Teknik Budi Daya Ubi Kayu dalam Menunjang Sistem Usahatani Terlanjutkan
No Thumbnail Available
Date
1996
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
Abstract
Selain untuk bahan pangan, ubi kayu banyak digunakan sebagai bahan baku
industri sehingga upaya peningkatan produksinya perlu dikaitkan dengan agroindustri. Di sebagian daerah, pemilikan lahan yang relatif sempit serta keterbatasan tenaga kerja dan modal menyebabkan petani mengusahakan ubi kayu
secara tumpangsari dengan padi gogo, jagung, dan kacang-kacangan. Hasil
penelitian dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa rata-rata hasil ubi kayu
dalam pola tumpangsari adalah 25 ton ubi basah. Terdapat korelasi negatif
antara hasil ubi kayu dan tanaman sela. Oleh sebab itu, pola tumpangsari lebih
menguntungkan daripada pola monokultur karena penurunan hasil ubi kayu
dapat disubstitusi oleh tanaman sela. Erosi sebagai faktor penyebab degradasi
lahan dapat ditekan melalui perbaikan kultur teknis. Sistem tumpangsari dapat
menekan erosi sekitar 15% dibandingkan dengan monokultur. Selain berperan
penting dalam memperbaiki pertumbuhan tanaman, pemupukan NPK dapat
menekan erosi sebesar 23% dibandingkan dengan tanpa pemupukan. Efisiensi
pemupukan tertinggi diperoleh pada kombinasi pemupukan 90-120 kg N + 50-90
kg P2Os + 90-120 kg K2O/ha, baik untuk ubi kayu maupun tanaman sela. Waktu
tanam ubi kayu berpengaruh terhadap hasil dan berkorelasi positif dengan curah
hujan selama 3 bulan pertama serta berkorelasi negatif dengan curah hujan
selama 2 bulan terakhir menjelang panen. Pengembalian bahan organik sisa
panen tanaman sela ke dalam tanah dapat memperbaiki kondisi tanah sehingga
meningkatkan produktivitas lahan.