Efektivitas Penerapan Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Urea dan Harga Gabah Pembelian Pemerintah di Beberapa Sentra Produksi Padi

dc.contributor.authorWayan Sudana
dc.date.accessioned2025-09-15T07:20:38Z
dc.date.available2025-09-15T07:20:38Z
dc.date.issued2011-12-16
dc.descriptionBuletin Iptek Tanaman Pangan sudah memasuki tahun keenam. Dalam kurun waktu yang relatif singkat ini buletin Iptek Tanaman Pangan telah mengalami beberapa kemajuan, di antaranya telah mendapat pengakuan sebagai publikasi ilmiah nasional yang terakreditasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tulisan yang terbit pun beragam antarnomor, mengikuti masalah aktual yang dihadapi petani dalam berproduksi. Perbenihan, misalnya, diperlukan dalam jumlah, mutu, waktu, dan lokasi yang tepat guna memenuhi kebutuhan benih bagi petani.
dc.description.abstractEfisiensi pemasaran sarana produksi dan hasil pertanian merupakan syarat utama dalam pembangunan pertanian. Sehubungan dengan hal ini, analisis perkembangan harga pupuk, gabah, dan barang konsumsi di tingkat petani menjadi sangat penting. Pengkajian ini merupakan kerja sama antara BBP2TP dengan BPTP di 12 provinsi, meliputi 37 kabupaten dan 74 desa contoh di sentra produksi padi. Pengumpulan data dilakukan secara berkala setiap dua minggu, waktu pengumpulan data dan responden ditetapkan secara sengaja. Responden adalah petani atau pemilik kios, yang ditetapkan tidak berubah sepanjang kegiatan pengkajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea yang ditetapkan pemerintah tidak efektif berlaku di setiap wilayah kajian, selama tahun 2007 harga yang dibayar petani di atas HET. Kebijakan harga gabah pembelian pemerintah (HPP), di beberapa wilayah penerapannya cukup efektif, dan tidak efektif di wilayah lain pada saat panen. Marjin pemasaran dari gabah ke beras cukup tinggi, berkisar antara Rp 1.500-2.500/kg atau 31-52% dari rata-rata harga tertinggi beras kelas medium. Besarnya marjin tersebut kurang menguntungkan petani padi, karena di samping sebagai produsen, mereka juga sebagai pembeli beras. Marjin harga beras lebih menguntungkan penggiling dan pedagang beras. Diperlukan regulasi harga yang mampu mendistribusikan marjin tersebut lebih adil dan wajar, sehingga petani sebagai produsen dan sekaligus sebagai konsumen beras tidak dirugikan
dc.identifier.issn1907-4263
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26187
dc.language.isoid
dc.publisherPusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan
dc.relation.ispartofseriesVolume 6; No 1
dc.titleEfektivitas Penerapan Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Urea dan Harga Gabah Pembelian Pemerintah di Beberapa Sentra Produksi Padi
dc.typeArticle
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
03-Wayan Sudana.pdf
Size:
82.59 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.77 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description:
Collections