Kedudukan Padi Dalam Perekonomian Indonesia
No Thumbnail Available
Date
2008-06-01
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
Abstract
Pendahuluan
Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan salah satu hak manusia yang paling asasi dan salah satu faktor penentu ketahanan nasional. Oleh karena itu, kekurangan pangan secara meluas di suatu negara akan menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas. Bagi Indonesia, beras merupakan pangan pokok yang sangat dominan. Pengalaman menunjukkan bahwa kelangkaan penyediaan beras yang menyebabkan melonjaknya harga beras pada tahun 1966 dan 1998, baik secara langsung ataupun tidak langsung, memperparah krisis ekonomi, sosial, dan politik pada saat itu yang berujung pada pergantian pemerintahan.
Kebijakan peningkatan kesejahteraan petani padi mempunyai arti yang sangat strategis, mengingat peran beras dalam perekonomian Indonesia masih cukup besar. Ada empat indikator yang dapat digunakan untuk menilai peran tersebut yaitu: (a) usaha tani padi menghidupi sekitar 20 juta keluarga petani dan buruh tani, serta menjadi urat nadi perekonomian pedesaan; (b) permintaan terhadap beras terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk karena belum berhasilnya program diversifikasi pangan, (c) produksi beras di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan yang fluktuatif akibat bencana alam, serangan hama penyakit, dan kenaikan beras harga pupuk dan pestisida; dan (d) usaha tani padi masih menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja di pedesaan.
Dalam penyediaan domestik, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala internal, khususnya yang berkaitan dengan terbatasnya kapasitas produksi nasional yang disebabkan, antara lain oleh: (a) konversi lahan pertanian ke non pertanian; (b) menurunnya kualitas dan kesuburan tanah akibat degradasi lingkungan dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), (c) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air irigasi untuk mendukung kegiatan usaha tani padi akibat perubahan iklim mikro dan persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor permukiman dan industri, (d) kurangnya pemeliharaan jaringan irigasi sehingga sekitar 30% di antaranya mengalami kerusakan; dan (e) semakin tidak pastinya pola hujan akibat perubahan iklim global.
Description
25 p.; tab.