that tolerant to salinity, drought, and flood. | |
| dc.identifier.isbn | 978-979-540-043-1 | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/32235 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | Balai Besar Penelitian Tanaman Padi | |
| dc.title | Antisipasi Perubahan Iklim, Inovasi Teknologi dan Arah Penelitian Padi di Indonesia | |
| dc.title.alternative | Inovasi Teknologi Padi Mengantisipasi Perubahan Iklim Global Mendukung Ketahanan Pangan. Buku 1. Prosiding Seminar Nasional Padi 2008 | |
| dc.type | Article |
Files
Original bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- 5. Antisipasi Perubahan Iklim Inovasi Teknologi dan Arah Penelitian Padi di Indonesia- Irsal Las, E. Surmaini, A. Ruskandar.pdf
- Size:
- 6.7 MB
- Format:
- Adobe Portable Document Format
- Description:
License bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- license.txt
- Size:
- 1.77 KB
- Format:
- Item-specific license agreed upon to submission
- Description: