Umpan Balik Temu Lapang Inovasi Alat Tanam Indo Jarwo Transplanter: Studi Kasus di Kecamatan Jayanti, Tangerang, Banten
Loading...
Date
2015-11-10
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
IAARD Press
Abstract
Swasembada padi berkelanjutan merupakan target yang harus dicapai pemerintah saat ini. Pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) padi merupakan inovasi dalam usaha tani padi dengan salah satu komponen pendekatannya adalah sistem tanam jajar legowo. Kendala aplikasi sistem tanam jajar legowo adalah berkurangnya dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian serta kurangnya alat mekanisasi. Diseminasi alat tanam Indo jarwo transplanter dilakukan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Banten melalui temu lapang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui umpan balik masyarakat, yaitu informasi pengetahuan, sikap, dan motivasi terhadap alat tanam Indo jarwo transplanter. Informasi ini digunakan sebagai pendekatan dalam perbaikan kegiatan penyuluhan pertanian. Penelitian dilakukan di Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta temu lapang, sampel penelitian adalah peserta temu lapang sebanyak 28 orang yang dipilih secara sengaja. Hasil penghimpunan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif dengan skala ordinal dianalisis menggunakan statistik nonparametrik chi-square test (x²) untuk
mengetahui hubungan nyata antara pengetahuan dan sikap dengan motivasi responden terhadap alat tanam Indo jarwo transplanter melalui perangkat lunak SPSS 20. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi pengetahuan masyarakat, sikap masyarakat terhadap alat tanam Indo jarwo transplanter tidak semakin positif. Hal tersebut disebabkan permasalahan sosial di Kecamatan Jayanti dan sekitarnya, di mana masih tersedia tenaga kerja pertanian berasal dari kalangan menengah ke bawah dan berstatus janda. Motivasi masyarakat terhadap alat tanam Indo jarwo transplanter tinggi karena selama ini upah tenaga kerja pertanian tinggi dan sebagian besar tenaga kerja pertanian berusia di atas 40 tahun yang lambat laun jumlahnya semakin berkurang.
Description
Swasembada padi berkelanjutan merupakan target pemerintah yang dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas padi minimal sebesar 0,3 ton/ha pada tahun 2015. Upaya pemerintah dalam mencapai swasembada padi berkelanjutan salah satunya adalah melalui Program Upaya Khusus (Upsus) sebagaimana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 03/OT.140/2/2015. Berdasarkan Permentan tersebut, permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam mewujudkan percepatan swasembada pangan, khususnya padi saat ini adalah 1) alih fungsi dan fragmentasi lahan pertanian; 2) rusaknya jaringan irigasi; 3) semakin berkurang dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian serta kurangnya alat mekanisasi pertanian; 4) masih tingginya susut hasil panen; 5) belum terpenuhinya kebutuhan pupuk dan benih sesuai rekomendasi spesifik lokasi serta enam tepat; 6) lemahnya permodalan petani; dan 7) harga komoditas tanaman pangan jatuh dan sulit dalam memasarkan hasil pada saat panen raya.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan berbagai inovasi dalam upaya meningkatkan produktivitas dan produksi padi. Inovasi merupakan ide-ide baru, praktek-praktek baru, atau objek-objek baru yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat atau individu yang menjadi sasaran penyuluhan. Inovasi adalah gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Kebaruan dari suatu inovasi tidak didasarkan pada kurun waktu yang ditemukan inovasi, tetapi adanya anggapan sebagai sesuatu yang baru pada diri adopter (Rogers 2003).
Keywords
A Agriculture/Pertanian::A50 Agricultural research/Penelitian Pertanian, F Plant production/Produksi Tanaman::F01 Crop Husbandry/Pertanaman, motivasi petani