PRODUKSI DAN MUTU RIMPANG GARUT (Maranta arundinacea) DI TIGA LOKASI DENGAN TIGA JENIS TEGAKAN
No Thumbnail Available
Date
2007-09-06
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Abstract
Tanaman garut penghasil pati yang dapat tumbuh dengan daerah penyebarannya cukup
luas. Patinya mempunyai serat yang lembut sehingga sangat baik dikonsumsi untuk penderita
gangguan pencernaan, selain itu pati garut memiliki potensi yang besar sebagai pengganti tepung
terigu dan pencampur tepung tapioka yang bermutu tinggi. Tanaman ini biasanya tumbuh di
bawah tegakan sehingga cocok dimanfaakan sebagai per gisi lahan kosong di bawah tegakan
perkebunan dan hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lokasi dan
jenis tegakan terhadap produksi dan mutu beberapa aksesi garut. Penelitian dimulai dari Desember
2000 sampai Agustus 2001. Tiga lokasi yang dipergunakan untuk penelitian yaitu di (1) Desa
Pakuw on, Sukabumi Jawa Barat dengan tegakan tanaman kelapa, (2) Desa Maliran, Blitar Jawa
Timui di bawah tegakan tanaman kesambi dan (3) Desa Kalipucung, Blitar Jawa Timur di bawah
tegakan tanaman jati. Aksesi yang dipergunakan dalam penelitian adalah; A2, A3, A6, A7, A9,
A10, A12, A13, A16, dan A17. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok
dengan tiga ulangan. Jarak tanam yang dipergunakan 40 cm x 60 cm, ukuran plot percobaan 3,2 m
x 3 m atau 40 tanaman/plot. Pengamatan yang dilakukan meliputi produksi rimpang segar, kadar
pati dan serat sebagai parameter mutu pada umur panen 8 bulan setelah tanam (BST). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa tanaman garut yang ditanam di Pakuwon yang tanahnya lebih
subur dan bertekstur liat produksi rimpang dan patinya lebih tinggi dibandingkan dengan di
Maliran dan Kalipucung yang tanahnya kurang subur dan bertekstur pasir. Konsistensi daya hasi
rimpang garut ke 10 aksesi yang diuji cenderung belum stabil. Aksesi A9, A16 dan A17 daya
hasil rimpangnya tidak konsisten di tiga lokasi penanaman, walaupun A17 termasuk tinggi daya
hasilnya di Pakuwon dan di Kalipucung, namun terendah di Maliran. Sedangkan Aksesi A3 relatif
stabil daya hasilnya di tiga lokasi pengujian, namun daya hasilnya adalah tergolong rendah
dibandingkan aksesi lainnya. Aksesi yang relatif stabil dan tinggi daya hasil rimpangnya adalah
A2, A6, A7, A10, A12 dan A13.