Kebijakan Percepatan Pengembangan Industri Hilir Perkebunan: Kasus Teh dan Sawit
| dc.contributor.author | Suprihatini, Rohayati | |
| dc.contributor.author | Drajat, Bambang | |
| dc.contributor.author | Fajar, Undang | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-18T08:21:51Z | |
| dc.date.available | 2026-08-18T08:21:51Z | |
| dc.date.issued | 2004-03 | |
| dc.description.abstract | Ekspor komoditas perkebunan Indonesia sebagian besar masih dalam bentuk komoditas primer. Sebagai contoh, volume ekspor kopi Indonesia 97,7 persen masih dalam bentuk biji kopi. Demikian pula volume ekspor kakao 80,4 persen masih dalam bentuk biji kakao dan untuk ekspor teh 95,6 persen masih dalam bentuk teh curah. Pada minyak kelapa sawit, kondisinya sudah lebih baik karena volume ekspor dalam bentuk olahan telah mencapai 53,7 persen dari total volume ekspor, namun sebagian besar hanya berupa minyak goreng (olein) yang bernilai tambah rendah. DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v2n1.2004.54-66 | |
| dc.identifier.issn | 2549-7278 | |
| dc.identifier.uri | https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/31037 | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian | |
| dc.relation.ispartofseries | Analisis Kebijakan Pertanian; Vol. 2 No. 1 (2004) | |
| dc.subject | E Economics, development, and rural sociology/Ekonomi, Pembangunan dan Sosiologi Pedesaan::E14 Development economics and policies/Ekonomi dan Kebijaksanaan Pembangunan | |
| dc.title | Kebijakan Percepatan Pengembangan Industri Hilir Perkebunan: Kasus Teh dan Sawit | |
| dc.type | Article |