Peranan Teknologi PTT Dalam Upaya Mengamankan Produksi Padi Dari Serangan OPT Utama
No Thumbnail Available
Date
2010-11-18
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Abstract
Abstract
The Role of IPM Technologies to Protect Rice Production from Major Pests and Diseases. Integrated crop management (ICM) is a model or an approach to manage soil, water, crop, pests, and diseases to keep the environment in a balanced condition. The application of ICM technology has been conducted at Subak Guama, Selanbawak Village, Marga Sub-district, Tabanan District in 2008. The IPM components applied were superior variety Ciherang, young seedlings (12-15 days of age), provision of intermittent irrigation, and in-row (legowo) planting system. The check was technology provided by farmers themselves. The objectives of the experiment were to evaluate the role of ICM in securing rice production against main pests and diseases. ICM treatments involved 20 farmers, conducted plots of 0.1-0.15 ha in size. Each treatment consisted of 3 plots as replication was arranged in a randomized block design. Technical application of ICM technology was using 2-3 plants per hole with young seedlings of 12-15 days of age. The rice seedlings were transplanted at a planting distance of 50 cm x 25 cm x 12.5 cm. Fertilizers were applied based on soil analysis previously done by IAAT Bali. Urea and Phonska fertilizers were applied at 15-21 and 40-50 days after planting, respectively, at the rate of 200 kg. Results of this experiment indicated that ICM technology increased rice yield by 9.2%, plant height, and number tillers. ICM also reduced main pests and diseases, which might be due to the effect of planting legowo 2:1 through the unfavorable micro climate in the plant canopies. It was observed that the occurrence of stem borer, rat and blast reached 10.5%, 15.5%, and 20%, respectively. Based on the economic analysis, it was noticed that ICM provided better profit i.e. Rp9.147.000 as compared to control, Rp7.298.000.
Abstrak
orang Pengelolaan tanaman terpadu (PTT) merupakan suatu model atau pendekatan dengan tujuan untuk mengelola tanah, air, tanaman, dan organisme pengganggu tanaman (OPT) agar berada dalam kondisi seimbang. Pengkajian PTT yang dilaksanakan di Subak Guama, Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan pada tahun 2008 dengan inovasi teknologi, antara lain penggunaan varietas unggul bermutu, bibit muda (12-15 HST), pengairan berselang, cara tanam pindah legowo 2:1, dan cara petani sebagai kontrol. Tujuan pengkajian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana model PTT mampu mengamankan produksi padi dari serangan OPT utama. Pengkajian dilaksanakan oleh 200 petani termasuk 10 orang petani sebagai kontrol yang diterapkan pada petak-petak alami seluas 0,10-0,15 ha dengan menggunakan varietas Ciherang. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali pada petak-petak alami dengan rancangan acak kelompok. Bibit padi varietas Ciherang berumur muda (12-15 hari) ditanam sebanyak 2-3 tanaman/lubang dengan sistem tanam pindah legowo 2:1 dengan jarak tanam 50 cm x 25 cm x 12,5 cm dan cara petani sebagai kontrol. Pemupukan urea dan Phonska sesuai analisis tanah dengan dosis masing-masing sebanyak 200 kg/ha yang diberikan pada umur 15-21 hari setelah tanam (HST) dan 40-50 HST. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknologi PTT mampu meningkatkan produksi padi, yang ditunjukkan oleh keragaan pertumbuhan tanaman terutama tinggi tanaman, jumlah anakan, dan produksi/ha berbeda nyata lebih tinggi dibandingkan cara petani dengan peningkatan produksi/ha 9,2% atau 400 kg/ha. Di samping itu, teknologi PTT mampu mengurangi serangan OPT utama, terutama hama penggerek batang, tikus, dan penyakit blas, karena pengaruh sistem tanam pindah legowo 2:1 yang membuat iklim mikro tidak sesuai bagi perkembangan hama dan penyakit, yaitu tingkat serangan 10.5%, 15,5%, dan 20% dibandingkan dengan 15%, 20%, dan 30%. Dari segi usahatani teknologi PTT lebih menguntungkan karena keuntungan yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan cara petani, yaitu Rp9.147.000 lebih besar dari Rp7.298.000 dengan B/C 2,56 lebih besar dari 2,1.
Description
13 p.; ills.; tab.