Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan Kedelai pada Lahan Kering Masam
| dc.contributor.author | Subandi | |
| dc.date.accessioned | 2025-09-04T03:58:01Z | |
| dc.date.available | 2025-09-04T03:58:01Z | |
| dc.date.issued | 2007-12-04 | |
| dc.description | Buletin Iptek Tanaman Pangan telah memasuki tahun kedua. Di usianya yang muda ini, buletin Iptek Tanaman Pangan masih menuntut redaksi untuk proaktif melobi para peneliti dan kontributor artikel untuk menulis dan mengirimkan tulisannya ke redaksi. | |
| dc.description.abstract | Pengembangan areal tanam kedelai pada lahan kering masam merupakan alternatif strategis bagi peningkatan produksi nasional menuju swasembada. Lahan kering tersebut tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung Al, Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg. Pemberian bahan ameliorasi kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P, dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Penelitian telah berhasil memperoleh komponen teknologi produksi yang dapat memberikan produktivitas kedelai dan keuntungan yang memadai. Budi daya kedelai dengan pendekatan pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT) mampu menghasilkan 1,76-2,03 t/ha dengan ke- untungan Rp 2.153.000-3.781.000/ha. Dalam pengembangannya, kedelai dapat diusahakan pada areal tanaman pangan yang sudah ada (ubi kayu, jagung, padi gogo), pada lahan perkebunan kelapa sawit dan karet muda, serta pada areal padang alang-alang/semak belukar. Beberapa aspek yang membutuhkan dukungan pemerintah antara lain adalah penyediaan sarana produksi (benih, amelioran, pupuk), bimbingan petani dari penyuluh, dan pemasaran produk di tingkat petani. K einginan untuk berswasembada kedelai telah beberapa kali dicanangkan, namun belum dibarengi dengan program operasional yang memadai. Melalui program revitalisasi pembangunan pertanian, pemerintah bertekad untuk meningkatkan produksi kedelai nasional menuju swasembada pada tahun 2010 (Ditkabi 2006). Program ini perlu dukungan semua pihak terkait, di antaranya dalam penyediaan teknologi produksi kedelai yang produktif dan efisien. Upaya peningkatan produksi kedelai nasional dapat ditempuh melalui dua sumber pertumbuhan yaitu peningkatan areal tanam/panen dan peningkatan produktivitas yang rata-rata nasionalnya masih rendah, yaitu 1,28 t biji/ha (BPS 2005). Peluang peningkatan produksi melalui peningkatan produktivitas masih cukup terbuka, mengingat senjang hasil antara di tingkat petani dengan tingkat penelitian masih lebar (0,60-2,0 vs 1,70-3,20 t/ha). | |
| dc.identifier.issn | 1907-4263 | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26049 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan | |
| dc.relation.ispartofseries | Volume 2; No 1 | |
| dc.title | Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan Kedelai pada Lahan Kering Masam | |
| dc.type | Article |